Klo masalah sakit perut saya punya beberapa kisah tapi yang satu ini wajib saya 
ceritakan :)

Pernah menonton film "Punk in Love" ya hampir saja saya melakukannya karena ga 
tahan banget :)
semua itu karena 2 hari penuh hanya makan mie instan, dan perjalanan hampir 3 
hari menyusuri pantai dari Garut ke tasik, ketika pulang perut mulai mengamuk 
dan panggilan alam sudah tak tertahan. sialnya kenapa saya pernah menonton film 
itu ya jadi terbesit niat buat mencontohnya hehehe. 

Untung bus berhenti di Pomp Bensin langsung saya kabur keluar menyelamatkan 
diri, masih terbayang wajah kernet yang harus menunggui saya diluar toilet 
sambil berteriak kesal karena bus mau berangkat.

obat-obatan yang sepertinya wajib di bawa adalah carbon active, minyak angin, 
tolak angin, obat merah, sun block dll semua dikondisikan dengan tujuan juga.

-al-


________________________________
From: Puguh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, March 2, 2010 10:41:19 AM
Subject: [indobackpacker] Re: sharing obat2an penting saat travelling. Ada yg 
punya pengalaman sama?

   

Dear Iid;

Untungnya selama melakukan perjalanan, perut saya selalu berdamai dengan 
bakteri dan rempah-rempah setempat.

Justru pengalaman rohaniah yang saya alami adalah sewaktu naik mikrolet M01, 
jurusan Kp Melayu- Senen, macet didaerah jatinegara, pagi2, penumpang penuh, 
dan sakit perut! yang lebih parahnya, sulit untuk dibedakan antara fasa gas, 
padat, atau cair! 

Saya cuma bisa bilang dalam hati;"Inilah rupanya dasar dari segala dasar 
piramida Maslow..."

Buku petunjuk perjalanan menyarankan selain membawa carbon active (sejenis 
Norit atau Diatabs) yang perlu juga dibawa adalah IMODIUM. Carbon active untuk 
menetralisir racun2 diperut, imodium membantu menenangkan aktifitas usus 
sehingga mengurangi kebutuhan atas kamar kecil.

Semoga membantu.

Tabik;
Puguh

--- In indobackpacker@ yahoogroups. com, iid satria <iidsat...@. ..> wrote:
>
> Syarat mutlak sebelum travelling yang diminta dari ibu setelah doa
> adalah obat mencret. Hal sepele mungkin, tapi berkali kali mendatangi
> tempat baru, saya selalu menemukan masalah dengan makanan dan perut.
> mungkin gara gara 26 tahun hidup di Bandung yang makanannya "ramah"
> dengan perut dan lidah saya. Di Lombok, saya dibawa seorang teman untuk
> mencicipi makanan khas Lombok, dia bilang sih gakan nemu ditempat lain.
> namanya nasi puyuh, herannya saya ga nemu telor puyuh di sana!isinya
> cuma nasi, ayam suwir, kacang goreng, sambal dan air putih satu teko.
> satu-dua suap ga ada masalah, setelah itu bukan bukan hanya lidah saya
> yang kebakar!air mata mulai keluar, ingus meler, keringat bercucuran
> bahkan telinga jadi budek!!busyeet pedesnya bukan maen deh!setengah
> piring belum habis, 3 gelas air udah ludes. Bahkan 1 jam setelah makan
> perut masih anget rasanya dan malemnya buang buang air sampe pantat
> pedes!!
> 
> 


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke