Richard Davies masih tetap berpendapat bahwa drilling BJP-1 adalah trigger Lusi 
eruption sebab menurutnya kick di sumur lebih kuat daripada goncangan gempa 
untuk menyebabkan erupsi Lusi. Tetapi mengenai ini tak dibahasnya lebih lanjut 
sebab Davies lebih konsentrasi ke perkiraan berapa lama Lusi akan erupsi, yang 
menurutnya sekitar 26 tahun (Davies et al., 2011) ; tetapi angka ini menurutnya 
harus dikoreksi lagi setelah sehari sebelumnya mengunjungi Lusi dan melihat 
bahwa pola erupsi Lusi sudah intermittent. Di samping itu, Davies mengusulkan 
jaringan riset internasional untuk Lusi yang disebutnya LRN (Lusi research 
network) yang bertemu setahun sekali di Surabaya, dengan dana penelitian 
perkiraan minimal 25,000 USD/tahun.
 
Mark Tingay mengalami banyak perubahan pemikiran, dia tidak menyimpulkan mana 
mekanisme triggering yang paling dominan di antara gempa dan pengeboran BJP-1. 
Fault reactivation mulai dimasukkannya ke dalam mekanisme drilling sebagai 
trigger, meskipun masih diberi tanda tanya; 'fault-reactivation following 
internal blow out' tulisnya bila drilling sebagai trigger; untuk membedakannya 
dengan 'remote reactivation of Watukosek fault' dalam gempa sebagai trigger. 
Menurut Tingay, sebenarnya kedua mekanisme ini punya kesamaan, yaitu keduanya 
mengaktifkan sesar-sesar berarah SW-NE akibat naiknya pore pressure yang banyak 
terdapat di sisi selatan Sumatra dan Jawa akibat konvergensi lempeng-lempeng 
(kondisi in situ stress). Di wilayah Jawa Timur, menurutnya strike-slip 
faulting stress regime adalah 005 degNE. Penemuan baru Tingay yang lain adalah 
bahwa batupasir volkanik di bagian bawah sumur adalah volkanik yang tight 
(bukan volkaniklastik), serta tak ada Kujung
 carbonates ditembus sumur, yang ditembusnya adalah batugamping terumbu 
mid-Miocene Tuban atau Prupuh. Implikasi tight volcanics ini adalah bahwa 
lapisan ini bertindak sebagai sealing untuk overpressure di karbonat juga di 
dalam volcanics-nya sendiri, dan pengukuran BHP menurutnya menjadi tidak valid 
sebab diukur di low matrix permeability.
 
Tingay menambahkan bahwa hal-hal yang sudah diketahui/disimpulkan sampai saat 
ini adalah:
 
- sumber lumpur adalah Formasi Kalibeng
- terdapat reaktivasi sesar berarah BD-TL (Watukosek Fault)
- Reaktivasi sesar ini searah dengan present-day stress state
- Tak ada Kujung ditembus sumur, tetapi mid-Miocene carbonates
- Fluid sources berasal dari interval yang high pressure dan high permeability, 
bisa shales bisa karbonat
 
Data lain yang perlu diambil untuk memahami Lusi lebih baik menurut Tingay 
adalah: high quality seismic 3D/4D untuk mengetahui kondisi & evolusi bawah 
permukaan struktur lumpur ini, MT untuk delineasi fluid flow depth, analisis 
geokimia fluida dan gas, monitoring sumur-sumur di sekitarnya (pressure 
monitoring), tiltmeter untuk mengukur surface strain.
 
Adriano Mazzini sementara itu membuka presentasinya dengan pernyataan bahwa 
drilling data tak bisa dipakai untuk menginterpretasi dua hipotesis konflik 
ini, man-made atau not man-made. Tetapi berdasarkan penelitian lapangan dan 
pemodelan di laboratorium, terdapat bukti fault-reactivation oleh natural 
trigger. Mazzini juga menegaskan bahwa Lusi bukanlah satu-satunya mud volcano 
di area ini, tetapi banyak MVs lain juga seeps yang lokasinya terdapat di 
kelurusan sesar yang sama (Watukosek fault), yang menunjukkan suatu external 
trigger. Dalam presentasinya kali ini, Mazzini banyak membahas hubungan Lusi 
dengan gunung-gunungapi di selatannya, yaitu Penanggungan, Anjasmoro, Welirang 
dan Arjuna. Dia menduga bahwa Lusi di tempat dalam punya hubungan/koneksi ke 
sistem gunung-gunungapi ini. Sehingga disebutnya, bahwa Lusi bukan typical mud 
volcano, tetapi atypical mud volcano. Penyimpangannya sebagai atypical MV 
adalah: high geothermal gradient, longlasting
 eruption, pulsating behaviours (seperti geysers), CO2-gas dominated. 
 
Mazzini banyak melakukan penelitian lapangan di area Lusi, sehingga dia bisa 
mengetahui karakter fluida yang dikeluarkan Lusi dari tahun ke tahun. Dia 
menyimpulkan bahwa Lusi pada tahun 2006 menyemburkan gas metan biogenik yang 
berasal dari Kalibeng dan aluvial; setelah 2006 ada kontribusi gas termogenik 
yang berasal dari tempat dalam sekitar temperatur 210-220 C atau dari kedalaman 
sekitar 4400 meter. Sementara CO2-nya berasal dari tempat sangat dalam dengan 
termperatur mencapai 400 C dan menunjukkan kandungan isotop Helium yang tinggi. 
Mazzini menyimpulkan bahwa ada intrusi Anjasmoro-Welirang terhadap TD BJP-1 
sehingga Lusi punya high geothermal gradient, significant CO2 production, dan 
high temperature genertation of CO2 dan CH4.
 
Penemuan baru Mazzini adalah bahwa gempa Yogya 27 Mei 2006 mempengaruhi kondisi 
magma chambers Welirang - Arjuna yang berada pada ambang batas terpengaruh. 
Sehingga, ada tiga unsur penyebab erupsi Lusi yaitu seismicity --- > alterasi 
magmatic chambers ---- > reactivation of Watukosek Fault --- > effects on 
rheology of sediments and critical overpressures. Mazzini mengakhiri 
presentasinya dengan menyimpulkan bahwa Lusi lebih sebagai larger 
sesiment-hosted hydrothermal system yang terkoneksi ke kompleks gunungapi 
Arjuna-Welirang, yang mungkin ada intrusi magmatik di bagian bawah Lusi. Lusi 
bukan typical mudvolcano, ia atypical mud volcano.
 
Demikian beberapa pandangan Richard Davies, Mark Tingay, Adriano Mazzini - tiga 
orang yang selama ini menjadi 'tokoh' di dalam perdebatan masalah Lusi ini 
melalui artikel-artikel yang ditulisnya di berbagai jurnal dalam lima tahun 
terakhir ini. Di jurnal-jurnal atau di presentasi mereka boleh saling 
menyerang, tetapi di luar itu mereka biasa-biasa saja. Hati boleh panas, kepala 
harus tetap dingin...
 
Para pembicara lain di dalam acara ini adalah:
 
Loyc Vanderkluysen (Arizona State University) mendiskusikan teknik-teknik 
remote sensing untuk menitoring perkembangan Lusi dari waktu ke waktu.
 
Sukendar Asikin (ITB) mendiskusikan tektonik regional Indonesia Barat, 
khsususnya Jawa dan hubungan kejadian Lusi, menyimpulkan bahwa gerak tektonik 
adalah penyebab Lusi.
 
Hilairy Hartnett (Arizona State University) mendiskusikan fingerprinting 
geokimia untuk flluida (air) yang keluar dari Lusi atau fluida lain dari 
gunung2lumpur sekitarnya, menyimpulkan bahwa Lusi dan gunung2 lumpur sekitarnya 
secara kimiawi adalah sama.
 
Awang Satyana (BPMIGAS) mendiskusikan kemungkinan keberadaan mud volcanoes pada 
zaman Jenggala dan Majapahit berdasarkan catatan-catatan kebencanaan di dalam 
kronik-kronik sejarah terutama Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan 
folklore Timun Mas, juga menganalogi ke kejadian Lusi sekarang yang terdapat di 
lokasi geologi yang sama yang dulunya merupakan wilayah Jenggala dan Majapahit 
(the present is the key to the past). 
 
Max Rudolph (University California, Berkeley) mendiskusikan prediksi lamanya 
erupsi Lusi menggunakan berbagai parameter dan perhitungan matematis dengan 
tiga skenario perhitungan (Gaussian, uniform variable standard dev 1, uniform 
variable standard dev 2), masing-masing keluar dengan hasil 84 th, >100 th, 52 
th dengan tingkat kebenaran 66 %. Tetapi Max pun menampilkan statistik 
longevity dari 5 - 85 tahun dengan 5 tahun frekuensinya 53 % dan menurun terus 
sampai 2 % untuk 85 tahun.
 
Sergey dan Igor Kadurin (Odessa National University), dalam bahasa Rusia 
(untung ada penerjemah) menerangkan struktur lumpur/diapir hasil olahan data 
seismik di bawah permukaan dan mengusulkan untuk melakukan survei poligon untuk 
mengukur kelakuan naiknya struktur-struktur lumpur secara dinamika dari waktu 
ke waktu (time-lapse). Mereka menunjukkan bagaimana survei ini telah dilakukan 
di beberapa tempat di Eropa Timur.
 
Agus Guntoro (Universitas Trisakti) mendiskusikan setting tektonik Lusi dan 
hubungan kejadiannya, lalu perbedaan sumber lumpur dan air yang keluar di Lusi, 
dan beberapa indikasi berdasarkan bukti analsisi laboratorium sampel air yang 
menunjukkan terdapat kontribusi dari magmatik.
 
Wataru Tanikawa (JAMSTEC, Jepang) mendiskusikan kejadian overpressure (akibat 
rapid sedimentation rate dan thick impermeable layer) dan erupsi lumpur melalui 
Watukosek Fault sebagai flow path-nya. Wataru juga menyoroti naiknya kandungan 
lithium pada lumpur Lusi yang mungkin akibat overpressuring. Lithium dalam Lusi 
adalah sumber yang penting untuk bahan batere.
 
Amanda Clarke (Arizona State University) mendiskusikan bagaimana gempa dapat 
memicu gempa-gempa lain juga semua venting system seperti gunungapi, mud 
volcano, geyser dll. Dibahas kasus gempa-gempa di Alaska dan US yang walapun 
relatif kecil dan jauh jaraknya ternyata dapat mempengaruhi venting system 
lain. Contoh yang ekstrim adalah gempa di Oaxaca (Mexico) dengan 6,4 Mw dan 
berjarak 3200 km, ternyata banyak mempengaruhi gempa dan venting system lain di 
US bagian barat. Untuk kasus gempa Yogya dan Lusi, Amanda tak membahas secara 
khusus sebab memerlukan data lebih lanjut.
 
Sayogi Sudarman (Universitas Trisakti) membahas bagaimana kemungkinan hubungan 
Lusi dengan kompleks geotermal volkanik Arjuna-Welirang berdasarkan data MT. 
Kompleks gunungapi ini bisa saja merupakan upflow geothermal, sedangkan Lusi 
adalah outflow-nya. 
 
Untuk info Pak Andang, tak ada orang Lapindo yang menjadi pembicara. Ada 
beberapa pertanyaan provokatif tentang apa sebenarnya penyebab Lusi ini; 
Mazzini siap berdebat dengan Davies, sayang Davies dan Tingay pulang duluan, 
dan Mazzini hanya akan menjawab  kalau ada Davies, supaya lebih fair maksudnya. 
 
Saya mengamati, dan teman-teman lain juga mengamati, perbedaan pendapat yang 
panas dan tajam hanya terjadi di Indonesia, yang sebagian juga dikompori media 
(seorang teman dari media mengakui memang itu yang sengaja disorot oleh media 
sebab kontroversi itu selalu menarik katanya). Sementara itu, ilmuwan2 seperti 
Davies, Tingay, Mazzini, baik-baik saja di antara mereka, akur-akur saja; makan 
pagi sama-sama satu meja, ke lapangan berdiskusi berdua, di bus sama-sama, dll. 
 
Mengapa ini diundang sebagai pembicara dan itu tidak, saya juga tidak 
tahu-menahu. Saat BPLS membuat digital library Lusi, saya diminta kontribusi 
paper2 yang pernah published tentang mud volcanoes, saya kontribusi empat 
publikasi. Menurut Pak Hardi Prasetyo, itulah kriteria undangannya. Mengapa 
lebih banyak expat yang menjadi pembicara, sebab mereka tentu lebih banyak 
menulis daripada kita - agresif menulis. 
 
Juga, acara ini dikemas bukan untuk membuka perdebatan tentang trigger Lusi itu 
apa, sekalipun para pembicara memang tak bisa tidak menampilkan pandangannya 
masing-masing. BPLS dan Humanitus sebagai penyelenggara simposium ini ingin 
melihat bagaimana tanggapan para ilmuwan dan ahli tentang Lusi ini untuk 
tindakan ke depan.
 
Di area Lusi, saat ini dipasang berbagai bendera negara-negara yang pernah 
melakukan penelitian di Lusi, dengan Merah Putih berdiri paling depan dan 
dilatarbelakangi beberapa bendera negara lain (Inggris, Australia, US, Rusia, 
Jepang, Norwegia, dan beberapa lagi). 
 
Demikian, ringkasan simposium dalam rangka peringatan lima tahun erupsi Lusi. 
 
salam,
Awang 
 
(Surabaya, 27 Mei 2011 pk 01.50)
 

--- Pada Kam, 26/5/11, o - musakti <[email protected]> menulis:


Dari: o - musakti <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Andang Protes
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 26 Mei, 2011, 10:54 PM






Lho Mark Tingay dulu kan di anggap 'anti' LuSI ya ?
Sekarang koq masuk golongan 'pro'.....?

--- On Thu, 26/5/11, nyoto - ke-el <[email protected]> wrote:


From: nyoto - ke-el <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes
To: [email protected]
Received: Thursday, 26 May, 2011, 10:03 PM



Karena tidak bisa berbuat banyak, maka sebagai umat manusia saya hanya bisa 
berdo'a semoga Tuhan YME akhirnya memberikan jalan untuk membukakkan pintu 
kemudahan2 bagi usaha2 yg benar2 akan memberikan kesimpulan dan kebenaran 
kepada Pemerintah kita & kepada masyarakat korban LUSI, agar supaya bisa 
mendapatkan keadilan yg benar2 hakiki ...aameeen YRA.
 
wass,
nyoto
 
 


 
2011/5/26 Nataniel Mangiwa <[email protected]>


Saya sampai detik ini tidak bisa melihat, cara apa yang bisa dilakukan oleh 
kaum 'pro pemboran' untuk melawan pendapat dari 'pro gempa/sesar'. Pak Koesoema 
sudah pernah membuat protes terbuka, Pak Andang juga sudah di artikel ini, tapi 
tidak ada yang berubah.
 
Pada titik seperti ini mungkin sebagai manusia yang punya banyak sekali 
keterbatasan, yang bisa dilakukan cuma berdoa, semoga suatu saat IAGI bisa 
netral. Karena yang paling menyedihkan adalah IAGI belum melakukan revisi 
pendapat terhadap keputusan yang lalu jaman Pak Ahmad Lutfi, yang kalau bahasa 
kasarnya IAGI pendapatnya lebih pro gempa/sesar.
 
Pandangan wartawan dll sebenarnya tidak merisaukan tetapi pendapat IAGI itu 
adalah bottom line dari keprihatinan ini, dan saya lebih respect ke IAGI lebih 
baik abstain (tidak pro gempa/pro pemboran) daripada mendukung Lusi karena 
gempa/sesar/reaktivasi dll.
 
Dari lubuk hati terdalam, cuma bisa merasakan dan menyampaikan salam prihatin.
 
Salam,
Natan


2011/5/26 R.P.Koesoemadinata <[email protected]> 




Apakah betul mengirimkan surat protes atas terselenggaranya Symposium on 
Indonesia's mud volcano yang berlangsung pada 25-26 Mei 2011 di Sidoarjo 
sebagai mana dikutip Wartawan Tempo di Tempo Online hari ini? 
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/26/brk,20110526-336947,id.html
 
Wassalam
RPK

Kirim email ke