Wah begitu ya Pak Eddy, dengan Pak Dardji, ternyata banyak melanglang
buwana, yang kadang dengan sponsor pribadi juga. 

Ya, baguslah kalau kedepan Oral dan Poster, di hargai sama. Saya malah
sering memilih poster, atas waktu diskusi yang lebih banyak. Komentar
Pak Awang, memang cermat, jeli. Bagus. Yang perlu saya tambah adalah,
banyak diskusi yang bisa lahirkan ide-ide dengan diskusi detil di
Poster. 

Oral presentation, 7-14 slide, durasi 20 menit (0,3 jam). Poster, jauh
lebih banyak slide, 4-8 jam (atau 12-24 kali durasi oral. Pernah saya
ajukan, waktu itu kuduga sepi peminant, dengan dua judul. Pilihan
utamanya poster, pilihan 2nya malah Oral.

Di awali th 2003, dengan utamanya 2 poster. Masing-masing poster berisi
7x7 slide (atau semua 98 slide). Ya, memang satu poster itu saya kotaki
menjadi 7 baris dan 7 lajur, dan slide tinggal tempelkan di dalamnya.
Semakin tambah tahun, semakin banyak data. Sehingga harus memilih lagi,
mengurangi yang kurang penting, tambah yang lebih penting. Th 2004,
dapat sebagi Oral. Wah sedikit banget waktunya. Th 2005, ada 3 poster,
lebih padat. Th 2006, 3 poster dengan lebih padat lagi. Th 2007, dengan
7 poster (3 @ 7x7 slide, 4 dengan tabel kecil-detil). Tiga dinding penuh
semua. Kalau saja ada meja, tentu laptop saya juga saya letakkkan di
situ, untuk display data-data yang belum bisa di tayangkan.

Ide lain, saya buat saja folder (map), berisi teori saya, dan kapan saja
bisa diskusi. Kemana saja saya bawa folder (Salamologi) itu, dan bisa di
buka kapan saja. Di tempat makan, istirahat, jalan-jalan di kereta,
istirahat di airport, juga ketemu di kampus, kantor, dst.

Salam,
Maryanto.

-----Original Message-----
From: Eddy Subroto [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, April 25, 2008 2:46 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Poster vs Oral Presentation

Untuk orang yang bekerja di instansi tertentu menulis makalah memang
punya beberapa tujuan, antara lain untuk naik jabatan, untuk dapat
jalan-jalan ke tempat lain atau luar negeri, sebagai tuntutan
perusahaan, atau karena memang cinta (seperti kata Pak Awang di bawah).

Ada instansi yang "mapan" yang akan menyiapkan biaya bagi penulis
makalah.
Jadi kalau kata Pak Awang "karena jatuh cinta maka banyak menulis
surat,"
kalau di perguruan tinggi lebih dari itu: "kalau jatuh cinta banyak
menulis surat dan banyak mengeluarkan biaya." Kan ada plesetan lagunya
Titiek Puspa: "Jatuh cinta banyak biayanya." Kalau saya menulis makalah,
maka saya harus siap pula dengan faktor biaya ini. Mencari sponsor sih
mencari, tetapi kalau sampai tidak dapat sponsor ya saya akan minta
sponsor dari Yang Maha Kuasa. Beruntung saya punya teman sejawat, Pak
Dardji Noeradi, yang seide dengan saya, karena itu saya sering menulis
menulis makalah dengannya. Alhamdulillah, dengan sponsor Yang Maha Kuasa
ini kami dapat presentasi di AAPG Paris (2005), Perth (2006), dan ke
Middle East Geoscience Conference di Bahrain Maret 2008 kemarin. Kami
(saya dan Pak Dardji) sih berdoa untuk nanti ke AAPG Capetown (2 makalah
oral) dan ke AAAPG (Assoc. of Afro-Asian Petroleum Geochemists) Abuja
(Nigeria) (juga 2 makalah oral) akan dapat sponsor entah seluruhnya atau
hanya sebagian saja. Amin.

Beberapa teman saya di perguruan tinggi memang ada yang menulis makalah
untuk "memancing sponsor." Masalahnya, kelompok ini walau makalahnya
diterima kalau kebetulan tidak dapat sponsor, maka mereka tidak jadi
atau batal datang. Saya sering menasihati sambil bergurau kalau mereka
itu telah menghilangkan (mendhalimi) hak orang lain untuk berpresentasi
dan merugikan panitia dan juga hadirin.

Wasalam,
EAS

> "Perasaan" bahwa poster kelas dua harus dihapuskan baik dari panitia 
> konvensi maupun peserta konvensi, juga penulisnya. Tidak bisa 
> dinafikan bahwa perasaan kelas dua itu masih ada. IPA dalam lima tahun

> terakhir ini boleh dikatakan tak menganut pembedaan itu, sekali paper 
> lengkapnya dimuat dalam proceedings, maka hilanglah mana paper oral
mana paper poster.
>
>   Menyiapkan poster lebih susah daripada sekedar menyiapkan presentasi

> oral. Menyiapkan poster lebih makan waktu, tenaga, dan biaya. Dulu 
> saat presentasi oral masih menggunakan slide 35 mm menyiapkan 
> presentasi oral sama susahnya dengan menyiapkan poster. Sekarang, 
> dengan menggunakan power point presentation, 10 menit sebelum 
> presentasi pun kita masih bisa melakukan perubahan atas bahan
presentasi bila diperlukan.
>
>   Presentasi oral hanya 15-20 menit, lalu diskusi 5-10 menit; habis 
> itu orang melupakannya. Pembicara hanya cukup membawa flash disk dan 
> memberikan bahannya ke panitia untuk di-copy. Nah, poster : booth-nya 
> dijagai pembuatnya bisa setengah hari-sehari. Lalu ia/mereka juga 
> mesti siap sedia menjawab pertanyaan pengunjung selama posternya
digantung.
> Membawanya ke tempat konvensi pun tak sederhana, tak hanya disakui 
> seperti flash disk; tapi mesti dibawa menggunakan tabung pipa, dibawa 
> terbang, jauh melintasi benua2 (kalau mengikuti konvensi 
> internasional), merepotkan. Dan, biaya membuat poster dengan kualitas 
> cetak yang prima sungguh tak murah biayanya. Maka, sungguh tak adil 
> kalau poster dikelasduakan sebab dalam banyak hal menyiapkannya lebih 
> susah daripada presentasi oral.
>
>   Hanya, dalam pengamatan saya, orang2 lebih senang menonton 
> presentasi oral daripada presentasi poster. Mengapa ? Sebagian karena 
> kesalahan panitia juga yang menempatkan abstrak2 yang menurutnya 
> menarik menjadi presentasi oral; sedangkan yang ditaruh di poster yang

> menurutnya biasa2 saja; atau bila tak tertampung di oral, maka ditaruh
di poster saja.
> Sebagian lagi karena penonton umumnya pasif, mereka merasa lebih 
> nyaman duduk di ruang yang enak, setengah gelap, dan mengikuti 
> presentasi oral dengan nyaman. Coba kalau melihat poster, mereka mesti

> berdiri, berhadapan dengan penulisnya, dan merasa canggung bila diam 
> saja tak bertanya. Jadi, para pengunjung poster hanya berjalan-jalan 
> cepat melihat poster2 dari jauh. Unrtuk mendekatinya agak enggan, 
> apalagi kalau di booth poster itu gak ada orang lain hanya penulisnya.

> Umumnya si pengunjung tak akan mampir untuk berdiskusi dengan 
> penulisnya. Maka, begitu juga alasan mengapa booth poster sering juga 
> tak dijagai penulisnya -yang  lihat aja gak ada kok...
>
>   Kalau booth poster bersebelahan dengan booth pameran industri, nah 
> celakalah,sebab booth pameran industri selalu menjadi magnet yang 
> paling kuat di setiap konvensi.
>
>   Maka,kalau poster terasa sebagai kelas dua, ya kesalahannya ada di 
> kita juga. Semuanya harus berubah sebab presentasi poster harus 
> dihargai setinggi presentasi oral, penghargaannya juga harus sebanyak 
> kategori2 penghargaan di oral, jangan dibedakan. Penulis poster harus 
> menyerahkan full paper seperti juga oral.
>
>   Tentang nilai cum untuk penulisan makalah, mestinya saat ini sudah 
> direvisi. IPA tak mencetak prosiding-nya secara langsung, tetapi 
> berdasarkan pesanan. Alasannya, biaya mencetak prosiding IPA itu 
> semakin mahal,sehingga satu volume harganya bisa sekitar Rp 1 juta. 
> Memang di penilaian cum ada kategori2 tertentu apakah makalahnya 
> dimuat di jurnal nasional, internasional, di publikasi yang punya
ISBN, atau ISSN, dll.
> Dalam era digital seperti sekarang mestinya aturan2 itu ditinjau lagi.
>
>   Menulis paper untuk mengejar nilai cum guna mencapai posisi2 
> tertentu di akademik memang pendorong semangat berkarya; hanya setelah

> posisi itu tercapai, diharapkan jangan berkurang berkaryanya. Menulis 
> memang bisa berkorelasi dengan mengejar jabatan, sebab begitu memang 
> rangsangan aturannya; tetapi menulis paper sejatinya adalah untuk 
> kemajuan sains yang pada akhirnya berguna juga untuk kemajuan bangsa.
>
>   Pengalaman pribadi saja, belasan tahun saya telah menulis paper dan 
> berbagai publikasi lainnya, sampai saat ini ada 130 publikasi, 
> setengahnya adalah paper2 ilmiah di berbagai pertemuan atau jurnal2 
> nasional dan internasional yang ada makalah lengkapnya. Tidak ada 
> nilai cum, tidak ada posisi jabatan tertentu yang diberikan karena 
> karya2 tulis itu. Yang ada hanyalah perasaan cinta kepada geologi yang

> semakin mendalam. Tetapi begitulah bila orang jatuh cinta, tentu 
> banyak ia menulis surat.
>
>   salam,
>   awang
>



------------------------------------------------------------------------
--------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod

------------------------------------------------------------------------
--------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI
ANDA SEKARANG JUGA!!!

------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara
Mulia No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.
---------------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------------------------------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod

--------------------------------------------------------------------------------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke