Ass, maaf kita hidup harus optimis dg penuh keimanan, banyak persoalan di depan kita, Kita sendiri Keluarga kita Teman kita Tetangga kita Lingkungan kita ( di jalan, tempat kerja , dll ) Jadi jelas kalau kita hanya memikirkan takdir, kapan berbuat baik sama orang,
Alloh Maha Pemurah dan berkehendak Alloh Azza wazalla Lukman efendi -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[email protected]] Sent: Friday, December 24, 2010 10:52 AM To: [email protected]; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS; Forum HAGI Subject: Re: [iagi-net-l] Teologi Kebencanaan Terima kasih Pak Vicky atas komentar dua mazhab pemikiran Islam terhadap takdir, suatu pengetahuan baru juga buat saya. Epicurus, meskipun filsafatnya kelihatan mirip dengan Stoisisme, ternyata berbeda dalam penolakannya yang konsisten terhadap nasib/takdir. Epicurus menyarankan pencapaian kedamaian batin. Baginya membuang semua ketakutan dan agama (agama saat itu yang menyembah para dewa) itu penting, khususnya ketakutan akan kematian. Bagi Epicurus, fungsi filsafat adalah membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan takhayul. Ini merintis materialisme dan empirisme dalam ilmu pengetahuan. Alam yang diajarkan Epicurus, yang dinamainya fisika, berbingkai praktis. Dengan ajarannya itu, ia hendak membebaskan manusia dari kepercayaan kepada para dewa. Dunia ini bukan dijadikan dan dikuasai oleh dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh hukum-hukum fisika. Seperti pandangan-pandangan Demokritos yang banyak mempengaruhinya, ia mencoba menerangkan persangkutpautan alam itu dengan jalan kausal dan mekanistik. Segala yang trjadi disebabkan oleh sebab-sebab kausal dan mekanik. Tidak perlu dewa-dewa diikutsertakan dalam hal peredaran dan ritme alam ini. Epicurus menolak "creatio ex nihilismo", menggunakan teori Demokritos, ia mengatakan bahwa "ada tak bisa timbul dari tidak ada dan ada tidak bisa lenyap ke dalam tidak ada" (dalam kimia dan fisika kita mengamininya sebagai hukum kekekalan massa atau hukum kekekalan enrgi, kita ingat bahwa Demokritos adalah bapak atom klasik). Maka, saya yakin bila Epicurus yang hidup pada sekitar 270 SM itu diperhadapkan ke diskusi kita pada saat ini soal bencana alam yang menjadi "takdir" manusia yang tinggal di atas tubrukan lempeng-lempeng di Indonesia, Epicurus akan berpendapat bahwa itu semua adalah hukum alam. Lalu ia akan berpendapat kalau tak mau kena bencana itu "jangan berumah di tepi pantai bila takut dilimbur pasang". Satu yang penting dari Epicurus adalah ajarannya tentang etika, walaupun ia mngajarkan bahwa sesudah manusia mati tidak akan ada kehidupan lagi (tetapi saya percaya ada kehidupan bentuk lain sesudah kematian). Etika Epicurus mengajarkan: hidup itu barang sementara yang tak ternilai harganya, maka buatlah hidup itu dengan apa yang dapat dicapai... salam, Awang --- Pada Jum, 24/12/10, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> menulis: > Dari: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > Judul: Re: [iagi-net-l] Teologi Kebencanaan > Kepada: [email protected], "Geo Unpad" <[email protected]>, > "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>, "Forum HAGI" > <[email protected]> > Tanggal: Jumat, 24 Desember, 2010, 9:32 AM > Pernyataan Epikurus sangat > intriquing. Bermata dua. Sangat menarik. > Dalam Islam kita mengenal rukun iman dimana salah satunya > mengimani > Takdir (takdir baik dan takdir buruk). Kedua takdir > (baik-buruk) itu > diimani berasal dari Allah. Namun Islam mengajar untuk > selalu > "berprasangka baik" kepada Allah. > Ketika sudah terjadi sangat mudah bagi muslim utk > mengatakan itu > adalah takdir. Namun seandainya belum terjadi, Islam > mengenal dua > aliran atau pemahaman Jabariyah dan Qodariah, yg seolah > bertentangan > namun sebenernya saling mengisi. Bagi yg cenderung > mempertentangkan > kedua menjadi terpisah jauh. Tapi bagi saya keduanya > seperti dua sisi > mata uang. Satu sisi saja tidak ada artinya. > Melihat kejadian alam memang dapat dilakukan dari dua sisi > yg berbeda. > > Kedua (Jabariah dan Qodariyah) adalah basis dalam mitigasi > bencana. > > Sebelum terjadi saya cenderung akan Qodariyah spt dalam QS > Ar-Ra'ad 11 > "sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, > kecualai > mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dalam hal ini > pendekatan > sains ilmiahnya adalah "Pre-disaster Mitigation". > > Setelah terjadi saya cenderung menggunakan pemikiran > Jabariah spt > dalam QS Ash Saffat 96 "Allah menciptakan kamu dan apa yg > kamu > perbuat". Saat sudah terjadi saya menerima apapun yg > terjadi ini > sebagai konsekuensi logis dari peristiwa alam dan upaya > manusia. Namun > tentusaja masih dalam koridor "berprasangka baik". > Pendekatan sains > ilmiahnya tentusaja "Post disaster Mitigation" sebagai > pendekatan > "belajar" (meneliti) utk mengantisipasi kejadian yg akan > berulang lagi > karena proses alam itu tidak berhenti. > > Pemahaman proses yg berulang dalam Islam dapat didekati > secara ritual > dalam prosesi 'thawaf" mengelilingi Kabah sewaktu berhaji. > Doa yg > sering saya lantunkan ketika thawafpun doa sederhana yg > dikenal > sebahai doa sapu jagad "robanna atina fidunya hasanah, > wafilakhiroti > khasanah, waqinna adza bannar " (Ya Allah berikan kami > kebaikan di > dunia dan akhirat. Dan selamatkan kami dari siksa neraka). > Pada sepanjang perjalanan perulangan proses alam ini saya > (manusia) yg > beriman akan berdoa supaya selamat melangkah dari siklus ke > siklus yg > lain. > > Disinilah muslim diajarkan untuk "berprasangka baik" pada > setiap > peristiwa alam, baik sebelum maupun setelah kejadian > fenomena alam > (fenomena geologi). Sehingga penelitian kejadian bencana > geologi atau > Mitigasi (pre-post) harus diyakini akan berakibat manusia > menjadi > lebih baik. > > Trimakasih ilmu sejarah pemahaman manusia yg baru saya > ketahui ini, pak Awang. > > Salam. > Rdp > > On 24/12/2010, Awang Satyana <[email protected]> > wrote: > > Hari Sabtu minggu yang lalu, saya hadir di sebuah > gereja di wilayah Cibubur > > dalam sebuah diskusi panel berjudul "bencana alam: > fenomena alam atau > > hukuman Tuhan?". Diskusi dihadiri oleh lima orang > pendeta, beberapa orang > > relawan dan penggiat LSM bencana, dan sekitar 30 orang > warga gereja > > setempat. > > > > Diskusi ini diadakan dalam rangka pembahasan "teologi > kebencanaan" oleh PGI > > (persekutuan gereja-gereja di Indonesia) sebagai upaya > menjawab pertanyaan > > di masyarakat yang senantiasa merasa atau bertanya > apakah bencana merupakan > > hukuman Tuhan. > > > > Setelah kebaktian singkat yang dipimpin oleh seorang > pendeta, saya diminta > > mempresentasikan materi yang telah saya siapkan, > berjudul sama dengan tema > > diskusi panel, "bencana alam: fenomena alam atau > hukuman Tuhan?". Materi > > yang saya bawakan terbagi menjadi tiga bagian: hakikat > bencana, geologi dan > > bencana alam di Indonesia, bencana alam: fenomena alam > atau hukuman Tuhan? > > Bencana yang dibahas terutama yang berhubungan dengan > proses-proses geologi > > yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa, > tsunami, erupsi gunungapi. > > Para pendeta dan peserta diskusi panel, hari itu > belajar tentang planet > > Bumi, tektonik lempeng, mekanisme gempa-tsunami-erupsi > gunungapi. > > > > Setelah melakukan presentasi sekitar 1,5 jam > menayangkan 65 slides, > > dimulailah sesi tanya jawab menyangkut geologi, > filosofi dan teologi > > kebencanaan. Saya ingin ceritakan beberapa tanya jawab > menyangkut hakikat > > kebencanaan dari segi filosofi dan teologi. Beberapa > di antaranya adalah > > seperti di bawah ini. > > > > (1) Pertanyaan mendasar pertama datang dari seorang > pendeta, apakah itu > > hukum alam, apakah itu hukum TUHAN, kapan TUHAN > menggunakan hukum alam untuk > > menyatakan maksudnya, apakah TUHAN hanya "menumpang" > hukum alam untuk > > menyatakan maksudNya, apakah alam itu beritme? > > > > Saya menjawab, sejak zaman Galileo, ilmu tentang alam > semesta didasarkan > > pada ketiga postulat: (1) adanya hukum-hukum universal > yang bersifat > > matematik, (2) penemuan hukum-hukum yang terjadi > melalui eksperimentasi > > ilmiah, (3) data-data eksperimen yang bisa > diulang-ulangi dengan hasil yang > > sama, sehingga setiap fenomena alam punya tingkat > prediktibilitas - itulah > > hukum alam. Tuhan telah memberikan kepada manusia > sebuah dunia yang tertib > > (Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta, kata > Einstein), atau alam > > semesta yang bernalar kata Paul Davies-ahli fisika > penulis buku-buku sains, > > yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni (misalnya ada > jaminan bahwa matahari > > tidak tiba-tiba menghilang). > > > > Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa > hukum-hukum alam bisa > > diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. > Proses-proses geologi > > pun tidak terjadi sembarangan, mereka mengikuti > aturan-aturan, hukum-hukum, > > yang diketahui berdasarkan penyelidikan dan penelitian > sekian lama, dan > > setiap proses itu punya nilai prediktibilitas baik ke > masa lalu (key to the > > past) maupun ke masa depan (key to the future). > Proses-proses geologi adalah > > hukum alam. Sebab bagi orang percaya bahwa Tuhanlah > yang menciptakan alam > > semesta, maka hukum-hukum alam yang mengatur jalannya > alam semesta adalah > > juga hukum-hukum Tuhan. Tuhan menggunakan hukum alam > yang diciptakanNya > > sesuai kehendakNya, dan Dia tidak pernah "menumpang" > kepada hukum alam, > > sebab hukum alam adalah hukum Tuhan, milikNya sendiri. > Alam memang beritme, > > bersiklus, yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, > sepanjang zaman-zaman > > geologi. > > > > (2) Seorang pendeta berpendapat bahwa proses-proses > geologi hanyalah > > mengikuti hukum kekekalan massa, kekekalan energi dan > kesetimbangan, dan > > bahwa sesungguhnya tak adalah yang namanya bencana itu > secara proses > > geologi. Bencana, menurutnya hanyalah pandangan > antroposentrisme, bukan > > pandangan geologi. > > > > Saya membenarkannya. Betul, seperti kata Gordon > Oakeshott(1972 dalam sebuah > > buku 'Man and His Physical Envionment'), "There are no > a geologic hazards > > without people. Geologic hazards are merely normal > geologic processes or > > events until man gets in the way; then the processes > or events become > > hazards". Saya menambahkan bahwa yang terasa sebagai > "bencana" itu hanyalah > > relatif untuk segolongan korban pada saat itu. Pada > periode lain, proses > > geologi yang menjadi "bencana" itu ternyata membawa > berkat juga. Hujan pasir > > dan abu volkanik serta terjangan awan panas menjadi > bencana buat segolongan > > orang pada suatu masa. Pada masa lain semua pasir dan > abu volkanik hasil > > letusan itu kemudian bisa menjadi sumber nafkah > segolongan orang pada masa > > berikutnya yang melakukan penambangan pasir. Benturan > meteorit di Afrika > > Selatan tentu menjadi bencana katastrofik pada suatu > masa ketika ia jatuh, > > tetapi pada masa lain ternyata sebuah teori mengatakan > bahwa meteorit itu > > bisa menjadi tambang intan. Maka bencana itu > relatif, proses geologi > > hanyalah proses geologi, ia menjadi bencana saat > bersentuhan dengan manusia, > > dan ketika kita memandangnya secara antroposentris. > > > > (3) Seorang peserta diskusi menanyakan sebuah > pertanyaan, mengapa Tuhan yang > > baik membiarkan bencana yang buruk terjadi. Apakah > doa-doa, akan membebaskan > > Indonesia dari bencana ? > > > > Saya menjawab, pertanyaan seperti itu adalah > pertanyaan terkenal yang biasa > > muncul di buku-buku ateisme. Silogisme ateis > menyebutkan: kalau Tuhan > > mahabaik, Ia akan hancurkan kejahatan. Kalau Tuhan > mahakuasa, Ia dapat > > menghancurkan kejahatan. Tetapi kita melihat kejahatan > ada terus dan mungkin > > semakin jahat, maka kalau begitu tak ada Tuhan sebab > kejahatan meraja lela. > > "Si Deus est, unde malum?" - Kalau Tuhan ada, mengapa > ada kejahatan? David > > Hume, filsuf dari abad ke-18 menulis, " Adakah Allah > bermaksud mencegah > > kejahatan tetapi tidak sanggup? Maka itu berarti Dia > tidak berkuasa. > > 'Problem of evil' (termasuk 'kejahatan' alam dalam > rupa bencana) > > sesungguhnya telah menjadi argumen klasik sejak zaman > Epikurus (341-270 SM) > > yang menanyakan keadilan dan kasih sayang Tuhan di > mana ketika kejahatan > > meraja lela. Akhirnya ini mengarah ke keberadaan Tuhan > sendiri. Tulis > > Epikurus, "Tuhan ingin menyingkirkan kejahatan, tetapi > Ia tak mampu, atau Ia > > mampu, tetapi tidak > > mau, atau Dia tak mau dan tak mampu. Kalau Tuhan > mau tetapi tak mampu, maka > > Ia Tuhan yang lemah. Kalau Tuhan tak mau dan juga tak > mampu, maka Ia Tuhan > > yang dengki dan lemah, jadi bukanlah Tuhan. > > > > Bagi seorang ateis, begitu banyaknya kejahatan dan > penderitaan manusia telah > > menjadi argumen tangguh untuk ateisme. Adanya > kejahatan dan penderitaan > > merupakan sebab utama keragu-raguan iman dan > pemberontakan melawan Allah. > > Thomas Aquinas merumuskan pandangan ateisme itu, > "Seandainya Allah ada, > > tidak akan ada satu tempat pun di mana kejahatan > ditemukan. Padahal > > kejahatan ditemukan di dunia. Maka Allah tidak ada. > > > > Bagi orang yang beragama, Tuhan berada di balik setiap > peristiwa. Tak ada > > peristiwa akan terjadi tanpa kehendakNya. Louis Leahy > dan Budhy > > Munawar-Rachman (STF Driyarkara) menulis bahwa > pendapat seperti itu akan > > mengarah kepada Tuhan yang sewenang-wenang. Mengapa > sekumpulan orang yang > > tak bersalah mati karena bencana, sementara sekumpulan > orang lain tidak. > > Jadi, Tuhan tidak selalu ada di balik setiap > peristiwa. Mereka menulis bahwa > > sebenarnya dalam setiap kejadian belum tentu kita > dapat menemukan pesan > > sebab memang tak ada pesan apa-apa. Tidak ada alasan > mengapa sekumpulan > > orang ini kena musibah, sementara yang lain tidak. > Peristiwa-peristiwa > > bencana tidak mencerminkan pilihan Tuhan, itu > peristiwa-peristiwa yang > > terjadi begitu saja. Segala bentuk bencana bukanlah > kehendak Tuhan, demikian > > Leahy dan Munawar-Rachman berpendapat dalam artikel > "Tuhan dan Masalah > > Penderitaan" (Kanisius, 2008). > > > > Tetapi, berbeda dari pandangan Leahy dan > Munawar-Rachman (2008) ada beberapa > > bencana yang memang dikehendaki Tuhan, dan Tuhan > berada di balik peristiwa > > itu, yaitu pembinasaan Sodom dan Gomora yang > dikisahkan dalam kitab-kitab > > suci (Alkitab, Kejadian 19: 15, 24 - Al Qur-an, Surat > Huud : 76, 82) yang > > dalam penafsiran saya disebabkan oleh gempa > katastrofik dan letusan gunung > > garam yang mengandung aspal, minyak, ter dan belerang > serta kedua kota > > mengalami likuifaksi ke bawah Laut Mati (lihat abstrak > makalah tentang ini > > di bawah). Terhadap hal-hal ini, ada pelajaran bahwa > semua bencana adalah > > fenomena alam, tetapi sebagian bencana bisa merupakan > sarana penghukuman > > Tuhan. > > > > Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia > yang tertib, yang > > menjadikan dunia ini nyaman dihuni. Dunia yang dapat > dihuni ini adalah fakta > > bahwa hukum-hukum alam bisa diandalkan, dan selalu > bekerja dengan cara yang > > sama. Tetapi ada juga yang perlu disadari dari fakta > hukum alam ini adalah, > > bahwa hukum alam bukan hanya memberi kesan keteraturan > saja, tetapi juga > > dari hukum yang sama, bisa terjadi bencana bagi > manusia. Hukum alam berupa > > gravitasi misalnya, membuat kita hidup, tetapi hukum > alam yang sama bisa > > menyebabkan jembatan atau gedung runtuh. Kita tidak > bisa hidup tanpa > > hukum-hukum alam, tetapi hidup dengan hukum alam > berarti kita juga > > dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan > penderitaan. > > > > Kesimpulannya, hukum alam netral, ia bisa terasa baik > atau jahat. Hukum alam > > tidak bersifat baik atau jahat, ia hanya tak peduli, > berlaku sama bagi semua > > orang. Hukum alam tidak mengenal perkecualian, ia > tidak membedakan suku > > bangsa, agama, golongan, bisa melanda siapa pun, orang > jahat atau baik. > > > > Indonesia, selama ia duduk di atas lempeng-lmpeng yang > saling bertubrukan, > > di area tepi-tepi tubrukan atau papasan lempeng itulah > selalu akan ada > > proses-proses gempa, tsunami dan erupsi gunungapi yang > bisa jadi bencana > > kala bersentuhan dengan manusia. Doa-doa barangkali > tak akan membebaskan > > Indonesia dari bencana itu sebab itu hukum alam, hukum > Tuhan. Tetapi doa > > barangkali bisa membuat manusia diberikan akal budi > untuk menghindari > > bencana atau berkawan hidup di tengah bencana. > > > > Demikian sedikit ulasan. Beberapa kesimpulan > saya terkait hal ini: > > > > 1. Karena kondisi geologinya yang > merupakan wilayah pertemuan antara tiga > > lempeng besar, Indonesia adalah wilayah yang paling > rawan > > gempa-tsunami-erupsi gunungapi di dunia. > > > > 2. Secara geologi, > gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah proses alam biasa > > karena kesetimbangan gaya dan kekekalan energi. > > > > 3. Bencana alam gempa-tsunami-erupsi > gunungapi adalah fenomena alam, yang > > dapat digunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya atau > melakukan penghukuman. > > > > 4. Bencana-bencana alam di Indonesia hanyalah proses > geologi biasa, fenomena > > alam, yang bisa menjadi bencana kala bersentuhan > dengan manusia, apakah itu > > hukuman Tuhan, susah menjawabnya tetapi dari sejarah, > bukan suatu > > kemustahilan kalau Tuhan mau menggunakan proses-proses > geologi untuk > > menyampaikan maksudnya. > > > > Salam, > > Awang > > > > > > LAMPIRAN > > ------------------------------------------------ > > PROCEEDINGS PIT IAGI LOMBOK 2010 > > The 39th IAGI Annual Convention and Exhibition > > > > "KIAMAT" 2000 SM DI SODOM DAN GOMORA: > > KETIKA TUHAN MENGGERAKKAN RETAKAN GEOLOGI LAUT MATI > > > > Awang Harun Satyana (BPMIGAS) Jakarta > > > > SARI > > > > Kitab Suci Agama Kristen dan Islam mencatat > pembinasaan kota-kota Sodom dan > > Gomora oleh hukuman Tuhan. "Kemudian TUHAN > menurunkan hujan belerang dan api > > atas Sodom dan Gomora...dan ditunggangbalikkanNyalah > kota-kota itu...asap > > dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur > > peleburan." (Kitab Kejadian 19 : 24-28). "Maka > tatkala datang azab Kami, > > Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke > bawah... dan Kami hujani > > mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan > > bertubi-tubi." (Surat Huud : 82). > > > > Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah > dilakukan sejak tahun > > 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa > bekas-bekas kota Sodom dan > > Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut > Mati, yaitu dua kota > > yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra > (Sodom) dan Numeira > > (Gomora). Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak > dan rangka manusia yang > > menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun > 2000 SM. > > > > Laut Mati menempati bagian utara jalur Lembah Retakan > Besar (Great Rift > > Valley) yang memanjang dari Mozambik (Afrika Tenggara) > sampai Siria (Asia > > Baratdaya) sepanjang 4830 km menghubungkan > lembah-lembah retakan: East > > African Rift Valley-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut > Mati-Sungai Yordan- > > Danau Galilea. Retakan Laut Mati merupakan transform > boundary yang aktif > > bergerak antara Lempeng Arabia dan Sub-Lempeng Sinai. > Laut Mati merupakan > > pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan > transtensional dua sesar > > mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) > Sesar Yudea dan Sesar > > Moab. > > > > Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut > Mati dicirikan oleh > > endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena > diapir, gunung garam dan > > gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan > bitumen) dengan kadar > > belerang tinggi. > > > > Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi > melalui bencana > > geologi dengan urutan : (1) pergerakan Sesar Moab, (2) > gempa dengan > > magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan > sekitarnya serta likuifaksi > > yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota, (3) > erupsi gunung garam dan > > gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, > batu-batuan, lumpur, aspal, > > bitumen, dan belerang,(4) kebakaran kota-kota dan > sekitarnya karena material > > hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga > > menjadi hujan api dan belerang. Bencana katastrofik > ini telah meratakan > > Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya > kecuali Lot/Luth dan dua > > putrinya. > > > > Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan > fenomena astroblem > > (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi > (malapetaka) geologi berupa > > aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang > berasal dari letusan > > gunung garam dan gunung lumpur. > > > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > PP-IAGI 2008-2011: > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak > biro... > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > Ayo siapkan diri....!!!!! > > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 > November 2010 > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > No. Rek: 123 0085005314 > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > No. Rekening: 255-1088580 > > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard > to information posted > > on its mailing lists, whether posted by IAGI or > others. In no event shall > > IAGI or its members be liable for any, including but > not limited to direct > > or indirect damages, or damages of any kind > whatsoever, resulting from loss > > of use, data or profits, arising out of or in > connection with the use of any > > information posted on IAGI mailing list. > > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > -- > Sent from my mobile device > > *Pray for JOGJA* > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak > biro... > -------------------------------------------------------------------------------- > Ayo siapkan diri....!!!!! > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 > November 2010 > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information posted on its mailing lists, whether posted by > IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be > liable for any, including but not limited to direct or > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting from loss of use, data or profits, arising out of > or in connection with the use of any information posted on > IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- "This email (including attachments) is intended only for personal and confidential use of designated recipient(s). If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any review, dissemination, distribution or copying of this email (including attachments) is strictly prohibited and you must delete this email (including attachments) immediately. Email transmission cannot be guaranteed to be error-free. Therefore, we do not represent that this information is complete or accurate and it should not be relied upon as such. Although PT Antam (Persero) Tbk is implementing anti virus software for this email and attachments, PT Antam (Persero) Tbk accepts no liability for any damage caused by any viruses and malicious codes transmitted by this email. The receiver is responsible for checking and deleting any viruses and malicious codes as a result of email transmission". "We are not in a position to advise you, we are not advising you, and the contents of this e-mail must not be construed as any advice to you, on (a)whether to purchase any of our securities or, (b) if you hold an investment in our securities, the value of your investment or how or whether you can affect any trades relating to your investment. These queries should be addressed to a licensed broker or your broker from or through whom you bought the relevant investment, respectively." -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

