Abah,
kalau mau lebih murah ya  itu salah satu solusi nya Bah,
jadi ngak punya pegawai, adanya kontrakan semua yang dipakai dan dibayar kalau 
diperlukan.
dan goalnya jelas  dan time frame nya juga jelas

saya yakin pegawai2 nya akan lebih professional, karena kalau ngak maka tidak 
akan terpakai.
demikian pula perusahaan minyaknya akan lebih professional dan efisien.

ngomong2 di tempat saya kerja disini sudah mulai menjajagi outsource lagi.  
dulu pernah jaman perang waktu tidak ada yang mau kesini, maka dikirim keluar 
kerjaannya.

Sebelumnya diadakan benchmarking dari kondisi sekarang, supaya yakin benar2 
akan lebih murah dan efisien.  dan ada ukurannya yaitu jumlah area yang 
dikerjakan, jumlah lead dan prospect di generated  dalam kurun waktu tertetntu 
dengan biaya sekian.  ukurannya bukan discovery atau ngak discovery pada contoh 
ini (banyak hal lain yang sedang atau akan di outsource).   Terserah service 
provider nya mau pake 1 orang dari sini atau 10 orang dari luar.  jadi 
komposisi jumlah dan kebangsaan orangnya terserah service provider nya yang 
penting ada hasilnya dan selesai dalam waktu yang ditentukan dan tentu saja 
tidak melebihi perkiraan biaya  awalnya.

jadi tidak perlu di demo, karena tujuannya bagus, dan kalau dikerjakan dengan 
bagus akan memberikan hasil yang bagus.



selamat berakhir pekan Abah.

salam,

frank




________________________________
 From: Yanto R. Sumantri <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Sunday, April 7, 2013 12:41 PM
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL
 

Frank

Bicaranya kok melawan "ARUS" ............kan lagi anti "outsourcing" hahahaha 
,apa perus minyak siap di demo ?

si Abah


________________________________
 From: Franciscus B Sinartio <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Sunday, April 7, 2013 2:47 PM
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL
 

Ikutan ya....  mumpung weekend....

saya kali ini mau bahas dari segi UUD (Ujung-Ujung nya Duit)

kalau dilihat dari biaya operasi nya.  gaji pegawai itu kecil sekali 
pengaruhnya(persentase nya) dari total biaya.
justru itu ada perusahaan yang berani pakai "expat beneran" dan "expat nasional"
yang penting operation jalan lancar.
(catatan: operation maksudnya semua kegiatan opearsional di perusahaan).

tetapi kalau dilihat lagi dari segi biaya sektor tenaga kerja nya,  mungkin 
lebih efisien(maksudnya murah?) kalau tidak ada expat sama sekali. (beneran 
atau nasional).
dengan catatan qualitas dan quantitas kerjaan tetap sama kalau pake expat.  
jadi study cost/benefit harus ada.  tentu saja selalu benefit nya sangat 
relatif.

kalau mau lebih efisien lagi di outsource saja  yang bukan core business (VICO 
pernah study BPR(business process reengineering) dan hasilnya bia 
mengidentifikasikan core business nya tetapi hanya melaksanakan sebagian dan 
tidak semua outsourcing sesuai dengan kesimpulan  BPR study nya mereka.  Waktu 
opening remark nya sebelum mulai tugasnya satgas,  Kepala SatGas  BPR waktu itu 
bilang kalau misalnya harus zero employee kenapa tidak,  dan berarti termasuk 
posisi beliau sebagai VP juga harus hilang ngak apa2.  jadi waktu itu satgas 
nya dikasih kebebasan sebebas bebas nya dalam membahas yang mana yang bisa di 
outsource yang mana tidak).

catatan: mungkin cara BPR seperti ini bisa dipakai untuk membahas apakah suatu 
unit di perusahaan perlu expat(beneran atau nasional) atau tidak.

nah sekarang saya mau tambahin pendapat pribadi lagi yang mungkin tidak begitu 
populer:
kalau WNI yang ada diluar negeri diundang untuk balik ke Indonesia dan dibayar 
seperti expat, dimana efisiensi nya di biaya?  ini dengan catatan akan 
mengerjakan hal yang sama dan menghasilkan hasil yang sama dalam kurun waktu 
yang sama.


salam,
frank
sekarang harus bersihkan lantai halaman samping rumah dulu karena pembantu ngak 
kerja pada weekend, dan kemarin habis hujan deras, dan lantai kotor sekali. dan 
anak2 mau bermain dihalaman.  jadi expat juga ada kenyamanan yang di sacrafice. 
 apalagi kawan2 yang kerja  ditempat  yang local helper nya susah didapatkan. 
ini hanya  salah satu contoh.




________________________________
 From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, April 7, 2013 5:21 AM
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL
 



Sepengetahuanku, SKK Migas (atau BPMIGAS atau Pertamina BPPKA) enggak punya 
aturan soal nasional gajinya segini atau yg expat  gajinya segitu. CMMIW. Yg 
membuat peraturan tsb adalah Pemerintah (Bappenas ?? Dept. Tenaga Kerja ?). 
Jadi mestinya enggak merujuk ke peraturan SKK Migas, melainkan ke peraturan 
Pemerintah RI (bila memang ada). Sesuai namanya, hanya Badan Pelaksana atau 
sekarang Satuan Kerja Khusus, yg bukan regulator / pembuat regulasi (itu 
tugasnya Pemerintah). 
SKK Migas hanya mengevaluasi usulan KKKS, menyelaraskan dgn Peraturan 
Pemerintah. 

Jadi betul, itu tergantung pada niat baik oil company-nya saja. 
Sepengetahuan saya (setidaknya saat saya menjadi Ketua Tim WPnB) tidak pernah 
kami menolak ataupun mengurangi usulan gaji dari para pekerja nasional. Pd 
beberapa KKKS malahan kami yg mendorong si KKKS utk menaikkan level gaji 
pegawai nasionalnya. Dan kami juga acapkali meminta mengurangi jumlah ekspat 
dan juga gajinya,
 meski kadang kala tidak berhasil, dgn berbagai alasan. 

Secara umum, sepengetahuan saya, jumlah expat maupun alokasi biayanya menurun 
dari tahun ke tahun. Ini bukan isu lagi, kecuali di beberapa gelintir KKKS. 

Btw, bila Pertamina punya Blok di luar negeri, kayaknya Pertamina pun 
berkepentingan utk menempatkan para pegawainya (Indonesian) di posisi tertentu, 
di negara tsb (sbg Expat). 



Salam,
Nuning

Kirim email ke