Ass,

Mmg berat kalo spt itu. 2 pikiran disatukan jadi satu tapi tetap membawa 
karakter masing2. Ya harusnya ada yg campur tapi ada yg tetap bisa berdiri 
sendiri. Kayak teori himpunan semasa SD dulu.  Kadang ketika PDKT hal yg kita 
inginkan dari pasangan sptnya OK2 sj. Teryata itu hanya trik PDKT dan kita 
luluh karenanya. Itu sulit dirubah. Krn itu sdh prinsip. Mmg jalan2 persepsi pd 
umumnya adalah orang2 yg ada duit. Pdhal tidak juga. Tp pasti ada biaya, cuma 
hrs ada alokasi keuangan keluarga. Kalo kita kerja dan punya alokasi, ya hak 
dong sedikit senang2 dg hobi, hanya kalo sendirian pas kita sharing tidak ada, 
rasanya sedikit berdosa dan jd tidak nyaman perjalanan itu. Terus nanti gimana2 
gitu. ( Timbul curiga). Rasa berdosa itu malah membuat aneh dg hobi kita. Orang 
menganggap egois. Ini saya alami dg istri. Mmg pasangan itu susah2 gampang. 
Lhah dia khan baru kita temukan setelah dewasa ini, cara pandang, wawasanya 
ditentukan oleh lingkungan dulu, jadi ya memang sulit mengubahnya selain dari 
dirinya.

Kita hanya seperti enzim dikit2lah di pasangkan nanti lama2 khan luluh. Coba 
sampai sekarang saya selalu membanggakan makanan ibu bukan berarti saya 
meremehkan makanan istri tapi karena ada kesan makanan itu dari sejak dulu. 
Coba makanan ibu dari bayi sampai 25th, makanan istri baru 5 tahun, itu 
umpamanya. Jadi biar tidak egois masing2 harus bicara dari hati ke hati, apa 
harapanya terhadap pasangan, Sekarang ini jaman terbuka semua bisa dibicarakan. 
Sumber tidak boleh hanya dikuasai 1 orang, maksudnya suami/istri tidak boleh 
menang sendiri. Itu soal lidah, tapi saya juga membuka diri eh lidah saya 
terhadap masakan istri. Biar istri belajar soal selera.  Dulu saya kemukakan sy 
suka jalan. Ke mall kemana saja. Ke mall sy bisa baca buku gratis, kalo istri 
pergi artinya pesiar, hrs ada makan kalo bisa nginep yg bagus. Hal itu karena 
persepsi dg orang tuanya dulu. Istri juga tdk suka jalan. Kalo sy selama tidak 
terganggu kerjaan ya ayo saja. Bagi saya jalan adalah hiburan, makan seadanya 
yg penting tempatnya bersih, tidak serampangan, kalo perlu sy bawa sendok 
sendiri. 2 minggu tdk ke mall rasanya ada yg kurang, mall selalu melambaikan 
tangan padaku he..he...  Sy sering menemukan barang bagus dg harga yg 
terjangkau karena jalan2.

Tapi itu dulu,
Sekarang istri saya suka jalan2. Mula2 saya beli buku kuliner. Ya kalo diSby 
banyak tempat makan yg menarik dan kita gantian traktir(istri kerja). Di koran 
khan juga banyak laporan perjalanan. Sy juga banyak beli majalah atau koran, 
film ttg jalan2, dulu saya kliping sekarang sudah tidak bisa.  Sy juga bilang 
kalo jalan sama istri jadi lengkap, pirkiran jadi nyaman. Walau istri tetap 
tidak begitu suka jalan seperti saya tapi setidaknya tahu dg hobi dan 
menghargai hobi saya. Dan saya selalu bilang sy ada alokasi utk jalan, supaya 
jalan2 juga disisihkan tidak melulu kebutuhan keluarga terus. Dan saya bilang 
kalo saya bisa cuti panjang sya akan ajak ke Eropa. Itu obsesi saya. Jadi sy 
'racuni' pikirannya supaya tidak menganggap jalan2 adalah hobi orang berduit, 
ada cara untuk berhemat.
Jadi pelan2 omongnya, pasti ada cara pendekatannya. Nyatakan sementara belum 
ada kebutuhan yg banyak sekarang adalah kesempatannya. Apalagi ada pesawat yg 
hemat. Suami mmg penentu kebijakan  keuanganan keluarga tp jalan2 itu juga 
membuka wawasan, imajinasi, kesempatan dll. Coba orang yg suka desain pasti 
Paris adalah jujugannya. Orang suka dagang coba lihat Cina, dll. Ini hanya 
perumpamaan.

Bagi saya melihat banyak tempat membuat gunung syukur pada Pencipta, menambah 
iman-apalagi kalo pas dipesawat-( tapi sering mengganggu waktu sholat/jadi 
kontradiksi ya?Sholatnya jadi seperti rapelan gaji-sudah sholatnya kayak orang 
ketinggalan pesawat dirapel lagi). Yg jelas sy jadi sangat bersyukur ya bisa 
jalan2 ya bisa melihat kehidupan orang2 saya jadi percaya mutlak memang kita 
ini hanya kulit yg membedakan. Dan bumi ini begitu luasnya sebagai lahan 
berpikir bagi orang2 yg berakal. Dan menurutku jalan2 itu seperti membuktikan 
ayat2 tentang alam. Jadi orang tidak boleh sombong2.
Salam

Zanni




________________________________
Dari: En Hikmah <[email protected]>
Kepada: IBP <[email protected]>
Terkirim: Sen, 16 November, 2009 11:18:32
Judul: [indobackpacker] Tips and Trik ajak suami yg ga mau jalan biar mau?


Dear kawans,

Saya telah menikah namun belum memiliki anak. Kami berdua masih kuliah. Sebelum 
menikah suami sudah tahu hobi saya jalan-jalan, dan dulu sempat sepakat akan 
sering jalan bareng. Tapi sekarang, selama hampir 2 tahun kami bersama, belum 
pernah sekalipun kami berdua jalan. Kepala saya mulai panas karena benar-benar 
tidak diizinkan jalan.

Kami beda persepsi. Bagi dia jalan-jalan adalah reward, Jadi misalnya kami 
telah melakukan sesuatu yang besar, kemudian dirayakan dengan jalan2. Contohnya 
ya kalau kami lulus kuliah nanti baru boleh jalan. Tapi itupun bukan 
seterusnya. Karena kalau kami punya rencana keluarga yang berhubungan dengan 
financial, jalan-jalan adalah hal terlarang baginya. Pemborosan!
Sementara bagi saya, jalan2 adalah penyegar ketika kepenatan sudah tidak bisa 
ditoleransi. Beban sebagai pekerja, mahasiswi sekaligus ibu rumah tangga bagi 
saya harus dieliminir, caranya ya dengan menyalurkan hobi, ya jalan-jalan.
Pandangan kami tidak bisa disatukan atau dikompromikan. Akhirnya sama-sama 
menganggap pasangan egois.

Ingin memaksanya ikut, tapi dia tidak akan setuju. Ditambah lagi pandangannya 
yang amat sangat realistis terhadap keuangan. Ingin pergi sendiri, kok rasanya 
berdosa ya, apalagi kalau suami tidak ridho. Lalu apa kata keluarga besar kalau 
saya titipkan suami pada mertua, sebab kami belum berumah sendiri. Lagipula 
saya merasa hampa kalau tidak ada suami, karena saya ingin sekali membagi apa 
yang saya lihat dan rasakan di perjalanan bersamanya. Tapi apa daya, bahkan 
tujuan yang dekat-dekat kota tempat tinggal saja tidak diperkenankan. Rasanya 
kepala ini mau mendidih kelelahan.

Ada yang bilang "makanya jangan cepat2 nikah". Atau "Cari suami yang suka jalan 
juga dong!". Tapi kan tidak semudah itu. Menikah adalah pilihan hidup, dan 
orang yang kita cintai kan tidak selalu sama pemikirannya dengan kita.

Rasanya seperti orang patah hati, sedih berkepanjangan. Pernikahan tidak pernah 
disesali, tapi sedihnya tetap melekat di hati. Tidak bisa juga menyalahkan 
suami sepenuhnya, sebab pertimbangannyapun tidak salah. Betapa berat rasanya 
membaca artikel2 tentang keindahan nusantara, sementara entah kapan saya bisa 
menjajakinya.

Siapa tahu ada teman-teman yang punya pengalaman serupa, bisa sharing dong, 
biar rasanya tidak merana sendirian. Dan kalau ada tips and trik biar orang yg 
kita sayangi mau ikutan jalan, minimal mau ngerti dengan hobi kita.

Salam,
Hikmah
Balikpapan

[Non-text portions of this message have been removed]





      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke