Halo Mas Bayu ;-).

Memang benar pendapat anda, tetapi soal web.id itu bagus juga bagi
sosialisasi internet di Indonesia karena banyak yang masih belum kenal
internet. Dalam sosialisasi biasanya tidak dibutuhkan banyak filter atau
aturan. Saya ambil contoh kasus mall di daerah.

Pada sebuah kota kecil, mall yang dibangun demikian indah, akhirnya jadi
sarana piknik orang setempat, bahkan melihat lantai bersih saja lagsung
duduk atau buka sandal dan sepatu ;-). Padahal mall ya toko juga, tetapi
itu bentuk baru, begitulah sikap masyarakat kita ;-). Tentu saja pegawai
mall harus tetap sopan, meskipun beberapa menit kemudian dia permisi ke WC
hanya untuk tertawa terbahak-bahak ;-). Dan dari sisi income yg
ditargetkan jelas mall itu masih kalah dari mall di kota ;-). itu memang
ada unsur gegar budaya dan biasa dialami pemula ;-).

Bila situs web.id karena syaratnya mudah, kemudian disalahgunakan, justru
itu bisa dijadikan bukti bagi penyidik dalam mengungkap kasusnya. Biasanya
barang bukti itu cenderung disembunyikan, nah di situs internet agak sulit
sebab dibatasi perjanjian kontrak web hosting misalnya ;-). Tentu saja
perusahaan web hosting berbeda dg bank dimana identitas nasabah amat
dirahasiakan ;-).

Kita semua care kok terhadap ketertiban, hanya saja bahasa kitanya
terhadap para pemula akan menjadi lain, bila tidak hati-hati bahkan
menjadi salah paham berat mas. Misalnya kita melarang seseorang untuk
memakai pasword orang lain, dia akan marah karena dia pemula internet
disangka ndak boleh memakai komputer dsb, sehingga malahan ribut. Ada
orang nggak ngerti komputer, bahwa untuk bisa akses internet harus pake
hardisk, kita kasih tahu disangka menggurui dia (karena di pejabat),
kemudian dia marah ngotot dll ;-). Itu betul-betul terjadi mas. Selain 
itu ada pula kecenderungan sebuah situs sebagai situs dewa, ngomong
apa saja dia berikan situs itu sebegai referensinya. Padahal, dalam
dunia ilmiah data itu perlu dilihat reratanya, bila perlu lihat
jurnal-jurnal lain sampai yakin betul ;-). Tapi karena dia pemula,
maka ngomong kepada yang bukan pemula seperti itu. Orang yang bukan
pemula itu (yg memang tidak tahu sama sekali) ngomong lagi ke yg lain, 
hehehehe makin sesat saja dong masyarakat kita. 

Jadi saya kira dalam hal ini memang pendidikan menjadi ujung tombak. Dan
para praktisi IT perlu bijaksana bila berhadapan dg maysarakat yang masih
pemula. Termasuk registrar juga, dan saya kira kebijaksanaan IDNIC juga
terlihat dari misalnya membatasi diri tidak memberikan servis domain .com.  

Bila sosialisasi ini gagal ke masyarakat (umum, pemerintah dan alat
negaranya), dipastikan selain penyalahgunaan internet akan semakin banyak
juga Indonesia semakin dipandang negeri terbelakang ;-).

Salam,

-marno-

On Mon, 28 Oct 2002, bayu krisna wrote: > On Mon, 28 Oct 2002,
JPN. Sumarno wrote:
> > Halo Mas Agus, saya sependapat dg anda lho ;-). Memang internet memiliki
> > freedom for speech and expression. Justru dg keragaman info di internet
> > maka siapapun dan dari generasi manapun bisa mengetahui atau merasakan
> > informasi tsb. Khususnya dg ide-ide orisinal, budaya, bisa juga agama dll.
> 
> Iya kalau idenya orisinal, berapa banding berapa persen ide-ide yang ada
> diInternet itu orisinal. Berapa persen masyarakat indonesia pemakai jasa
> internet yang punya kemampuan untuk memfilter ide-ide yang tidak orisinal?.
> 
> Nah sekarang kembali lagi ke masalah domain *.id yang didelegasikan oleh
> IDNIC. Apakah sebuah domain tersebut layak atau tidak?
> Kalau menurut saya akan kembali lagi kepada IDNIC sebagai .ID DOMREG
> apakah mau disensor atau tidak tergantung rules/agreement dari IDNIC.
> 
> <.web.id//or.id>
> Cuman sayangnya kalau di IDNIC kita daftar walau hanya dengan berbekal
> no.ktp entah itu ktp sendiri atau karangan, bisa saja tuh
> <IDNIC beda ama domreg lain Lagi>, Orang cuman berbekal akses Rp 2500 dari
> warnet konek ke website IDNIC kemudian register juga bisa dapet domain.
> 
> <.web.id//or.id>
> Oke lah IDNIC itu harus netral cuman tolong mungkin RULES2x/AGREEMENT
> IDNIC juga dibikin tegas.
> Kalau domain register yg lain .com/.net/.org mungkin penegasannya yang
> penting bayar. Urusan content web nanti urusan belakangan, sedang IDNIC
> yang penting kita bisa akses ke website IDNIC, isi formulir, tunggu
> konfirmasi, dapet domain.
> 
> > Itu sesuai dg pendirian internet itu sendiri dimana para penemunya awalnya
> > amat prihatin atas banyaknya informasi manusia (bangsa, budaya, cerita
> > dll) yang hilang pada perang dunia II. Maka sejak itulah dimulai
> > penelitian internet (tidak hanya di AS, di Eropapun dilakukan) dan
> > sekarang kita bisa merasakan manfaatnya. Kebetulan perkembangannya
> > melibatkan lembaga pertahanan AS (proyek ARPANET), maka seolah-olah
> > internet adalah tool AS bagi pelebaran hegemonynya. Padahal, ide orisinal
> > risetnya adalah seperti di atas, saya yakin itu tetap masih dipegang
> > sampai saat ini. Karena itu ICANN atau W3C tidak pernah merasa didikte
> > oleh proposal G Bush ke PBB saat ini ;-).
> >
> > Cyberlaw Indonesiapun jadinya saya kira tak perlulah membelenggu soal
> > content saya kira, tetapi POLRI yg harus membuat aturan tsb. Soal sara
> > atau porno amat berhubngan dg soal ketertiban masyarakat, jadi itu tugas
> > polri ;-).
> 
> Nah apakah kita sebagai masyarakat tidak punya tanggung jawab dalam
> persoalan masalah ketertiban masyarakat?. Wah repot! :>
> Untung banyak masyarakat indonesia belum kenal internet.
> 
> 
> >
> > Salam
> > -marno-
> >
> > On Mon, 28 Oct 2002, Agus Nizami wrote:
> > > Menurut saya, IDNIC itu harus netral. Selama aplikasi memenuhi syarat, IDNIC
> > > tidak berhak menolaknya.
> > >
> > > Jika suatu saat hukum menetapkan bahwa organisasi anu terlarang, begitu pula
> > > dengan situsnya, maka IDNIC baru bisa memblokir site tersebut. Jadi bukan
> > > berdasarkan like dan dislike saja, tapi berdasarkan hukum yang jelas.
> 
> -
> Jika seorang provokator dalam sebuah kerusuhan ditangkap
> kenapa site yang berisi provokasi tidak ditutup?. Bukankah sama-sama
> mempunyai content yg sama.
> 
> > > Internet adalah satu alat untuk mengungkapkan ide atau satu berita. Selama
> > > itu bukan pornografi atau judi, IDNIC harus berhati-hati untuk bertindak,
> > > agar tidak seperti rezim ORBA yang membelenggu kebebasan berpendapat
> > > (Freeedom for speech and expression).
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "JPN. Sumarno" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Monday, October 28, 2002 9:12 AM
> > > Subject: Re: [Idnic] DOMAIN LASKARJIHAD.OR.ID
> > >
> > >
> > > > On Mon, 28 Oct 2002, adi wrote:
> > > > > On Sun, Oct 27, 2002 at 06:14:32AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> > > > > > > karena tidak ada bedanya antara sensor thd nama
> > > > > > > suatu domain dengan sensor terhada isi suatu
> > > > > > > webpages.
> > > > > >
> > > > > > jelas ada bedanya dong.
> > > > > > domain nggak selalu terkait dengan webpage lho.
> > > > >
> > > > > benar. secara alami dan teknis memang begitu. walaupun
> > > > > sebenarnya maksud saya lebih berkenaan dengan sensor
> > > > > terhadap 'kata-kata' tabu, entah itu ke nama suatu domain
> > > > > atau isi suatu webpages.
> > > > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> > _______________________________________________
> > Idnic mailing list
> > [EMAIL PROTECTED]
> > http://www.idnic.net.id/cgi-bin/mailman/listinfo/idnic
> >
> 
> _______________________________________________
> Idnic mailing list
> [EMAIL PROTECTED]
> http://www.idnic.net.id/cgi-bin/mailman/listinfo/idnic
> 

_______________________________________________
Idnic mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://www.idnic.net.id/cgi-bin/mailman/listinfo/idnic

Kirim email ke