Pak Natan,

Menjawan pertanyaan pak Natan, secara umum, Mud Loss terjadi apabila
pore press < hydrostatic press dari mud sesudah ECD, mud cakes dan
pressure loss lainnya diperhitungkan. Beberapa saat sesudah terjadinya
gempa Yogya, sumur mengalami dua mud loss. Sebelumnya, tidak ada mud
losses pada hole section ini. Juga tidak ada penaikan berat lumpur pada
interval 5000 ft terakhir.

Yang menjadikan loss ini menarik adalah 'timing' dan 'rate of loss'.
Mengapa timingnya dekat dengan terjadinya gempa? Mengapa rate of loss
nya demikian besar? Data2 nya yang bisa dibaca di paper kami adalah: Mud
Loss pertama terjadi ~7 minutes sesudah terjadinya gempa Yogya; Mud Loss
kedua ~90 minutes sesudah terjadi dua gempa susulan; Rate of loss
pertama adalah ~300 bph dan yang kedua ~900 bph.

Rate of loss yang sebegitu besar menunjukkan bahwa ini bukan seepage
loss atau loss of mud yang normal terjadi di drilling. Ini adalah suatu
rate yang besar yang bisa terjadi karena memasuki formasi karbonat
dengan lobang yang besar (cavern) atau formasi yang tiba2 merekah dan
terciptanya rongga yang sangat besar. Pertanyaanya adalah mengapa waktu
loss ini berdekatan dengan waktu terjadinya gempa? Apakah ini hanya
suatu 'kebetulan' saja atau memang ada kaitannya? Wallahu alam.

Jadi apakah kita menyalahkan loss ini kepada gempa? Tidak juga, dalam
Paper tersebut kami memberikan informasi adanya loss of mud dan gempa
Yogya yang berdekatan dan mengatakan '......... the proximity of the two
events suggests a temporal connection exists ......'. Jadi timing dari
loss diberikan sebagai informasi, dan bukan pembenaran dari gempa
sebagai penyebab LUSI.

Paper tersebut sengaja kami tidak membahas hypotheses lain seperti gempa
/ fault reactivation atau geothermal process karena kami bukan ahlinya.
Yang dibahas secara rinci dan transparan adalah analisa tekanan yang ada
di sumur dan kesimpulan bahwa sumur tidak dalam keadaan bocor. Tujuan
kedua dari paper tersebut adalah untuk membuka data2 pengeboran, 'black
box', evidence dan informasi agar para ilmuwan dimasa depan dapat
melakukan research berdasarkan dengan data dan bukan asumsi.

Drilling data yang bapak maksud sebagai berikut:
* MW in 14.7 ppg. Berat lumpur yang sama dipakai pada 5000 ft terakhir
* ECD ~15 ppg dari perhitungan(Mud Eng dan Mud Logger keduanya melakukan
perhitungan tersebut). PWD tool atau pressure measurement tool lainnya
tidak dipakai
* LOT 16.4 ppg @ 3580 ft, 12-1/4" hole section.
* Formasi dari kedalaman ~6000 ft adalah batuan volkani-klastic sampai
pada kedalaman 9297 ft TD.

Berdasarkan mud logs, tidak ada formasi baru yang di bor. Formasi tetap
volkani-klastic dan belum ada indikasi bahwa lapisan karbonat sudah
dibor. Perlu ditambahkan bahwa top of karbonat di offset wells
menunjukkan adanya sekitar 50 ft hard pan pada top of carbonate tanpa
adanya mud loss.

Wass.
Bambang


-----Original Message-----
From: Nataniel Mangiwa [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, March 04, 2010 12:54 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI

Pak Bambang,

Mari bicara teknis..

Tolong dijelaskan apa hubungannya Loss Circulation dan Total Loss,
dengan
gempa? Apa bapak yakin Loss tersebut karena Gempa? Dalam drilling, loss
adalah hal biasa..even total loss. Dan tidak harus ada gempa, loss
circulation bisa terjadi. Kenapa digiring ke Gempa? Apa memang tidak
bisa
dijelaskan dengan mekanisme drilling yang biasa? Apa tidak ada Formasi
yang
bisa menyebabkan loss di depth segitu ataupun depth di atasnya?

Lalu..saat loss tersebut berapa MWin? ECD diukur dengan ECD tool atau
hanya
based on calculation? Loss circulation tidak harus karena ECD > Leak
pressure.

2010/3/4 Paulus Tangke Allo <[email protected]>

> ---------- Forwarded message ----------
> From: Bambang P. Istadi <[email protected]>
>
>
> Pak Bosman yang baik,
>
> Terima kasih atas pertanyaan dan komentarnya soal ketabahan,.. memang
> sudah konsekuensi dari seorang geologist yang berasosiasi dengan
masalah
> LUSI. Dengan senang hati saya menjawabnya jika bisa.
>
> Berikut saya kirimkan data2 yang dimaksud,.. silahkan
diinterpretasikan
> sendiri, yang kiri berupa seismograph dari stasion BMG Tretes
sedangkan
> yang kanan adalah "real time chart" atau yang sering disebut sebagai
> "black box". Saya masukkan juga phase report yang ada remark "Off
> Scalle" serta peta USGS Intensity map.
>
> Wass.
> Bambang
>
>
> -----Original Message-----
> From: bosman batubara [mailto:[email protected]]
> Sent: Wednesday, March 03, 2010 4:21 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI
>
>  Pak Bambang y tabah menjawabi e-mail2...
>
> Saya ingin mempertajam diskusi kita pada perihal pengukuran gempa
> Yogyakarta 27 Mei 2006 pada stasiun BMG Tretes. Pak Bambang bilang BMG
> Tretes menyatakan mereka mencatat Gempa Yogya 27 Mei 2006 sebagai
> "magnitude off scale" dan "entah artinya seberapa kuatnya gempa ini".
>
> Pernyataan2:
>
>        1. Saya bukan pakar, akan tetapi secara pemikiran saya, kalau
> pada saya ada suatu alat pengukur, dan dan dalam alat yang saya pegang
> menyatakan bahwa apa yang saya ukur "off scale", maka bagi saya hanya
> ada 2 kemungkinan, pertama, apa yang saya ukur terlalu kecil sehingga
> tidak dapat dideteksi, dan kedua, yang saya ukur terlalu besar
sehingga
> juga "off scale". Jadi terbuka kemungkinan berdebat dan berkelit di
> sini, tergantung siapa yang menginterpretasi. Yang penting datanya
> "magnitude off scale". Tidak saya perpanjang soal ini.
>        2. Kemudian, dalam Majalah Tempo edisi 2 Maret 2008 halaman
> 34-35 dalam tulisan yang berjudul "Tak Boyak Dirundung Gempa"
dinyatakan
> bahwa justru Edi Sutriono (dalam tulisan itu disebut sebagai kepala
tim
> Pengeboran Lapindo) lah yang menyimpulkan bahwa gempa Yogya 27 Mei
2006
> tercatat "out of scale" di stasiun BMG Tretes. Sementara ketika
> wartawannya mewawancari Hariyanto, Kepala BMG Tretes, justru
didapatkan
> keterangan sebaliknya. Tulisan itu menyebutkan bahwa BMG Tretes
mencatat
> gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 sebesar 1-2 MMI. Dalam tulisan itu lebih
> lanjut dinyatakan bahwa di stasiun BMG Karangkates, Malang, tercatat
> gempa Yogja 27 Mei 2006 sebesar 3-4 MMI. Itu versi Majalah Tempo.
>
>        3. Dalam makalah-makalah mereka (untuk poin ini saya hanya
> mengandalkan ingatan, masih belum sempat buka makalah2, maaf)
sepertinya
> argumen2 kunci adalah: Prof Rudi CS, adanya underground blowout pada
> kedalaman sekitar terjadinya stuck; Tingay cs, casing di sumur BJP-1
> dipasang tidak seperti yang direncanakan; Manga, grafik yang
menunjukkan
> hubungan antara jarak sebuah-episenter-gempabumi dengan
> respon-hidrologi-yang-ditimbulkannya; Pak Bambang, Mazzini dkk.; data2
> pemboran, Leak off Test, analisis geokimia terutama berhubungan dengan
> sumber fluida; Pak Awang, lebih kepada geologi regional (data
persebaran
> mud volcano dari Cekungan Bogor ke Selat Madura, elisional basin) dan
> preseden sejarah.
> Pertanyaan2:
>
>        1. Berhubungan dengan pernyataan saya nomer 3, apakah tabel
> laporan BMG yang Pak Bambang kutip sudah dipublikasikan sebagai data
> dalam salah satu artikel2 soal Lusi?
>        2. Kalau ya, dimana ya Pak, mungkin saya kelewat/lupa, minta
> informasinya Pak.
>        3. Apa pendapat Pak Bambang soal poin nomer 2 di atas, tentang
> pemberitaan di Majalah Tempo itu? Maksud saya, tampaknya informasi di
> Majalah Tempo berbeda dengan apa yang Bapak sampaikan di email.
Sebagai
> informasi tambahan, beberapa waktu yang lalu saya juga membaca di
koran
> Tempo bahwa dalam momen launching film Mud Mux di Arizona, sewaktu
> wartawan menanyakan tentang hal bahwa "gempabumi Yogyakarta 27 Mei
2006
> hanya tercatat sebesar 1-2 MMI di stasiun BMG Tretes", Mazzini tidak
> berkomentar apa-apa (seharusnya ini saya tanyakan ke Mazzini sih...)
>
>        4. Terima kasih ya Pak. Selamat berjuang. Semoga tetap tabah
> menjawabi e-mail2. Kalau saya jadi Bapak, mungkin kepala saya sudah
> meledak. Berasap.
>
>
> tabik
> bosman batubara
>
> weblog: http://annelis.wordpress.com
>
>
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
>
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2
Desember
> 2010
>
>
------------------------------------------------------------------------
-----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to
direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from
loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use
of any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke