Pak Hotma,

Beberapa blok/cekungan frontier yang ditawarkan pemerintah RI tak diambil
oleh kumpeni migas internasional walau ada data bagus karena ada persepsi
"high risk low reward" setelah mereka melakukan evaluasi teknis dan diadu
dengan blok-blok di negara lain. Arena permainan ini bukan hanya terbatas
pada Indonesia saja, tapi Indonesia akan diadu dengan Afrika Barat/Timur,
Amerika Selatan, Teluk Meksiko dan Timur Tengah.

Sebagai geosaintis, jika kita ingin menjual blok di wilayah frontier, akan
lebih mudah menarik perhatian para pengambil keputusan jika mereka bisa
melihat stuktur besar di penampang seismik dan peta. Perangkap yang besar
juga membuka peluang hasil estimasi resources tinggi, sehingga bisa
"dimainkan" untuk masuk ke batas Minimum Economic Field Size. Semai saat
itu menarik perhatian banyak kumpeni internasional karena struktur-struktur
yang seksi, model geologi yang relatif lebih "dikenal" dan mungkin juga
karena relatif dekat dari "fasilitas"/infrastruktur. Gorontalo lebih sulit
dijual karena betul-betul frontier, tak ada yang tahu stratigrafinya sama
sekali dan jauh dari fasilitas/infrastuktur. Bahkan untuk mobilisasi deep
water drilling rig saja mungkin harus berputar-putar entah lewat lengan
utara atau lengan timur. Semua ini akan masuk ke hitung-hitungan
keekonomikan hingga akan menaikkan batas MEFS. Untuk kasus seperti ini,
saya pikir pemerintah tentu bisa melakukan hitung-hitungan kasar berapa
MEFS, berapa jumlah struktur yang ada, berapa besarnya resources dan
kemudian membuat term yang pas untuk wilayah yang berbeda sehingga menarik
bagi kumpeni-kumpeni besar.

Hal lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah menggerakkan semua "lembaga"
yang memiliki kemampuan riset dan berkepentingan dengan E&P nasional untuk
bersinergi melakukan studi/evaluasi regional wilayah frontier dan
pemerintah membekali mereka dengan dana untuk akuisisi data baru jika
diperlukan. Lembaga yang saya maksud mungkin bisa berupa gabungan dari
Lemigas, Pertamina, perguruan tinggi dan ahli-ahli independen.

Salam
Minarwan


2013/3/24 hotma Sijabat <[email protected]>

> Terima kasih Pak Lutfi,
>
> Idealnya memang demikian, yaitu Migas dapat "leluasa" memilih mana yg
> kelas "TAC" dan "Psc" berdasarkan tingkat kesulitan blok, namun pd
> kenyataannya hanya perusahaan kelas TAC yg maju utk mengerjakan blok baru,
> mgkin contohnya adalah di Pambuang Basin.
>
> Contoh lain yg enak utk dibahas adalah Gorontalo Basin, kualitas data di
> lokasi ini sdh sangat bagus, data seismik 2D hasil spek survei sdh sngat
> memuaskan. Lokasi ini sdh ditawarkan 2x, tidak ada yg minat. Jika begini,
> apakah msh bsa dikatakan bahwa kualitas data yg menjadi masalah? Idealnya
> kelas Psc lah yg maju mengelola wilayah ini, namun tidak satu pun yg maju.
>

-- 
- when one teaches, two learn -
http://www.linkedin.com/in/minarwan

Kirim email ke