Pak Ong Yth,

Membaca ulasan/pandangan pak Ong tentang pasal 33 UUD45, saya jadi "confuse" 
kemana arahnya. Dalam salah satu terbitan koran Republika, rubrik Resonansi, 
setelah lebaran (Iedul Fitri) yang lalu. Buya Syafi'i Ma'arif (mantan Ketua 
Muhammadiyah) mengulas pasal 33 UUD45 sangat ciamik dan jelas arahnya. Menurut 
Buya Syafi'i Ma'arif, pasal ini adalah pasal yang brilian untuk melindungi 
kekayaan SDA kita sebagai aset milik bangsa. Buya Syafi'i Ma'arif sangat kagum 
atas kecerdasan perumus pasal tsb.
Kalau dikatakan semua negara punya pasal tersebut juga tidak. Negara2 yg 
menganut faham liberal tentu tidak punya pasal tsb. Makanya ada kelompok 
anthek2 negara Liberal berupaya menghilangkan pasal 33 UUD45 dalam amandemen 
UUD45 yang lalu tapi ditolak oleh MPRRI.
Kalau negara yang berfaham sosialis iya punya pasal yang senafas dengan pasal 
33 UUD45 seperti Norway. Belanda juga salah satu negeri yang berfaham sosialis. 
Ya seperti kita ketahui para founding fathers kita umumnya mendapat pendidikan 
di negeri Belanda, asumsi jalan pikiran saya para founding fathers kita sangat 
faham, apa yang terbaik dari negara2 sosialis di Eropa yang bisa dijadikan 
dasar negara untuk melindungi Bangsa dan Tanah Air Indonesia. Salah satunya 
yang dimasukkan dalam rumusan pasal 33 UUD45.
Soal terminologi "Royalty" dan "First Tranch Petroleum/FTP)" jangan 
disederhanakan bahwa ini substansinya sama, ini substansinya "completely 
different". Setiap terminologi punya makna, misal "house" dan "home", house 
bangunannya benda mati, sedangkan "home" adalah bangunannya plus penghuninya, 
home punya jiwa layaknya makhluk hidup. Setiap terminologi punya konseqwensi 
hukum, contoh "fee" dan hibah/"grand", secara hukum perlakuan pajaknya berbeda. 
"Royalty" adalah persembahan kepada Raja, di Indonesia tidak ada raja karena 
secara UUD bentuknya adalah Republik. Jadi terminologi Royalty bertentangan 
dengan UUD45 pasal yang mengatur bentuk negara, sangat beda degan ftp.
Saya juga confuse, apakah akhir2 ini di bpmigas sebelum dibubarkan terjadi 
degradasi pemahaman Undang-Undang. Melihat debat di TV One tadi malam (19 
Nov'12), saya melihat seoarang Deputi ex_BPMIGAS tidak/kurang faham mengenai UU 
Migas, bagaimana sang Deputi ini gak paham substansi dan implementasi UU Migas 
berdebat masalah UU Migas. Saya contohkan waktu sang Deputi menjelaskan bahwa 
Tangguh itu "plant LNG-nya" dikembang oleh Pertamina melalui MPHP. Ini 
completely wrong, sang deputi ini tidak mengerti "scope/lingkup upstream" UU no 
8/1971, dan "scope/lingkup upstream" UU no. 22/2001. Menurut UU 8/1971, lingkup 
upstream adalah "Eksplorasi-Pengembangan-Produksi", makanya LNG tidak masuk 
"upstream" tidak ditangani Direktorat EP maupun BPPKA (hanya bertugas menangani 
upstream). LNG ditangani oleh Direktorat Umum Pertamina melalui suatu 
organisasi MPHP (Untungnya DR. Kurtubi juga gak paham jadi depat kusir 
akhirnya. Saya yakin DR. Rahmat Sudibyo paham makanya diam, malu barangkali). 
Di UU no. 22/2001, lingkup Upstream: 
Eksplorasi-Pengembangan-Produksi-LNG/LPG/CNG/gas pipa-Transportasi. Ada pasal 
yang mengatur LNG, operator boleh mengajukan ke Pemerintah apakah mau menganut 
Skema Upstream atau Downstream. Tangguh dan Masela menganut skema Upstream, dan 
Donggi Senoro LNG menganut Skema Downstream.
Tangguh dikembangkan diawal era UU 22/2001 dan waktu itu juga awal pekerjaan 
yang ditangani BPMIGAS yang kala itu dipimpin DR. Rahmat Sudibyo. Pemerintah 
menyetujui Tangguh skema upstream, biaya untuk LNG Plant dan trnasportasinya 
(kalau kontraknya CIF) adalah cost recover. Jelas tidak ada keterlibatan 
Pertamina karena secara ketentuan UU Migas 22/2001 tidak diperbolehkan.
Apakah BPMIGAS steril dari korupsi? Wait and see hasil audit BPK, dan 
pendalaman KPK di bpmigas yg sudah almarhum ini.


Salam Hormat,


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Ong Han Ling <[email protected]>
Date: Tue, 20 Nov 2012 15:19:13 
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: RE: [iagi-net-l] Tolong disimplify keputusan MK
Saya ikut nimbrung tentang sejarah UUMIGAS vs.UUD 45 pasal 33.

UUD 45 dibuat zaman revolusi. Karena mepet maka dibuat secara tergesa-gesa
oleh beberapa orang saja. UUD 45 cuma puluhan halaman saja dan mencakup
seluruh kehidupan bangsa. Pasal yang dipakai dalam pembubaran BPMIGAS adalah
pasal 33, ayat 3: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalmanya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat". Ini adalah umum dan semua Negara didunia punya. Umpama
Norway mengatakan "The petroleum resources belong to the nation - and should
be developed to the benefit of the whole society". 

Karena singkatnya UUD 45, maka interpretasi juga bisa sangat berbeda dan
subjektif. MK menganggap BPMIGAS belum memaksimalkan pendapatan Negara
sesuai Pasal 33. Yang disebut "dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat" adalah relatip dan tidak ada tolak ukurnya.  

Perbedaan interpretasi Pasal 33, ayat 3, yaitu pasal satu-satunya yang
menyangkut mineral resources bukan hal yang baru. Umpama Dirjen Migas dan
Pertamina melarang penggunaan nama "Royalty" karena dianggap melanggar UUD
45 pasal 33. "Royal" berarti raja dan bukan rakyat. Untuk menghindari
pemakain nama Royalty, dipilh nama First Tranch Petroleum (FTP), yang tidak
lain adalah "royalty" yang dibagi antara Pemerintah dan K3S berdasarkan
split yang berlaku. Dilain pihak Dirjen Pertambangan Umum, yang juga
bernaung dibawah kementerian ESDM, selalu mengunakan perkataan "royalty"
sejak Contract of Work (COW) ditandatangani sampai sekarang. Perbedaan ini
tidak pernah terselesaikan dan Dirjen Migas maupun Dirjen Pertambangan Umum
berjalan menurut keyakinan dan interpretasi masing-masing terhadap UUD 45
pasal 33, ayat 3.  

UUMIGAS No.22/2001, dilain pihak dibuat khusus untuk migas. Salah satu
alasan perlunya dibuat UUMIGAS baru adalah memangkas monopoly Pertamina
untuk mencegah korupsi. Antara April 1966-March 1988, Pertamina telah
mengalami kerugian karena korupsi sebesar $6.1 billion. Dalam mata uang
dollar sekarang mungkin uang tsb. bisa dipakai untuk membangun dua FLNG
Masela. Kerugian karena korupsi tsb. ketahuan setelah di audit oleh Price
Waterhouse atas permintaan IMF (Jakarta Post, 10 Juli, 1999). 

Waktu pembuatan UUMIGAS No.22/2001 telah diadakan sosialisasikan oleh DPR
dengan perguruan tinggi ternama di Indonesia dan assosiasi-assosiasi
profesi. DPR mengundang mereka untuk memberikan masukan. Seperti halnya UUD
45, UUMIGAS No.21 ini dibuat oleh Putera-Puteri Indonesia terbaik pada
zamannya dan digodok selama kurang lebih 3 tahun. Ternyata menurut MK semua
ini tidak konstitutional, setelah lebih dari 11 tahun berjalan. Yang
ditakuti adalah bahwa hal ini akan merembet ke UU lainnya. Tidak adanya
kepastian hukum akan menyebabkan investor wait and see. 

Salam,

HL Ong
  

 


-----Original Message-----
From: Bandono Salim [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, November 16, 2012 10:05 AM
To: Iagi
Subject: Re: [iagi-net-l] Tolong disimplify keputusan MK

Sekedar diskusi saja mas, belum tentu berpengaruh pada politik NKRI. 
Nambah kekayaan pengetahuan politik dan cara berpikir politikus.
Belum nambah itu pengetahuan negarawan.
Salam. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Ruskamto" <[email protected]>
Date: Thu, 15 Nov 2012 22:04:42
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Tolong disimplify keputusan MK Kita bertengkar dan
sebetulnya kita juga jadi korban permainan politik yang kurang
bertanggunggjawab shg  negri ini semakin lucu:

Badut Politik dalam Kasus Pembubaran BP MIgas dan UU MIgas tahun 2001

 (Oleh Lin Che Wei)

Babak 1 - Proses pembahasan dan pengundang-undangan UU Migas 2001 terjadi
antara tahun 1999 sampai 2001. UU MIgas di undang-undangkan pada bulan
November 2001. UU Migas ini merupakan produk pembahasan antara Pemerintah
pada masa itu dan DPR pada masa itu.

Marilah Kita melihat siapa saja aktor politik tersebut.

Ketua MPR - Amien Rais (Mantan ketua Muhammadiyah -dari PAN)

Ketua DPR - Akbar Tanjung (Golkar - Mantan Aktivis HMI)

Ketua Komisi VIII - DPR - Irwan Prajitno (dari Partai Keadilan) Pada saat
itu Poros Tengah (Koalisi dari beberapa partai berbasis islam seperti PAN,
PKB, PBB, PPP) sedang naik daun dan sangat berpengaruh di Parlemen karena
mereka adalah 'king maker' dari naiknya Gus Dur menjadi Presiden.

Yang menarik di dalam pembahasan tersebut dan perundang-undangan UU MIgas
tersebut... adalah : Semua Fraksi di DPR (kecuali satu fraksi kecil), semua
partai berbasis islam (termasuk Partai Keadilan, PAN, PPP, PBB, PKB) dan
juga partai besar (PDI-P dan Golkar) mendukung ratifikasi dari UU Migas.

Sangat ironis karena satu-satunya partai yang justru menyatakan keberatan
adalah Fraksi Demokrasi Kasih Bangsa (Partai kecil yang berbasis agama
kristen).

Pada saat tersebut (1999-2001 periode - periode pembahasan dan ratifikasi)

- Kwik Kian Gie adalah Menko Perekonomian (PDI-P) dan kemudian menjadi Ketua
Bappenas. - Rizal Ramlie adalah mantan Menkeu/Menko Perekonomian waktu zaman
Gus Dur.

- Mahfud MD adalah Menteri Pertahanan dan sempat menjadi Menteri Hukum Dan
Perundangan-Undangan zaman Gus Dur. Semua komponen pemerintah dan parlemen
pada waktu itu setuju untuk meratifikasi UU Migas 2001 dan melahirkan BP
MIgas.

Berdasarkan rekomendasi dari Kwik Kian Gie, ketika terjadi penggantian Dirut
Pertamina, Martiono Hadianto (yg menentang RUU Migas pada saat itu). Kwik
sangat merekomendasi Baihaki Hakim untuk menggantikan Martiono. Di masa
Baihaki inilah Pertamina melepaskan wewenangnya dan mengalihkannya ke BP
Migas.

Babak ke 2 - Adegan Mahkamah Konstitusi tahun 2012.

Para Pemohon di pengadilan konstitusi : 1. Muhamadiyah 2. Hasyim Muzadi dari
NU 3. Ormas-ormas islam seperti Hizbut Thahir. 4. Kwik Kian Gie 5. Rizal
Ramlie dan yg lain-lain.....menuntut UU Migas 2001.

Ketua Mahkamah Konstitusi : Mahfud MD (mantan Menteri Pertahanan era Gus
Dur). Putusan : 7-1, MK menyatakan UU Migas 2001 cacat dan BP Migas
dibubarkan. BP Migas tidak sesuai dengan UU.

Catatan :

Mengapa partai-partai tersebut justru menyetujui RUU tersebut menjadi UU?

Pak Kwik Kian Gie, mengapa anda tidak ribut-ribut ketika anda justru sangat
berkuasa sebagai Menko Ekuin.

Pak Rizal Ramlie, mengapa anda tidak menyatkan keberatan anda justru dizaman
reformasi dimana anda adalah Menkeu dan Menko.

Pak Mahfud MD - mengapa kita tidak membahas soal Energy Security issue
ketika anda menjadi Menhan? Oh ya saya juga baru sadar bahwa anda adalah
ketua kehormatan ikatan alumni NU yang juga ikut di dalam menggugat putusan
tersebut.

Partai-partai ini sekarang membatalkan produk hukum yang justru merupakan
persetujuan produk legislative process. Ada baiknya kita melepaskan attribut
keagamaan apabila kita berdebat soal kebijakan publik. Tidak arif orang
menggunakan attribut agama untuk pro dan con terhadap kebijakan publik.
Jangan pernah lupa akan rekam jejak dari politik. Dan jangan biarkan
politician (atau lebih tepatnya Badut-badut politik) berakobrat danmencari
popularitas semata. Untuk membentuk tatanan hukum migas dan struktur migas
yang baik diperlukan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Untuk
menghancurkannya hanya butuh sekejap.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan dan tidak beropini apakah UU Migas 2001
benar atau salah. Yang saya sedih adalah melihat kelakuan orang yang ikut
bertanggung jawab dalam pembentukan tersebut dan sekarang bersama-sama
menghancurkannnya By Lin Che Wei


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
"JCM HAGI-IAGI 2013 MEDAN, 28-31 Oktober 2013"
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke