Untuk orang yang bekerja di instansi tertentu menulis makalah memang punya beberapa tujuan, antara lain untuk naik jabatan, untuk dapat jalan-jalan ke tempat lain atau luar negeri, sebagai tuntutan perusahaan, atau karena memang cinta (seperti kata Pak Awang di bawah).
Ada instansi yang "mapan" yang akan menyiapkan biaya bagi penulis makalah. Jadi kalau kata Pak Awang "karena jatuh cinta maka banyak menulis surat," kalau di perguruan tinggi lebih dari itu: "kalau jatuh cinta banyak menulis surat dan banyak mengeluarkan biaya." Kan ada plesetan lagunya Titiek Puspa: "Jatuh cinta banyak biayanya." Kalau saya menulis makalah, maka saya harus siap pula dengan faktor biaya ini. Mencari sponsor sih mencari, tetapi kalau sampai tidak dapat sponsor ya saya akan minta sponsor dari Yang Maha Kuasa. Beruntung saya punya teman sejawat, Pak Dardji Noeradi, yang seide dengan saya, karena itu saya sering menulis menulis makalah dengannya. Alhamdulillah, dengan sponsor Yang Maha Kuasa ini kami dapat presentasi di AAPG Paris (2005), Perth (2006), dan ke Middle East Geoscience Conference di Bahrain Maret 2008 kemarin. Kami (saya dan Pak Dardji) sih berdoa untuk nanti ke AAPG Capetown (2 makalah oral) dan ke AAAPG (Assoc. of Afro-Asian Petroleum Geochemists) Abuja (Nigeria) (juga 2 makalah oral) akan dapat sponsor entah seluruhnya atau hanya sebagian saja. Amin. Beberapa teman saya di perguruan tinggi memang ada yang menulis makalah untuk "memancing sponsor." Masalahnya, kelompok ini walau makalahnya diterima kalau kebetulan tidak dapat sponsor, maka mereka tidak jadi atau batal datang. Saya sering menasihati sambil bergurau kalau mereka itu telah menghilangkan (mendhalimi) hak orang lain untuk berpresentasi dan merugikan panitia dan juga hadirin. Wasalam, EAS > "Perasaan" bahwa poster kelas dua harus dihapuskan baik dari panitia > konvensi maupun peserta konvensi, juga penulisnya. Tidak bisa dinafikan > bahwa perasaan kelas dua itu masih ada. IPA dalam lima tahun terakhir ini > boleh dikatakan tak menganut pembedaan itu, sekali paper lengkapnya dimuat > dalam proceedings, maka hilanglah mana paper oral mana paper poster. > > Menyiapkan poster lebih susah daripada sekedar menyiapkan presentasi > oral. Menyiapkan poster lebih makan waktu, tenaga, dan biaya. Dulu saat > presentasi oral masih menggunakan slide 35 mm menyiapkan presentasi oral > sama susahnya dengan menyiapkan poster. Sekarang, dengan menggunakan > power point presentation, 10 menit sebelum presentasi pun kita masih > bisa melakukan perubahan atas bahan presentasi bila diperlukan. > > Presentasi oral hanya 15-20 menit, lalu diskusi 5-10 menit; habis itu > orang melupakannya. Pembicara hanya cukup membawa flash disk dan > memberikan bahannya ke panitia untuk di-copy. Nah, poster : booth-nya > dijagai pembuatnya bisa setengah hari-sehari. Lalu ia/mereka juga mesti > siap sedia menjawab pertanyaan pengunjung selama posternya digantung. > Membawanya ke tempat konvensi pun tak sederhana, tak hanya disakui > seperti flash disk; tapi mesti dibawa menggunakan tabung pipa, dibawa > terbang, jauh melintasi benua2 (kalau mengikuti konvensi internasional), > merepotkan. Dan, biaya membuat poster dengan kualitas cetak yang prima > sungguh tak murah biayanya. Maka, sungguh tak adil kalau poster > dikelasduakan sebab dalam banyak hal menyiapkannya lebih susah daripada > presentasi oral. > > Hanya, dalam pengamatan saya, orang2 lebih senang menonton presentasi > oral daripada presentasi poster. Mengapa ? Sebagian karena kesalahan > panitia juga yang menempatkan abstrak2 yang menurutnya menarik menjadi > presentasi oral; sedangkan yang ditaruh di poster yang menurutnya biasa2 > saja; atau bila tak tertampung di oral, maka ditaruh di poster saja. > Sebagian lagi karena penonton umumnya pasif, mereka merasa lebih nyaman > duduk di ruang yang enak, setengah gelap, dan mengikuti presentasi oral > dengan nyaman. Coba kalau melihat poster, mereka mesti berdiri, > berhadapan dengan penulisnya, dan merasa canggung bila diam saja tak > bertanya. Jadi, para pengunjung poster hanya berjalan-jalan cepat > melihat poster2 dari jauh. Unrtuk mendekatinya agak enggan, apalagi > kalau di booth poster itu gak ada orang lain hanya penulisnya. Umumnya > si pengunjung tak akan mampir untuk berdiskusi dengan penulisnya. Maka, > begitu juga alasan mengapa booth poster sering juga tak dijagai > penulisnya -yang > lihat aja gak ada kok... > > Kalau booth poster bersebelahan dengan booth pameran industri, nah > celakalah,sebab booth pameran industri selalu menjadi magnet yang paling > kuat di setiap konvensi. > > Maka,kalau poster terasa sebagai kelas dua, ya kesalahannya ada di kita > juga. Semuanya harus berubah sebab presentasi poster harus dihargai > setinggi presentasi oral, penghargaannya juga harus sebanyak kategori2 > penghargaan di oral, jangan dibedakan. Penulis poster harus menyerahkan > full paper seperti juga oral. > > Tentang nilai cum untuk penulisan makalah, mestinya saat ini sudah > direvisi. IPA tak mencetak prosiding-nya secara langsung, tetapi > berdasarkan pesanan. Alasannya, biaya mencetak prosiding IPA itu semakin > mahal,sehingga satu volume harganya bisa sekitar Rp 1 juta. Memang di > penilaian cum ada kategori2 tertentu apakah makalahnya dimuat di jurnal > nasional, internasional, di publikasi yang punya ISBN, atau ISSN, dll. > Dalam era digital seperti sekarang mestinya aturan2 itu ditinjau lagi. > > Menulis paper untuk mengejar nilai cum guna mencapai posisi2 tertentu di > akademik memang pendorong semangat berkarya; hanya setelah posisi itu > tercapai, diharapkan jangan berkurang berkaryanya. Menulis memang bisa > berkorelasi dengan mengejar jabatan, sebab begitu memang rangsangan > aturannya; tetapi menulis paper sejatinya adalah untuk kemajuan sains > yang pada akhirnya berguna juga untuk kemajuan bangsa. > > Pengalaman pribadi saja, belasan tahun saya telah menulis paper dan > berbagai publikasi lainnya, sampai saat ini ada 130 publikasi, > setengahnya adalah paper2 ilmiah di berbagai pertemuan atau jurnal2 > nasional dan internasional yang ada makalah lengkapnya. Tidak ada nilai > cum, tidak ada posisi jabatan tertentu yang diberikan karena karya2 > tulis itu. Yang ada hanyalah perasaan cinta kepada geologi yang semakin > mendalam. Tetapi begitulah bila orang jatuh cinta, tentu banyak ia > menulis surat. > > salam, > awang > -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

