Kebutuhan gas dalam negeri yg besar disamping untuk industri untuk Listrik, hasil audit thd 8 pembangkit gas besar mulai dari PLTG Teluk Lembu di Riau sampai PLTG di Bali total kebutuhan gasnya 1,6 ribu BBTUD lebih , namun hanya dapat dipenuhi dibawah 50% nya , Dengan memperhatikan pertumbuhan listrik sampai 2020 rata rata sebesar 9,5% lbh maka dibutuhkan pembangkit baru tidak kurang 5000 MW/tahun , ini artinya kebutuhan gas nya juga akan meningkat terus. dengan perbandingan penggunaan BBM ( HSD/MFO) maka dengan menggunakan gas biaya produksinya (Rp/Kwh) jauh dibawah BBM ( asumsi harga gas 10$/MMBTU), jadi sebetulnya kebutuhan gas dalam negeri akan semakin meningkat baik untuk Industri , listrik maupun rumah tangga> kalau dilihat dari harga , kayaknya gas untuk listrik bisa lebih tinggi karena perbandingannya dg penggunaan BBM , Pada 2010 lalu karena tidak terpenuhi gasnya terpaksa PLTG PLTG dioperasikan dg BBM ( dual firing ) terpaksa harus merogoh kocek lebih besar lagi ( ada penambahan kira kira 20 T untuk beli BBM biar tidak oglangan karena tidak ada gas ), ternyata ketidak tersediaan gas didalam negeri ini masalahnya cukup banyak mulai dari infra struktur, prioritassi, penundaan proyek , kebijakan yg tidak konsisten , dan tentunya juga masalah harga, kalau dilihat dari perencaan penyedian energi primer untuk pembangkit listrik sampai 2020 ( Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik/RUPTL 2020 ) maka harga yg dipatok ( dalam perencanaan untuk biaya gas itu antara 6-10 $/mmbtu). dengan lifting gas diatas 7700 BBTUD sebetulnya untuk keperluan dalam negeri masih longgar ( dengan catatan tidak ada yg di impor lho..... ) jadi tidak harus jadi net importir gas.Kalau kalau lho...... kalau gas dan batubara tidak diimpor , rasanya tidak perlu kawatir kita jadi net importir energi ISM
> Ini berita di Koran Bisnis Indonesia edisi hari ini (Senin, > 8-4-2013): > > Gas Industri: HARGA NAIK SUPLAI MASIH MINIM > RINGKASAN BERITA; > > Kebutuhan Gas Industri di Sejumlah Daerah 2013 (MMscfd) > Jawa Barat = 801,4 > Kalimantan Timur = 522,3 > Banten = 466,6 > Jawa Timur = 464 > Sumatra Selatan = 317 > Aceh = 130 > Jakarta = 94,6 > Sumatra Utara = 70,2 > Riau = 55,8 > Jambi = 30 > Jawa Tengah = 20 > > JAKARTA- Pemerintah hingga saat ini belum bisa memenuhi > kebutuhan gas untuk Industri Dalam Negeri, meskipun harga > energi itu sudah dinaikkan dua kali, yaitu pada September > 2012 sebesar 35% dan April 2013 sebesar 15%. > > Forum Industri Pengguna Gas Bumi pesimistis pasokan > Meningkat setelah penaikan harga. Penaikan harga diharapkan > meningkatkan pasokan gas. Penambahan pasokan energi untuk > Industri idealnya 2 kali lipat dibandingkan dengan > pertumbuhan ekonomi. > > Komentar saya: > Apakah kita akan mengelola gas kita semata berdasarkan > keekonomian/komersial semata? Yang sangat di-drive oleh > harga gas ? > > Coba kita lihat kembali SILA KETIGA DAN SILA KELIMA DARI > PANCASILA. Sila ketiga adalah " PERSATUAN INDONESIA", dan > Sila kelima adalah "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT > INDONESIA". Seharusnya pengelolaan sumberdaya alam termasuk > minyak dan gas yang diatur oleh pasal 33 UUD 45 > pengelolaannya lebih mendasarkan pada Sila Ketiga dan Kelima > baru diikuti oleh aspek ekonomi/komersial. Menurut hemat > saya petinggi di Negeri kita paham betul akan hal ini karena > itu Pemerintah terlihat mengelola "Trade Off" antara aspek > yang termaktub di Sila Ketiga dan Sila Kelima dari PANCASILA > . Kita punya pelajaran yang sangat berharga walau sangat > pahit. PELAJARAN APA ITU ? ACEH !!! > Qonun/Perda terkait bendera Aceh yang mirip dengan bendera > GAM memusingkan Pemerintah, masa lalu Aceh terus bergolak > berindikasi separatisme (Sila PERSATUAN INDONESIA TERANCAM). > Dengan perundingan marathon yang > difasilitasi oleh negara lain akhirnya tercapai kesepakatan > ACEH MENJADI DAERAH OTONOMI KHUSUS, salah satu syarat > kesepakatan adalah PKPD > (Perimbangan Keuangan Pusat Daerah) dari hasil SDA Aceh > menjadi 70% untuk Aceh dan 30% untuk Pusat, sebelumnya > sebaliknya. Gas/LNG ARUN dahulu Primadona, masyarakat Aceh > menilai tidak mendapat Keadilan Sosial dari pendapatan LNG > ARUN (Sila Kelima terancam). Saat ini dari 8 train ARUN > hanya satu yang beroperasi karena cadangan gas menipis. Ada > tiga Pabrik Pupuk di Aceh, Pabrik Pupuk Aceh Asean > Fertilizer (sudah sekarat tak ada pasokan gas, kedua dan > ketiga adalah Pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) I & II. > Pemerintah strong effort untuk mempertahankan PIM dapat > pasokan gas agar tetap bisa beroperasi kalau sampai PIM mati > gejolak politik di Aceh bisa terjadi, solusinya adalah "SWAP > LNG ARUN-BONTANG". Gas ARUN tidak diproses untuk LNG tetapi > untuk memasok PIM I DAN PIM II, sementara itu LNG yang harus > dipasok ARUN ke Korea Selatan digantikan dipasok oleh > BONTANG. Untuk merealisasikan SWAP LNG/GAS ini > perundingannya memakan waktu lebih dari setahun karena > melibatkan raksasa EXXON dan TOTAL. Seandainya saja ARUN dan > MAHAKAM dioperasikan oleh PERTAMINA perundingan Swap LNG/Gas > tersebut makan waktu dalam hitungan HARI BUKAN TAHUN. Karena > kalau Pertamina diperintah oleh Indonesia untuk Negara ya > "Sami'na wa ato'na" (kami dengar kami laksanakan). Lha kalau > EXXON dan TOTAL diperintah Indonesia untuk kepentingan > keutuhan Negara, ya nanti dulu banyak bak bik buk-nya karena > EXXON dan TOTAL punya negara sendiri. Semoga Pemerintah > dalam memutuskan pengelolaan Gas yang primadonanya dari Blok > Mahakam dapat memetik pelajaran berharga dari Aceh dan LNG > Arun. > > > Salam, > > > On Monday, April 8, 2013, noor syarifuddin wrote: > >> Rekans, >> >> Saya kira import gas akan menjadi solusi pragmatis yang >> paling mudah dan sederhana (tinggal beli aja kok... :-) >> >> Tapi dengan mulai ditandatanganinya kontrak LNG ke Jepang >> oleh >> produsen shale gas untuk delivery tahun 2015/2016 dengan >> harga yang cukup tinggi dibanding harga HH (16$/mmbtu), >> maka sebaiknya kita mawas diri.... >> >> kalau pasar internasional nantinya jenuh karena ekspor >> shale gas ini, maka "berkah"nya adalah gas Indonesia harus >> masuk pasar >> lokal/domestik.... tapi kalau harganya masih di bawah 7-8 >> $/mmbtu apakah akan menjadi ekonomis untuk proyek-proyek di >> daerah >> forntier?... kalau tidak, maka sudah pasti proyeknya akan >> tertunda atau terhenti >> >> ibarat sakit jantung, ini adalah "pembunuh senyap" >> eksplorasi dan eksploitasi migas kita..... silakan diterka >> akan berapa banyak >> aktifitas eksplorasi dan pengembangan yang akan tertunda >> atau ditunda karenanya... >> >> >> salam, >> >> >> On 4/8/13, H Herwin <[email protected] >> <javascript:;>> wrote: >> > Hallo Pak Rovicky, >> > Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di >> > dorong oleh kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar >> > nasionalisme. Keberhasilan shale gas memang membuat harga >> > gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat rendah, ini yang >> > membuat industri di sana berpindah ke shale "wet gas" >> dan >> > shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di >> > Amerika masih menarik walaupun harga gasnya sangat >> > rendah. >> > >> > Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di >> > internet. http://www.transforminghess.com/ >> > >> > HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17% >> > prod, 23% >> reserves >> > Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di >> > Indonesia sendiri asset mereka relatif kurang baik >> > dibanding asset2 HESS yang lain dan >> hasil >> > ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative. >> > Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak >> > Rovicky bisa kirim artikelnya. Export gas dari Amerika >> > memang patut dicermati karena akan mempengaruhi harga >> > jual gas di Asia ................... Well, seperti >> bapak >> > bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya >> > kita beli gas kan ?? :) >> > >> > Salam hangat, >> > Henky >> > 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected] >> > <javascript:;>> >> > >> >> On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin >> >> <[email protected] <javascript:;>>wrote: >> >> >> >>> Abah, >> >>> Kebetulan Newfield sedang berencana menjual portfolio >> >>> mereka di Asia >> (Di >> >>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah >> >>> pikiran setelah discovery ini :) Atau malah mengambil >> >>> keuntungan karena nilainya jadi lebih >> >>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale >> >>> asset mereka di USA. >> >>> >> >> >> >> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya. >> >> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian >> >> investor lokal untuk menanamkan di negerinya sendiri. >> >> Walau harga gas disananya jatuh tetep saja mereka ingin >> >> mengembangkan negaranya sendiri dengan dana sendiri >> >> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih >> >> berlangsung seru). >> >> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan >> >> "energi" untuk negerinya sendiri. >> >> >> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html>> >> >> >> >> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai >> >> explorer tetap >> harus >> >> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi >> >> net importir LNG (2016) dan menjadi net import energi >> >> (setelah 2025). Padahal kita memiliki >> >> insentive demografi atau Demography Bonus tahun >> >> 2020-2030 dimana akan >> ada >> >> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu >> >> bahan bakar dan >> bahan >> >> baku. >> >> >> >> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, >> >> jaringan kabel distribusi dan infrastruktur lainnya >> >> tidak disiapkan maka akan terjadi braindrain tenaga >> >> kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan >> >> "kerja". >> >> >> >> Doh piye iki ? >> >> >> >> RDP >> >> >> >> >> > ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id

