1. Terus terang menurut saya Mark Tingay sudah "lebay" kalau mengaku
mampu menentukan dating (timing) pergerakan patahan hingga skala
menit. Kecuali ini hanya "interpretasi" atau bahkan "spekulasi",
supaya mendukung hipotesa. Mnurut saya mekanisme pengambilan
kesimpulannya sangat tidak valid secara ilmiah karena tidak ada data
yg mendukung dating (timing) ini. Kalau ada datanya yg mampu
mendeteksi hingga skala menit, wah ini penemuan baru !
Kalau memang benar ada datanya, jangan-jangan watukosek
penyebab/triger gempa jogja :(  nah disini Kang Danny Hilman bisa
sorak-sorak karena mendapatkan ilmu baru utk mendapatkan warning gempa
:D

2. Bisa jadi secara timing/genetic atau umur karbonat di BPJ dan
Porong-1 berbeda, tapi seismic data menunjukkan jelas bahwa tubuh
karbonat ini "menyatu". Walapun ternyata tidak seumur, dan diketahui
setelah dibor. Dan saya kira pernah ada diskusi "apakah BPJ menembus
gamping ?". Menurut saya entah gamping itu seumur atau tidak, namun
prediksi bahwa akan menembus gamping pada kedalam itu sudah
diperkirakan sebelum pemboran. Bahkan drilling proposal/predicted
sectionnya sendiri sudah memperkirakannya. Sehingga fakta ditembus
atau tidaknya karbonat "kujung" bukan alasan bahwa pengeboran masih
aman pada saat itu.

3.  Kalau memang tubuh karbonat yang menyatu dari Porong dan BPJ, saya
kira sumber air disitu akan sangat melimpah.

Sebagai sebuah mekanisme fluid flow, terjadinya semburan ini, kalau
memang alamiah, dapat menunjukkan bukti aktual bahwa "quick fluid
flow" dalam proses migrasi minyak juga dapat terjadi secara instant.
Migrasi minyak selama ini diperkirakan memakan waktu jutaan atau
ribuah tahun, terutama dalam model migrasi migas.
Bayangkan saja kalau satu juta barrel mengalir dalam waktu setahun.
Kalau dalam waktu geologi namanya "instant fluid migration".

Salam nyaintifik

Rdp

On 27/05/2011, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
> Pak Rovicky,
>
> 1. Dari presentasi Mark Tingay: (1) mekanisme EQ trigger: sesar Watukosek
> bergerak sebelum erupsi lumpur, bahkan Tingay mencantumkan kapan waktu mulai
> bergeraknya: 27 Mei 2006 pukul 06:02 WIB, (2) mekanisme drilling trigger:
> sesar Watukosek bergerak sebelum erupsi lumpur, yaitu sesaat setelah BOP di
> BJP-1 well ditutup, atau pada 28 Mei 2006 pukul 07.50+ WIB. Jadi pada kedua
> mekanisme itu, sesar Watukosek bergerak sebelum erupsi lumpur, hanya
> trigger-nya saja yang berbeda.
>
> Apakah selama erupsi lumpur Sesar Watukosek bergerak juga: Ya. Banyak
> buktinya berdasarkan banyak data yang telah diambil di sini seperti GPR,
> microgravity, dll.
>
> 2. Davies menyebutkan Kujung ditembus BJP-1, dikoreksi oleh Tingay bahwa
> Kujung tidak ditembus, yang ditembus adalah Prupuh yang berumur mid-Miosen
> yang ekivalen dengan Tuban.
>
> Pendapat saya, tak ada Kujung atau Prupuh yang ditembus BJP-1. Ini masalah
> terminologi. Lihat disertasi Pak Harsono Pringgroprawiro (1983) untuk
> stratigrafi Jawa Timur, Prupuh adalah ekivalen dengan Kujung I yang dinamai
> Cities Service (1968) untuk offshore NE Java Sea. Karena tak ada Kujung
> ditembus, maka Prupuh pun tak ada. Ini akan lebih nyata secara absolut kalau
> kita lihat dating umur karbonat yang ditembus Porong-1.
>
> Seismic interpretation Porong to BJP baik yang diajukan oleh Lapindo
> saat pengusulan sumur dulu, maupun yang muncul di paper Arse Kusumastuti
> dan para pembimbingnya di AAPG Bull 2002, masih berekspektasi bahwa sekuen
> Porong dan BJP bersamaan, hanya Porong tumbuh stage lebih tinggi daripada
> BJP. Ini wajar sebab pengetahuan regional kita untuk semua reefs isolated
> platform di Jawa
> Timur memang begitu karena ridge-nya miring ke BD, sehingga akan terjadi
> backstepping ke TL dan reef paling tinggi akan di timur laut dan reef
> paling rendah stage-nya alias yang paling low relief akan di sisi BD.
> Itu kalau semuanya Kujung I, bagaimana kalau yang duduk di situ ekivalen
> Wonosari ? Belum pernah kita definisikan..
>
> Apakah gamping di cutting 9283 ft di BJP ekivalen dengan gamping yang
> ditembus Porong-1 ? Dulu SWC gamping di Porong pernah diperiksa
> paleontologinya, tetapi tak ada age-diagnostic fossils yang ditemukan. Ada
> long-ranging nannofossils,
> coralline red algae, coral fragments, dan traces encrusting foram,
> tetapi umurnya tak meyakinkan.
>
> Hanya, kelebihannya, isotop Strontium pernah dilakukan untuk SWC
> Porong-1 pada red algal fragment di kedalaman 8487 ft. hasil 87Sr/86
> Sr-nya menghasilkan rasio 0.708548 yang kalau dikonversikan ke umur
> absolute menjadi 16 Ma berdasarkan kurva isotop Sr dari Koepnick et al.
> (1985). Sebuah SWC di shales di atas gamping Porong (Kalibeng) pada
> kedalaman 8478 ft menghasilkan umur isotop 3 Ma. Nah...loncat 13 juta
> tahun (!) -menarik sekali.
>
> Apakah gamping Porong berumur 16 Ma itu Kujung-I yang ekivalen dengan
> Kujung-I lain di Jawa Timur yang produktif itu ? Bukan. Stratigrafi Jawa
> Timur terbaru yang sudah menggunakan umur standar
> absolute berdasarkan 87Sr/86Sr and micropaleontology age dating.
> Beberapa tahun belakangan ini hampir semua operator di Jawa Timur
> melakukan Sr dating, ini sangat membantu pemahaman stratigrafi Jawa
> Timur yang memang kompleks. Kujung I paling muda yang produktif di Jawa
> Timur berumur 22 Ma (itu sedikit masuk ke lowermost Aquitanian). Gamping
> Porong 6 juta tahun lebih muda dari gamping Kujung I. Ia sedikit lebih
> muda dari gamping Mudi di lapangan Mudi dan Sukowati. Maka, kita tak
> bisa lagi menyebutnya Kujung, bukan Prupuh, juga bukan Mudi. Saya cenderung
> menyebutnya ekivalen Jonggrangan (Kulon Progo) atau Wonosari reef bagian
> bawah di Peg Kidul saja sebab ini adalah reef2 yang muncul di selatan
> Kendeng. Gamping yang ditembus Porong-1 itu ekivalen dengan gamping yang
> ditembus sumur Alveolina-1 di offshore selatan Yogya yang dibor Java Shell
> pada tahun 1972.
>
> 3. Fluida dari shale:  sumber air berasal dari kedalaman 1100-1850 m
> (berdasarkan banyak parameter); itu terjadi melalui dehidrasi clay dan
> proses modifikasi diagenetik ilitisasi. Seberapa besar, hitungan kasar saja:
> misalnya area subsidence diameternya 7 km, kemudian transformasi clay
> terjadi setebal 750 m (1850 m-1100 m), dan dehidrasi clay 1m3 akan
> menghasilkan air 0,35 m3, maka air yang akan dibentuk dari seluruh dehidrasi
> clay ini adalah sekitar 10 milyar3 air. Tak ada bukti air dari pasokan
> dalam, sebab batuan volkanik di bawah lempung tight, dan tak ada bukti
> karbonat telah ditembus. Belakangan muncul bahwa ada kontribusi air magmatik
> berdasarkan deuterium isotop pada kimia air, tetapi itu tak signifikan.
>
> salam,
> Awang
>
> --- Pada Jum, 27/5/11, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> menulis:
>
>
> Dari: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
> Judul: Re: [iagi-net-l] Simposium Peringatan 5 Tahun Lusi (was Andang
> Protes)
> Kepada: [email protected]
> Cc: "Geo Unpad" <[email protected]>, "Forum HAGI"
> <[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS"
> <[email protected]>
> Tanggal: Jumat, 27 Mei, 2011, 8:07 AM
>
>
> 2011/5/27 Awang Satyana <[email protected]>
>>
>> Tingay menambahkan bahwa hal-hal yang sudah diketahui/disimpulkan sampai
>> saat ini adalah:
>>
>> - sumber lumpur adalah Formasi Kalibeng
>> - terdapat reaktivasi sesar berarah BD-TL (Watukosek Fault)
>> - Reaktivasi sesar ini searah dengan present-day stress state
>> - Tak ada Kujung ditembus sumur, tetapi mid-Miocene carbonates
>> - Fluid sources berasal dari interval yang high pressure dan high
>> permeability, bisa shales bisa karbonat
>
> Yang menjadi pertanyaan saya soal geologinya saja :)
>
> - Apakah kita tahu kapan terjadinya reaktivasi sesar ini ? Setelah terjadi
> semburan atau sebelum terjadi. Karena saya yakin setelah terjadi atau bahkan
> sekarang ini Patahan ini akan terus bergerak karena adanya perubahan beban
> akibat perubahan struktur ambles dsb.
> - Kalau memang kujung tidak ditembus, apakah Mid Miocene Carbonat di BPJ-1
> ini sama dengan yang Carbonate yang ditembus Porong-1 ? Karena di papernya
> Arse menyebutkan karbonate di Porong-1 ini disebut Kujung.
> - Saya masih belum "ngeh" fluid dari shale, apakah karena rapid
> sedimentation sehingga proses dewatering terhambat ? dan apakah jumlah
> fluidnya cukup untuk meghasilkan semburan sebanyak ini ? Saya kira mixed
> atau malah didominasi fluid di carbonates (cmiiw)
>
> Salam
> RDP
> --
> "Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"
>
>
>

-- 
Sent from my mobile device

*"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"*

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke