Di tempat saya bekerja, secara teratur ada uji keadaan darurat.  Teratur di 
sini maksudnya selalu dilakukan, bukan berkala setiap rentang waktu tertentu.  
Alarm penanda kebakaran dibunyikan.  Sesuai prosedur, yang ada di dalam gedung 
harus segera menuju tempat berkumpul darurat.  Tak terkecuali tamu-tamu yang 
sedang berkunjung.  Tamu-tamu ini menjadi tanggung jawab pengundang.  Di tempat 
berkumpul, yang ditunjuk sebagai fire warden akan mengabsen orang-orang yang 
ada di bawah tanggung jawabnya.

Selang beberapa saat (mungkin 10 menit atau 15 menit), pasukan pemadam 
kebakaran (rescue) datang bersama mobil branweirnya.  Mereka (dengan 
perlengkapan tentunya) akan masuk gedung, meneliti dari mana asal asap, 
memastikan besar-tidaknya potensi bahaya yang ada.  Jika keadaan bisa diatasi, 
alarm akan dihentikan.  Yang memegang kunci ke ruang alarm hanya team rescue 
itu.   Perlu diketahui, alarm hanya akan berbunyi jika smoke detector membaui 
asap.  Saking sensitifnya, pernah gara-gara seseorang membuat kopi dengan air 
mendidih, asap yang mengambang 'dibaca' detector sebagai sinyal kebakaran.

Mengapa hal serupa tidak dicobakan untuk pintu darurat di pesawat?  Saya yakin 
sebabnya pasti di mahalnya 'biaya'.  Latihan perlu waktu, sementara kian hari 
bandara semakin sibuk.  Jika dalihnya hemat waktu, uji coba tetap bisa 
dilakukan di penerbangan pagi atau sore.  Anggarannya dipotongkan dari tiket 
yang dibeli penumpang.  Ada calon penumpang yang tidak rela?  Kalau ada (atau 
malah banyak) bisa dimaklumi.  Dalam hidup sehari-hari kita, safety itu maih 
ada di urutan buncit.  Safety itu masalah budaya dan cara berpikir.  Untuk 
mencangkokannya ke pikiran perlu kemauan dan upaya ekstra.  Mengapa harga tiket 
'international flight' maskapai papan atas ada di awang-awang?  Safety memang 
mahal dan tidak terlihat langsung .  Contoh gampangnya, maskapai-maskapai itu 
enggan memakai pesawat uzur.

Mereka yang pernah naik pesawat pasti pernah berkenalan dengan prosedur membuka 
pintu darurat.  Adakah yang pernah mempraksiskannya?  Tentu saja ada jika di 
antara penumpang terselip teknisi atau awak pesawat .. he-he.  Orang biasa juga 
mungkin jika ia pernah mengalami pendaratan darurat (tapi apa tidak trauma?).  
Pramugari biasanya berkilah bahwa tiap regular maintenance pintu darurat selalu 
diuji-coba.  Tapi mana buktinya?  Bagaimana meyakinkan penumpang?

Di setiap fire extinghusher di kantor saya terpasang label.  Tabung itu secara 
berkala diperiksa kelayakannya.  Jika masih layak, di label ditulis tanggal 
kapan pemeriksaan itu dilakukan.  Label seperti ini, jika mau, juga bisa 
diterapkan di pintu darurat pesawat.  Menambah (menempelkan) label pasti tak 
akan membengkakan budget.  Pertanyaannya, dengan makin banyaknya musibah 
penerbangan, sekiranya label itu tertempel adakah yang masih percaya?  Percaya 
bahwa pintu darurat memang berfungsi dan percaya bahwa perawatan dilakukan 
sesuai prosedur?  

Salam dari Sangatta



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ambar Briastuti
Sent: Wednesday, September 19, 2007 10:37 AM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Re: Kecelakaan pesawat di Phuket : pintu
darurat

Imas dan Ais,

Saya juga mengajukan pertanyaan yang sama. Meragukan maintenance pintu
darurat tadi. Lha iya kalau jarang dikasih oli kan susah bukanya.
Apalagi bertahun-tahun enggak pernah dibuka.

Untuk kasus di Phuket, pintu darurat macet karena semua mekanisme
elektronik di pesawat tidak berfungsi. Berakibat exit door hanya bisa
dibuka dengan manual (yang berarti harus dengan otot kawat balung
besi). Lah buka pintu segede itu kalau yang ngga kuat dan fit benar
yah cuma peyok saja. 

Yang pasti di pintu darurat enggak boleh buat naruh tas. Biasanya yang
duduk di sampingnya dikasih penjelasan khusus.

Salam,
Ambar


      
__________________________________ 
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos. 
http://sg.movies.yahoo.com/

Kirim email ke