Pak Sugeng,
Seperti yang pernah saya berikan jawaban kepada Pak Koesoema yang menanyakan
mengapa artikel LUSI di edisi NG Januari 2008 tidak muncul di edisi NGI Januari
2008, bukankah NGI adalah 80 % terjemahan dari NG, ketidakmunculan artikel LUSI
di NGI itu telah disikapi macam-macam oleh beberapa kawan. Saya menjawab,
artikel LUSI akan muncul di edisi Maret 2008 sebagai edisi khusus artikel2
Idonesia. Nah,sekarang sudah muncul kan.
Gambar 3D itu (dikutip dari paper Davies et al., 2006 di GSA Today tentang
LUSI) bagus memang, apalagi kini berwarna dan prima khas gambar2 dan foto2 NG;
tetapi itu hanya visualisasi. Tak ada seorang pun yang tahu persis gambaran
bawah permukaan di bawah LUSI. Data hasil GPR (ground penetrating radar) hanya
bisa menunjukkan gambaran bawah permukaan kedalaman dangkal. Tak ada yang
mengetahui apakah benar top Kujung telah ditembus oleh Banjar Panji-1.
Lagipula, telah terjadi mis-persepsi soal Formasi Kujung di wilayah ini. Umur
absolut berdasarkan strontium isotop sumur Porong-1 menunjukkan gamping yang
ditembus Porong-1 bukan Kujung, lebih muda. Dan melihat history-nya sampai jauh
ke belakang (tahun 60-an dan awal 70-an) tak dikenal nama Kujung di bagian
selatan Cekungan Jawa Timur. Kujung hanya dipakai di bagian utara Cekungan Jawa
Timur onshore dan offshore.
Geologi mengontrol biogeografi, termasuk Cenderawasih Batanta dan Salawati
yang tak mau bersatu atau selalu berseteru. Alfred Russel Wallace telah
mengetahui hal ini saat ia pada akhir tahun 1850-an berjalan2 di Nusantara
menyelidiki flora dan fauna. Di bukunya "The Malay Archipelago" yang kini telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor disebutkan bahwa
Wallace menduga geologi penyebab semua pengelompokan fauna.
Terima kasih atas hadiah serpentinit Batanta yang tempo hari Pak Sugeng
berikan kepada saya, itu sampel penting, sepenting batas kontinen Australia dan
kerak oseanik Pasifik. Kedua cenderawasih tadi tak akan berani menyeberangi
Selat Dampier, itu wilayah keras, seaway yang lebih kerasderas dari Sele
Strait, dan sesungguhnya ia dalam sekali dan labil, splay-splay Sorong Fault
ada di bawah Dampir, seismotektoniknya aktif. Maka sebenarnya, sungguh ada
barier di antara kedua cenderawasih itu.
salam,
awang
Terlampir sebuah artikel pendek yang pernah saya tulis untuk Berita IAGI.
Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan Keanekaragaman Hayati
Awang Harun Satyana (Eksplorasi BPMIGAS)
Rumit Namun Menarik
Geologi Indonesia begitu rumit namun menarik. Van Bemmelen, penulis The
Geology of Indonesia (1949), sebuah adikarya sampai saat ini, menyebut
Indonesia sebagai the most intricate part of the earths surface. Lebih
lanjut, van Bemmelen meramalkan bahwa akan banyak kemajuan dalam geosains
dihasilkan oleh penelitian-penelitian di Indonesia. Menutup kekagumannya akan
Indonesia, van Bemmelen menulis, The East Indies are an important touchstone
for conceptions on the fundamental problems of the geological evolution of our
planet.
Van Bemmelen tidak berlebihan. Lebih dari 50 tahun kemudian, Robert Hall dan
Dan Blundell, para penyunting buku Tectonic Evolution of Southeast Asia
(1996), menulis di pengantar bukunya, SE Asia is probably the finest natural
geological laboratory in the world. Hall dan Blundell adalah anggota SE Asia
Research Group, University of London, sebuah lembaga riset yang telah menekuni
penelitian geologi di Indonesia sejak awal tahun 1970an.
Ringkasan tentang pengetahuan geologi Indonesia, termasuk kerumitan dan
kemenarikannya, dapat dipelajari dari buku tulisan Rab Sukamto, Pengetahuan
Geologi Indonesia : Tantangan dan Pemanfaatan (2000).
Begitu Kayanya
Indonesia pun sangat terkenal akan kekayaan keanekaragaman hayati. Tak kurang
dari ilmuwan besar sekelas Alfred Russel Wallace, yang berteman dengan Charles
Darwin dan sebenarnya juga sama-sama menemukan teori evolusi, telah
menghabiskan waktunya delapan tahun (1854-1862) menjelajah kekayaan fauna
Nusantara. Buku yang terkenal, The Malay Archipelago (1869), telah
menggerakkan banyak ilmuwan meneliti keanekaragaman hayati Indonesia.
Bagaimana tidak kaya ? Bayangkan : meskipun Indonesia hanya meliputi 1,3 %
luas daratan di Bumi, tidak satu negara pun yang mempunyai begitu banyak
mamalia (500 jenis atau 1/8 dari jumlah seluruh mamalia di dunia). Bayangkan :
satu dari enam burung, amfibia, dan reptilia dunia ada di Indonesia. Satu dari
tiga serangga dunia ada di Indonesia. Dari setiap lima moluska dunia, dua di
antaranya ada di Indonesia. Dan, juga sekitar satu dari setiap sepuluh tumbuhan
dunia terdapat di Indonesia. Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem
yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropik lainnya
(Kartawinata dan Whitten, 1991; Primack dkk., 1998). Di Indonesia jugalah
bertemunya zone-zone zoogeografi.
Sejarah Geologi Menentukan Kekayaan Hayati
Mengapa terdapat wilayah-wilayah biogeografi yang berbeda-beda di Bumi ini ?
Kuncinya terletak pada geologi dan iklim di Bumi kita yang terus berubah
(Whitmore, 1981; 1987). Maka, sejarah geologi dan paleoklimatologi akan
menentukan asal muasal kekayaan hayati.
Nusantara secara geologi dibentuk oleh perbenturan dua massa fragmen benua :
Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Sejarahnya dimulai ketika bagian
benua selatan Gondwana retak dan terapung ke utara pada sekitar 140 juta tahun
yang lalu (tyl) (ujung Yura). Tumbuhan berbunga telah mulai berevolusi pada
saat Benua Gondwana terdisintegrasi. Baik flora maupun fauna dapat mencapai
Nusantara tanpa perlu menyeberangi air melalui tiga rute : Laurasia, Gondwana
via Australia, atau Gondwana via India kemudian diikuti migrasi ke tenggara.
Beberapa kelompok fauna pada saat itu pun bisa terisolasi dan tetap keadaannya
seperti ditemukan sekarang.
Pada 55 juta tahun yang lalu (Eosen), pecahan fragmen Gondwana membentur
Laurasia. Sekitar 40 juta tyl, fragmen Asia Tenggara (Daratan Sunda) telah
mencapai khatulistiwa dan menempati posisi yang sama dengan yang sekarang.
Migrasi flora dan fauna Laurasia bisa terjadi di Daratan Sunda tanpa
menyeberangi masa air. Migrasi yang sama terjadi juga di zaman Kuarter saat
glasiasi menurunkan muka laut sampai 180 meter. Pada 40 juta tyl itu, juga
benturan fragmen benua Gondwana dan kerak samudera di Lautan Pasifik telah
mengangkat Pegunungan Tengah Papua dan memperluas wilayah Papua. Tentu, ini
akan mempengaruhi spesiasi flora dan fauna.
Benturan berikutnya terjadi pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah) saat
fragmen-fragmen benua Australia/Niugini membentur Sulawesi. Pada masa itu,
fragmen-fragmen Australia membawa flora dan fauna Gondwana dan membentur flora
dan fauna Sulawesi Barat yang telah banyak dikolonisasi biota Laurasia. Garis
batas Wallace (Selat Lombok ke Selat Makasar) adalah salah satu batas
zoogeografi di Bumi yang paling tajam dan paling dramatik yang membatasi zone
kontak antara fauna-fauna Laurasia dan Gondwana.
Selama periode Plistosen, semua pulau di sebelah barat Garis Wallace
dihubungkan oleh daratan sampai Asia. Oleh karenanya pulau2 ini memiliki jenis
fauna yang sama. Papua dan Aru di sebelah timur Garis Wallace berhubungan
dengan Australia dengan fauna yang khas Australia. Di daerah Wallace, yaitu
Maluku, Sulawesi dan pulau-pulau Nusa Tenggara tidak mempunyai hubungan dengan
benua-benua di sekitarnya. Maka daerah Wallace miskin fauna dan flora, tetapi
tingkat endemisitasnya (kekhasan) tinggi. Di samping itu, terdapat perpaduan
antara biota Asia (Laurasia) dan Australia (Gondwana).
Kekayaan spesies melalui proses spesiasi dan tingkat endemik flora-fauna akan
ditentukan oleh ukuran pulau, ketinggian, habitat, dan lokasi geografi. Jumlah
spesies di sebuah pulau akan ditentukan oleh luas pulau dan angka perimbangan
kepunahan lokal dan migrasi. Pulau besar punya spesies lebih banyak, pulau
terisolasi punya spesies lebih sedikit. Tingkat endemisitas banyak dipengaruhi
oleh faktor isolasi geografik. Semakin terisolasi semakin endemik. Ketinggian
juga mempengaruhi kelimpahan spesies. Semakin tinggi spesies semakin berkurang.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas dan memahami sejarah geologi
(tektonik) suatu wilayah, maka dapat dipahami dan diprediksi bagaimana kekayaan
keanekaragaman hayati wilayah tersebut. Sejarah geologi akan menentukan jumlah
unit biogeografi.
Mensyukuri Keanekaragaman Geologi dan Biologi
Menutup tulisan singkat ini, hendaknya kita sadari bahwa betapa menyenangkan
hidup di Indonesia, di tengah begitu banyak keberagaman alam dan budaya. Semoga
energi kita tidak terkuras habis oleh beberapa krisis yang tengah terjadi,
sehingga kita masih sempat mensyukuri nikmat alamiah yang telah diberikan-Nya.
Semua itu diberikan untuk Indonesia, dan kitalah yang harus mengupayakannya
agar bermanfaat lahir dan batin.***
Sugeng Hartono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan yang budiman,
Majalah NGI edisi Maret 2008 tergeletak di emper rumah ketika saya pulang dari
kantor Jumat petang. Majalah segera saya amati: halaman sampul memuat foto
indah, gunung Bromo yang disaput awan putih dengan latar belakang Semeru yang
anggun, lengkap dengan asapnya yang berwarna putih abu-abu. Pemandangan yang
sungguh mempesoa, dan mengingatkan saya untuk kembali kesana, melintasi Kaldera
Bromo dari utara ke selatan, berakhir di desa Ngadas dan Gubuk Klakah.
Ada tulisan (merah) Dewa-dewa Gunung, Kehidupan di Sabuk Api Indonesia. Bagian
bawah ditulis keterangan (plus artikel): Cendrawasih nan memikat; Pergulatan
Silat Tradisional; Rimba Laut Raja Ampat (saya teringat Dr Schutte, biolog
Jerman yang bekerja merawat hutan-2 di kawasan Raja Ampat dekat Sorong, dan
yang melontarkan pertanyaan aneh: Kenapa Cendrawasih di Salawati dan Batanta
saling berseteru...Pak Awang telah mencoba menjawabnya dengan bagus dan cukup
ilmiah, trimakasih Pak Awang); Borneo Pra PD II; Bajak Laut Malaka; Geliat
Otonomi).
Dalam daftar isi di halaman dua saya tidak menemukan artikel lain. Pada halaman
berikutnya ada foto satelit kawah Tambora di Sumbawa dengan keterangan kota
Tambora yang terkubur abu kini mulai muncul. Artikel pertama adalah: PARA DEWA
Pasti Gelisah. Hidup dalam bayangan gunung-gunung berapi Indonesia. Disebutkan:
Gunung berapi yang bersendawa seperti Gunung Semeru dan Bromo adalah gerbang
menuju dunia bawah tanah yang tak hanya membentuk lanskap Indonesia, tetapi
juga kepercayaan dan kebudayaan. Ada foto-2: warga Bromo yang berebut sesaji
saat upacara Kasada, peziarah yang mengusung sesaji untuk dibawa ke puncak
Merapi, acara tirakat di Parangtritis, peta Sumatra -Jawa-NTT lengakp dengan
titik-2 letak gunung api, panen padi di Sembalun Lombok, anak-2 yang mandi di
pancuran di kolam suci Gunung Penanggungan Jatim, juga foto spektakuler: bara
merah muntah dari kawah Merapi bersama awan dengan teks:
Para ilmuwan meramalkan letusan Gunung Merapi tahun 2006 ini, tetapi banyak
penduduk setempat yang percaya takhyul tak mau pergi. "Masalah terbesar yang
dihadapi orang Indonesia" kata seorang akhli vulkanologi, "adalah membuat warga
setempat mempercayai perkataan ilmuwan". Oyha, ada juga foto rombongan yang
dipimpin Mbah Marijan, lengkap dengan pakaian blangkon, sesaji dan payung
menuju puncak Merapi.
Na, ketika membuka halaman 40, saya agak kaget karena ada artikel: Tenggelam di
dalam Lumpur. Inilah artikel yang pernah disebut Pak Koesoema. Selain ada foto
rumah-2 yang tenggelam, ada foto satelit mengenai lokasi sumur dan luapan
lumpur. Yang menarik gambar block diagram lubang sumur, perlapisan formasi,
yang paling bawah disebutkan Akuifer batu gamping Kujung. Walaupun dengan skala
bervariasi, block diagram ini dapat menjelaskan kondisi bawah permukaan.
Foto terakhir: seorang bapak berbaju putih dengan sorban merah, duduk bersila,
diapit dua bendera warna merah, menghadap uap putih yang membubung di kejauhan.
Teks: Diapit oleh bendera merah untuk membantunya mendengar Bumi berbicara.
Kamal, seorang ustad , berdoa untuk menghentikan lumpur, yang meletus di dasar
asap uap air di kejauhan. Dia bergadang selama 3 hari, tetapi tanpa hasil.
Sebagian ilmuwan meramalkan bahwa lumpur mungkin akan terus menyembur di sini
selama berpuluh-puluh tahun.
Artikel ditulis oleh Andrew Marshall, foto oleh John Stanmeyer.
Untuk lebih jelasnya silahkan membeli majalah NGI di toko buku. Saya rasa
inilah majalah NGI edisi terbagus karena memuat banyak artikel yang berhubungan
erat dengan profesi ilmu kebumian.
Salam,
Sugeng
----------------------------------------------------------------------------
CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011 !!!!!
PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008
PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.