walaaah malu-maluin
memang di itb tidak diajarin masalah hukum, jadi nembak asal nembak saja.

usul nii supaya  lulusan itb faham mengenai hukum - apa bakalan ada
pengenalan hukum berkaitan denga geologi?


2013/4/9 Yanto R. Sumantri <[email protected]>

> Haaaaaaaaaaah begitu kesimpulannya Cak Phi !!
>
> si Abah
>
>   ------------------------------
> *From:* "[email protected]" <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Tuesday, April 9, 2013 4:00 AM
>
> *Subject:* [iagi-net] UU Cagar Budaya dan UU Migas
>
>
> Taman Majapahit (TM) diputuskan oleh Menbudpar (kala itu Jero Wacik) untuk
> dibangun di Trowulan. Lokasi TM diputuskan di sebelah selatan
> Segaran/Sogoro/Laut (berupa kolam besar yang dibangun era kejayaan
> Majapahit).
> Prof (emiritus) Mundarjito (sekarang berusia 77 th) kala itu masih aktip
> di Jurusan Arkeologi UI yang banyak meneliti Situs Majapahit di Trowulan,
> menentang pembangunan Taman Majapahit (TM) di lokasi itu. Menurut
> Mundardjito di lokasi itu dulu merupakan komplek perumahan pejabat tinggi
> Kerajaan Majapahit yang belum dilakukan penggalian/eskavasi arkeologi.
> Pada saat pembangunan TM dimulai dengan gedung/museum Pisat Informasi
> Majapahit (PIM), penggalian fondasi dilakukan. Prof Poppy dari jurusan
> Arkeologi UGM juga protes keras dengan berdemo bersama mahasiswanya jalan
> kaki dari Tugu ke Benteng Vredeburg.
> Melihat perkembangan situasi, Menbudpar menelpon Prof Mundardjito, Prof
> membacakan di telfon ke Menbudpar bunyi UU no. 5/1992 tentang Benda Cagar
> Budaya. Selanjutnya Prof Mundardjito bersama para arkeolog melakukan dengar
> pendapat dengan DPD yg telah membentuk Panitia Adhoc DPD.
> Hasil pengawasan oleh Panitia Adhoc III DPD menemukan bahwa pemerintah
> melanggar pasal 15 dan pasal 36 UU No. 5/1992 tentang benda cagar budaya.
> Setelah mendapat banyak kritik dari berbagai kalangan, akhirnya Menteri
> Jero Wacik mengumumkan penghentian pembangunan Taman Majapahit itu.
> Sekarang bangunan PIM mangkrak/tak bisa diselesaikan karena melanggar UU
> (Disarikan dari MBM Tempo minggu lalu).
>
> Pak Wacik sewaktu menjadi Menbudpar kurang cermat terhadap Undang-Undang
> dibidangnya dalam membuat kebijakan/keputusan. Tidak heran kalau sekarang
> menjadi MESDM juga kurang peduli terhadap Revisi UU Migas yang menjadi
> domainnya. Sehingga Karut-Marut industri Migas belum terlihat arah
> solusinya.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> ------------------------------
> *From: * "Yanto R. Sumantri" <[email protected]>
> *Sender: * <[email protected]>
> *Date: *Mon, 8 Apr 2013 06:49:04 -0700 (PDT)
> *To: *[email protected]<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New
> Discovery - Malaysia
>
> Noor
>
> Dengan harga 6- 7 dollar , pelaku industri sudah menjerit lho.
> Lihat koran koran minggu lalu.
>
> si Abah
>
>   ------------------------------
> *From:* noor syarifuddin <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Monday, April 8, 2013 2:38 PM
> *Subject:* Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New
> Discovery - Malaysia
>
> Rekans,
>
> Saya kira import gas akan menjadi solusi pragmatis yang paling mudah
> dan sederhana (tinggal beli aja kok... :-)
>
> Tapi dengan mulai ditandatanganinya kontrak LNG ke Jepang oleh
> produsen shale gas untuk delivery tahun 2015/2016 dengan harga yang
> cukup tinggi dibanding harga HH (16$/mmbtu), maka sebaiknya kita mawas
> diri....
>
> kalau pasar internasional nantinya jenuh karena ekspor shale gas ini,
> maka "berkah"nya adalah gas Indonesia harus masuk pasar
> lokal/domestik.... tapi kalau harganya masih di bawah 7-8 $/mmbtu
> apakah akan menjadi ekonomis untuk proyek-proyek di daerah
> forntier?... kalau tidak, maka sudah pasti proyeknya akan tertunda
> atau terhenti
>
> ibarat sakit jantung, ini adalah "pembunuh senyap" eksplorasi dan
> eksploitasi migas kita..... silakan diterka akan berapa banyak
> aktifitas eksplorasi dan pengembangan yang akan tertunda atau ditunda
> karenanya...
>
>
> salam,
>
>
> On 4/8/13, H Herwin <[email protected]> wrote:
> > Hallo Pak Rovicky,
> > Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di dorong oleh
> > kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar nasionalisme. Keberhasilan
> > shale gas memang membuat harga gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat
> > rendah, ini yang membuat industri di sana berpindah ke shale "wet gas"
> dan
> > shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di Amerika masih
> > menarik walaupun harga gasnya sangat rendah.
> >
> > Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di internet.
> > http://www.transforminghess.com/
> >
> > HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17% prod, 23%
> reserves
> > Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di Indonesia sendiri
> > asset mereka relatif kurang baik dibanding asset2 HESS yang lain dan
> hasil
> > ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative.
> > Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak Rovicky bisa kirim
> > artikelnya. Export gas dari Amerika memang patut dicermati karena akan
> > mempengaruhi harga jual gas di Asia ................... Well, seperti
> bapak
> > bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya kita beli gas kan
> > ?? :)
> >
> > Salam hangat,
> > Henky
> > 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
> >
> >>  On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin
> >> <[email protected]>wrote:
> >>
> >>> Abah,
> >>> Kebetulan Newfield sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia
> (Di
> >>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah pikiran setelah
> >>> discovery ini :) Atau malah mengambil keuntungan karena nilainya jadi
> >>> lebih
> >>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale asset mereka di
> >>> USA.
> >>>
> >>
> >> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya.
> >> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian investor lokal
> >> untuk menanamkan di negerinya sendiri. Walau harga gas disananya jatuh
> >> tetep saja mereka ingin mengembangkan negaranya sendiri dengan dana
> >> sendiri
> >> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih berlangsung
> >> seru).
> >> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan "energi" untuk
> >> negerinya sendiri.
> >>
> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html
> >>
> >> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai explorer tetap
> harus
> >> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi net importir LNG
> >> (2016) dan menjadi net import energi (setelah 2025). Padahal kita
> >> memiliki
> >> insentive demografi atau Demography Bonus tahun 2020-2030 dimana akan
> ada
> >> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu bahan bakar dan
> bahan
> >> baku.
> >>
> >> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, jaringan kabel
> >> distribusi dan infrastruktur lainnya tidak disiapkan maka akan terjadi
> >> braindrain tenaga kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan
> >> "kerja".
> >>
> >> Doh piye iki ?
> >>
> >> RDP
> >>
> >>
> >
>
>
>
>
>

Kirim email ke