Nambahin dikit,
Dalam suatu perjalanan sederhana ke ibukota Jakarta setahun yang lalu
(gara-gara termotivasi: malu rasanya udah setua ini ga pernah liat ibukota),
dengan bantuan beberapa kenalan jadilah perjalanan kali itu aman dan nyaman.
Mau kesana sini disertai info dan wejangan dari kawan2, mengingat rasa was-was
bahwa yg pergi ini cewe. Sampe disana-sini dah ada yang jemput. Sampai hari ke
8 (sehari mejelang kepulangan) ada rasa ganjil,kekurangan, yang sulit diobati.
Apa yang kurang? kenapa rasa puas itu gak juga muncul? Setelah merenung
setengah jam barulah didapat jawaban bahwa rasa kurang itu adalah karena merasa
gagal melaksanakan keinginan sendiri tanpa dituntun siapa-siapa. Rasanya kok
perjalanan itu jadi bukan milik sendiri karena sudah ada yang mengaturnya
(meskipun tanpa menghilangkan rasa terima kasih yang sebanyak banyaknya).
Akhirnya jadilah hari itu memberanikan naik angkutan umum sendiri, naik kereta
ekonomi sendiri, ke tempat-tempat yang hanya pernah
dilihat dalam berita koran. Pulangnya, perasaan jadi lega. Ada rasa berani
yang tumbuh lebih cepat. Berani mengambil tindakan dan berani menghadapi
masalah. Salah satunya adalah masalah fobia sosialis yang sudah lama
berkungkung dalam kepala, sedikit demi sedikit dapat terkurangi dengan
memberanikan diri berperjalanan.
Jadi gak heran kalau Donna Williams bisa menyembuhkan autismenya sendiri dengan
perjalanan nekat keliling dunia, meski cobaan datang silih berganti selama
berada di negeri orang.
Ayo jalan!
regards,
En Hikmah
Balikpapan
[Non-text portions of this message have been removed]