Saya sangat setuju dengan pendapat Made. Mestinya, wisata yang kita kembangkan 
harus melibatkan masyarakat dan menonjolkan sisi lain dari kehidupan masyarakat 
itu, bukan sisi wisatanya semata.
sementara ini, perkembangan wisata di Pulau Tidung sendiri sudah menunjukkan 
adanya keka\hawatiran di kalangan sebagian masyarakat mengenai dampaknya. 
Misalnya, ada sebagian masyarakat yng mempertanyakan cara berpakaian para 
[pengunjung yg kuirang patut dipandang dari sisi norma masyarakat pulau yg 100% 
muslim.
Kalau masalah kepemilikan tanah, sudah sejak awal 90-an 50% tanah di Pulau 
Tidung sudah duijual ke Orang-orang kaya di Jakarta.
Makanya saya juga khawatir, jika perkembangan Pulau Tidung terlalu pesat, 
bisa-bisa tanah-tanah yang sekarang sudah dikuasai orang Jakarta bisa berubah 
jadi villa dan dipagari. Akibatnya masyarakat sendiri tidak bisa menikmati alam 
di pualaunya sendiri.
Karena itu, keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama serta pelaku wisata 
sangat diperlukan.
Terima kasih.



--- On Sat, 12/12/09, Made Sutawijaya <[email protected]> wrote:

From: Made Sutawijaya <[email protected]>
Subject: Re: Pulau Tidung ya....Re: [indobackpacker] gelombang kepulauan 
seribu-desember
To: [email protected]
Date: Saturday, 12 December, 2009, 2:25 PM







 



  


    
      
      
      Hallo semua,

Saya menikmati tulisan Bang Adolf, two thumbs :-). Pulau Tidung rasanya perlu 
sebuah badan otorita pengelola, yang terdiri dari tokoh2 masyarakat, tokoh 
adat, pemda dan orang yang profesional terutama di bidang pariwisata dan 
lingkungan. Sehingga semua terkontrol dengan baik. Penting mengenalkan aspek 
pariwisata secara menyeluruh, jangan kebablasan seperti daerah lain (Bali salah 
satunya), paling tidak masterplannya ditata bukan saja di bidang teknis wilayah 
tapi pembekalan mental bagi penduduk setempat. Untuk mengurangi efek seperti 
ini umpamanya, andai sebuah tempat pariwisatanya sudah mulai merangkak baik, 
akan mulai banyak serbuan investor berdatangan, dan kemudian kalau kebablasan 
akan banyak lahan berpindah pemilikan... .....dan kemudian semakin parah adalah 
masyarakat asli akan menjadi kuli di rumahnya sendiri. 



Investor luar penting, tapi akan lebih baik kalau masyarakat lokal sebagai 
investor di rumahnya sendiri. Akan lebih bagus lagi kalau sektor pariwisata 
adalah tetap menjadi sektor pendukung, bukan sektor utama, seperti Pulau Tidung 
mungkin sektor kelautannya yang tetap ditonjolkan. Karena kalau sektor 
pariwisata terlalu menonjol, akan berat efeknya kalau dunia pariwisata 
tiba-tiba bermasalah. Menurut saya berwisata ke suatu tempat dengan lingkungan 
keseharian kehidupan masyarakat akan lebih baik daripada pariwisata yang 
seolah-olah diciptakan.



Nah, begitu menurut saya, dan semoga berguna.



salam,

made



----- Original Message ----- 

  From: Enny.Sudarmanto@ gsk.com 

  To: Adolf Izaak 

  Cc: cokelatbiru@ gmail.com ; Indo backpacker ; Novianti, Ika ; ridwan malik 

  Sent: Friday, December 11, 2009 5:54 PM

  Subject: Re: Pulau Tidung ya....Re: [indobackpacker] gelombang kepulauan 
seribu-desember



Dear all,

  Sangat setuju atas semua saran yang disampaikan oleh Adolf

  Kalau semua warga negara seperti Adolf yang peduli dan ingin mengembangkan 

  potensi pulau2 di Indonesia saya yakin keindahan dan kenyamanan pulau2 di 

  Indonesia akan membuat iri bangsa lain. Terimakasih Adolf yg sudah sharing 

  pengalaman dan pengetahuan nya, semoga membuka wawasan kita2 yg minim 

  pengetahuan mengenai hal ini

  Marilah kita jaga dan kita optimalkan aset pemberian Tuhan YME di tanah 

  air kita.



Tks n rgds,

  Enny Sudarmanto





    
     

    
    


 



  






      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke