On Tue, 29 Oct 2002, JPN. Sumarno wrote:

>
> Bayu :
> ------
> > Wah apakah tidak sebaiknya secara dini kita mengenalkan filter terhadap
> > masyarakat. Ya walaupun internet tanpa batas akan tetapi perlu sekali
> > filter-filter itu dikenalkan supaya banyak masyarakat tidak tersesat.
>
> Marno:
> -----
> Begitulah bila image internet sudah dinilai sebagai gudang info negatif,
> maka muncul kasus sebuah lembaga pendidikan mau berlangganan ISP rapat
> terus sampai beberapa bulan ;-).
>
> Itu baru lembaga pendidikan, jika masyarakat jelas lebih beragam, pada
> kondisi ekstrim, bisa saja ada masyarakat yg tidak mau sama sekali
> berinternet, seprti pernah ada yang tidak mau denger radio dan tv ;-).
>
> Bila ada 70 % masyarkat Indonesia begitu, kita tidak bisa menolak
> penilaian orang asing : Indonesia memang negara terbelakang ;-).

Wah tidak semua orang berpendapat seperti itu. Sayapun berpendapat bahwa
internet memiliki banyak manfaat bagi kita. Hanya saja apakah kita
tidak perlu waspada dan lihat kenyataan yg ada.
Dampak negative dari perkembangan dunia internet di indonesia sudah
terlihat. Ya walaupun dampak positive banyak apakah tidak lebih baik kita
menekan dampak negativenya.

Nah untuk saat ini saja Pak apakah Indonesia bisa lepas dari  penilaian
orang asing bahwa "Indonesia Memang Negara terbelakang"?

>
> Bayu :
> ------
> > Memang faktor moral pribadi main disini, akan tetapi apakah tidak
> > sebaiknya diberi tahu dulu kalau sebenarnya dunia internet juga memiliki
> > norma-norma yang mungkin di indonesia belum ketat.
>
> Marno :
> ------
> Saya kira tata nilai budaya di masyarakat Indonesia itu memang sudah ada,
> tentu saja itu akan dibawa oleh orangnya bila "bergaul" dg hal
> baru. Misalnya baru punya mobil, ada yang bolak balik ke pasar, ada yang
> ngomongkan kehebatan mobilnya terus tiap jumpa orang atau tetanganya, ada
> yang ngebut terus tiap hari ;-). Padahal mobil hanya alat transportasi
> saja, tetapi pada pemula memang bisa menimbulkan persepsi yg berbeda bila
> muncul tingkah aneh-aneh biasanya disebut "gegar budaya"  ;-).
>
Bagaimana ya pak mensikapi hal seperti ini?

> Bayu:
> -----
> > > Kalau dibanding sebuah mall, IDNIC merupakan lembaga bersama bukan
> > kepemilikan pribadi, IDNIC tidak mengejar keuntungan(Betul ngga pak Budi?)
> > sedang sebuah mall mengejar keuntungan, yang malah bisa saja semua
> > dijalankan yg penting untung masuk.
> > Jika sebuah mall memberlakukan terlalu tegas jelas mereka akan pilih mall
> > lain, keuntungan mall jadi berkurang.
>
> Marno :
> -------
> Maaf mungkin contoh saya kurang jelas ya mas, saya hanya ingin menonjolkan
> kata "gegar budayanya" saja. Sebab kalau saya tulis to the point bisa
> menimbulkan sakit hati orang ;-), jadi saya ambil contoh mall saja. Dan
> itu cerita beneran yg terjadi di kota kecil di Jawa Barat lho ;-).
>
> Bayu :
> ------
> > Cyberlaw di indonesia belum ditetapkan,
> > apakah kita/IDNIC akan diam saja melihat sebuah hasutan/p0rnsite/Xcontent
> > yang tidak layak ditampilkan disebuah web yang beralamat abcdefg.or/web.id?
>
> Marno :
> -------
> Soal filtering situs tersebut bisa dilakukan di ISP sebenarnya ;-), bukan
> di IDNIC.
Wah iya IDNIC bersangkutan filter "Judul" domain.

> Bayu :
> -----
> > IDNIC merupakan lembaga yg netral yang seharusnya tetap memiliki ukuran.
> > Bagaimana menghadapi pemula? Sebaiknya pelan-pelan sampai dia mengerti,
> > wah mungkin IDNIC perlu adanya costumer services :>
>
> Marno :
> -------
> hehehehe saya kira itulah tugas lembaga pendidikan, LSM dan kelompok
> masyarkat atau lembaga negara (pemerintah) untuk belajar sendiri,
> bukannya minta disuapi IDNIC, apakah tidak menghargai jerih payah
> admin yg volunteer ;-), saya kira masyarakat kita sudah cukup dewasa
> dalam hal menghadapi hal itu.

Wah maaf saya terbawa masalah domain  dengan masalah content filter.
Misalkan ada seorang yang mendaftar domain  abcde.or.id yang dan abcde
merupakan sebuah organisasi terlarang, baiknya kalau IDNIC dalam menolak.

> Masyarakat bisa belajar sendiri seluk beluk tentang internet dan bahan
> pelajarannya bisa dicari sendiri di Internet atau di situs-situs lembaga
> pendidikan nasional lainnya, tempat belajar bisa disekolah, perguruan
> tinggi atau warnet, bagus sekali bila sudah jadi pelanggan ISP
> ;-).
>
> Kalaulah para admin dari IDNIC diharuskan mengajar juga yah sulit
> diharapkan target waktu pencapaian kemajuan masyarakat itu sendiri
> (misalnya tahun 2004 udah melek internet krn era AFTA) karena para
> admin sudah ya jadi volunteer, ya sibuk nyatetin domain yg diminta orang,
> juga harus nyari nafkah untuk anak istri ;-).
>
> Belum lagi nanti era e-commerce diperlukan lembaga independen lainnya yang
> menunjang kelancaran proses e commerce ;-). Ya perjalanan masih jauh untuk
> bisa sejajar dg bangsa maju, selain engine (SDM) nya perlu direhabilitasi
> juga infrastrukturnya perlu disesuaikan, dan sudah jelas jajaran birokrasi
> perlu membenahi dirinya sendiri supaya sinkron dg kondisi dan keadaan atau
> jaman baru itu ;-).

_______________________________________________
Idnic mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://www.idnic.net.id/cgi-bin/mailman/listinfo/idnic

Kirim email ke