Dear Iid; Untungnya selama melakukan perjalanan, perut saya selalu berdamai dengan bakteri dan rempah-rempah setempat.
Justru pengalaman rohaniah yang saya alami adalah sewaktu naik mikrolet M01, jurusan Kp Melayu- Senen, macet didaerah jatinegara, pagi2, penumpang penuh, dan sakit perut! yang lebih parahnya, sulit untuk dibedakan antara fasa gas, padat, atau cair! Saya cuma bisa bilang dalam hati;"Inilah rupanya dasar dari segala dasar piramida Maslow..." Buku petunjuk perjalanan menyarankan selain membawa carbon active (sejenis Norit atau Diatabs) yang perlu juga dibawa adalah IMODIUM. Carbon active untuk menetralisir racun2 diperut, imodium membantu menenangkan aktifitas usus sehingga mengurangi kebutuhan atas kamar kecil. Semoga membantu. Tabik; Puguh --- In [email protected], iid satria <iidsat...@...> wrote: > > Syarat mutlak sebelum travelling yang diminta dari ibu setelah doa > adalah obat mencret. Hal sepele mungkin, tapi berkali kali mendatangi > tempat baru, saya selalu menemukan masalah dengan makanan dan perut. > mungkin gara gara 26 tahun hidup di Bandung yang makanannya "ramah" > dengan perut dan lidah saya. Di Lombok, saya dibawa seorang teman untuk > mencicipi makanan khas Lombok, dia bilang sih gakan nemu ditempat lain. > namanya nasi puyuh, herannya saya ga nemu telor puyuh di sana!isinya > cuma nasi, ayam suwir, kacang goreng, sambal dan air putih satu teko. > satu-dua suap ga ada masalah, setelah itu bukan bukan hanya lidah saya > yang kebakar!air mata mulai keluar, ingus meler, keringat bercucuran > bahkan telinga jadi budek!!busyeet pedesnya bukan maen deh!setengah > piring belum habis, 3 gelas air udah ludes. Bahkan 1 jam setelah makan > perut masih anget rasanya dan malemnya buang buang air sampe pantat > pedes!! > >
