Pak Andi,
 
Terima kasih atas kiriman beritanya, saya pikir benar ini yang dimaksud Pak 
Setiabudi. Melihat e-mail dari Pak Andri Syafriya yang ingat bahwa kejadian 
yang sama pernah terjadi juga beberapa tahun yang lalu di Danau Maninjau juga, 
maka Danau Maninjau punya kecenderungan tersebut.
 
Melihat isi beritanya, kelihatannya yang terjadi adalah dua hal : (1) ada gas 
belerang yang bisa keluar dari dasar danau yang dulunya kawah volkanik, (2) dan 
ada gas belerang H2S yang terbentuk akibat stagnant water di bawah dasar danau 
yang anoksik. 
 
Keduanya akan melakukan upwelling memang mengikuti densitasnya. Gas yang keluar 
secara periodik akan bergerak ke atas (upwelling) dan menyebabkan gelembung 
sekian banyak di permukaan (ingat pada saat kawah Kelud mau meletus), kemudian 
karena badai dan cuaca buruk gas belerang teraduk menyebar ke seluruh danau 
membunuh sekian banyak ikan di keramba terapung.
 
Stagnant water di bagian dasar danau yang dalam adalah masalah biasa sebab 
wilayah ini jarang tersentuh sirkulasi air akibat golakan angin yang terbatas 
di permukaan dan kedalaman dangkal danau. Stagnant water biasanya anoksik dan 
ketiadaan oksigen menyebabkan ia dalam keadaan reduksi dan berat. Dalam kondisi 
danau asal volkanik, ia pun dapat kaya akan H2S. Pada saat badai dan cuaca 
buruk di permukaan danau, massa air di permukaan dan kedalaman dangkal 
dipisah-pisahkan secara lateral sehingga terjadi mass defect atau kekurangan 
massa. Massa yang berkurang ini segera diisi oleh upwelling stagnant water yang 
anoksik dan kaya gas H2S dari dasar, yang lalu segera tersebar ke seluruh danau 
akibat badai juga. 
 
Maka yang terjadi adalah pembunuhan ikan di permukaan dalam keramba terapung 
oleh air dasar danau yang miskin oksigen (anoksik) dan kaya H2S -pasti 
matilah...
 
Saya tiba2 jadi ingat ulasan saya dulu (terlampir di bawah) tentang kepunahan 
massa pada Permian-Triassic, satu fragmennya : "extinction by upwelling anoxia 
H2S" terjadi di Danau Maninjau.
 
Salam,
Awang
 
LAMPIRAN
 
IMPACT FROM THE DEEP : GLOBAL WARMING EXTINCTION (IAGI-NET 5 Nov 2007)
   
  “Deep Impact” kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang menceritakan 
bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi. Tetapi, 
“Impact from the Deep” adalah judul sebuah teori baru yang pada intinya 
menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi sendiri. 
   
  Kepunahan masal (mass extinction) selalu menarik untuk dikaji. Telah cukup 
banyak buku dan artikel ilmiah ditulis untuk menampung argumen-argumen yang 
ada. Simposium khusus pun telah beberapa kali diadakan, terutama setelah teori 
Alvarez dikemukakan pada tahun 1980. Walter dan Luis Alvarez, pasangan 
anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika) mengemukakan teori 
bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million years ago) akibat Bumi 
dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini kemudian terbukti benar karena 
banyak bukti fisik di lapangan ditemukan akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan 
iridium ditemukan di mana-mana di seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di 
Indonesia belum ada yang menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan 
dengan ciri petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah 
benturan (impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung 
Yucatan Mexico yang disebut Kawah Chicxulub. Unsur Iridium langka
 ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial bodies seperti 
meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, ditaksir 
komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km.
   
  Karena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh 
extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu 
dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist penulis 
buku “Extinctions : Bad Genes or Bad Luck ? “ (terbit awal 1990an) menyatakan 
begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major extinctions, 
penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominant. Apakah benar begitu ? 
   
  Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini kita bisa catat telah 
terjadi lima kali kepunahan masal yang besar : (1) pada 443 Ma (ujung 
Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem), (4) 
pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur).  Kepunahan pada 251 
Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar menghapus 90 
% penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai serangga pun. 
Kepunahan ujung Perem adalah “great dying” atau “the mother of mass 
extinctions” tulis Douglas Erwin di majalah Scientific American edisi Juli 
1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid impact ? Peter Ward, 
profesor biology-earth and space sciences dari University of Washington 
melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal terbesar di ujung Permian ini 
(Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49).
   
  Lima tahun lalu, sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai 
mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah 
Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari 
lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi yang 
dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah. Karena 
kuatnya, biomarker ini masih terawetkan di sedimen2 meskipun jazad organismenya 
telah lenyap meluruh. Biomarker ini merupakan  kunci ke pengetahuan kondisi 
seperti apa yang terjadi di Bumi pada saat kehidupan organisme itu berlangsung. 
Sampling dan penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan masal. 
Dan para ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode2 mass 
extinction selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi 
lingkungan bahwa lautan2 purba telah beberapa kali berada pada kondisi 
kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan kondisi ini
 ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur bacteria yang bisa 
melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri sejenis ditemukan berupa 
green-purple sulfur bacteria di tempat2 dalam laut stagnant seperti Laut Hitam 
yang mengoksidasi H2S sebagai sumber energinya dan mengubahnya menjadi 
belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi banyak makhluk hidup. Kelimpahan 
bakteri ini pada periode2 kepunahan masal yang seperiode dengan turunnya 
kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka wawasan baru tentang penyebab 
kepunahan masal.
   
  Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan masal level 
oksigen selalu lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa banyak 
volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan masal – volkanisme adalah 
teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan masal. Volkanisme bisa 
meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan global 
warming.  Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak langsung 
menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga punahnya tanaman 
darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya CO2. Lalu, apa 
hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen, volkanisme yang 
meningkat, global warming dan kepunahan masal ? Adakah kaitan satu dengan yang 
lainnya, bagaimana ?
   
  Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments berumur 
ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti kimia tentang 
adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi H2S di 
lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat hidup di 
lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan cahaya 
Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di suatu lapisan 
batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat itu adalah juga 
suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya H2S.
   
  Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam keadaan 
setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di kawasan 
H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci oksigen. Hal 
yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah, sedangkan H2S 
berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S bertemu di tengah 
di suatu level yang disebut “chemocline” yang bisa setimbang, tetapi bisa juga 
terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini bisa berakibat dahsyat dan inilah 
yang terjadi di ujung Permian yang menyebabkan kepunahan masal yang paling 
besar dalam episode sejarah Bumi.
   
  Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University : Lee 
Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan, 
kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam, yang 
akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila 
konsentrasi H2S lautdalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic 
anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke atas 
(seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun dari tempat 
dalam akan masuk ke atmosfer.
   
  Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah terjadi 
toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan dan lautan. 
Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of Arizona 
menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan ozon Bumi pada 
Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan menerobos masuk 
membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti terhadap model ini 
datang dari fosil spora berumur ujung Permian di Greenland, yang menunjukkan 
deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure terhadap high level of UV.
   
  Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di 
ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh semua 
gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya temperatur, 
bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global warming, maka 
permusnahan akan semakin efektif ! Urutan model pemusnahan dengan cara ini 
adalah sebagai berikut : (1) kegiatan volkanik yang meningkat melepaskan CO2 
dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming, (3) laut yang menghangat akan 
mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke laut, (4) terjadi kekurangan 
oksigen – anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia akan mengganggu kesetimbangan 
chemocline – chemocline yang semula datar menjadi mengerucut dengan kolom 
dissolved oxygen berkurang sedangkan dissolved H2S meningkat, terjadi H2S 
upwellling, (6) green & purple sulfur bacteria berlimpah sementara mahkluk 
lautan yang bernafas dengan oksigen musnah akibat hilangnya oksigen dan
 naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang menyembur membunuh makhluk 
daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan akhirnya merobek perisai ozon, 
(9) radiasi UV menerobos via celah di perisai ozon membunuh kehidupan di Bumi 
yang masih tersisa, (10) kepunahan masal.
   
  Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah terjadi, 
apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian terjadi 
pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm, kadar CO2 di 
atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak perlu takut ? 
Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat CO2 di level 1000 
ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun. Bila dihitung secara 
linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada tahun 2200 nanti kadar CO2 
di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm –suatu kondisi yang sangat bisa 
mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan rentetan efek2 mematikan 
berikutnya seperti ditulis di atas.
 
-----Original Message-----
From: andi krisyunianto [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, January 09, 2009 4:23 C++
To: [email protected]; Forum HAGI
Subject: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan 
mati !!!
 
Pak Awang kalau tidak salah kutip, mungkin berita ini yang dimaksud oleh pak 
Setiabudi.
 
salam,
Andi
 
09/01/09 02:16Upwilling Matikan Ribuan Ton Ikan Maninjau, Kerugian Rp134 M
 
Padang
(ANTARA News) - Belasan ribu ton bangkai ikan budidaya di Danau
Maninjau, Sumatera Barat (Sumbar), yang mati akibat perubahan tekanan
arus air dan kandungan oksigen atau dikenal musim "upwilling" (tuba
belerang), mulai Kamis (8/1) siang dikubur massal di tepian selingkar
danau itu.
 
 
 
 
 "Ikan dengan jumlah sangat besar itu dikubur dalam puluhan lubang
ukuran besar yang digali dengan alat berat eskavator di selingkar
danau," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri
kepada ANTARA di Padang, Kamis.
 
 
 
 
 Penguburan dilakukan masyarakat bersama-sama khususnya para
nelayan usaha keramba apung Danau Maninjau. Bangkai ikan dikubur untuk
menghilangkan bau menyengat dan ikan-ikan itu tidak bisa dijual atau
dimanfaatkan karena telah mati dan membusuk.
 
 
 
 
 
   Ia menyebutkan, belasan ribu ton ikan itu mati sejak tiga hari terakhir, 
akibat terjadinya "upwilling" di Danau Maninjau.
 
 
 
 
 Normalnya ikan-ikan itu dipasok untuk kebutuhan pasar di Sumbar,
Riau, Jambi dan Sumatera Utara yang dikirim setiap hari oleh para
pengusaha perikanan Danau Maninjau.
 
 
 
 
 Kerugian materi akibat upwilling mencapai Rp134 miliar yang
diderita sekitar 1.200 kepala keluarga (KK) nelayan keramba apung di
Danau Maninjau yang mengusahakan lebih dari 13 ribu unit keramba apung
di selingkar danau.
 
 
 
 
 Menurut dia, upwilling sebagai penyebab matinya ikan Maninjau
terjadi karena perubahan arus air bawah permukaan danau yang naik ke
permukaan.
 
 
 
 
 Akibatnya, tekanan oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang
dimana secara teknis kandungan oksigen menyusut menjadi sekitar dua PPm
dari kondisi normal empat PPm.
 
 
 
 
 
   Kemudian kandungan amoniak dalam air meningkat menjadi sekitar 0,5 PPm dari 
kondisi normal 0,02 PPm.
 
 
 
 
 Dengan kondisi seperti itu menyebabkan kandungan belerang dalam
air ikut menyebar yang kemudian membunuh ikan di Danau Maninjau yang
juga telah kekurangan oksigen sehingga mati dalam jumlah sangat besar.
 
 
 
 
 Ia menyebutkan, upwilling terjadi akibat datangnya musim hujan
dalam waktu lebih lama disertai angin badai yang mempengaruhi perubahan
besar arus air di danau.
 
 
 
 
 Danau Maninjau berada di Kabupaten Agam, Sumbar, terletak sekitar
140 kilometer sebelah utara Kota Padang. Maninjau merupakan danau
vulkanik berada pada ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut
dengan luas sekitar 99,5 KM dan memiliki kedalaman maksimum 495
meter.(*)
COPYRIGHT © 2009
 
 
 
 
--- Pada Jum, 9/1/09, Awang Satyana <[email protected]> menulis:
Dari: Awang Satyana <[email protected]>
Topik: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan 
mati !!!
Kepada: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 9 Januari, 2009, 1:55 PM
 
Pak Setiabudi,
 
Sambil lalu, saya sempat menyaksikan tayangan hal ini di sebuah televisi.
Karena tak menyimak dengan baik alias sambil berlalu, saya tak tahu itu kejadian
di danau mana, tetapi memang di Sumatra, dan baru tahu juga kalau penyebabnya
oleh semburan sulfida dari dasar danau.
 
Ekshalasi gas sulfida (sulphide gas venting) umum ditemukan di danau-danau yang
sebenarnya merupakan kawah-kawah kompleks gunungapi berstatus dormant. Misalnya,
dua dari tiga danau kawah di Kelimutu Flores adalah danau dengan serupsi gas
sulfida yang kuat (saya mengulas tentang hal ini bulan lalu di milis ini). Yang
menyembur bukan hanya gas belerang, tetapi biasanya juga dengan metana, CO2,
atau CO. Sebagian gas2 ini kita tahu bersifat toksik. Gas sulfur saat bereaksi
dengan air bisa menghasilkan H2SO4 (asam belerang) atau H2S. Mungkin itu yang
meracuni ikan-ikan di danau.
 
Danau-danau di Sumatra, yang berlokasi di sepanjang Bukit Barisan sebagian
adalah sisa-sisa kawah gunungapi Kuarter atau yang lebih tua, maka fenomena
seperti di atas bisa saja terjadi.
 
Tetapi ikan mati secara masal juga bisa terjadi karena limbah (misalnya oleh
eutrofikasi ganggang atau eceng gondok) atau penyakit endemik seperti akibat
virus. Misalnya, di Danau Toba, pada November 2004, puluhan juta ekor Ikan Mas
yang dibudidaya warga ditemukan mati secara serentak akibat terserang virus koi
herpes yang mengakibatkan kerugian miliaran rupiah.
 
Maka bila benar ribuan ton ikan mati di danau Sumatra baru2 ini akibat suphide
gas venting di bawah danau, diperlukan juga penelitian geologi/volkanologi danau
tersebut.
 
salam,
awang
 
 



--- On Fri, 1/9/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote:

From: Awang Satyana <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan 
mati !!!
To: [email protected]
Date: Friday, January 9, 2009, 3:25 PM

Pak Andri,
 
Danau Maninjau ada di sekitar kompleks Gunungapi Marapi, keluarnya gas sulfur
bisa sebagai ekspresi bahwa danau Maninjau sebenarnya merupakan kawah gunungapi.
Posisinya juga persis di atas Sesar Sumatra, seperti juga kebanyakan gunungapi
di Sumatra, paling tidak menggambarkan bahwa Danau Maninjau adalah danau yang
terbentuk karena proses volkano-tektonik; maka keluarnya gas sulfur juga
berhubungan dengan hal ini. 
 
Gunungapi dormant artinya gunungapi yang aktif tidak mati pun tidak, hanya
tidur. Beberapa gejalanya memang dicirikan antara lain oleh suka keluarnya gas2
belerang (solfatara). Gas-gas ini (CO, metan, sulfur) sebenarnya berasal dari
mantel sebab kalau dianalisis isotop C-13 atau S-34 nya biasanya menunjukkan
asal anorganik. Mengapa ia keluar, sebab masih punya hubungan konduit ke bagian
bawah litosfer bisa oleh sesar2 dalam maupun diatrema gunungapi.
 
Bila ada gempa terjadi, akan terjadi peningkatan aktifitas sebab gelombang
gempa, terutama P-wave-nya dapat menginduksi mobilitas fluida termasuk gas2
venting ini. Peningkatan aktivitas ini, seperti temperatur air danau yang tiba2
bertambah harus dicurigai sebagai peningkatan volkano-tektonik di sekitarnya.
 
Salam,
awang
 
-----Original Message-----
From: Andri Syafriya [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, January 09, 2009 3:02 C++
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan
mati !!!
 
Pak Awang & Pak Setiabudi,
 
 
 
Seingat saya beberapa tahun lalu hal ini terjadi di Danau Maninjau, Sumbar.
Keluarnya gas sulfur dari dasar danau mengakibatkan pH air turun drastis
sehingga ikan2 di danau & tambak petani banyak yang mati. Pak Awang, saya
kurang mengerti maksud kawah gunung api berstatus dormant. Apakah sudah tidak
aktif lagi? Kemudian munculnya gejala ini apakah murni hanya aktifasi sesar2
disekitar danau tersebut, atau memang gejala kembali aktifnya gunung tersebut?
 
 
 
Terima kasih Pak
 
 
 
Andri

--- On Fri, 1/9/09, Setiabudi Djaelani <[email protected]>
wrote:

From: Setiabudi Djaelani <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati
!!!
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Friday, January 9, 2009, 11:33 AM

Kemarin pagi saya mendengar berita radio, ribuan ton ikan setiap hari mati di
danau ? (Sumatra) akibat keluarnya matrial sulfide dari bawah/ dasar  danau
tersebut.

Gejala geologi apakah gerangan itu ?  Mohon sharenya !! Apakah pernah terjadi
sebelumnya di tempat lain ??

Setiabudi Dj

--------------------------------------------------------------------------------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




      


      

Kirim email ke