Salam Sejahtera...

Maaf, saya terlambat menanggapi karena kurang sehat. Sambil mencari 
ilham penulisan proyek kita, saya ikutan rembug mengenai subyek di atas.


Pada Selasa, 8 April 2008, ER menulis:

> Gw udah selsai baca habis buku "Endless Universe".

Saya ragu bahwa Anda _belum) pernah mendengar tentang ajaran Hindu. Ini 
adalah salah satu ajaran tertua, yang asal muasalnya tetap misterius 
hingga kini. Berbeda dengan ajaran menurut garis Abraham/Ibrahim 
(Yahudi, Kristen dan Islam), ajaran Hindu tidak mengenal manusia pertama.


> Kedua adalah mereka yang mengajukan teori tandingan, yaitu Cyclic universe,
> bahwa alam semesta tidak diketahui kapan diciptakannya, dan Big Bang adalah
> kejadian siklus yang pernah terjadi tak-hingga kali di masa lalu dan akan
> terjadi terus tak-hingga kali di masa datang.

Dalam pertemua 2 minggu silam dengan teman Buddhis dari Persaudaraan 
Pemuda Antariman Kota Palembang, saya sempat meminta penegasan mengenai 
bagaimana alam ini (di)ada(kan). Ia mengatakan bahwa sejak awalnya 
makhluk -artinya bukan hanya manusia- ganti berganti mengisi alam (plane 
of existence). Karma baik dan karma buruklah yang kemudian diserap oleh 
peradaban sekarang dalam ungkapan "hidup ini seperti roda..."

Dalam Hindu, yang kemudian bercabang pada Buddhis, konsep ketuhanan 
tidak seperti yang dianggap oleh ajaran garis Abraham, yaitu bahwa Yang 
Mahakuasa dianggap sebagai satu yang tunggal, sebagaimana manusia 
memandang satu dirinya sendiri. Itu juga digambarkan dalam kitab-kitab 
suci, yang menyatakan "Aku" dalam Alkitab -dan mungkin Talmud (Yahudi)- 
serta "Kami" di dalam Al Qur'anulkarim.

Lalu, bagaimana sebenarnya secara fisika untuk menerangkan keberadaan 
Manusia, serta -ini yang paling penting, MHS (menurut hemat saya)- 
timbulnya Kesadaran (consciousness) ? Apakah ia tiba-tiba timbul begitu 
saja, ataukah ada tahapan evolusionis ?


> Big Bang membawa kerumitan matematis yang mengharuskan perhitungannya
> melibatkan gravitasi di level quantum.

Saya pernah dikenalkan pada istilah "falsifikasi", salah satu landasan 
berpikir dalam kerangka keilmuan. Sayang, benak saya enggan untuk 
menyelamkan diri lebih dalam. Mungkin ada yang bisa memberikan 
pencerahan mengenai ini ?


> Untuk menjawab tantangan ini, muncullah teori string yang sangat menawan
> menyelesaikan persamaan matematis rumit itu.

Bisakah kita membayangkan adanya suatu peradaban lain, yang logikanya 
berbeda dengan yang terbentuk dalam peradaban Manusia ? Apakah itu 
berarti matematika mereka pun berbeda ? Ini bermuara pada pertanyaan: 
apakah memang ada sesuatu yang berlaku mutlak pada alam ini ? Apa itu ?


> Namun konsekwensinya mengejtukan sekali; braneworlds, parallel universe, 10
> dimensi ruang....

Saya memandang bahwa alam membran berkecocokan dengan ajaran-ajaran 
keimanan yang kita kenal selama ini. Mari kita merujuk pada "Q 
Continuum" mengenai itu.


> Apakah manusia sudah siap menerima yang sekontradiktif ini?

Hal yang berlaku umum selama ini: cukup dulu makan, baru berfilsafat. 
Alam yang terlalu konvergen atau sebaliknya divergen, akan menyulitkan 
kita untuk 'meraba' dan 'memetakan' masa depan. Yang saya maksud adalah 
masa yang jauh di depan sana, di luar hitungan abad dan milenium, 
melebihi ratusan juta tahun. Hal kontras seperti apakah yang membedakan 
zaman Pterodactyl dengan tahun 2008 ? Tidak ada, kan ?!

Dalam ajaran Hindu, kala perulangan itu berada dalam ordo trilliunan 
tahun, yang berada di luar kala geologis, pun usia alam semesta yang 
diperkirakan 'hanya' belasan milyar tahun.


> Big Bang dan inflasi adalah sebuah teori yang rumit dan banyak sekali
> fine-tunning telah dilakukan supaya membuat inflasi masuk akal dan dapat
> diterima.

Siapa di antara kita yang bisa menjamin, bahwa pilihan-pilihan matematis 
yang kita tentukan saat ini mengikuti logika yang 'seharusnya' ? Apakah 
pernah ada dalam sejarah peradaban Manusia, ketika suatu paham harus 
diruntuhkan dan dibangun dari awal, karena ada kesalahan pemilihan sejak 
awalnya ? Ataukah kita percaya saja, bahwa yang ada saat ini hanya perlu 
diluruskan (aligning) dari masa ke masa ?


> Sedangkan Cyclic adalah teori yang tidak banyak cingcong. Sangat mulus
> seperti penyelesaian semua kerumitan yang ada.
> 
> Kita tunggu 10 tahun lagi

Anda terlalu percaya diri menggunakan 10 tahun itu.



> Apakah planet bumi adalah planet yang ada akibat peristiwa random belaka?
> 
> Apakah kita manusia bukan makhluk special?

Berdasarkan "Contact" karangan Carl Sagan, saya percaya bahwa setelah 
alam diciptakan, Sang Pencipta tidak turut campur lagi lagi dalam 
perjalanan ciptaanNya. Ia memercayakan itu pada seperangkat sistem yang 
sebelumnya Ia buat. Ketika sistem-sistem itu dirusak. terjadilah bencana 
dan sejenisnya. Ini dikuatkan berdasarkan penyampaian seorang ulama 
Hindu, saat saya bertahunbaruan (1 Çaka) pada 2008. Kitab-kitab garis 
Abraham berbeda dalam hal itu.


> Tanya: Untuk apa alam semesta diciptakan?
> 
> Jawab: Alam semesta diciptakan untuk bisa hidup di dalamnya makhluk yang
> bernama manusia untuk mempertanyaakan pertanyaan itu.

Absurd. Apa kira-kira tanggapan Q ? Yang merasa sebagai warga "Q 
Continuum" diharapkan memberikan tanggapan !


Sharif Dayan

Kirim email ke