Hikmah, coba beri pandangannya begini : dear suami, siap-siap aja yaa,bayangkan saja dulu bagaimana putaran kehidupan ini, kalau sudah selesai kuliah, prioritas berikutnya adalah bekerja full time dengan tingkat karir dan gaji okey, kalau sudah bekerja, prioritas berikutnya adalah punya anak, kalo ada anak, biaya ke dokter untuk antenatal care, biaya persalinan, perawatan bayi dll, beli mobil, beli rumah, perawatan mobil, perawatan rumah, biaya antenatal care anak ke 2, biaya persalinan anak ke 2, biaya perawatan bayi ke 2, biaya sekolah TK anak pertama, dan terus-terusan begitu tanpa ada habisnya...hehehe...kapan jalan-jalannya? itu sebabnya ada dari eropa ada dua macam orang yang biasa nya jalan-jalan: anak kuliahan backpaking dengan biaya minim atau pasangan-pasangan oma opa dari eropa jalan-jalan sesudah mereka pensiun!
saran dari saya, sejak sekarang Hikmah harus iklas kalau harus jalan-jalan tanpa suami. jangan paksa seseorang apalagi pasangan. kita tidak bisa mengubah pandangannya. kalo mau ada teman, toh, ada ratusan penggemar jalan-jalan di milis ini yang bisa diajak..hehhee..pasangan saya tidak suka jalan dengan alasan yang sama, memboroskan uang. dia hanya mau diajak kalau gratis. yaaa, dimana ada bakalan orang ngajak jalan gratis, memangnya kita sodaranya bill gates? setiap kali saya bilang saya mau jalan, negosiasinya alot, kadang berantem tidak bisa dihindari. tapi ternyata dalam sepuluh tahun ini, saya hampir setiap tahun pergi jalan, dan dua kali bersama-sama dengan dia dan anak. kok iso yo? hahaha... toh dengan kesadaran bahwa seperti di atas itu, bahwa lingkaran tekanan finansial dalam hidup ini tidak akan berakhir lalu pemikiran bahwa jalan-jalan itu membuka wawasan, tidak sekedar menghabiskan uang, dan bahwa untuk keseimbangan tubuh dan jiwa refreshing itu perlu, maka ternyata bisa juga. walaupun ribet sebagai pasangan kita belajar untuk saling menghargai pendapat satu sama lain, dan menjaga perasaan satu sama lain. kalo pasangan senang, kita juga senang. hari ini saya menyenangkan pasangan, besok pasangan menyenangkan saya. gitu loh Hikmah.... kalo panas terus di rumah kan ga enak... kalau Hikmah sudah merasa menyenangkan pasangan, beritahu kepadanya: dear suami, kan saya sudah membiarkan kamu yang memilih jenis mobil apa, saya nyumbang uangnya saja, sekarang saya pengen jalan, kamu ga usah nyumbang uang, asal jangan ngomel, saya udah seneng. gimana? udah kayak nenek-nenek ngasih nasehat neeeh..... good luck! 2009/11/16 En Hikmah <[email protected]> > > > Dear kawans, > > Saya telah menikah namun belum memiliki anak. Kami berdua masih kuliah. > Sebelum menikah suami sudah tahu hobi saya jalan-jalan, dan dulu sempat > sepakat akan sering jalan bareng. Tapi sekarang, selama hampir 2 tahun kami > bersama, belum pernah sekalipun kami berdua jalan. Kepala saya mulai panas > karena benar-benar tidak diizinkan jalan. > > Kami beda persepsi. Bagi dia jalan-jalan adalah reward, Jadi misalnya kami > telah melakukan sesuatu yang besar, kemudian dirayakan dengan jalan2. > Contohnya ya kalau kami lulus kuliah nanti baru boleh jalan. Tapi itupun > bukan seterusnya. Karena kalau kami punya rencana keluarga yang berhubungan > dengan financial, jalan-jalan adalah hal terlarang baginya. Pemborosan! > Sementara bagi saya, jalan2 adalah penyegar ketika kepenatan sudah tidak > bisa ditoleransi. Beban sebagai pekerja, mahasiswi sekaligus ibu rumah > tangga bagi saya harus dieliminir, caranya ya dengan menyalurkan hobi, ya > jalan-jalan. > Pandangan kami tidak bisa disatukan atau dikompromikan. Akhirnya sama-sama > menganggap pasangan egois. > > Ingin memaksanya ikut, tapi dia tidak akan setuju. Ditambah lagi > pandangannya yang amat sangat realistis terhadap keuangan. Ingin pergi > sendiri, kok rasanya berdosa ya, apalagi kalau suami tidak ridho. Lalu apa > kata keluarga besar kalau saya titipkan suami pada mertua, sebab kami belum > berumah sendiri. Lagipula saya merasa hampa kalau tidak ada suami, karena > saya ingin sekali membagi apa yang saya lihat dan rasakan di perjalanan > bersamanya. Tapi apa daya, bahkan tujuan yang dekat-dekat kota tempat > tinggal saja tidak diperkenankan. Rasanya kepala ini mau mendidih kelelahan. > > Ada yang bilang "makanya jangan cepat2 nikah". Atau "Cari suami yang suka > jalan juga dong!". Tapi kan tidak semudah itu. Menikah adalah pilihan hidup, > dan orang yang kita cintai kan tidak selalu sama pemikirannya dengan kita. > > Rasanya seperti orang patah hati, sedih berkepanjangan. Pernikahan tidak > pernah disesali, tapi sedihnya tetap melekat di hati. Tidak bisa juga > menyalahkan suami sepenuhnya, sebab pertimbangannyapun tidak salah. Betapa > berat rasanya membaca artikel2 tentang keindahan nusantara, sementara entah > kapan saya bisa menjajakinya. > > Siapa tahu ada teman-teman yang punya pengalaman serupa, bisa sharing dong, > biar rasanya tidak merana sendirian. Dan kalau ada tips and trik biar orang > yg kita sayangi mau ikutan jalan, minimal mau ngerti dengan hobi kita. > > Salam, > Hikmah > Balikpapan > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > -- Lyn -- A fastmover who wants to do things slowly! http://softlyslowly.wordpress.com/ [Non-text portions of this message have been removed]
