Silahkan kalau mau fotocopy, karena sangat lengkap termasuk SK izin2-nya serta surat2 keputusan pemerintah Penjajahan Belanda mengenai explorasi dan exploitasi minyak bumi. Tadinya saya kira Pak Awang itu mengutip dari buku itu, karena apa yang diceritakan Pak Awang itu ada semua di buku tersebut.
Wassalam
RPK
----- Original Message ----- From: "Awang Satyana" <[email protected]> To: <[email protected]>; "Geo Unpad" <[email protected]>; "Forum HAGI" <[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>
Sent: Monday, March 09, 2009 12:04 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa


Pak Rovicky,

Sumber tulisan saya, sebagaimana biasanya, banyak dan campur2. Tentang Jan Reerink ini salah satunya saya ambil dari website CCOP bab Indonesia tentang sejarah eksplorasi di Indonesia, dikonfirmasi oleh beberapa buku seperti van Bemmelen (1949) vol. IB dan beberapa buku serta laporan lain.

Sumber seperti yang disebutkan Pak Koesoema (Poley, 2000) saya pikir akan sangat baik; kapan-kapan barangkali saya boleh fotokopi bukunya bila diizinkan.

Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama "pasaran" orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah.

Selidik punya selidik, ia mengetahui bahwa minyak yang digunakan penduduk berasal dari sebuah rembesan minyak yang keluar dari kebun tembakau. Tak berpikir lama lagi, instink bisnisnya berjalan, ia segera mendapatkan konsesi sebuah wilayah bernama Telaga Said di wilayah Langkat di mana rembesan minyak itu berada. Konsesi itu ia dapatkan dari Sultan Langkat. Dengan eksplorasi sederhana dimulailah pekerjaan berburu minyak. Usahanya ini mendapatkan dukungan Pemerintah Belanda.

September 1884 (perhatikan bukan 1885 - tahun 1885 adalah tahun yang selama ini digunakan sebagai angka tahun mulainya sejarah perminyakan di Indonesia) sebuah sumur pertama di Sumatra bernama Telaga Tunggal-1 di Sumatra Timurlaut sukses menemukan minyak. Sesuai aturan pemerintah saat itu, konsesi Telaga Said beralih ke Royal Dutch (sebuah perusahaan milik Kerajaan Belanda untuk mengeksploitasi minyak di Indonesia) pada September 1890. Tiga bulan kemudian, Zijlker meninggal dunia (Desember 1890), apakah ia meninggal karena kecewa melihat sukses beralih dari tangannya, bisa diselidiki lebih jauh.

Maka jelas, bahwa Maja-1 (Cibodas Tangat-1) lebih dulu dibor (1871) daripada Telaga Tunggal-1 (1884).

Seorang sahabat pena saya, generasi ke-3 dari orang-orang Amerika dan Belanda yang mengembangkan Telaga Said pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, baru-baru ini mengirimkan foto-foto lama tentang suasana Telaga Said saat itu, foto-foto itu warisan dari kakek buyutnya yang dulu bekerja di Telaga Said. Foto2 ini tak pernah dipublikasikan sebelumnya tentu.

Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai oleh para independen yang berani seperti Jan Reerink (1871) dan Jan Zijlker (1880). Mungkin kita perlu melihat lagi bahwa sejarah perminyakan Indonesia dimulai bukan dari 1885, tetapi lebih awal lagi.

salam,
awang

--- On Mon, 3/9/09, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
To: [email protected], "Geo Unpad" <[email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>
Date: Monday, March 9, 2009, 10:18 AM

Kalau boleh tahu yg dicritakan kembali PakAwang ini dari mana
sumbernya ?. Kisahnya sangat menarik.  Bagaimana dengan sumur Telaga
tunggal di Sumut ? Mana yg lebih dulu ?

Btw saya sedang berusaha memindahkan artikel2 geoblogi.wordpress.com
ke geoblogi.iagi.or.id . Adakah yg tertarik menjadi pengelola besama ?

Salam
Rdp

On 3/9/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
Pak Syaiful,

Saya tak punya referensi aslinya, saya menemukan dua nama (Madja-1 dan
Tjibodas Tangat-1) dari laporan2 tidak dipublikasikan yang digunakan
untuk
sumur eksplorasi pertama di Indonesia itu. Saya tak yakin bahwa ada
laporan2
resmi untuk sumur2 yang dibor Jan Reerink sebab pada zaman itu belum ada
perusahaan minyak Belanda di Indonesia. Meskipun demikian, kawan2 dari
Pertamina EP atau Pertamina Cirebon barangkali bisa memberikan informasi
lebih lanjut.

Maja dan Cibodas adalah dua nama tempat di lereng barat Ciremai, bisa
dicapai dari Majalengka ke Cikijing melalui jalan kabupaten. Cikijing
adalah
nama tempat di tepi jalan raya dari Kuningan ke Ciamis.

salam,
awang
--- On Mon, 3/9/09, [email protected]
<[email protected]>
wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa
To: "Milis PP-IAGI" <[email protected]>
Date: Monday, March 9, 2009, 2:09 AM

Cerita yg menarik dan memberikan motivasi. Jadi, pak Awang, satu sumur
pertama
tsb punya dua nama: Madja-1 dan Tjibodas Tangat-1? Kalau boleh tahu,
referensinya apa? Apakah masih ada semacam 'laporan pemboran'
(tentu
dalam Bahasa Belanda ya) atau data/sketsa jaman dulu?

Salam,
Syaiful

Mohammad Syaiful
* handphone: +62-812-9372808
* business: [email protected]

-----Original Message-----
From: Awang Satyana <[email protected]>

Date: Sun, 8 Mar 2009 10:38:59
To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>;
Geo
Unpad<[email protected]>; Eksplorasi
BPMIGAS<[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Jan Reerink (1871) dan Tantangan Eksplorasi Jawa

Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada
zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan
ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu
melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di
Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa
ada
rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa
Cibodas,
Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.

Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink tak menemui kesulitan
dalam
melobi Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk
menyokong usahanya mencari minyak. Setelah sokongan diperoleh, Reerink
pergi
ke
Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat
Ciremai
di
mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya
Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake mengebor sumur minyak
pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari
minyak.
Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan
Indonesia
sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia.

Sumur pertama itu dinamai Madja-1 atau Tjibodas Tangat-1. Tali, bukan
pipa,
digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau
casing.
Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari
generator yang dihela beberapa ekor kerbau. Sumur pertama ini menemukan
minyak
walaupun sedikit. Reerink kemudian membor tiga sumur lagi di Cibodas dan
dua
di
antaranya menemukan sedikit minyak.

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink
berpikir
bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam.
Maka
Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga
uap,
sebagai pengganti tenaga kerbau. Tahun 1874, Reerink memulai periode kedua
kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor
beberapa sumur di Panais, Madja, dan Tjipinang. Semuanya berlokasi di
lereng
barat Gunung Ciremai, sayang semuanya gagal.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini.
Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch
Shell)
telah mengeluarkan 225.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang
pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin
berusaha
setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, tetapi
perusahaan dagang Belanda itu tak mau lagi menyokong dananya.

Pada akhir Juli 1876, Reerink kembali ke tokonya dan mengubur mimpinya
menemukan dan menjadi saudagar minyak. Meskipun demikian, Jan Reerink
patut
dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari
minyak.
Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke
utara
dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM
(Bataafsche
Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat
di
Lapangan Randegan. Berturut-turut, kemudian penemuan lapangan-lapangan
penting
terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan
menuju
Ciremai.
Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir
dan
sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. Apakah Ciremai, Kuningan,
Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai
wilayah
minyak ? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas
ini
merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa.
Dan
rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing
eksplorasi.

Sebuah keunikan geologi, tektonik,volkanisme, dan petroleum system terjadi
di
wilayah dari Majalengka-Banyumas. Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan
uang
pribadinya di lereng Ciremai. Ia belum beruntung saja. Keuntungan
barangkali
akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar
dari
wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam
hal
ini.

Perburuan telah dimulai dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan
Reerink,
diteliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut
(Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di
Banyumas,
ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat
ditentukan,
mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data dan sains, dst., dst.

Jawa masih menyimpan banyak misteri. Minyak tak hanya ada di
cekungan-cekungan
produktif saat ini.

Salam,
awang








--
Sent from my mobile device

Tempe anget :
http://tempe.wordpress.com/2009/03/04/dalam-politik-itu-yang-bagus-hanya-satu-menang/

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------









__________ NOD32 3917 (20090307) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke