Rasio tingkat kecelakaan penerbangan dunia adalah 0,25 (seperempat) kejadian setiap sejuta take off. Khusus untuk Indonesia, angka itu membengkak menjadi 3,77. Lebih dari 15 kali lipat! Hebat sekaligus membuat miris. (lihat TEMPO -lupa nomornya-- yang mengulas panjang-lebar perihal cekal Eropa atas maskapai Indonesia). Artinya, dunia penerbangan Indonesia perlu revolusi. Revolusi di ranah yang bersifat preventif (perbaikan kualitas keselamatan) dan juga yang bersifat kuratif. Yang kuratif, salah satu contoh mudahnya dengan menggelar simulasi penyelamatan pada keadaan darurat. Di bandara perusahaan tempat saya bekerja, simulasi sejenis rutin digelar. Bandaranya tidak besar dan hanya didarati pesawat Casa berpenumpang 20 orang.
Medio 90-an, saat berjejal bersama penumpang di atas kapal PELNI, simulasi penyelamatan beberapa kali sempat saya lihat. Tentu saja jika langit cerah dan kondisi laut cukup ramah. Acaranya biasa digelar sore hari antara jam 15.00 sampai 16.30. Alarm tanda bahaya dibunyikan, sekoci yang disimpan di dek teratas dilepmpas ke laut. Setelah itu pasukan rescue (setelah memakai pelampung) diterjukan ke perairan mengejar sekoci yang timbul tenggelam dimainkan ombak. Apakah hiburan seperti ini masih jadi menu rutin pada setiap rute kapal PELNI? Mengingat frekuensi penerbangan yang dilayani, simulasi penyelamatan agak mustahil digelar di bandara besar. Apalagi di bandara internasional. Tapi tetap ada cara lain sepanjang ada kemauan. Di bandara, mata penumpang selalu awas pada layar kristal yang menayang daftar keberangkatan dan kedatangan. Mestinya ada satu televisi khusus yang memutar video simulasi penyelamatan. Ingat, kemampuan secara ekonomi seseorang tidak berbanding lurus dengan tingkat kesadaran dan disiplinnya. Tak aneh jika meski sudah ada di dalam pesawat kita lihat masih ada orang merokok atau hp yang belum dimatikan. Itu alasan pertama. Yang kedua, cara terbaik untuk mengajar adalah dengan memberi teladan. Dari tayangan simulasi orang bisa tahu bagaimana praksis hal-hal seperti membuka pintu darurat, mengembangkan pelampung setelah ada di luar pesawat, memakai kedok (bahasa negeri jiran) zat asam. Ketimbang idiotainment (pinjam istilah Arswendo untuk infotainment) acara simulasi penyelamatan jelas lebih memberi manfaat. Minimal menghindari kebiasaan menggosip. Bukankah akhir-akhir ini simulasi menghadapi tsunami acap digelar di kota-kota yang bertetangga dengan pantai? Salam dari Sangatta ----- Original Message ---- From: Ully Soraya <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, 20 September 2007 3:11:38 Subject: Re: Fw: [indobackpacker] Re: Kecelakaan pesawat di Phuket : pintu darurat Semoga topik kecelakaan pesawat ini belum membosankan teman2. SEkitar bulan agustus kemarin terjadi juga kecelakaan pesawat China air di Taiwan. Pada saat mau parkir tiba2 terjadi ledakan dan pesawat terbakar dan luckily semua penumpang selamat, belum lama ini juga kejadian sama terjadi di Aalborg, Denmark. Pada saat landing roda pesawat patah dan pesawat terbakar dan lagi2 tidak ada korban jiwa satupun. Saya gak tau faktor mana yg menentukan, apakah awak pesawatnya yg lebih cakap, tingkat kecelakaanya yg lebih ringan atau karena pintu daruratnya yg lebih bagus. Ully Recent Activity 97New Members 1New Files Visit Your Group SPONSORED LINKS Backpacking travel insurance Backpacking travel Y! Sports for TV Access it for free Get Fantasy Sports stats on your TV. Yahoo! News Odd News You won't believe it, but it's true Yahoo! Finance It's Now Personal Guides, news, advice & more.. __________________________________ Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos. http://sg.movies.yahoo.com/ [Non-text portions of this message have been removed]
