Aditya Agustyana wrote: > wah makasih atas sharingnya, saya sangat setuju networking penting sekali, > bahkan mungkin bisa jadi nilainya lebih berharga ketimbang skill ruby kita > ^_^, namun yg jadi pikiran sy akhir2 ini adalah mengapa sih kita tidak bisa > menjadi seperti india ?, apakah skill kita kalah ?, mungkin memang benar > kata hendy bahwa "ngejar2" proyek di odesk.com spt itu butuh "pengorbanan > luar biasa" ketimbang ngerjain proyek lokal yg jelas2 kalo di lokal > networking value kita sudah ada (minimal qta sudah dikenal oleh boss) > > apalagi jika kita membawa nama indonesia, mungkin orang2 asing itu agak > ragu... ?, apakah orang indo bisa dipercaya ?, apakah etos kerjanya ndak > bagus ?, hmm entahlah... namun jika kita bisa dipercaya oleh mereka > seenggak2nya kita juga bisa mengangkat nama bangsa indonesia di mata dunia > (halah PPKN bangetz sih) > > eh btw, thread ini bukan hanya sekedar tentang odesk.com ajah, tapi kayak > linkedin de el el juga boleh.... jujur sy penasaran dengan homeshore... , > karena ngeliat boss bisa dapet proyek rails dari linkedin, yang bahkan > ketika itu karyawannya hanya 2 bulan mengenal rails (ini yg aku maksud > networking value kadang bisa lebih penting dari skill ruby itu sendiri) > > eniwei, ada pendapat dari teman2 yg laen lagee ?, maklum newbie butuh > pencerahan gmn sih sebetulnya suasana kompetisi di hutan lebat itu ? > > *summon pak arie ^-^ > sorry yang kena summon malah 'pak hendy' :P
(salah2 lu malah bikin 'pak arie' naik telinga gara2 dipanggil 'pak', tua banget!! hhuahah) soal orang indo bisa dipercaya ato enggak... well saya hanya memprediksi dari cara berpikir 'orang luar' (yang heterogen sebenarnya) bahwa mereka punya kriteria sendiri untuk menilai seseorang.. that means, dalam penerimaan kerja, sebuah interview bisa jadi titik ukur 'approval' yang sangat penting. dan I agree with this view, bcuz andaikan (andaikan lho) gw jadi bos maka interview bisa jadi memiliki hak veto diantara komponen2 lain penerimaan lamaran kerja soal 'mengangkat nama Indonesia'.... i'm not sure what to say about this.... sepertinya pandangan seperti ini cuma ada *di* Indonesia (?) (maksudnya, bukan berlaku *untuk*, tapi *di*) sedangkan di luar, di amrik mungkin, soal etnis sepertinya menjadi masalah yang berusaha untuk ditinggalkan.... because this is called prejudging. any group or class, as a whole, may have general tendency to...... a , b, c .... misalnya etos kerja tadi, dsb. tapi itu kan hanya secara statistik, secara individu sendiri ekspektasi dan hasilnya menyesuaikan dong.. I think "mereka" juga berpikir seperti itu. Kalo soal parah2an, kecenderungan di Indonesia yang "menggeneralisasikan" sebuah kelas secara paten... sedangkan koreksi individu malah dianggap sebagai "wah! koq bisa ya? ternyata ada juga X yang Y ....." (dianggap anomali) mungkin bang YS bisa menyambut sedikit tentang ini So, generally speaking, Anda jangan khawatir... nggak semua orang di dunia ini percaya mentah2 sama yang namanya statistik. Secara statistik di kota Kediri yang bisa bahasa Ruby hanya berapa persen? I'm not sure, maybe 1/252,000*. (~0,0004%) But that does not mean somebody in Kediri is not actually doing programming with Ruby on Rails? =)) (source: http://en.wikipedia.org/wiki/Kediri%2C_East_Java )

