Mengapa ya Keputusan MK berbeda untuk  UU Ketenagaan Listrik dan Migas ??
Apa yang membedakannya ?

si Abah


________________________________
 From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, April 10, 2013 8:08 PM
Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New Discovery - 
Malaysia
 

seperti yg disampaikan Cak Luthfi ujung dari permasalahannya di
UU nya karena semua  aturan aturan dibawahnya ( PP,Permen , SK
)akan mengacu ke UU tsb . Hal yg mirip terjadi di Listrik , pada waktu yg hampir
bersamaan waktu itu di bikin UU Migas baru dan UU Listrik baru
( UU No. 22 tahun 2002 ttg Ketenagalistrikan) , UU listrik ini
juga berprisnsip sama yaitu memecah mecah tatakelola listrik
(produsen , jaringan , niaga ) dg multi seller dan multi buyer
( menghilangkan fungsi BUMN untuk pengelolaan secara
menyeluruh), kalau di UU migas /2001 ada BP/BPH Migas kalau
diUU listrik 22/2002 ada BP Listrik , Cuma bedanya UU Listrik
tsb langsung di KO oleh MK , shg Batal tdk jadi di UU kan  (
kalau UU Migas cuma ada 3 pasalnya yg di batalkan waktu itu
oleh MK ) ,
Kesremrawutan tatakelola energi primer ( termasuk gas )
mengakibatkan perencanaan perencanaan tdk dapat sesuai dg
targetnya. seperti contohnya kebutuhan gas untuk PLTG Tambak
Lorok Semarang yg akan mendapatkan gas dari Lap Kepodang (
PCML), kontrak (PJBG) sebesar 354 BSCF dg harga 2,7 USD yg
ditanda tangai 2005 dg jangka waktu 10 tahun belum juga
mengalir gasnya padahal sdh 8 tahun kontrak ditanda tangani,
akibatnya sekarang ini PLTG tsb harus minum BBM terus menerus
kalau tidak diminumi BBM Jateng akan "Öglangan" , akibatnya
biaya operasinya membengkak tiap tahun ( untuk tahun 2010 ada
pembengkakan 2 Triliun  lebih ) yg ujung ujungnya dibayar
negara ( APBN)dg  sebagai subsidi (klau 2 T pertahun ini
dialihkan ke Pendididkan  sdh berapa siswa/mahasiswa bisa
sekolah/kuliah) , inilah salah satu korban dari kebijakan yg
mbulat mbulet karena terbelenggu dg aturan , yang kadang aturan
aturan tsb dibikin mereka sendiri yg akhirnya memebelenggu
dirinya sendiri..Kalau dilihat UU yg mengatur SDA ( UU No. 4 / 2009 ttg  Minerba
, UU No 22 / 2001 ttg Migas, UU No.27/2003 ttg Geothermal )
ternyata setelah lahir ada ada saja permasalahannya , UU migas
apalagi . Adanya permasalahan di UU ttg pengelolaan SDA tsb
menyebabkan keinginan  untuk dilakukan Revisi , bahkan UU Migas
sudah masuk Prolegnas dari 2010 untuk dilakukan perubahan (
pembuatan UU migas baru ), kemudian menyusul UU tg Geothermal
masuk Prolegnas tahun ini , nggak tahu apakah juga UU Minerba
akan ikut ikut juga .......Begitu strategisnya suata UU SDA , kalau salah salah 
satu pasal
nya saja bisa barabe karena akan menghasilkan turunan peraturan
dibawahnya ( PP, Permen, SK ) yang salah juga shg sulit untuk
diimplementasikan karena akan menyangkut operasional ( Teknis
dilapangan ).Kadang dikita itu "Yang Berwenag Tidak tahu Yang tahu Tidak
Berwenang "

ISM


>
> Abah dan cak Noor,
>
> Bisnis gas yang sekarang ini akibat UU Migas 22/2001 yg di
> drive IMF menganut faham liberal dengan menerapkan
> "unbundling principle". Produsen, trader, dan transporter
> gas tidak boleh dilakukan oleh satu entity. Produsen gas
> entity tersendiri, trader gas entity tersendiri, dan
> transporter gas entity tersendiri. Keekonomian lapangan
> mendeterminasi harga gas dari produsen (dikontrol oleh SKK
> Migas), toll fee untuk transporter (dikontrol oleh
> bphmigas), dan harga gas di trader (kurang
> terkontrol/dikontrol langsung oleh Ditjen Migas).  Masing2
> entity (upstream, midstream, downstream) mengambil profit
> (ada 3x profit), dan masing entity membayar pajak (ada 3x
> pajak). Profit dan pajak ini saja menambah tingginya harga
> gas.  Contoh untuk entity dalam implementasi "unbundling".
> Pertamina; Produsen (PTM EP dan PHE dibawah Dit Hulu),
> Transporter (Pertagas dibawah Dit Gas), dan Retailer
> (Pertagas Niaga anaknya Pertagas).  PGN; TGI/Transporter Gas
> Indonesia (Transporter), PGN (Retailer).  Contoh di Sumatra
> Selatan: dulu PGN menjual gas ke industri rata2 dengan harga
> US$ 3/mmbtu karena membelinya dibawah harga itu, tahun lalu
> era BPMIGAS harga gas dari produsen dinaikkan menjadi US$
> 6/mmbtu, kemudian PGN menaikkan harga gas ke industri
> menjadi US$ 10-11/mmbtu...wouwww (makanya tumbuh menjamur
> perusahaan trader). Menteri perindustrian protest ke KESDM
> dan BPMIGAS, sementara KESDM dan BPMIGAS mengklaim telah
> memperoleh pendapatan negara dari pengembangan bisnis gas.
> Ini semua sudah menjadi berita diberbagai surat kabar. Ini
> semua akibat UU Migas 22/2001 produk tekanan IMF, UU Migas
> ini kudu segera direvisi tapi kementriannya kurang
> bergairah.  Bandingkan dengan UU Migas yang lama:
> Pertamina sebagai single buyer dan sebagai single seller,
> maksudnya Pertamina membeli dari Kontraktor PSC dan
> Pertamina menjual ke konsumen, jadi back to back GSPA (Gas
> Sales & Purchase Agreement). Contoh untuk Pabrik Pupuk
> Kaltim (PKT)-4. Pertamina beli dari TOTAL (waktu itu sekitar
> pertengahan 2001) dengan harga US$ 1.85/mmbtu, dan Pertamina
> menjual ke PKT-4 dengan harga US$ 1.85/mmbtu. Pertamina
> tidak mengambil untung karena dari mengelola PSC dapat
> retensi, pipa ke PKT sudah ada, pajak Pertamina
> dikonsolidasi dalam split 60:40, maka harga gas bisa murah.
> Contoh lain gas untuk Petro Kimia Gersik dan PJB (Pembakit
> Jawa Bali) di Gersik, dulu dipasok dari Pagerungan melalui
> pipa TJP (Trans Java Pipeline) dengan harga (harga di gate
> pagerungan + toll fee US$ 0.72/mmbtu) kurang dari US$
> 3/mmbtu.  Jadi UU Migas 22/2001 mengobrak-abrik bisnis gas
> yang meninggikan harga gas.
>
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: noor syarifuddin <[email protected]>
> Sender: <[email protected]>
> Date: Wed, 10 Apr 2013 08:01:29
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net]
> New Discovery - Malaysia
Abah yth,
>
> Silakan langsung dilihat di laman perusahaan-perusahaan
> tsb...kalau
saya tulis di sini nanti saya bisa kena pasal
> .... :-)
>
> Betul itu legal, tapi coba lihat margin perusahaan gas
> tsb... kenapa
harus sebesar itu (dan itu hanya bisa karena
> ada monopoli jalur
> pipa)... harusnya khan mereka ambil "toll" pipanya saja dan
> tidak
menambah harga gasnya...
> Saya yakin, kalau ada jalur, pasti perusahaan E&P dan
> pembeli akan
memilih end-to-end deal dan tidak pakai pihak
> ketiga... :-)
>
> ha...ha..ha iya betul tetap legal, tapi artinya mereka khan
> ngakali
penjual... minta gas subsidi tapi mengambil
> keuntungan dari gas tsb...
coba kalau setelah mereka bangun
> instalasi itu dan si penjual kemudian
hanya kasih "lean"
> gas... apa mereka tidak akan mencak-mencak lagi..?

>
> salam,
>
>
> On 4/9/13, Yanto R. Sumantri <[email protected]> wrote:
>> Noor .
>>
>> Jadi ingin lebih tahu
>>
>> si Abah
>>
>>
>> ________________________________
>>  From: noor syarifuddin <[email protected]>
>> To: "[email protected]" <[email protected]>
>> Sent: Monday, April 8, 2013 10:22 PM
>> Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->:
>> [iagi-net] New Discovery -
Malaysia
>>
>>
>> Abah,
>> Betul, banyak yg menjerit.... Tapi kita coba lht
>> faktanya...
>> Bbrapa konsumen gas itu produknya sebagian bsr utk ekspor
>> tapi minta gasnya
harga domestik...
>> BOLEH TAHU PERUSAHAN MANA ITU ?
>>
>> Belum lg bisnis 'makelar'an ala prshaan gas kita... Berapa
>> persen keuntungan
mrk hanya dgn menjadi perantara...?
>>
>> yA , ITU BENAR , TAPI BUKANKAH RETAIL GAS ITU LEGAL ,
>> KARENA BAGI PERUSAHAAN
e & p NYA , MARGIN NYA DIANGGAP
>> (??) TERLALU KECIL.
>>
>> FYI, bahkan saking kreatifnya ada bbrp konsumen yg mau
>> bikin ekstraksi LPG
dari gas yg mereka beli.... Sangat
>> cerdas menurut saya.... :-)MANA
>>
>> BOLEH TAHU PERUSAHAAN YA DAN DIMANA ? TAPI TETP LEGAL KAN
>> ?
>>
>>
>> Ini ibarat orang naik mobil mewah tapi gak setuju subsidi
>> bbm dicabut...
>>
>>
>> Salam,
>>
>> On Monday, April 8, 2013, Yanto R. Sumantri  wrote:
>>
>> Noor
>>>
>>>
>>>Dengan harga 6- 7 dollar , pelaku industri sudah menjerit
>>>lho.
>>>Lihat koran koran minggu lalu.
>>>
>>>
>>>si Abah
>>>
>>>
>>>
>>>________________________________
>>> From: noor syarifuddin <[email protected]>
>>>To: [email protected]
>>>Sent: Monday, April 8, 2013 2:38 PM
>>>Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->:
>>>[iagi-net] New Discovery
>>> - Malaysia
>>>
>>>Rekans,
>>>
>>>Saya kira import gas akan menjadi solusi pragmatis yang
>>>paling mudah
dan sederhana (tinggal beli aja kok... :-)
>>>
>>>Tapi dengan mulai ditandatanganinya kontrak LNG ke Jepang
>>>oleh
>>>produsen shale gas untuk delivery tahun 2015/2016 dengan
>>>harga yang
cukup tinggi dibanding harga HH (16$/mmbtu),
>>>maka sebaiknya kita mawas
diri....
>>>
>>>kalau pasar internasional nantinya jenuh karena ekspor
>>>shale gas ini,
maka "berkah"nya adalah gas Indonesia harus
>>>masuk pasar
>>>lokal/domestik.... tapi kalau harganya masih di bawah 7-8
>>>$/mmbtu
apakah akan menjadi ekonomis untuk proyek-proyek
>>>di daerah
>>>forntier?... kalau tidak, maka sudah pasti proyeknya akan
>>>tertunda
atau terhenti
>>>
>>>ibarat sakit jantung, ini adalah "pembunuh senyap"
>>>eksplorasi dan
eksploitasi migas kita..... silakan diterka
>>>akan berapa banyak
>>>aktifitas eksplorasi dan pengembangan yang akan tertunda
>>>atau
>>  ditunda
>>>karenanya...
>>>
>>>
>>>salam,
>>>
>>>
>>>On 4/8/13, H Herwin <[email protected]> wrote:
>>>> Hallo Pak Rovicky,
>>>> Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di
>>>> dorong oleh
kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar
>>>> nasionalisme. Keberhasilan
shale gas memang membuat
>>>> harga gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat
rendah, ini
>>>> yang membuat industri di sana berpindah ke shale "wet
>>>> gas"
dan
>>>> shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di
>>>> Amerika masih
menarik walaupun harga gasnya sangat
>>>> rendah.
>>>>
>>>> Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di
>>>> internet.
http://www.transforminghess.com/
>>>>
>>>> HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17%
>>>> prod, 23%
reserves
>>>> Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di
>>  Indonesia sendiri
>>>> asset mereka relatif kurang baik dibanding asset2 HESS
>>>> yang lain dan
hasil
>>>> ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative.
>>>> Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak
>>>> Rovicky bisa kirim
artikelnya. Export gas dari Amerika
>>>> memang patut dicermati karena akan
mempengaruhi harga
>>>> jual gas di Asia ................... Well, seperti
>>>> bapak
>>>> bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya
>>>> kita beli gas kan
?? :)
>>>>
>>>> Salam hangat,
>>>> Henky
>>>> 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>>>>
>>>>>  On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin
>>>>> <[email protected]>wrote:
>>>>>
>>>>>> Abah,
>>>>>> Kebetulan Newfield
>>  sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia (Di
>>>>>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah
>>>>>> pikiran setelah
discovery ini :) Atau malah mengambil
>>>>>> keuntungan karena nilainya jadi
lebih
>>>>>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale
>>>>>> asset mereka di
USA.
>>>>>>
>>>>>
>>>>> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya.
>>>>> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian
>>>>> investor lokal
untuk menanamkan di negerinya sendiri.
>>>>> Walau harga gas disananya jatuh
tetep saja mereka ingin
>>>>> mengembangkan negaranya sendiri dengan dana
sendiri
>>>>> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih
>>>>> berlangsung
seru).
>>>>> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan
>>>>> "energi" untuk
negerinya sendiri.
>>>>>
>> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html>>>>>
>>>>> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai
>>>>> explorer tetap
harus
>>>>> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi
>>>>> net importir LNG
(2016) dan menjadi net import energi
>>>>> (setelah 2025). Padahal kita
memiliki
>>>>> insentive demografi atau Demography Bonus tahun
>>>>> 2020-2030 dimana akan
ada
>>>>> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu
>>>>> bahan bakar dan
bahan
>>>>> baku.
>>>>>
>>>>> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines,
>>>>> jaringan kabel
distribusi dan infrastruktur lainnya
>>>>> tidak disiapkan maka akan terjadi
braindrain tenaga
>>>>> kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan
>>>>> "kerja".
>>>>>
>>>>> Doh piye iki ?
>>>>>
>>>>>
>>  RDP
>>>>>
>>>>>
>>>



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id

Kirim email ke