Itu pernyataan 2 Profesor, di lontarkan pada "innternational Confetence on Sundanese Culture" di Bogort, 25 - 27 Oktober 2010.
Jangan lupa sekarang ini dunia mitos dijadikan film, dijadikan latar belakang peneliyian ilmiah, dan lain2 pak RDP. Sangat kebeyulan saya datang waktu konperensi itu, sebagai orang InDonesia yang tinggal di Tatar Sunda. Salam. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Date: Fri, 14 Sep 2012 07:16:11 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA 2012/9/14 Bandono Salim <[email protected]> > ** > Wah tegas dan jelas menolak Atlantis di paparan Sunda, sejalan dengan > penuturan Proff. RPK dan Proff.Adjad S. > Atlantis = Benua Mitos, Paparan Sunda = Benua Sains (real) Lah bagaimana mungkin keduanya di"gathuk"kan ? Seingat saya Pak RPK menolak bukan karena sains-nya tetapi seingat saya Pak RPK mengajak mempromosikan sisi wisata dari mitos-mitos ini untuk menambah devisa negara. Scotland punya Nessie (Lochness), America Punya Rosewell (Kota yang sering didatangi UFO), nah Indonesia mestinya juga bisa menjual tempat-tempat mitos ini yang dikemas dengan *pseudo science*, saya yakin akan menarik devisa negara yang meningkatkan kesejahteraan. Teori Nessie (Loch Ness) menghasilkan filem (movie), menghasilkan lokasi wisata ... bahkan ada lagu dsb. Janganlah segalanya mesti dijelaskan secara science 'ansich'. Menurut saya science memang mampu menjelaskan buanyak hal ... tetapi kalau ada yang bisa "dijual" menhasilkan devisa demi kesejahteraan, kenapa tegas ditolak ? Gunung Padang memang mengundang perdebatan sengit, saya termasuk yang tidak percaya adanya piramida dibawah situs megalitik ini. Tetapi dengan media akhirnya situs ini dibangun sebagai lokasi wisata yang menarik. Yang terpenting jangan sampai ada yang merusak demi menjelaskan ego-saintifiknya. RDP

