Appreciate kang Dany, namanya juga penelitian berdasarkan penafsiran data,
 bisa salah, bisa benar, kalau Moleengraff dengan data yg minim saja
berani berpendapat keberadaan sungai purba di laut jaw-selat
malaka  ..semestinya dengn data yang lebih lengkap, ahli sekarang bisa
lebih luas visinya dan juga bisa kemana-mana penafsirannya.

2012/9/14 Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]>

> Sungai Purba di Laut Jawa-Selat Malaka memang sudah diketahui sejak
> Moleengraff tahun 1917. Saya salut dengan beliau itu yang hanya dengan
> modal peta-data yan masih sangat terbatas waktu itu dan juga pengetahuan
> tentang sea-level changes masih sedikit pula tapi dapat terinspirasi bahkan
> sudah mencoba memetakan sungai di bawah laut tersebut.  Saya belum pernah
> melihat peta-nya Moleengraf, tapi tentunya masih sangat kasar atau hanya
> berskala kecil atau hanya berdasarkan data di-pinggiran/daratan saja.
> Tidak ada orang yang meneruskan inisiatif ini padahal akan sangat menarik
> dan penting kalau bisa memetakan paleogeografi (termasuk sungainya) dan
> paleo-environment Laut Jawa sejak Jaman Es terakhir.  Singkatnya, sungai di
> bawah Laut Jawa memang sudah diduga/diketahui keberadaannya sejak
> Moleengraff tapi belum pernah di-peta-kan dengan baik (sampai sekarang).
>   Rekan Wahyu Triyoso iseng-iseng mengotak-atik data 3-D seismik yang dia
> punya dan ‘menemukan’ image sungai purba yang terlihat jelas dalam
> penampang horisontal 3-D seismik tersebut.  Jadi tidak terlalu salah ocehan
> wartawan atau rekan di FB itu.****
>
> ** **
>
> Daratan Sunda terpapar terakhir pada waktu Jaman Es 20.000 tahun lalu.
> Sebelumnya  jaman es terjadi pada sekitar 140.000 tahun lalu terus mencair
> dan menjadi Jaman interglasial pada sekitar 130.000 tahun lalu (=airlaut
> sama dengan sekarang).  Setelah itu iklim bergeser lagi ke Jaman es (dan
> air laut turun) sampai mencapai puncak jaman es sekitar 20.000 tahun lalu
> itu (=air laut sekitar 130 meter dari sekarang).  Dari 20.000 tahun sampai
> 7000-an air laut naik tapi tidak linier, ada tiga “pulse” besar pada
> sekitar 15.000, 11.600, dan 8000 tahun lalu (data world-wide).  Ada data
> “pulse” kenaikan muka air pada fasa 8000-an dari data bor di Singapore.
> Kenaikkannya cukup tajam tapi kelihatannya memang tidak tiba-tiba.  Dari
> Indonesia setahu saya tidak ada data kenaikkan muka airlaut yang beresolusi
> tinggi sejak 20.000 tahun.  Jadi perihal seberapa bertahap atau seberapa
> mendadak kenaikkan muka air laut di tiga pulse besar di Laut Jawa bagi saya
> belum “proven” benar karena datanya masih sangat sedikit.  Perlu diingat
> juga andaikan ada banjir besar (dan surut lagi) yang temponya hanya bulanan
> saja diantara tiga pulse itu apakah kita dapat mengetahuinya?  Sangat
> sulit, karena perlu data kenaikkan muka airlaut dengan resolusi bulanan ,
> bukankah demikian?  Rasanya sangat sukar kalau berdasarkan  analisa
> stratigrafi – sedimen biasa.****
>
> ** **
>
> Menghubungkan sungai purba-daratan sunda dengan peradaban(tinggi) masa
> lalu adalah “jump to conclusion”.  Bagi saya, dengan data yang ada saat ini
> keyakinan ‘tidak ada’ versus ‘ada’ peradaban (tinggi) di “Lembah Laut Jawa”
> sama lemahnya atau “equivocal’ kalau dilihat dari sudut “hardfacts”.
>  Paling  kita  hanya bisa berhipotesis “If-Then”:  IF antara 20.000 – 8000
> tahun lalu ada peradaban cukup maju di Nusantara (seperti konklusinya
> penelitian Oppenheimer), THEN peradaban itu besar kemungkinan akan
> menjadikan Lembah Laut Jawa yang (“once upon a time”) sangat indah, kaya
> dan strategis sebagai pusat pemerintahannya.  Jadi memang harus diteliti
> dulu IF-nya baru THEN-nya di-eksplorasi.  Tidak perlu Atlantis kok, Lemuria
> juga boleh ...atau “whatever civilization” lah J  ****
>
> ** **
>
> Salam****
>
> DHN****
>
> ** **
>
> ** **
>
> *From:* Ruskamto [mailto:[email protected]]
> *Sent:* 14 September 2012 7:22
>
> *To:* [email protected]
> *Subject:* Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA****
>
> ** **
>
> Betul Pak, dalam mendiskripsi proses geologi mestinya dalam konteks time
> and space. Lah kalau pada space yang sama tapi jauh berbeda timingnya jadi
> gak konek ya Pak.. Kita bicara bencana purba dalam konteks time scale
> peradaban manusia, tapi bicara siklus geologi jaman es terakhir, konteks
> geologic timingnya gak pas.. Bisa dianalogikan, di pantai utara banyak
> struktur sesar, antiklin/sesar besar mestinya terbentuk dg magnitude gempa
> skala SR 10. Menjadi tidak konek kalau kita sebut pantura berbahaya karena
> dulu jaman plio-pliestosin terjadi banyak terjadi gempa bersekala SR 10.
> Ini thought proses saya lho Pak.
> RUS ****
> ------------------------------
>
> *From: *"Bandono Salim" <[email protected]> ****
>
> *Date: *Thu, 13 Sep 2012 23:49:53 +0000****
>
> *To: *Iagi<[email protected]>****
>
> *ReplyTo: *<[email protected]> ****
>
> *Subject: *Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA****
>
> ** **
>
> Wah tegas dan jelas menolak Atlantis di paparan Sunda, sejalan dengan
> penuturan Proff. RPK dan Proff.Adjad S.
>
> Waktu main ke Melak Kaltim bag barat, sungai di sana ada yang punya
> kedalaman sampai 50mtr pada musim kemarau. Jadi wajar saja lha muka airlaut
> pernah mencapai kedalam -200 mtr dari sekarang.
> Dapat dimengerti kenapa dataran aluvial sangat luas di kalimantan timur
> maupun selatan sebagai akibat perubahan base level sejak 170.000 tahun lalu.
> Salam.****
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®****
> ------------------------------
>
> *From: *"yahdi zaim" <[email protected]> ****
>
> *Date: *Thu, 13 Sep 2012 20:12:42 +0000****
>
> *To: *<[email protected]>****
>
> *ReplyTo: *<[email protected]> ****
>
> *Subject: *Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA****
>
> ** **
>
> Benar Pak Awang,sungai2 purba tersebut sudah dikenal sejak zaman Belanda.
> Disamping dinyatakan oleh Molengraaff dan Weber,sungai2 tenggelam tsb juga
> dinyatakan oleh Ph.Kuenen thn 1950 dlm bukunya "Marine Geology". Dalam
> berbagai paper Alm.Prof.Sartono thn '70an ttg migrasi hominid dan
> vertebrata pada zaman Kuarter juga menggambarkan sungai2 purba tsb. Dalam
> materi kuliah Geologi Kuarter yg saya berikan sejak thn '80an juga saya
> ungkapkan adanya sungai2 tenggelam tsb. Jadi adanya sungai2 tenggelam
> tsb.bukan hal baru,juga bukan ditemukan oleh Tim Bencana Katastrofi Purba,
> juga bukan ditemukan oleh Dr. Wahyu Triyoso. Plintiran wartawan memang
> menyesatkan,tapi lebih menyesatkan jika hal tsb sekiranya memang merupakan
> klaim dari Tim Bencana Katastrofi Purba.
> Wslm,
> Y.Zaim ****
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®****
> ------------------------------
>
> *From: *Awang Satyana <[email protected]> ****
>
> *Date: *Fri, 14 Sep 2012 00:20:50 +0800 (SGT)****
>
> *To: *IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; Geo Unpad<
> [email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS<
> [email protected]>****
>
> *ReplyTo: *<[email protected]> ****
>
> *Subject: *[iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA****
>
> ** **
>
> Sebuah berita bertajuk: Ditemukan, Jejak Sungai Purba di Utara Laut Jawa
> Sabtu, 18 Februari 2012 , di-posting seorang rekan di FB sebuah Group
> malam ini.  Dilaporkan bahwa sungai2 purba ini ditemukan Tim Bencana
> Katastrofi Purba. Mungkin wartawannya ngawur ya...
>
> Perlu klarifikasi serius atas berita ini, meskipun ditulis Februari 2012.
> Sungai2 purba atau lebih tepatnya sungai2 tenggelam di Laut Jawa sampai
> Selat Malaka adalah isu lama, tentu saja penemunya bukan Tim Bencana
> Katastrofi Purba dan jejaknya juga bukan ditemukan oleh Dr. Wahyu Triyoso.
> Sungai-sungai purba di Laut Jawa dan Selat Malaka itu sudah ditemukan
> hampir 100 tahun lalu dan sudah dipublikasikan oleh GAF Molengraaff dan M
> Weber pada tahun 1919 dalam makalah berjudul "Het verband tusschen den
> plistoceenen ijstijd en het ontstaan der Soenda-Zee en de invloed daarvan
> op de verspreiding der koraalriffen en on de land- en zoetwater fauna"
> (Wis- en Nat. Afd. Kon. Akad. v. Wetensch., Amsterdam, 29 Nov 1919, 28,
> 497-544). Molengraaff adalah seorang ahli geologi dan Weber adalah seorang
> ahli biologi pada zaman Belanda di Indonesia. Garis Weber, garis
> kesetimbangan fauna Asiatik dan Australia di Indonesia bagian tengah adalah
> berasal dari namanya.
>
> Di Laut Jawa itu dan Selat Malaka itu, Molengraaff dari tahun 1919 telah
> memetakan alur-alur sungai yang tenggelam  (drowning river system) yang
> terbagi menjadi dua alur sungai utama, yang dinamainya Sungai Sunda Utara
> di bawah Selat Malaka dan Sungai Sunda Selatan di bawah Laut Jawa. Nama
> lain kedua alur utama sungai itu juga sering disebut sebagai Sistem Sungai
> Molengraaff, mengikuti nama penemunya.
>
> Sungai Sunda Utara mempunyai daerah hulu di Sumatra dan Kalimantan Barat,
> dan bermuara ke Laut Cina Selatan, sedangkan Sungai Sunda Selatan mempunyai
> hulu di Jawa dan Kalimantan Selatan dengan muara di Selat Makassar.
> Lembah-lembah sungai yang terbenam ini sebagian sudah tertimbun lumpur.
> Tetapi penelitian geologi kelautan sejak akhir 1950-an oleh beberapa
> ekspedisi kelautan bekerja sama dengan pihak asing telah dapat mengenal
> keberadaan sungai2 besar ini. Dua lembah sungai besar di selatan Kalimantan
> Selatan, sebelah selatan Sampit, misalnya ditunjukkan di buku bagus tentang
> oseanografi Indonesia tulisan Anugerah Nontji (Djambatan, 1987): "Laut
> Nusantara". Lebar lembah2 sungai ini antara 400-500 meter, dasar sungai
> purba ini 17-24 meter lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan
> terisi oleh endapan setebal 8-15 meter.
>
> Weber juga menunjukkan bahwa adanya sistem sungai-sungai Sunda ini
> dibuktikan oleh banyaknya persamaan jenis ikan tawar di sungai2 pesisir
> timur Sumatra dengan ikan2 di pesisir barat Kalimantan, padahal antara
> Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur tidak ada persamaan.
>
> Karena glasiasi-deglasiasi yang terus terjadi secara siklus di wilayah
> Paparan Sunda, sehingga saat glasiasi air laut menyurut dan turun lalu
> menyingkapkan paparan menjadi daratan (Sundaland) sebab air laut tertarik
> ke kutub2 Bumi menjadi es; dan saat deglasiasi terjadi pencairan es di
> kutub2 Bumi lalu air laut di mana2 naik, maka Sundaland kembali tenggelam
> menjadi Paparan Sunda (Sunda Shelf).
>
> Hasil penelitian geologi dapat menunjukkan jejak sejarah Paparan Sunda dan
> Sundaland. Kira2 170.000 tahun lampau muka laut berada kira-kira 200 meter
> lebih rendah dari sekarang, tersingkaplah Sundaland. Lalu dalam 125.000
> tahun terakhir, air laut ini secara bertahap naik, tetapi belum mencapai
> posisi seperti sekarang. Pada sekitar 7000 tahun yang lalu, posisinya
> seperti sekarang, 4000 tahun yang lampau 5 m melampaui posisi sekarang,
> lalu turun lagi dan sejak 1000 tahun yang lalu posisinya sudah seperti
> sekarang.
>
> Yang namanya siklus glasiasi dan deglasiasi tak pernah terjadi mendadak
> turun atau naik, apalagi terjadi dalam semalam seperti banjir dalam dongeng
> Atlantis yang dituturkan Plato. Dan yang namanya sistem sungai2 Sunda tak
> berhubungan dengan peradaban tinggi ala dongeng Atlantis. Kecuali  kalau
> submarine archaeology kelak menemukan banyak bukti2 kebudayaan tinggi
> terkubur di lembah2 sungai2 Sunda itu tetapi bukan berasal dari kapal karam
> modern, bolehlah kita mendiskusikannya lagi soal kaitan lembah sungai
> tenggelam ini dengan peradaban tinggi itu.
>
> Salam,
> Awang****
>
> ** **
>



-- 
Sent from my Computer®

Kirim email ke