Dear Enny,
 
Susah memang kalau suami tidak seide dengan kita. Apalagi buat kita2 yang 
jalan2 bukan kebutuhan tertier lagi tapi dah masuk sekunder mendekati premier 
hehe...
 
Kebetulan aku sama suami suka jalan2. Dulu sebelum kita punya anak ,punya waktu 
luang sedikit jalan, mau dekat atau jauh yang penting refreshing. Sekarang kami 
sudah punya anak 2, gak bisa backpackingan lagi kayak dulu. Kalaupun jalan 
maunya yang family friendly sama agak2 nyaman sedikit. Karna kerjaan suami juga 
gak bisa sering2 ambil libur kayak dulu lagi.
 
Mungkin suaminya Hikmah tipe yang emang gak suka jalan2, mungkin refreshingnya 
dalam bentuk lain. Nah ini yang susah. Sejauh mana kita bisa mempengaruhi 
orang. Yang jelas merubah gaya hidup seseorang tuh gak mudah. Kalaupun suatu 
saat suami Hikmah mau diajak jalan2 pun dia gak menikmati. Akhirnya semua gak 
enjoy. Alternatifnya, coba selidiki tipe travelling apa dan kemana yang disukai 
suami. Kalau sudah bermacam cara dicoba suami tetep gak mau dan kita sendiri 
udah sampai ke ubun2 pengen jalan2 sendiri, kenapa tidak jalan2 sendiri aja, 
atau sama teman. Saya sih sudah biasa jalan sendiri, kadang sama teman sama 
anak2, kadang sama teman aja, anak2 tinggal di rumah sama bapaknya, kadang sama 
anak2 saja. Kadang orang juga heran liat aku jalan2 tanpa suami, tapi gimana 
lagi, kalau suami gak bisa masak kita juga harus stress diem di rumah. Kalau 
tetap merasa bersalah, bikin kompensasi buat mengurangi rasa bersalah. Berikan 
oleh2 kesukaan suami. Kalau merasa
 hampa tanpa suami, coba travelling dengan sesama temen cewek, dijamin rasa 
hampanya berkurang, malahan hepi banget deh kayak kembali ke jaman gadis dulu. 
Biar gak merasa bersalah banget, travelling pake uang sendiri, jangan pake uang 
keluarga (buat kebutuhan rumah tangga), believe me, you deserve it. 
 
GOOD LUCK
Ully

--- On Sun, 11/15/09, En Hikmah <[email protected]> wrote:


From: En Hikmah <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Tips and Trik ajak suami yg ga mau jalan biar mau?
To: "IBP" <[email protected]>
Date: Sunday, November 15, 2009, 11:18 PM


  



Dear kawans,

Saya telah menikah namun belum memiliki anak. Kami berdua masih kuliah. Sebelum 
menikah suami sudah tahu hobi saya jalan-jalan, dan dulu sempat sepakat akan 
sering jalan bareng. Tapi sekarang, selama hampir 2 tahun kami bersama, belum 
pernah sekalipun kami berdua jalan. Kepala saya mulai panas karena benar-benar 
tidak diizinkan jalan.

Kami beda persepsi. Bagi dia jalan-jalan adalah reward, Jadi misalnya kami 
telah melakukan sesuatu yang besar, kemudian dirayakan dengan jalan2. Contohnya 
ya kalau kami lulus kuliah nanti baru boleh jalan. Tapi itupun bukan 
seterusnya. Karena kalau kami punya rencana keluarga yang berhubungan dengan 
financial, jalan-jalan adalah hal terlarang baginya. Pemborosan!
Sementara bagi saya, jalan2 adalah penyegar ketika kepenatan sudah tidak bisa 
ditoleransi. Beban sebagai pekerja, mahasiswi sekaligus ibu rumah tangga bagi 
saya harus dieliminir, caranya ya dengan menyalurkan hobi, ya jalan-jalan.
Pandangan kami tidak bisa disatukan atau dikompromikan. Akhirnya sama-sama 
menganggap pasangan egois.

Ingin memaksanya ikut, tapi dia tidak akan setuju. Ditambah lagi pandangannya 
yang amat sangat realistis terhadap keuangan. Ingin pergi sendiri, kok rasanya 
berdosa ya, apalagi kalau suami tidak ridho. Lalu apa kata keluarga besar kalau 
saya titipkan suami pada mertua, sebab kami belum berumah sendiri. Lagipula 
saya merasa hampa kalau tidak ada suami, karena saya ingin sekali membagi apa 
yang saya lihat dan rasakan di perjalanan bersamanya. Tapi apa daya, bahkan 
tujuan yang dekat-dekat kota tempat tinggal saja tidak diperkenankan. Rasanya 
kepala ini mau mendidih kelelahan.

Ada yang bilang "makanya jangan cepat2 nikah". Atau "Cari suami yang suka jalan 
juga dong!". Tapi kan tidak semudah itu. Menikah adalah pilihan hidup, dan 
orang yang kita cintai kan tidak selalu sama pemikirannya dengan kita.

Rasanya seperti orang patah hati, sedih berkepanjangan. Pernikahan tidak pernah 
disesali, tapi sedihnya tetap melekat di hati. Tidak bisa juga menyalahkan 
suami sepenuhnya, sebab pertimbangannyapun tidak salah. Betapa berat rasanya 
membaca artikel2 tentang keindahan nusantara, sementara entah kapan saya bisa 
menjajakinya.

Siapa tahu ada teman-teman yang punya pengalaman serupa, bisa sharing dong, 
biar rasanya tidak merana sendirian. Dan kalau ada tips and trik biar orang yg 
kita sayangi mau ikutan jalan, minimal mau ngerti dengan hobi kita.

Salam,
Hikmah
Balikpapan

[Non-text portions of this message have been removed]









      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke