kalau tiap akhir minggu harus travelling, kantong bolong, hari senin ( although I dont like Monday) ngos-ngos an.
saya sih jalan-jalan dua kali setahun- agak lama ( minimal seminggu) dan jauh. Ada pengaruhnya ? ada dong, lebih fresh aja, mata dan hati terbuka dengan orang lain di tempat berbeda. kalau nggak terpaksa nggak mo weekend travelling. weekend itu diisi : nonton film, bongkar lemari ( susunan baju awut2an) bongkar kebun ( tanaman diatur lagi), arisan, nongkrong bareng, beresin kerjaan yang nggak pernah selesai atau tidur. boleh juga weekend travelling, ada syaratnya : jemput, tempat dan makanannya sedap (minimal bintang tiga) dan kalau bisa gratis. ( *gue udah lelah seminggu : eh disuruh lagi tidur di tenda on the weekend, cape' deh*) pmm On 7/2/10, R. Heru Hendarto <[email protected]> wrote: > > > > Dear Temans, > > Frekuensi travelling, seberapa seringnya itu, apakah dua minggu > sekali, sebulan sekali atau setahun dua kali seharusnya membawa efek > baik bagi kita dalam hal-hal lain, terutama pekerjaan. Nilai-nilai > kebaikan yang didapat seperti : menghargai uang, menghargai orang dan > perbedaan pendapat, menghargai waktu dan keindahan alam harusnya dapat > diaplikasikan (secara sadar atau tidak sadar) saat kita bekerja > sehingga membangun hal-hal positif dan memberi kontribusi terhadap > perjalanan karir. Well, benarkah? > > Saya kira tidak segampang dan segamblang begitu efeknya. Saya sudah > berkali-kali travelling-backpacking di week end (berangkat Jumat > malam, kembali Minggu malam), dan saya rasa pengalaman yang saya dapat > kurang cukup kuat untuk mengubah saya dan cara menghadapi pekerjaan > yang sudah bertahun-tahun dijalani dengan pola yang sama. Okay, efek > yang langsung terasa adalah saya jadi sering didaulat jadi tukang foto > acara kantor :) atau teman-teman sering kagum ama cerita keindahan > lokasi yang sebenarnya dekat sekali dari Jakarta tapi tak pernah > mereka sentuh. Terus apakah tiba-tiba sering travelling di week end > dapat mengubah saya menjadi sedikit bijak, menghadapi masalah di > pekerjaan secara komprehensif dan tepo seliro? Tidak, sama sekali > tidak, karena yang saya dapatkan untuk week end travelling hanya > 'capek-capek seneng' plus sedikit bangkrut he he. > > Jadi, modal dua hari travelling bagi saya tidak cukup lama untuk > membuat saya berubah. Durasinya terlalu pendek dan faktor experiencing > di dalamnya terlalu dangkal. Yah, kan dua hari trip itu isinya fun dan > fun saja. Transportasi tersedia banyak, akomodasi bejibun-apalagi dah > booking sebelumnya, duit penuh di kantong, kalo pun keabisan duit > masih bisa nodong teman atau lari ke ATM. Sinyal hape full, bisa > update FB, chatting, tilpan tilpun sana sini.., so, positive > experience yang di dapat apa? Paling sial ketemu calo, atau dikadalin > supir angkutan minta nambah ongkos, atau malah kesal gara2 nunggu > supir yang telat (dan teman yang telat-nah lho, sapa bilang banyak > travelling jadi membuat orang menghargai waktu?). > > Saya pribadi, banyak memperoleh hal-hal positif dan saya aplikasikan > di tempat kerja di saat melakukan travelling (baik pribadi atau tugas > kantor ke daerah) dalam jangka waktu panjang (lets say minimal > seminggu). Tertahan di suatu kota kecil karena ferry yang akan > dinaiki tertunda 3 hari karena naik dok mendadak atau ombak yang > terlalu besar sehingga terpaksa menaiki ketinting berjam-jam lamanya > basah kuyup dihajar ombak laut dan hujan akan membuat kita lebih > menghargai waktu, alam dan profesi si tukang ketinting. Terpaksa > kembali lagi ke kota terdekat padahal harus menempuh perjalanan buruk > semalaman lamanya darat dan laut karena di kota tujuan kita tidak ada > ATM sehingga harus menyediakan stok cash banyak membuat kita lebih > menghormati nilai uang, dan menuntut saya untuk membuat itinerary > berdasar informasi yang matang. Travelling bersama teman, di lokasi > yang berat, kehujanan bersama, kehabisan logistik bersama, sampai > jatuh sakit parah bersama membuat saya lebih menghargai teman dan > peranan seorang teman dalam kehidupan dan pekerjaan. Ditempeli parang > di dada dan dikepung ratusan orang bersenjata berteriak garang penuh > emosi memaksa saya untuk selalu melihat masalah dari dua sisi, sisi > saya dan mereka. > > Positive experience juga saya rasa besar efeknya dialami oleh orang2 > yang tinggal di luar negeri dalam waktu lama. Berhadapan dengan kultur > yang berbeda, tipikal warga yang berbeda, kondisi alam yang sama > sekali lain dalam waktu tahunan pastilah akan signifikan mengubah > pribadi orang tersebut. Lah, saya tidak bisa membayangkan jika harus > setiap hari berbicara bahasa Inggris, wong bicara 3 jam aja lidah udah > rasanya pahit, blah, he he. Itu baru kendala bahasa ,belum kendala > lain yang lebih nyata yang mau tidak mau harus dihadapi di negeri > orang. > > Bagaimana dengan pengalaman rekan-rekan, rasa-rasanya cukupkah trip > dua tiga hari memberi suatu efek positif yang luar biasa bagi diri > kita masing2 dan bisa diaplikasikan ke tempat kerja atau ke kehidupan > sebenarnya? > > Salam, > > RHH > > Note : Paparan di atas ini hanya ditarik oleh pengalaman pribadi tanpa > didukung data ilmiah. Penarikan kesimpulan juga subyektif dari diri > sendiri tanpa ada campur tangan ilmu psikologi di situ. > > -- > ------------------------------------------------------- > Kabaena Site, Exploration Camp-South 5 deg 26 min 15.67 sec/East 122 > deg 01 min 10.56 sec > > YM : heru_hendarto > > [Non-text portions of this message have been removed]
