hi all.. Bagaimana dengan pengalaman rekan-rekan, rasa-rasanya cukupkah trip dua tiga hari memberi suatu efek positif yang luar biasa bagi diri kita masing2 dan bisa diaplikasikan ke tempat kerja atau ke kehidupan sebenarnya?
pertanyaan menarik.. sy pernah punya pengalaman yg menurut sy menarik, di perjalanan yg paling singkat yg pernah sy lakukan dan sy menamainya wisata kilat..seperti biasa acara jalan2 sy selalu memanfaatkan dinas kantor karena libur yg bener2 libur hanya setahun sekali itupun hanya 12 hari kerja.. kebetulan saat itu ada kerjaan di jkt yg selesainya hari jumat dan tiket balik ke batam hari minggu..jadi sy msh punya 2 hari yg bisa dimanfaatkan untuk jalan...dan akhirnya memutuskan berwisata kilat ke kawah putih dan sekitarnya yg lumayan deket dr jkt..yg "menarik" bukan tempat yg sy tuju (sy tdk bilang kawah putih tdk menarik he)..yg memberikan pelajaran itu selama perjalanan pulang pergi.. jumat sore..setelah urusan kerjaan selesai sy langsung mengepak karena hari sdh sore jadi sy memutuskan naik bus ke baranang siang, dari baranang siang ganti bus lagi dgn tujuan leuwi panjang melewati jalur puncak yg mnyuguhi pemandangan yg bagus dan villa2 yg mewah.. "gila..villanya keren2..pagarnya aja seharga dengan rumahku..kapan ya punya rumah semewah itu..huuuff" itu kata sy di dalam hati..setelah itu sy membayangkan yg indah2..seandai rmhku semewah itu, dan terus2 sj membanding2kan semua rumah mewah yg sy lewati..membandingkan bagian mana dr rmh itu yg seharga dgn rumah sy...atapnyakah, pagarnyakah, terasnyakah, gazebonyakah.. sabtu sore..karena sy belum pernah naik kereta jd pulangnya sy memutuskan untuk naik kereta api...kita tau bgmn kondisi2 rmh disisi2 rel kereta yg lantainya mungkin msh tanah, atapnya daun rumbia, dindingnya papan bahkan ada rmh yg trbuat dari kardus..sy langsung tringat dgn villa2 di puncak yg sy lalui semalam...jgnkan membanding dgn harga pagarnya..mungkin rmh2 disisi rel kereta itu hanya seharga dgn satu tanaman bonsai di halaman villa2 itu.. entah saat itu semua rasa bercampur aduk terenyuh, miris, malu, bersyukur..yg jelas selama perjalanan pulang sy tdk bisa tidur, hanya merenung dan sesekali menitikkan airmata..betapa beruntungnya sy yg tidak menghargai apa yg sy miliki, betapa beruntungnya sy yg selalu merasa kekurangan.. saat itu hanya bs berucap..astaghfirullah..alhamdulillah.. astaghfirullah krn trlalu banyak mengeluh dan meminta...alhamdulillah untuk apapun yg sy miliki... ini pelajaran besar untuk hidup sy..disadarkan dan diajarkan oleh sesuatu yg tdk bisa bicara... wassalam, lidya ________________________________ From: R. Heru Hendarto <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, 2 July, 2010 10:07:05 Subject: [indobackpacker] Efek Short Traveling ke Pekerjaan..? Dear Temans, Frekuensi travelling, seberapa seringnya itu, apakah dua minggu sekali, sebulan sekali atau setahun dua kali seharusnya membawa efek baik bagi kita dalam hal-hal lain, terutama pekerjaan. Nilai-nilai kebaikan yang didapat seperti : menghargai uang, menghargai orang dan perbedaan pendapat, menghargai waktu dan keindahan alam harusnya dapat diaplikasikan (secara sadar atau tidak sadar) saat kita bekerja sehingga membangun hal-hal positif dan memberi kontribusi terhadap perjalanan karir. Well, benarkah? Saya kira tidak segampang dan segamblang begitu efeknya. Saya sudah berkali-kali travelling-backpacking di week end (berangkat Jumat malam, kembali Minggu malam), dan saya rasa pengalaman yang saya dapat kurang cukup kuat untuk mengubah saya dan cara menghadapi pekerjaan yang sudah bertahun-tahun dijalani dengan pola yang sama. Okay, efek yang langsung terasa adalah saya jadi sering didaulat jadi tukang foto acara kantor :) atau teman-teman sering kagum ama cerita keindahan lokasi yang sebenarnya dekat sekali dari Jakarta tapi tak pernah mereka sentuh. Terus apakah tiba-tiba sering travelling di week end dapat mengubah saya menjadi sedikit bijak, menghadapi masalah di pekerjaan secara komprehensif dan tepo seliro? Tidak, sama sekali tidak, karena yang saya dapatkan untuk week end travelling hanya 'capek-capek seneng' plus sedikit bangkrut he he. Jadi, modal dua hari travelling bagi saya tidak cukup lama untuk membuat saya berubah. Durasinya terlalu pendek dan faktor experiencing di dalamnya terlalu dangkal. Yah, kan dua hari trip itu isinya fun dan fun saja. Transportasi tersedia banyak, akomodasi bejibun-apalagi dah booking sebelumnya, duit penuh di kantong, kalo pun keabisan duit masih bisa nodong teman atau lari ke ATM. Sinyal hape full, bisa update FB, chatting, tilpan tilpun sana sini.., so, positive experience yang di dapat apa? Paling sial ketemu calo, atau dikadalin supir angkutan minta nambah ongkos, atau malah kesal gara2 nunggu supir yang telat (dan teman yang telat-nah lho, sapa bilang banyak travelling jadi membuat orang menghargai waktu?). Saya pribadi, banyak memperoleh hal-hal positif dan saya aplikasikan di tempat kerja di saat melakukan travelling (baik pribadi atau tugas kantor ke daerah) dalam jangka waktu panjang (lets say minimal seminggu). Tertahan di suatu kota kecil karena ferry yang akan dinaiki tertunda 3 hari karena naik dok mendadak atau ombak yang terlalu besar sehingga terpaksa menaiki ketinting berjam-jam lamanya basah kuyup dihajar ombak laut dan hujan akan membuat kita lebih menghargai waktu, alam dan profesi si tukang ketinting. Terpaksa kembali lagi ke kota terdekat padahal harus menempuh perjalanan buruk semalaman lamanya darat dan laut karena di kota tujuan kita tidak ada ATM sehingga harus menyediakan stok cash banyak membuat kita lebih menghormati nilai uang, dan menuntut saya untuk membuat itinerary berdasar informasi yang matang. Travelling bersama teman, di lokasi yang berat, kehujanan bersama, kehabisan logistik bersama, sampai jatuh sakit parah bersama membuat saya lebih menghargai teman dan peranan seorang teman dalam kehidupan dan pekerjaan. Ditempeli parang di dada dan dikepung ratusan orang bersenjata berteriak garang penuh emosi memaksa saya untuk selalu melihat masalah dari dua sisi, sisi saya dan mereka. Positive experience juga saya rasa besar efeknya dialami oleh orang2 yang tinggal di luar negeri dalam waktu lama. Berhadapan dengan kultur yang berbeda, tipikal warga yang berbeda, kondisi alam yang sama sekali lain dalam waktu tahunan pastilah akan signifikan mengubah pribadi orang tersebut. Lah, saya tidak bisa membayangkan jika harus setiap hari berbicara bahasa Inggris, wong bicara 3 jam aja lidah udah rasanya pahit, blah, he he. Itu baru kendala bahasa ,belum kendala lain yang lebih nyata yang mau tidak mau harus dihadapi di negeri orang. Bagaimana dengan pengalaman rekan-rekan, rasa-rasanya cukupkah trip dua tiga hari memberi suatu efek positif yang luar biasa bagi diri kita masing2 dan bisa diaplikasikan ke tempat kerja atau ke kehidupan sebenarnya? Salam, RHH Note : Paparan di atas ini hanya ditarik oleh pengalaman pribadi tanpa didukung data ilmiah. Penarikan kesimpulan juga subyektif dari diri sendiri tanpa ada campur tangan ilmu psikologi di situ. -- ------------------------------------------------------- Kabaena Site, Exploration Camp-South 5 deg 26 min 15.67 sec/East 122 deg 01 min 10.56 sec YM : heru_hendarto [Non-text portions of this message have been removed]
