Sungai Purba di Laut Jawa-Selat Malaka memang sudah diketahui sejak
Moleengraff tahun 1917. Saya salut dengan beliau itu yang hanya dengan modal
peta-data yan masih sangat terbatas waktu itu dan juga pengetahuan tentang
sea-level changes masih sedikit pula tapi dapat terinspirasi bahkan sudah
mencoba memetakan sungai di bawah laut tersebut.  Saya belum pernah melihat
peta-nya Moleengraf, tapi tentunya masih sangat kasar atau hanya berskala
kecil atau hanya berdasarkan data di-pinggiran/daratan saja.  Tidak ada
orang yang meneruskan inisiatif ini padahal akan sangat menarik dan penting
kalau bisa memetakan paleogeografi (termasuk sungainya) dan
paleo-environment Laut Jawa sejak Jaman Es terakhir.  Singkatnya, sungai di
bawah Laut Jawa memang sudah diduga/diketahui keberadaannya sejak
Moleengraff tapi belum pernah di-peta-kan dengan baik (sampai sekarang).
Rekan Wahyu Triyoso iseng-iseng mengotak-atik data 3-D seismik yang dia
punya dan 'menemukan' image sungai purba yang terlihat jelas dalam penampang
horisontal 3-D seismik tersebut.  Jadi tidak terlalu salah ocehan wartawan
atau rekan di FB itu.

 

Daratan Sunda terpapar terakhir pada waktu Jaman Es 20.000 tahun lalu.
Sebelumnya  jaman es terjadi pada sekitar 140.000 tahun lalu terus mencair
dan menjadi Jaman interglasial pada sekitar 130.000 tahun lalu (=airlaut
sama dengan sekarang).  Setelah itu iklim bergeser lagi ke Jaman es (dan air
laut turun) sampai mencapai puncak jaman es sekitar 20.000 tahun lalu itu
(=air laut sekitar 130 meter dari sekarang).  Dari 20.000 tahun sampai
7000-an air laut naik tapi tidak linier, ada tiga "pulse" besar pada sekitar
15.000, 11.600, dan 8000 tahun lalu (data world-wide).  Ada data "pulse"
kenaikan muka air pada fasa 8000-an dari data bor di Singapore.
Kenaikkannya cukup tajam tapi kelihatannya memang tidak tiba-tiba.  Dari
Indonesia setahu saya tidak ada data kenaikkan muka airlaut yang beresolusi
tinggi sejak 20.000 tahun.  Jadi perihal seberapa bertahap atau seberapa
mendadak kenaikkan muka air laut di tiga pulse besar di Laut Jawa bagi saya
belum "proven" benar karena datanya masih sangat sedikit.  Perlu diingat
juga andaikan ada banjir besar (dan surut lagi) yang temponya hanya bulanan
saja diantara tiga pulse itu apakah kita dapat mengetahuinya?  Sangat sulit,
karena perlu data kenaikkan muka airlaut dengan resolusi bulanan , bukankah
demikian?  Rasanya sangat sukar kalau berdasarkan  analisa stratigrafi -
sedimen biasa.

 

Menghubungkan sungai purba-daratan sunda dengan peradaban(tinggi) masa lalu
adalah "jump to conclusion".  Bagi saya, dengan data yang ada saat ini
keyakinan 'tidak ada' versus 'ada' peradaban (tinggi) di "Lembah Laut Jawa"
sama lemahnya atau "equivocal' kalau dilihat dari sudut "hardfacts".
Paling  kita  hanya bisa berhipotesis "If-Then":  IF antara 20.000 - 8000
tahun lalu ada peradaban cukup maju di Nusantara (seperti konklusinya
penelitian Oppenheimer), THEN peradaban itu besar kemungkinan akan
menjadikan Lembah Laut Jawa yang ("once upon a time") sangat indah, kaya dan
strategis sebagai pusat pemerintahannya.  Jadi memang harus diteliti dulu
IF-nya baru THEN-nya di-eksplorasi.  Tidak perlu Atlantis kok, Lemuria juga
boleh ...atau "whatever civilization" lah J  

 

Salam

DHN

 

 

From: Ruskamto [mailto:[email protected]] 
Sent: 14 September 2012 7:22
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA

 

Betul Pak, dalam mendiskripsi proses geologi mestinya dalam konteks time and
space. Lah kalau pada space yang sama tapi jauh berbeda timingnya jadi gak
konek ya Pak.. Kita bicara bencana purba dalam konteks time scale peradaban
manusia, tapi bicara siklus geologi jaman es terakhir, konteks geologic
timingnya gak pas.. Bisa dianalogikan, di pantai utara banyak struktur
sesar, antiklin/sesar besar mestinya terbentuk dg magnitude gempa skala SR
10. Menjadi tidak konek kalau kita sebut pantura berbahaya karena dulu jaman
plio-pliestosin terjadi banyak terjadi gempa bersekala SR 10. 
Ini thought proses saya lho Pak.
RUS 

  _____  

From: "Bandono Salim" <[email protected]> 

Date: Thu, 13 Sep 2012 23:49:53 +0000

To: Iagi<[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA

 

Wah tegas dan jelas menolak Atlantis di paparan Sunda, sejalan dengan
penuturan Proff. RPK dan Proff.Adjad S.

Waktu main ke Melak Kaltim bag barat, sungai di sana ada yang punya
kedalaman sampai 50mtr pada musim kemarau. Jadi wajar saja lha muka airlaut
pernah mencapai kedalam -200 mtr dari sekarang.
Dapat dimengerti kenapa dataran aluvial sangat luas di kalimantan timur
maupun selatan sebagai akibat perubahan base level sejak 170.000 tahun lalu.
Salam.

Powered by Telkomsel BlackBerryR

  _____  

From: "yahdi zaim" <[email protected]> 

Date: Thu, 13 Sep 2012 20:12:42 +0000

To: <[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: Re: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA

 

Benar Pak Awang,sungai2 purba tersebut sudah dikenal sejak zaman Belanda.
Disamping dinyatakan oleh Molengraaff dan Weber,sungai2 tenggelam tsb juga
dinyatakan oleh Ph.Kuenen thn 1950 dlm bukunya "Marine Geology". Dalam
berbagai paper Alm.Prof.Sartono thn '70an ttg migrasi hominid dan vertebrata
pada zaman Kuarter juga menggambarkan sungai2 purba tsb. Dalam materi kuliah
Geologi Kuarter yg saya berikan sejak thn '80an juga saya ungkapkan adanya
sungai2 tenggelam tsb. Jadi adanya sungai2 tenggelam tsb.bukan hal baru,juga
bukan ditemukan oleh Tim Bencana Katastrofi Purba, juga bukan ditemukan oleh
Dr. Wahyu Triyoso. Plintiran wartawan memang menyesatkan,tapi lebih
menyesatkan jika hal tsb sekiranya memang merupakan klaim dari Tim Bencana
Katastrofi Purba.
Wslm,
Y.Zaim 

Powered by Telkomsel BlackBerryR

  _____  

From: Awang Satyana <[email protected]> 

Date: Fri, 14 Sep 2012 00:20:50 +0800 (SGT)

To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; Geo
Unpad<[email protected]>; Eksplorasi
BPMIGAS<[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA

 


Sebuah berita bertajuk: Ditemukan, Jejak Sungai Purba di Utara Laut Jawa
Sabtu, 18 Februari 2012 , di-posting seorang rekan di FB sebuah Group malam
ini.  Dilaporkan bahwa sungai2 purba ini ditemukan Tim Bencana Katastrofi
Purba. Mungkin wartawannya ngawur ya...

Perlu klarifikasi serius atas berita ini, meskipun ditulis Februari 2012.
Sungai2 purba atau lebih tepatnya sungai2 tenggelam di Laut Jawa sampai
Selat Malaka adalah isu lama, tentu saja penemunya bukan Tim Bencana
Katastrofi Purba dan jejaknya juga bukan ditemukan oleh Dr. Wahyu Triyoso.
Sungai-sungai purba di Laut Jawa dan Selat Malaka itu sudah ditemukan hampir
100 tahun lalu dan sudah dipublikasikan oleh GAF Molengraaff dan M Weber
pada tahun 1919 dalam makalah berjudul "Het verband tusschen den
plistoceenen ijstijd en het ontstaan der Soenda-Zee en de invloed daarvan op
de verspreiding der koraalriffen en on de land- en zoetwater fauna" (Wis- en
Nat. Afd. Kon. Akad. v. Wetensch., Amsterdam, 29 Nov 1919, 28, 497-544).
Molengraaff adalah seorang ahli geologi dan Weber adalah seorang ahli
biologi pada zaman Belanda di Indonesia. Garis Weber, garis kesetimbangan
fauna Asiatik dan Australia di Indonesia bagian tengah adalah berasal dari
namanya.

Di Laut Jawa itu dan Selat Malaka itu, Molengraaff dari tahun 1919 telah
memetakan alur-alur sungai yang tenggelam  (drowning river system) yang
terbagi menjadi dua alur sungai utama, yang dinamainya Sungai Sunda Utara di
bawah Selat Malaka dan Sungai Sunda Selatan di bawah Laut Jawa. Nama lain
kedua alur utama sungai itu juga sering disebut sebagai Sistem Sungai
Molengraaff, mengikuti nama penemunya. 

Sungai Sunda Utara mempunyai daerah hulu di Sumatra dan Kalimantan Barat,
dan bermuara ke Laut Cina Selatan, sedangkan Sungai Sunda Selatan mempunyai
hulu di Jawa dan Kalimantan Selatan dengan muara di Selat Makassar.
Lembah-lembah sungai yang terbenam ini sebagian sudah tertimbun lumpur.
Tetapi penelitian geologi kelautan sejak akhir 1950-an oleh beberapa
ekspedisi kelautan bekerja sama dengan pihak asing telah dapat mengenal
keberadaan sungai2 besar ini. Dua lembah sungai besar di selatan Kalimantan
Selatan, sebelah selatan Sampit, misalnya ditunjukkan di buku bagus tentang
oseanografi Indonesia tulisan Anugerah Nontji (Djambatan, 1987): "Laut
Nusantara". Lebar lembah2 sungai ini antara 400-500 meter, dasar sungai
purba ini 17-24 meter lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan terisi
oleh endapan setebal 8-15 meter.

Weber juga menunjukkan bahwa adanya sistem sungai-sungai Sunda ini
dibuktikan oleh banyaknya persamaan jenis ikan tawar di sungai2 pesisir
timur Sumatra dengan ikan2 di pesisir barat Kalimantan, padahal antara
Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur tidak ada persamaan.

Karena glasiasi-deglasiasi yang terus terjadi secara siklus di wilayah
Paparan Sunda, sehingga saat glasiasi air laut menyurut dan turun lalu
menyingkapkan paparan menjadi daratan (Sundaland) sebab air laut tertarik ke
kutub2 Bumi menjadi es; dan saat deglasiasi terjadi pencairan es di kutub2
Bumi lalu air laut di mana2 naik, maka Sundaland kembali tenggelam menjadi
Paparan Sunda (Sunda Shelf).

Hasil penelitian geologi dapat menunjukkan jejak sejarah Paparan Sunda dan
Sundaland. Kira2 170.000 tahun lampau muka laut berada kira-kira 200 meter
lebih rendah dari sekarang, tersingkaplah Sundaland. Lalu dalam 125.000
tahun terakhir, air laut ini secara bertahap naik, tetapi belum mencapai
posisi seperti sekarang. Pada sekitar 7000 tahun yang lalu, posisinya
seperti sekarang, 4000 tahun yang lampau 5 m melampaui posisi sekarang, lalu
turun lagi dan sejak 1000 tahun yang lalu posisinya sudah seperti sekarang.

Yang namanya siklus glasiasi dan deglasiasi tak pernah terjadi mendadak
turun atau naik, apalagi terjadi dalam semalam seperti banjir dalam dongeng
Atlantis yang dituturkan Plato. Dan yang namanya sistem sungai2 Sunda tak
berhubungan dengan peradaban tinggi ala dongeng Atlantis. Kecuali  kalau
submarine archaeology kelak menemukan banyak bukti2 kebudayaan tinggi
terkubur di lembah2 sungai2 Sunda itu tetapi bukan berasal dari kapal karam
modern, bolehlah kita mendiskusikannya lagi soal kaitan lembah sungai
tenggelam ini dengan peradaban tinggi itu.

Salam,
Awang

 

Kirim email ke