Pak Andi, Terima kasih atas kiriman beritanya, saya pikir benar ini yang dimaksud Pak Setiabudi. Melihat e-mail dari Pak Andri Syafriya yang ingat bahwa kejadian yang sama pernah terjadi juga beberapa tahun yang lalu di Danau Maninjau juga, maka Danau Maninjau punya kecenderungan tersebut. Melihat isi beritanya, kelihatannya yang terjadi adalah dua hal : (1) ada gas belerang yang bisa keluar dari dasar danau yang dulunya kawah volkanik, (2) dan ada gas belerang H2S yang terbentuk akibat stagnant water di bawah dasar danau yang anoksik. Keduanya akan melakukan upwelling memang mengikuti densitasnya. Gas yang keluar secara periodik akan bergerak ke atas (upwelling) dan menyebabkan gelembung sekian banyak di permukaan (ingat pada saat kawah Kelud mau meletus), kemudian karena badai dan cuaca buruk gas belerang teraduk menyebar ke seluruh danau membunuh sekian banyak ikan di keramba terapung. Stagnant water di bagian dasar danau yang dalam adalah masalah biasa sebab wilayah ini jarang tersentuh sirkulasi air akibat golakan angin yang terbatas di permukaan dan kedalaman dangkal danau. Stagnant water biasanya anoksik dan ketiadaan oksigen menyebabkan ia dalam keadaan reduksi dan berat. Dalam kondisi danau asal volkanik, ia pun dapat kaya akan H2S. Pada saat badai dan cuaca buruk di permukaan danau, massa air di permukaan dan kedalaman dangkal dipisah-pisahkan secara lateral sehingga terjadi mass defect atau kekurangan massa. Massa yang berkurang ini segera diisi oleh upwelling stagnant water yang anoksik dan kaya gas H2S dari dasar, yang lalu segera tersebar ke seluruh danau akibat badai juga. Maka yang terjadi adalah pembunuhan ikan di permukaan dalam keramba terapung oleh air dasar danau yang miskin oksigen (anoksik) dan kaya H2S -pasti matilah... Saya tiba2 jadi ingat ulasan saya dulu (terlampir di bawah) tentang kepunahan massa pada Permian-Triassic, satu fragmennya : "extinction by upwelling anoxia H2S" terjadi di Danau Maninjau. Salam, Awang LAMPIRAN IMPACT FROM THE DEEP : GLOBAL WARMING EXTINCTION (IAGI-NET 5 Nov 2007) Deep Impact kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi. Tetapi, Impact from the Deep adalah judul sebuah teori baru yang pada intinya menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi sendiri. Kepunahan masal (mass extinction) selalu menarik untuk dikaji. Telah cukup banyak buku dan artikel ilmiah ditulis untuk menampung argumen-argumen yang ada. Simposium khusus pun telah beberapa kali diadakan, terutama setelah teori Alvarez dikemukakan pada tahun 1980. Walter dan Luis Alvarez, pasangan anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika) mengemukakan teori bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million years ago) akibat Bumi dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini kemudian terbukti benar karena banyak bukti fisik di lapangan ditemukan akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan iridium ditemukan di mana-mana di seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di Indonesia belum ada yang menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan dengan ciri petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah benturan (impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung Yucatan Mexico yang disebut Kawah Chicxulub. Unsur Iridium langka ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial bodies seperti meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, ditaksir komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km. Karena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist penulis buku Extinctions : Bad Genes or Bad Luck ? (terbit awal 1990an) menyatakan begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major extinctions, penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominant. Apakah benar begitu ? Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini kita bisa catat telah terjadi lima kali kepunahan masal yang besar : (1) pada 443 Ma (ujung Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem), (4) pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur). Kepunahan pada 251 Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar menghapus 90 % penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai serangga pun. Kepunahan ujung Perem adalah great dying atau the mother of mass extinctions tulis Douglas Erwin di majalah Scientific American edisi Juli 1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid impact ? Peter Ward, profesor biology-earth and space sciences dari University of Washington melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal terbesar di ujung Permian ini (Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49). Lima tahun lalu, sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi yang dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah. Karena kuatnya, biomarker ini masih terawetkan di sedimen2 meskipun jazad organismenya telah lenyap meluruh. Biomarker ini merupakan kunci ke pengetahuan kondisi seperti apa yang terjadi di Bumi pada saat kehidupan organisme itu berlangsung. Sampling dan penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan masal. Dan para ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode2 mass extinction selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi lingkungan bahwa lautan2 purba telah beberapa kali berada pada kondisi kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan kondisi ini ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur bacteria yang bisa melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri sejenis ditemukan berupa green-purple sulfur bacteria di tempat2 dalam laut stagnant seperti Laut Hitam yang mengoksidasi H2S sebagai sumber energinya dan mengubahnya menjadi belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi banyak makhluk hidup. Kelimpahan bakteri ini pada periode2 kepunahan masal yang seperiode dengan turunnya kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka wawasan baru tentang penyebab kepunahan masal. Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan masal level oksigen selalu lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa banyak volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan masal volkanisme adalah teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan masal. Volkanisme bisa meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan global warming. Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak langsung menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga punahnya tanaman darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya CO2. Lalu, apa hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen, volkanisme yang meningkat, global warming dan kepunahan masal ? Adakah kaitan satu dengan yang lainnya, bagaimana ? Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments berumur ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti kimia tentang adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi H2S di lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat hidup di lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di suatu lapisan batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat itu adalah juga suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya H2S. Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam keadaan setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di kawasan H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci oksigen. Hal yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah, sedangkan H2S berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S bertemu di tengah di suatu level yang disebut chemocline yang bisa setimbang, tetapi bisa juga terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini bisa berakibat dahsyat dan inilah yang terjadi di ujung Permian yang menyebabkan kepunahan masal yang paling besar dalam episode sejarah Bumi. Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University : Lee Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan, kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam, yang akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila konsentrasi H2S lautdalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke atas (seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun dari tempat dalam akan masuk ke atmosfer. Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah terjadi toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan dan lautan. Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of Arizona menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan ozon Bumi pada Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan menerobos masuk membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti terhadap model ini datang dari fosil spora berumur ujung Permian di Greenland, yang menunjukkan deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure terhadap high level of UV. Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh semua gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya temperatur, bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global warming, maka permusnahan akan semakin efektif ! Urutan model pemusnahan dengan cara ini adalah sebagai berikut : (1) kegiatan volkanik yang meningkat melepaskan CO2 dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming, (3) laut yang menghangat akan mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke laut, (4) terjadi kekurangan oksigen anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia akan mengganggu kesetimbangan chemocline chemocline yang semula datar menjadi mengerucut dengan kolom dissolved oxygen berkurang sedangkan dissolved H2S meningkat, terjadi H2S upwellling, (6) green & purple sulfur bacteria berlimpah sementara mahkluk lautan yang bernafas dengan oksigen musnah akibat hilangnya oksigen dan naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang menyembur membunuh makhluk daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan akhirnya merobek perisai ozon, (9) radiasi UV menerobos via celah di perisai ozon membunuh kehidupan di Bumi yang masih tersisa, (10) kepunahan masal. Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah terjadi, apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian terjadi pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm, kadar CO2 di atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak perlu takut ? Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat CO2 di level 1000 ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun. Bila dihitung secara linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada tahun 2200 nanti kadar CO2 di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm suatu kondisi yang sangat bisa mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan rentetan efek2 mematikan berikutnya seperti ditulis di atas. -----Original Message----- From: andi krisyunianto [mailto:[email protected]] Sent: Friday, January 09, 2009 4:23 C++ To: [email protected]; Forum HAGI Subject: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati !!! Pak Awang kalau tidak salah kutip, mungkin berita ini yang dimaksud oleh pak Setiabudi. salam, Andi 09/01/09 02:16Upwilling Matikan Ribuan Ton Ikan Maninjau, Kerugian Rp134 M Padang (ANTARA News) - Belasan ribu ton bangkai ikan budidaya di Danau Maninjau, Sumatera Barat (Sumbar), yang mati akibat perubahan tekanan arus air dan kandungan oksigen atau dikenal musim "upwilling" (tuba belerang), mulai Kamis (8/1) siang dikubur massal di tepian selingkar danau itu. "Ikan dengan jumlah sangat besar itu dikubur dalam puluhan lubang ukuran besar yang digali dengan alat berat eskavator di selingkar danau," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri kepada ANTARA di Padang, Kamis. Penguburan dilakukan masyarakat bersama-sama khususnya para nelayan usaha keramba apung Danau Maninjau. Bangkai ikan dikubur untuk menghilangkan bau menyengat dan ikan-ikan itu tidak bisa dijual atau dimanfaatkan karena telah mati dan membusuk. Ia menyebutkan, belasan ribu ton ikan itu mati sejak tiga hari terakhir, akibat terjadinya "upwilling" di Danau Maninjau. Normalnya ikan-ikan itu dipasok untuk kebutuhan pasar di Sumbar, Riau, Jambi dan Sumatera Utara yang dikirim setiap hari oleh para pengusaha perikanan Danau Maninjau. Kerugian materi akibat upwilling mencapai Rp134 miliar yang diderita sekitar 1.200 kepala keluarga (KK) nelayan keramba apung di Danau Maninjau yang mengusahakan lebih dari 13 ribu unit keramba apung di selingkar danau. Menurut dia, upwilling sebagai penyebab matinya ikan Maninjau terjadi karena perubahan arus air bawah permukaan danau yang naik ke permukaan. Akibatnya, tekanan oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang dimana secara teknis kandungan oksigen menyusut menjadi sekitar dua PPm dari kondisi normal empat PPm. Kemudian kandungan amoniak dalam air meningkat menjadi sekitar 0,5 PPm dari kondisi normal 0,02 PPm. Dengan kondisi seperti itu menyebabkan kandungan belerang dalam air ikut menyebar yang kemudian membunuh ikan di Danau Maninjau yang juga telah kekurangan oksigen sehingga mati dalam jumlah sangat besar. Ia menyebutkan, upwilling terjadi akibat datangnya musim hujan dalam waktu lebih lama disertai angin badai yang mempengaruhi perubahan besar arus air di danau. Danau Maninjau berada di Kabupaten Agam, Sumbar, terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang. Maninjau merupakan danau vulkanik berada pada ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 99,5 KM dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter.(*) COPYRIGHT © 2009 --- Pada Jum, 9/1/09, Awang Satyana <[email protected]> menulis: Dari: Awang Satyana <[email protected]> Topik: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati !!! Kepada: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]> Tanggal: Jumat, 9 Januari, 2009, 1:55 PM Pak Setiabudi, Sambil lalu, saya sempat menyaksikan tayangan hal ini di sebuah televisi. Karena tak menyimak dengan baik alias sambil berlalu, saya tak tahu itu kejadian di danau mana, tetapi memang di Sumatra, dan baru tahu juga kalau penyebabnya oleh semburan sulfida dari dasar danau. Ekshalasi gas sulfida (sulphide gas venting) umum ditemukan di danau-danau yang sebenarnya merupakan kawah-kawah kompleks gunungapi berstatus dormant. Misalnya, dua dari tiga danau kawah di Kelimutu Flores adalah danau dengan serupsi gas sulfida yang kuat (saya mengulas tentang hal ini bulan lalu di milis ini). Yang menyembur bukan hanya gas belerang, tetapi biasanya juga dengan metana, CO2, atau CO. Sebagian gas2 ini kita tahu bersifat toksik. Gas sulfur saat bereaksi dengan air bisa menghasilkan H2SO4 (asam belerang) atau H2S. Mungkin itu yang meracuni ikan-ikan di danau. Danau-danau di Sumatra, yang berlokasi di sepanjang Bukit Barisan sebagian adalah sisa-sisa kawah gunungapi Kuarter atau yang lebih tua, maka fenomena seperti di atas bisa saja terjadi. Tetapi ikan mati secara masal juga bisa terjadi karena limbah (misalnya oleh eutrofikasi ganggang atau eceng gondok) atau penyakit endemik seperti akibat virus. Misalnya, di Danau Toba, pada November 2004, puluhan juta ekor Ikan Mas yang dibudidaya warga ditemukan mati secara serentak akibat terserang virus koi herpes yang mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Maka bila benar ribuan ton ikan mati di danau Sumatra baru2 ini akibat suphide gas venting di bawah danau, diperlukan juga penelitian geologi/volkanologi danau tersebut. salam, awang
--- On Fri, 1/9/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote: From: Awang Satyana <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati !!! To: [email protected] Date: Friday, January 9, 2009, 3:25 PM Pak Andri, Danau Maninjau ada di sekitar kompleks Gunungapi Marapi, keluarnya gas sulfur bisa sebagai ekspresi bahwa danau Maninjau sebenarnya merupakan kawah gunungapi. Posisinya juga persis di atas Sesar Sumatra, seperti juga kebanyakan gunungapi di Sumatra, paling tidak menggambarkan bahwa Danau Maninjau adalah danau yang terbentuk karena proses volkano-tektonik; maka keluarnya gas sulfur juga berhubungan dengan hal ini. Gunungapi dormant artinya gunungapi yang aktif tidak mati pun tidak, hanya tidur. Beberapa gejalanya memang dicirikan antara lain oleh suka keluarnya gas2 belerang (solfatara). Gas-gas ini (CO, metan, sulfur) sebenarnya berasal dari mantel sebab kalau dianalisis isotop C-13 atau S-34 nya biasanya menunjukkan asal anorganik. Mengapa ia keluar, sebab masih punya hubungan konduit ke bagian bawah litosfer bisa oleh sesar2 dalam maupun diatrema gunungapi. Bila ada gempa terjadi, akan terjadi peningkatan aktifitas sebab gelombang gempa, terutama P-wave-nya dapat menginduksi mobilitas fluida termasuk gas2 venting ini. Peningkatan aktivitas ini, seperti temperatur air danau yang tiba2 bertambah harus dicurigai sebagai peningkatan volkano-tektonik di sekitarnya. Salam, awang -----Original Message----- From: Andri Syafriya [mailto:[email protected]] Sent: Friday, January 09, 2009 3:02 C++ To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati !!! Pak Awang & Pak Setiabudi, Seingat saya beberapa tahun lalu hal ini terjadi di Danau Maninjau, Sumbar. Keluarnya gas sulfur dari dasar danau mengakibatkan pH air turun drastis sehingga ikan2 di danau & tambak petani banyak yang mati. Pak Awang, saya kurang mengerti maksud kawah gunung api berstatus dormant. Apakah sudah tidak aktif lagi? Kemudian munculnya gejala ini apakah murni hanya aktifasi sesar2 disekitar danau tersebut, atau memang gejala kembali aktifnya gunung tersebut? Terima kasih Pak Andri --- On Fri, 1/9/09, Setiabudi Djaelani <[email protected]> wrote: From: Setiabudi Djaelani <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Erupsi Sulfida dari bawah danau .....ribuan ton ikan mati !!! To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Friday, January 9, 2009, 11:33 AM Kemarin pagi saya mendengar berita radio, ribuan ton ikan setiap hari mati di danau ? (Sumatra) akibat keluarnya matrial sulfide dari bawah/ dasar danau tersebut. Gejala geologi apakah gerangan itu ? Mohon sharenya !! Apakah pernah terjadi sebelumnya di tempat lain ?? Setiabudi Dj -------------------------------------------------------------------------------- serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008 ketua umum: LAMBOK HUTASOIT sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI... -------------------------------------------------------------------------------- ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38 dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG * mungkin di semarang * mungkin pula di solo * mungkin juga join dg HAGI dll. ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

