Hello Hikmah,

Kebetulan seorang kawan berkirim email, isinya sama seperti Hikmah. Tapi bliau 
ini malah udah senior alias diatas 50tahun. Jadi menurut saya faktor usia 
bukanlah unsur penyebab utama. Yang pasti karena si suami belum mengerti atau 
belum 'mencicipi' perjalanan seperti backpacking. Menikmati keasyikan yang 
sudah dialami Hikmah sebelumnya. 

Konsep jalan2 sebagai 'rewarding' sepertinya mirip konsep ber vakansi alias 
liburan. Menikmati hidup, tidur di pantai ataupun makanan enak. Saya tidak 
menyalahkan suami jika berpikir begitu, lha wong udah capek cari duit, maunya 
kan enak-enak ajah :)

Konsep jalan saya dan suami beda. Dia lebih suka adventure. Dia bilang,  capek2 
kerja dengan otak maka liburan adalah kerja untuk fisik. Memberikan kesimbangan 
tubuh katanya.  Jadi naik gunung, rafting, climbing etc adalah keharusan buat 
dia. Saya lebih ke budaya ataupun seni, agak statis sifatnya. 

Mungkin tips dari saya bisa dipikirkan, terutama menjembatani dua kepentingan 
yang berbeda:

1. ajak suami jalan2 ke tempat yang tidak jauh dari rumah, misalnya pas akhir 
pekan. disini bisa membuka mata dia bahwa jalan2 tidak harus keluar duit besar 
dan memakan waktu yang lama. cukup bersepeda ataupun naik motor ke tempat2 yang 
tidak pernah dilihatnya tapi punya cerita (budaya, arkeologis, seni, sejarah 
dll) yang memancing keingintahuannya. Emang kita jadi kerja keras untuk cari 
background destinasi sebelum memulai jalan.

2. ajak suami mencari tahu bersama, dalam hal ini dilibatkan pada pencarian 
destinasi, latar belakang tempat dan juga knowledge transportasi. misalnya, 
kalau ke kutai itu naik apa mas? atau apa sih yang menarik dari sana? katanya 
ada museum kecil yah, kok belum pernah dengar. Jadi dipancing pada pertanyaan2 
kecil yang membuatnya jadi pengen tahu juga. 

3. small is beautiful. terkadang kita lupa bahwa tempat2 sepele dan kecil itu 
jauh lebih menarik ketimbang tempat yang luas dan besar. jadi jika Hikmah 
pengen backpacking yang besar, maka ajaklah backpacking kecil dulu, misalnya 
seputar Kalimantan. ini untuk membangkitkan minat pada tipe jalan backpacking 
yang cenderung 'down to earth' dan tidak terlalu bergaya vakansi, yang memakan 
biaya besar.

4. membuat hobi baru yang masih berkaitan dengan jalan-jalan. misalnya 
photography atau menulis. Ini ampuh banget buat cowok hehehe. terutama 
photography yang berhubungan teknis atau butuh tantangan. jadi jalan-jalan itu 
sebagai sarana hunting photo dan belajar bersama. Ohya photography tidak harus 
dari kamera yang mahal. Dari kamera poketpun akan didapat hasil yang ngga 
kalah. 

5. menerima perbedaan dan kekurangan masing2 (hiks..sori kedengerannya kayak 
konselor tapi ini manjur sekali). Sebagai pasangan jalan, susah senang 
ditanggung berdua dan ngga boleh saling menyalahkan. Kalau bertengkar di jalan 
sih biasa (urusan rute dan peta), jadi jangan dibayangkan partner yang sempurna 
adalah yang nurut maksud kita setiap saat. Emangnya kerbau hehehe...

6. kalau suami repot atau tidak bisa menemani, biasanya saya jalan sendiri. 
tetapi PROSES jalan itu harus dibagikan padanya. biar ngga ada curiga dan salah 
sangka. jadi dia dilibatkan sebagai adviser walaupun di belakang layar. waktu 
saya trekking di Nepal, dia tidak mengijinkan jika saya seorang diri. saya 
harus cari teman, jika tidak ada orang ya batal, that's the deal. Keep contact 
dan membagikan suka dan duka itu juga penting. Jangan cuman seneng2nya aja yang 
diceritakan, yang bisa meletupkan 'kecemburuan' tapi juga susah dan bagaimana 
menyelesaikan masalah di jalan. 

7. jangan menyesali punya suami ngga suka jalan. tapi dibuat agar dia mengerti 
kesukaan kita jalan. maaf ini agak konservative, menurut saya pribadi, 
laki-laki ngga bisa dibuang atau di'kiri' kan begitu saja HANYA karena tidak 
punya kesamaan hobi. jangan sedih tapi dijadikan tantangan bagaimana mengajak 
suami jadi duka jalan. salut dengan keberanian Hikmah bertanya di forum ini. 
bagi saya ini langkah awal yang baik. 

8. selama enjoy berdua, maka dimanapun tidak jadi masalah hehehe. Itu menurut 
saya loh. maksud saya, yang terpenting adalah hubungan dua individu ketimbang 
masalah tempat. jadi membuat relationship working ketimbang membuat jalan-jalan 
berhasil. Kadang ketika backpacking, kami ngga dapet kendaraan, tapi hikmahnya 
kita jadi nginep di tempat sunyi. ya udah dinikmatin aja terdampar disitu 
ketimbang mengutuki sopir bis. 


Sharing ini dari pengalaman pribadi aja Hikmah, mungkin rekan/teman yang lain 
punya tips yang lebih sesuai dengan kondisi sekarang. Well, yang pasti ini 
butuh waktu yang tidak sebentar, perlu ketelatenan dan sabar. Selamat mencoba 
yah..


Salam,
ambar





--- In [email protected], En Hikmah <hijau_u...@...> wrote:
>
> 
> Ingin memaksanya ikut, tapi dia tidak akan setuju. Ditambah lagi pandangannya 
> yang amat sangat realistis terhadap keuangan. Ingin pergi sendiri, kok 
> rasanya berdosa ya, apalagi kalau suami tidak ridho. Lalu apa kata keluarga 
> besar kalau saya titipkan suami pada mertua, sebab kami belum berumah 
> sendiri. Lagipula saya merasa hampa kalau tidak ada suami, karena saya ingin 
> sekali membagi apa yang saya lihat dan rasakan di perjalanan bersamanya. Tapi 
> apa daya, bahkan tujuan yang dekat-dekat kota tempat tinggal saja tidak 
> diperkenankan. Rasanya kepala ini mau mendidih kelelahan.

> 
> Rasanya seperti orang patah hati, sedih berkepanjangan. Pernikahan tidak 
> pernah disesali, tapi sedihnya tetap melekat di hati. Tidak bisa juga 
> menyalahkan suami sepenuhnya, sebab pertimbangannyapun tidak salah. Betapa 
> berat rasanya membaca artikel2 tentang keindahan nusantara, sementara entah 
> kapan saya bisa menjajakinya.
> 
>

Kirim email ke