Catatan dibuang sayang, berasal dari jawaban saya kepada pertanyaan seorang 
mahasiswa. Barangkali ada gunanya untuk komunitas yang lebih luas.
   
  salam,
  awang

Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
     
  -apakah provenance itu ? 
  Saya pilihkan definisi sederhana dari Allen dan Allen (1990, 2005), kebetulan 
penanya mengaitkannya dengan reservoir migas jadi buku Basin Analysis Allen dan 
Allen (mereka dua kakak dan adik) mungkin lebih sesuai. Provenance = the likely 
source areas of sediment for the basin.
   
  -adakah kaitannya dengan reservoar migas seperti batupasir ?
  Tentu saja ada, mutlak bahkan.  Kualitas reservoir batupasir akan ditentukan 
oleh apa provenancenya dan bagaimana transportasinya. Provenance yang 
didominasi metamorf atau melange yang ditransportasi dalam jarak dekat, bukan 
oleh sistem sungai yang besar, lalu diendapkan tanpa pemilahan yang baik akan 
menghasilkan reservoir yang buruk. Provenance berupa batugamping akan 
menghasilkan batupasir yang gampingan. Provenance berupa batuan volkanik yang 
kurang tertransportasi jauh tanpa sungai yang besar akan menghasilkan kualitas 
reservoir yang buruk karena dominasi mineral lempung saat terjadi diagenesis.
   
  -apakah hanya sebatas batuan beku yang bisa menjadi provenance batuan sedimen 
?
  Tentu saja tidak. Semua jenis batuan (batuan beku, batuan metamorf, batuan 
sedimen) bisa menjadi provenance untuk batuan sedimen. Barangkali bisa dilihat 
lagi konsep tentang "daur batuan".
   
  Di dalam paper2 atau textbook geologi istilah provenance ini sering disebut 
sebagai : provenance, source rock (jangan dikelirukan dengan source rock 
penghasil hidrokarbon), source land, source region, atau parent rock. 
   
  Studi provenance batuan sedimen akan meliputi : sampling batuan sedimen itu 
sendiri (singkapan, cores, cutting pemboran), identifikasi mineral2 yang 
dikandungnya dan proporsinya, dan interpretasi geologi source region yang 
menghasilkan sedimen ini. Banyak buku ditulis tentang metode studi ini, 
misalnya Dickinson (1980), Dickinson dan Suczek (1979), Ingersoll dan Suczek 
(1979), Dickinson dan Valloni (1980) dan Lash (1987).
   
  Biasanya, untuk mengetahui apa provenance-nya, metode sedimentary petrography 
digunakan. Komponen petrografik butiran penyusun batuan sedimen itu diplot pada 
diagram segitiga yang terkenal sebagai diagram QFL (kuarsa, felspar, fragmen 
lithik). Di dalam segitiga ini ada beberapa "field" yang akan menunjukkan 
pengelompokkan plate tectonic setting batuan yang sedang diteliti. Hanya, dalam 
prakteknya, sering terjadi overlapping antara fields pada batuan sedimen yang 
kita amati, maka diagram terner QFL ini tidak selalu berguna, seperti yang 
dikritisi oleh Mack (1984) dalam Journal of Sedimentary Petrology, 54, hal. 
212-220 : Exceptions to the relationship between plate tectonics and sandstone 
composition.
   
  Efek transpor sedimen pada komposisi batupasir yang dihasilkan juga penting 
dievaluasi untuk memperoleh interpretasi yang benar tentang provenance. 
Analisis detail arus purba dan analisis sedimentologi lainnya penting dilakukan 
untuk mengetahui efek transpor ini. Transpor di sistem terestrial secara 
bervariasi akan memodifikasi batupasir yang dihasilkannya, tetapi efeknya 
berbeda-beda menurut zone iklim dan tipe sistem sungai. 
   
  Misalnya, sungai-sungai di iklim yang panas dan lembab seperti iklim tropis 
akan merupakan agen yang optimal untuk pelapukan kimiawi mineral2 tak stabil 
seperti lithic fragmens. Akibatnya, mineral2 ini akan habis saat dierosi dan 
transportasi, tinggallah mineral2 stabil seperti kuarsa. Kita punya contoh yang 
sangat baik tentang ini, yaitu Kalimantan. Tak mengherankan mengapa di Cekungan 
Kutei kita banyak menemukan batupasir yang sangat kuarsaan (Formasi Balikpapan, 
Formasi Kampung Baru yang menjadi reservoir utama cekungan ini) padahal 
provenance-nya di wilayah Kuching High didominasi melange yang penuh dengan 
lithic fragments dan mineral tak stabil. Sistem drainase Sungai Mahakam purba 
dan saat ini yang besar sangat efektif sebagai agen erosi dan transportasi. 
   
  Publikasi dari Kingston et al. (1983) juga merupakan informasi yang baik 
tentang kehadiran reservoar dan kualitasnya pada setiap tipe cekungan. Ini 
didasarkan kepada hinterland geology (geologi provenance) dan sistem penyebaran 
sedimennya. Cekungan2 continental sag (macam intra-cratonic basin) biasanya 
mempunyai reservoir lakustrin, aeolian, fluviatil dan laut dangkal. Rifts 
umumnya di bagian bawah punya reservoir kaya-volkanik setempat2 berkualitas 
buruk, lalu bergerak ke atas punya reservoir fluviatil, deltaik, dan laut 
dangkal berkualitas baik (kita punya contoh kasus ini untuk banyak cekungan 
sedimen di Indonesia Barat). Cekungan passive margin punya reservoir deltaik, 
shallow marin yang sangat ekstensif, juga reservoir karbonat yang tebal 
(Cekungan Kutei). Cekungan2 strike-slip (Misalnya Melawi-Ketungau) punya 
reservoir yang komposisinya sangat ditentukan oleh tinggian2 di sebelahnya. 
Sedimen forearc mengandung banyak material volkanik yang akan mengurangi 
porositas
 dan permeabilitas reservoir saat terjadi diagenesis. 
   
  Yang banyak saya amati dilakukan oleh industri2 untuk mengetahui provenance 
batuan sedimen atau reservoir yang sedang ditelitinya adalah melakukan analisis 
mineral berat pada sampel batuan reservoir itu. Metode ini kelihatannya cukup 
ampuh dan sejak saya kuliah dulu pun telah diajarkan, juga tertulis di buku2 
sedimentologi yang klasik macam Pettijohn (1948). Disebut mineral "berat" 
adalah kalau berat jenis mineral itu > 2.85 g/cc atau > bromoform.
   
  Beberapa mineral dari kelompok mineral berat ini sangat diagnostik untuk 
beberapa provenance. Misalnya, hanya dengan mempelajari mineral turmalin di 
dalam batuan sedimen, Krynine (1946 : The tourmaline group in sediments - 
Journal of Geology, 54, hal. 65-87) bisa mengetahui apa sumber batuan sedimen 
tersebut. Lima tipe provenance berdasarkan karakter turmalin di dalam batuan 
sedimen menurut Krynine adalah : granitic tourmaline, pegmatite tourmaline, 
tourmaline from pegmatized injected metamorphic terranes, sedimentary 
authigenic tourmaline, dan torumaline reworked from older sediments. Setiap 
tourmaline itu punya ciri optik sendiri yang menentukan jenis provenance-nya. 
   
  Meskipun merupakan publikasi 60 tahun yang lalu tabel "detrital mineral 
suites vs source rock types" dari Pettijohn (1948) tetap sangat berharga. Di 
tabel itu, Pettijohn menyebutkan kelompok mineral (mineral suite) apa saja yang 
khas untuk setiap provenance. Berikut ringkasannya (hanya disebutkan mineral 
yang muncul paling banyak)
   
  provenance : reworked sediments
  mineral suite : kuarsa, chert, leuxoxene, turmalin (membulat), zirkon 
(membulat)
   
  provenance : low-rank metamorphic
  mineral suite : fragmen slate dan filit, kuarsa, fragmen kuarsit, turmalin 
(euhedral dengan inklusi karbon)
   
  provenance : high-rank meramorphic
  mineral suite : garnet, hornblende, kianit, silimanit, staurolit, kuarsa, 
epidot, zoisit, magnetit
   
  provenance : batuan beku asam
  mineral suite : apatit, biotit, hornblende, zirkon (euhedral), kuarsa, 
mikroklin, magnetit
   
  provenance : batuan beku basa
  mineral suite : augit, hipersten, ilmenit, rutil
   
  provenance : pegmatit
  mineral suite : fluorit, turmalin, muskovit, albit.
   
  Lima tahun belakangan ini kita mempunyai publikasi beruntun dari SE Research 
Group (mahasiswa2 doktoral bimbingan Robert Hall) tentang provenance sedimen 
baik di Kalimantan maupun di Jawa menggunakan berbagai mineral seperti zirkon 
dan kuarsa. Publikasi2 itu bisa dicari di Proceedings IPA lima tahun terakhir, 
baik dipelajari untuk menambah wawasan dan perbandingan. 
   
    Nah, semoga cukup menambah keterangan.

   
  salam,
  awang



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke