Pak Sugeng,
   
  Iya Pak Sugeng, saya setuju dengan ucapan Pak Hardi Prasetyo itu, "this is a 
war". Perang multidimensi : sosial, sains, teknik, politik, dll. Para ahli 
geologi pun katanya "berseteru". Milis2 diskusi menjadi penuh dengan cacian 
(yang tak berguna). Hanya Tuhan yang tahu apa yang telah memicu semburan itu, 
hanya Tuhan yang tahu kapan semburan itu akan berhenti. Kita hanya bisa 
mendekatinya, ahli mana pun tak ada yang benar secara absolut, hanya Dia yang 
absolut. Jangan jumawa !
   
  Formasi batuan akan mempengaruhi vegetasi di atasnya. Saya belajar tentang 
ini dua puluh tahun yang lalu di ujung baratdaya Pulau Jawa. Dua puluh tahun 
yang lalu saat saya memetakan ofiolit Ciletuh yang penuh dengan oceanic 
peridotit dan serpentinit, lalu membandingkannya ke sebelah timur ke wilayah 
Jampang yang didominasi volkanik (dan sekarang diduga ada kerak kontinen di 
bawahnya), wah betapa berbedanya vegetasi di tinggian Ciletuh yang oseanik dan 
Jampang yang mungkin kontinen. 
   
  Selamat memanen Pak di sumur Panen-1. Anggap saja semua studi dan survey 
sebelumnya adalah kegiatan menabur, dan sekarang siap menuai atau memanen.
   
  salam,
  awang
  
Sugeng Hartono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang,

Trimakasih atas komentarnya yang cukup panjang dan informatif. Ini menjadi 
pencerahan kami.
Semburan lumpur ini tidak hanya menyedot perhatian para akhli ilmu kebumian, 
tetapi juga kalayak. Majalah Time (edisi March 10,2008)juga memuatnya lengkap 
dengan gambar, foto dan diagram yang tidak kalah bagus dengan NGI. Judulnya: 
A Wound in The Earth. 
In Indonesia, an entire district has been buried by an eruption of boiling, 
noxious mud. Was it a natural disaster - or an industrial accident? 
Gambar 3-D sama-2 bagusnya, cuma ada sedikit perbedaan. Di NGI lubang sumur 
belum menembus akuifer batu kapur Kujung, sedangkan di Time digambar sudah 
menembus Kujang (saya pikir salah dengar wartawannya?)limestone aquifer.

Ada kutipan komentar VP Ibu Yuniwati Teryana dan Pak Adriano Mazzini (geologist 
Univ. Oslo); juga Pak Hardi Prasetyo (Deputy Head, Government Mud Management 
Team, saya ketemu beliau 30 tahun yll di Karangsambung): "This is a war. We are 
not promising to stop it. We must also pray to God". 
Apa komentar Pak Richard Davies (Durham University): " I've never seen anything 
like it. It's a scene, when you see it, you can only say, "Oh, my God, it is a 
complete bloody mess".
Kita tidak tahu persis ada kekuatan apa di bawah sana, seperti halnya yang 
dtulis Time: Given that no one fully understand the powerful subterranean 
engine powering Lusi...
Mengenai formasi Kujung, kalau kami diskusi di dalam mudlogging unit,, kawan-2 
mudlogger yang masih perhatian Geologi juga masih ingat bahwa Kujung hanya 
terdapat di utara (Rembang zone) sedangkan Lusi di bagian selatan, di Kendeng 
zone.

Selain Cendrawasih yang berseteru, ternyata banyak jenis tumbuhan dan serangga 
yang hidup di Salawati tetapi tidak ditemukan di Batanta. Ini sungguh merupakan 
fenomena yang menarik. Bukankah jarak kedua pulau sangat dekat, ibarat hanya 
sepelemparan batu(ini istilahnya Pak Awang lho)? 
Pak Awang pernah mengumpakan bahwa Salawati dan Batanta ibarat "bumi dan 
langit". Salawati merupakan ujung paling utara dari kontinen Australia yang 
bersifat asam; sedang Batanta merupakan ujung paling selatan kerak Pasifik yang 
bersifat oceanic- basaltic. 
Ternyata ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan penyebaran fauna dan 
flora.

Salam hangat.
Sugeng

Nb. Lusa saya akan "narik becak" di Northeast Betara, Jabung; apakah Pak Awang 
sudah mendapat
kabar bagus dari Panen-1?



-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Sat 3/1/2008 11:28 PM
To: [email protected]; Geo Unpad; Forum HAGI
Subject: Re: [iagi-net-l] National Geographic Indonesia: artikel luapan lumpur

Pak Sugeng,

Seperti yang pernah saya berikan jawaban kepada Pak Koesoema yang menanyakan 
mengapa artikel LUSI di edisi NG Januari 2008 tidak muncul di edisi NGI Januari 
2008, bukankah NGI adalah 80 % terjemahan dari NG, ketidakmunculan artikel LUSI 
di NGI itu telah disikapi macam-macam oleh beberapa kawan. Saya menjawab, 
artikel LUSI akan muncul di edisi Maret 2008 sebagai edisi khusus artikel2 
Idonesia. Nah,sekarang sudah muncul kan. 

Gambar 3D itu (dikutip dari paper Davies et al., 2006 di GSA Today tentang 
LUSI) bagus memang, apalagi kini berwarna dan prima khas gambar2 dan foto2 NG; 
tetapi itu hanya visualisasi. Tak ada seorang pun yang tahu persis gambaran 
bawah permukaan di bawah LUSI. Data hasil GPR (ground penetrating radar) hanya 
bisa menunjukkan gambaran bawah permukaan kedalaman dangkal. Tak ada yang 
mengetahui apakah benar top Kujung telah ditembus oleh Banjar Panji-1. 
Lagipula, telah terjadi mis-persepsi soal Formasi Kujung di wilayah ini. Umur 
absolut berdasarkan strontium isotop sumur Porong-1 menunjukkan gamping yang 
ditembus Porong-1 bukan Kujung, lebih muda. Dan melihat history-nya sampai jauh 
ke belakang (tahun 60-an dan awal 70-an) tak dikenal nama Kujung di bagian 
selatan Cekungan Jawa Timur. Kujung hanya dipakai di bagian utara Cekungan Jawa 
Timur onshore dan offshore.

Geologi mengontrol biogeografi, termasuk Cenderawasih Batanta dan Salawati yang 
tak mau bersatu atau selalu berseteru. Alfred Russel Wallace telah mengetahui 
hal ini saat ia pada akhir tahun 1850-an berjalan2 di Nusantara menyelidiki 
flora dan fauna. Di bukunya "The Malay Archipelago" yang kini telah 
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor disebutkan bahwa 
Wallace menduga geologi penyebab semua pengelompokan fauna.

Terima kasih atas hadiah serpentinit Batanta yang tempo hari Pak Sugeng berikan 
kepada saya, itu sampel penting, sepenting batas kontinen Australia dan kerak 
oseanik Pasifik. Kedua cenderawasih tadi tak akan berani menyeberangi Selat 
Dampier, itu wilayah keras, seaway yang lebih kerasderas dari Sele Strait, dan 
sesungguhnya ia dalam sekali dan labil, splay-splay Sorong Fault ada di bawah 
Dampir, seismotektoniknya aktif. Maka sebenarnya, sungguh ada barier di antara 
kedua cenderawasih itu.

salam,
awang

Terlampir sebuah artikel pendek yang pernah saya tulis untuk Berita IAGI.


Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan Keanekaragaman Hayati

Awang Harun Satyana (Eksplorasi BPMIGAS)

Rumit Namun Menarik

Geologi Indonesia begitu rumit namun menarik. Van Bemmelen, penulis "The 
Geology of Indonesia" (1949), sebuah adikarya sampai saat ini, menyebut 
Indonesia sebagai "the most intricate part of the earth's surface". Lebih 
lanjut, van Bemmelen meramalkan bahwa akan banyak kemajuan dalam geosains 
dihasilkan oleh penelitian-penelitian di Indonesia. Menutup kekagumannya akan 
Indonesia, van Bemmelen menulis, "The East Indies are an important touchstone 
for conceptions on the fundamental problems of the geological evolution of our 
planet". 

Van Bemmelen tidak berlebihan. Lebih dari 50 tahun kemudian, Robert Hall dan 
Dan Blundell, para penyunting buku "Tectonic Evolution of Southeast Asia" 
(1996), menulis di pengantar bukunya, " SE Asia is probably the finest natural 
geological laboratory in the world". Hall dan Blundell adalah anggota SE Asia 
Research Group, University of London, sebuah lembaga riset yang telah menekuni 
penelitian geologi di Indonesia sejak awal tahun 1970an. 

Ringkasan tentang pengetahuan geologi Indonesia, termasuk kerumitan dan 
kemenarikannya, dapat dipelajari dari buku tulisan Rab Sukamto, "Pengetahuan 
Geologi Indonesia : Tantangan dan Pemanfaatan" (2000). 

Begitu Kayanya

Indonesia pun sangat terkenal akan kekayaan keanekaragaman hayati. Tak kurang 
dari ilmuwan besar sekelas Alfred Russel Wallace, yang berteman dengan Charles 
Darwin dan sebenarnya juga sama-sama menemukan teori evolusi, telah 
menghabiskan waktunya delapan tahun (1854-1862) menjelajah kekayaan fauna 
Nusantara. Buku yang terkenal, "The Malay Archipelago" (1869), telah 
menggerakkan banyak ilmuwan meneliti keanekaragaman hayati Indonesia.

Bagaimana tidak kaya ? Bayangkan : meskipun Indonesia hanya meliputi 1,3 % luas 
daratan di Bumi, tidak satu negara pun yang mempunyai begitu banyak mamalia 
(500 jenis atau 1/8 dari jumlah seluruh mamalia di dunia). Bayangkan : satu 
dari enam burung, amfibia, dan reptilia dunia ada di Indonesia. Satu dari tiga 
serangga dunia ada di Indonesia. Dari setiap lima moluska dunia, dua di 
antaranya ada di Indonesia. Dan, juga sekitar satu dari setiap sepuluh tumbuhan 
dunia terdapat di Indonesia. Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem 
yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropik lainnya 
(Kartawinata dan Whitten, 1991; Primack dkk., 1998). Di Indonesia jugalah 
bertemunya zone-zone zoogeografi.

Sejarah Geologi Menentukan Kekayaan Hayati

Mengapa terdapat wilayah-wilayah biogeografi yang berbeda-beda di Bumi ini ? 
Kuncinya terletak pada geologi dan iklim di Bumi kita yang terus berubah 
(Whitmore, 1981; 1987). Maka, sejarah geologi dan paleoklimatologi akan 
menentukan asal muasal kekayaan hayati. 
Nusantara secara geologi dibentuk oleh perbenturan dua massa fragmen benua : 
Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Sejarahnya dimulai ketika bagian 
benua selatan Gondwana retak dan terapung ke utara pada sekitar 140 juta tahun 
yang lalu (tyl) (ujung Yura). Tumbuhan berbunga telah mulai berevolusi pada 
saat Benua Gondwana terdisintegrasi. Baik flora maupun fauna dapat mencapai 
Nusantara tanpa perlu menyeberangi air melalui tiga rute : Laurasia, Gondwana 
via Australia, atau Gondwana via India kemudian diikuti migrasi ke tenggara. 
Beberapa kelompok fauna pada saat itu pun bisa terisolasi dan tetap keadaannya 
seperti ditemukan sekarang. 

Pada 55 juta tahun yang lalu (Eosen), pecahan fragmen Gondwana membentur 
Laurasia. Sekitar 40 juta tyl, fragmen Asia Tenggara (Daratan Sunda) telah 
mencapai khatulistiwa dan menempati posisi yang sama dengan yang sekarang. 
Migrasi flora dan fauna Laurasia bisa terjadi di Daratan Sunda tanpa 
menyeberangi masa air. Migrasi yang sama terjadi juga di zaman Kuarter saat 
glasiasi menurunkan muka laut sampai 180 meter. Pada 40 juta tyl itu, juga 
benturan fragmen benua Gondwana dan kerak samudera di Lautan Pasifik telah 
mengangkat Pegunungan Tengah Papua dan memperluas wilayah Papua. Tentu, ini 
akan mempengaruhi spesiasi flora dan fauna.

Benturan berikutnya terjadi pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah) saat 
fragmen-fragmen benua Australia/Niugini membentur Sulawesi. Pada masa itu, 
fragmen-fragmen Australia membawa flora dan fauna Gondwana dan membentur flora 
dan fauna Sulawesi Barat yang telah banyak dikolonisasi biota Laurasia. Garis 
batas Wallace (Selat Lombok ke Selat Makasar) adalah salah satu batas 
zoogeografi di Bumi yang paling tajam dan paling dramatik yang membatasi zone 
kontak antara fauna-fauna Laurasia dan Gondwana. 

Selama periode Plistosen, semua pulau di sebelah barat Garis Wallace 
dihubungkan oleh daratan sampai Asia. Oleh karenanya pulau2 ini memiliki jenis 
fauna yang sama. Papua dan Aru di sebelah timur Garis Wallace berhubungan 
dengan Australia dengan fauna yang khas Australia. Di daerah Wallace, yaitu 
Maluku, Sulawesi dan pulau-pulau Nusa Tenggara tidak mempunyai hubungan dengan 
benua-benua di sekitarnya. Maka daerah Wallace miskin fauna dan flora, tetapi 
tingkat endemisitasnya (kekhasan) tinggi. Di samping itu, terdapat perpaduan 
antara biota Asia (Laurasia) dan Australia (Gondwana).

Kekayaan spesies melalui proses spesiasi dan tingkat endemik flora-fauna akan 
ditentukan oleh ukuran pulau, ketinggian, habitat, dan lokasi geografi. Jumlah 
spesies di sebuah pulau akan ditentukan oleh luas pulau dan angka perimbangan 
kepunahan lokal dan migrasi. Pulau besar punya spesies lebih banyak, pulau 
terisolasi punya spesies lebih sedikit. Tingkat endemisitas banyak dipengaruhi 
oleh faktor isolasi geografik. Semakin terisolasi semakin endemik. Ketinggian 
juga mempengaruhi kelimpahan spesies. Semakin tinggi spesies semakin berkurang. 

Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas dan memahami sejarah geologi 
(tektonik) suatu wilayah, maka dapat dipahami dan diprediksi bagaimana kekayaan 
keanekaragaman hayati wilayah tersebut. Sejarah geologi akan menentukan jumlah 
unit biogeografi.

Mensyukuri Keanekaragaman Geologi dan Biologi

Menutup tulisan singkat ini, hendaknya kita sadari bahwa betapa menyenangkan 
hidup di Indonesia, di tengah begitu banyak keberagaman alam dan budaya. Semoga 
energi kita tidak terkuras habis oleh beberapa krisis yang tengah terjadi, 
sehingga kita masih sempat mensyukuri nikmat alamiah yang telah diberikan-Nya. 
Semua itu diberikan untuk Indonesia, dan kitalah yang harus mengupayakannya 
agar bermanfaat lahir dan batin.***




Sugeng Hartono wrote:

Rekan-rekan yang budiman,

Majalah NGI edisi Maret 2008 tergeletak di emper rumah ketika saya pulang dari 
kantor Jumat petang. Majalah segera saya amati: halaman sampul memuat foto 
indah, gunung Bromo yang disaput awan putih dengan latar belakang Semeru yang 
anggun, lengkap dengan asapnya yang berwarna putih abu-abu. Pemandangan yang 
sungguh mempesoa, dan mengingatkan saya untuk kembali kesana, melintasi Kaldera 
Bromo dari utara ke selatan, berakhir di desa Ngadas dan Gubuk Klakah.
Ada tulisan (merah) Dewa-dewa Gunung, Kehidupan di Sabuk Api Indonesia. Bagian 
bawah ditulis keterangan (plus artikel): Cendrawasih nan memikat; Pergulatan 
Silat Tradisional; Rimba Laut Raja Ampat (saya teringat Dr Schutte, biolog 
Jerman yang bekerja merawat hutan-2 di kawasan Raja Ampat dekat Sorong, dan 
yang melontarkan pertanyaan aneh: Kenapa Cendrawasih di Salawati dan Batanta 
saling berseteru...Pak Awang telah mencoba menjawabnya dengan bagus dan cukup 
ilmiah, trimakasih Pak Awang); Borneo Pra PD II; Bajak Laut Malaka; Geliat 
Otonomi).

Dalam daftar isi di halaman dua saya tidak menemukan artikel lain. Pada halaman 
berikutnya ada foto satelit kawah Tambora di Sumbawa dengan keterangan kota 
Tambora yang terkubur abu kini mulai muncul. Artikel pertama adalah: PARA DEWA 
Pasti Gelisah. Hidup dalam bayangan gunung-gunung berapi Indonesia. Disebutkan: 
Gunung berapi yang bersendawa seperti Gunung Semeru dan Bromo adalah gerbang 
menuju dunia bawah tanah yang tak hanya membentuk lanskap Indonesia, tetapi 
juga kepercayaan dan kebudayaan. Ada foto-2: warga Bromo yang berebut sesaji 
saat upacara Kasada, peziarah yang mengusung sesaji untuk dibawa ke puncak 
Merapi, acara tirakat di Parangtritis, peta Sumatra -Jawa-NTT lengakp dengan 
titik-2 letak gunung api, panen padi di Sembalun Lombok, anak-2 yang mandi di 
pancuran di kolam suci Gunung Penanggungan Jatim, juga foto spektakuler: bara 
merah muntah dari kawah Merapi bersama awan dengan teks: 
Para ilmuwan meramalkan letusan Gunung Merapi tahun 2006 ini, tetapi banyak 
penduduk setempat yang percaya takhyul tak mau pergi. "Masalah terbesar yang 
dihadapi orang Indonesia" kata seorang akhli vulkanologi, "adalah membuat warga 
setempat mempercayai perkataan ilmuwan". Oyha, ada juga foto rombongan yang 
dipimpin Mbah Marijan, lengkap dengan pakaian blangkon, sesaji dan payung 
menuju puncak Merapi.

Na, ketika membuka halaman 40, saya agak kaget karena ada artikel: Tenggelam di 
dalam Lumpur. Inilah artikel yang pernah disebut Pak Koesoema. Selain ada foto 
rumah-2 yang tenggelam, ada foto satelit mengenai lokasi sumur dan luapan 
lumpur. Yang menarik gambar block diagram lubang sumur, perlapisan formasi, 
yang paling bawah disebutkan Akuifer batu gamping Kujung. Walaupun dengan skala 
bervariasi, block diagram ini dapat menjelaskan kondisi bawah permukaan.
Foto terakhir: seorang bapak berbaju putih dengan sorban merah, duduk bersila, 
diapit dua bendera warna merah, menghadap uap putih yang membubung di kejauhan. 
Teks: Diapit oleh bendera merah untuk membantunya mendengar Bumi berbicara. 
Kamal, seorang ustad , berdoa untuk menghentikan lumpur, yang meletus di dasar 
asap uap air di kejauhan. Dia bergadang selama 3 hari, tetapi tanpa hasil. 
Sebagian ilmuwan meramalkan bahwa lumpur mungkin akan terus menyembur di sini 
selama berpuluh-puluh tahun.
Artikel ditulis oleh Andrew Marshall, foto oleh John Stanmeyer.
Untuk lebih jelasnya silahkan membeli majalah NGI di toko buku. Saya rasa 
inilah majalah NGI edisi terbagus karena memuat banyak artikel yang berhubungan 
erat dengan profesi ilmu kebumian.

Salam,
Sugeng

----------------------------------------------------------------------------

CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011 !!!!!
PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008
PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG

-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------





---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke