Maaf mas, bukan mas SUrarso, kalau hitungannya bener, dari pajak kan sudah 
tertutup. 
Makanya aku bilang cari tambahan buat modal kampanye atau pensiun dari 
penguasa, hehehe canda mas.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Surarso Hardjono <[email protected]>
Date: Sat, 14 Apr 2012 11:52:03 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Bls: Bls: [iagi-net-l] Subsudi BBM. Benarkah salah sasaran ?
Bukan keluh kesah.
Hanya memberi gambaran bahwa pemasukan pemerintah cukup besar dari pajak.
 
Srs 0710
 
Dari: Bandono Salim <[email protected]>
Kepada: Iagi <[email protected]> 
Dikirim: Sabtu, 14 April 2012 10:42
Judul: Re: Bls: [iagi-net-l] Subsudi BBM. Benarkah salah sasaran ?


Hehehe sudah dpt diduga, tambah sangu sebagai pensiunan sebagai penguasa.
Kan katanya gajinya belum naik bonus yaa gak taulah, keluh kesah saja. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: Surarso Hardjono <[email protected]> 
Date: Sat, 14 Apr 2012 11:18:54 +0800 (SGT)
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]> 
Subject: Bls: [iagi-net-l] Subsudi BBM. Benarkah salah sasaran ?

Iseng iseng saya pernah menghitung subsidi BBM yang saya terima dari 
pemerintah untuk setiap bulan maupun setahun. Sebagai karyawan swasta saya buka 
slip gaji kemudian saya buat perbandingan. Ternyata pajak yang dipotong dari 
gaji jauh lebih besar dibanding dengan subsidi BBM yang diterima. Belum 
pajak THR dan uang cuti, uang pensiun dll yang pajaknya lebih besar.
 
Bagaimana Pemerintah bisa mengklaim bahwa subsidi BBM salah sasaran. Pembayar 
pajak semestinya berhak mendapatkan subsidi karena telah memberikan kontribusi 
ke Pemerintah. 
Belum dihitung pajak pajak lain seperti PKB, PBB dll. Apalagi kita setiap 
berurusan dengan kantor pemerintah masih mengeluarkan biaya, seperti buat KTP, 
paspor, sertifikat rumah, balik nama, IMB dll. 
 
Salam
Srs 0710    

Kirim email ke