Argo, daerah kalimantan barat selatan cenderung dianggap daerah tdk prospek karena di daerah kontinen stabil sehingga tdk banyak pengendapan sedimen / lack accomodation space..beberapa sumur sudah menembus daerah ini sampai basement dan dry. Tapi mungkin dqn adanya 3D seismic baru yg digunakan untuk melihat sungai sungai bawah laut ini bisa dipakai untuk melihat jg kemungkinan adanya graben graben yg dengan supply sedimen dari sungai sungai purba yg lebih tua dari yg kita diskusikan sekarang bisa membuka hal yg baru....masalah biogenic / bukan, asal cukup ekonomis untuk dipop kenapa tidak.... On Sep 14, 2012 8:15 AM, "argo wuryanto" <[email protected]> wrote:
> Mas Ferdy, > > Lagi nyari biogenik gas kah? he..he... > > Utk waktu yang relatif singkat (untuk ukuran Geologi) , apakah lapisan > tudung (seal)-nya sudah cukup tebal yo, mas? > > salam, > Argo-3711 > *Dari:* kartiko samodro <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Jumat, 14 September 2012 8:36 > *Judul:* Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA > > kira kira apa ada kemungkinan petroleum system karena ada sungai purba > yang bawa material organik ? > > On 9/13/12, Awang Satyana <[email protected]> wrote: > > Sebuah berita bertajuk: Ditemukan, Jejak Sungai Purba di Utara Laut Jawa > > Sabtu, 18 Februari 2012 , di-posting seorang rekan di FB sebuah Group > malam > > ini. Dilaporkan bahwa sungai2 purba ini ditemukan Tim Bencana Katastrofi > > Purba. Mungkin wartawannya ngawur ya... > > > > Perlu klarifikasi serius atas berita ini, meskipun ditulis Februari 2012. > > Sungai2 purba atau lebih tepatnya sungai2 tenggelam di Laut Jawa sampai > > Selat Malaka adalah isu lama, tentu saja penemunya bukan Tim Bencana > > Katastrofi Purba dan jejaknya juga bukan ditemukan oleh Dr. Wahyu > Triyoso. > > Sungai-sungai purba di Laut Jawa dan Selat Malaka itu sudah ditemukan > hampir > > 100 tahun lalu dan sudah dipublikasikan oleh GAF Molengraaff dan M Weber > > pada tahun 1919 dalam makalah berjudul "Het verband tusschen den > > plistoceenen ijstijd en het ontstaan der Soenda-Zee en de invloed > daarvan op > > de verspreiding der koraalriffen en on de land- en zoetwater fauna" > (Wis- en > > Nat. Afd. Kon. Akad. v. Wetensch., Amsterdam, 29 Nov 1919, 28, 497-544). > > Molengraaff adalah seorang ahli geologi dan Weber adalah seorang ahli > > biologi pada zaman Belanda di Indonesia. Garis Weber, garis kesetimbangan > > fauna Asiatik dan Australia di Indonesia bagian tengah adalah berasal > dari > > namanya. > > > > Di Laut Jawa itu dan Selat Malaka itu, Molengraaff dari tahun 1919 telah > > memetakan alur-alur sungai yang tenggelam (drowning river system) yang > > terbagi menjadi dua alur sungai utama, yang dinamainya Sungai Sunda > Utara di > > bawah Selat Malaka dan Sungai Sunda Selatan di bawah Laut Jawa. Nama lain > > kedua alur utama sungai itu juga sering disebut sebagai Sistem Sungai > > Molengraaff, mengikuti nama penemunya. > > > > Sungai Sunda Utara mempunyai daerah hulu di Sumatra dan Kalimantan Barat, > > dan bermuara ke Laut Cina Selatan, sedangkan Sungai Sunda Selatan > mempunyai > > hulu di Jawa dan Kalimantan Selatan dengan muara di Selat Makassar. > > Lembah-lembah sungai yang terbenam ini sebagian sudah tertimbun lumpur. > > Tetapi penelitian geologi kelautan sejak akhir 1950-an oleh beberapa > > ekspedisi kelautan bekerja sama dengan pihak asing telah dapat mengenal > > keberadaan sungai2 besar ini. Dua lembah sungai besar di selatan > Kalimantan > > Selatan, sebelah selatan Sampit, misalnya ditunjukkan di buku bagus > tentang > > oseanografi Indonesia tulisan Anugerah Nontji (Djambatan, 1987): "Laut > > Nusantara". Lebar lembah2 sungai ini antara 400-500 meter, dasar sungai > > purba ini 17-24 meter lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan > terisi > > oleh endapan setebal 8-15 meter. > > > > Weber juga menunjukkan bahwa adanya sistem sungai-sungai Sunda ini > > dibuktikan oleh banyaknya persamaan jenis ikan tawar di sungai2 pesisir > > timur Sumatra dengan ikan2 di pesisir barat Kalimantan, padahal antara > > Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur tidak ada persamaan. > > > > Karena glasiasi-deglasiasi yang terus terjadi secara siklus di wilayah > > Paparan Sunda, sehingga saat glasiasi air laut menyurut dan turun lalu > > menyingkapkan paparan menjadi daratan (Sundaland) sebab air laut > tertarik ke > > kutub2 Bumi menjadi es; dan saat deglasiasi terjadi pencairan es di > kutub2 > > Bumi lalu air laut di mana2 naik, maka Sundaland kembali tenggelam > menjadi > > Paparan Sunda (Sunda Shelf). > > > > Hasil penelitian geologi dapat menunjukkan jejak sejarah Paparan Sunda > dan > > Sundaland. Kira2 170.000 tahun lampau muka laut berada kira-kira 200 > meter > > lebih rendah dari sekarang, tersingkaplah Sundaland. Lalu dalam 125.000 > > tahun terakhir, air laut ini secara bertahap naik, tetapi belum mencapai > > posisi seperti sekarang. Pada sekitar 7000 tahun yang lalu, posisinya > > seperti sekarang, 4000 tahun yang lampau 5 m melampaui posisi sekarang, > lalu > > turun lagi dan sejak 1000 tahun yang lalu posisinya sudah seperti > sekarang. > > > > Yang namanya siklus glasiasi dan deglasiasi tak pernah terjadi mendadak > > turun atau naik, apalagi terjadi dalam semalam seperti banjir dalam > dongeng > > Atlantis yang dituturkan Plato. Dan yang namanya sistem sungai2 Sunda tak > > berhubungan dengan peradaban tinggi ala dongeng Atlantis. Kecuali kalau > > submarine archaeology kelak menemukan banyak bukti2 kebudayaan tinggi > > terkubur di lembah2 sungai2 Sunda itu tetapi bukan berasal dari kapal > karam > > modern, bolehlah kita mendiskusikannya lagi soal kaitan lembah sungai > > tenggelam ini dengan peradaban tinggi itu. > > > > Salam, > > Awang > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2011-2014: > Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com > Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com > > -------------------------------------------------------------------------------- > Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. > REGISTER NOW ! > Contact Person: > Email : [email protected] > Phone : +62 82223 222341 (lisa) > > -------------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > For topics not directly related to Geology, users are advised to post the > email to: [email protected] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id/ > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > > >

