Dear all,
Kalau saya sendiri sich weekend traveling cukup membuka mata saya akan indahnya
alam indonesia,membantu saya untuk introspeksi diri dalam ini berusaha untuk g
panik,dkk)
Titi
^_^
"人算不如天算“
-----Original Message-----
From: "R. Heru Hendarto" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 2 Jul 2010 11:07:05
To: <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Efek Short Traveling ke Pekerjaan..?
Dear Temans,
Frekuensi travelling, seberapa seringnya itu, apakah dua minggu
sekali, sebulan sekali atau setahun dua kali seharusnya membawa efek
baik bagi kita dalam hal-hal lain, terutama pekerjaan. Nilai-nilai
kebaikan yang didapat seperti : menghargai uang, menghargai orang dan
perbedaan pendapat, menghargai waktu dan keindahan alam harusnya dapat
diaplikasikan (secara sadar atau tidak sadar) saat kita bekerja
sehingga membangun hal-hal positif dan memberi kontribusi terhadap
perjalanan karir. Well, benarkah?
Saya kira tidak segampang dan segamblang begitu efeknya. Saya sudah
berkali-kali travelling-backpacking di week end (berangkat Jumat
malam, kembali Minggu malam), dan saya rasa pengalaman yang saya dapat
kurang cukup kuat untuk mengubah saya dan cara menghadapi pekerjaan
yang sudah bertahun-tahun dijalani dengan pola yang sama. Okay, efek
yang langsung terasa adalah saya jadi sering didaulat jadi tukang foto
acara kantor :) atau teman-teman sering kagum ama cerita keindahan
lokasi yang sebenarnya dekat sekali dari Jakarta tapi tak pernah
mereka sentuh. Terus apakah tiba-tiba sering travelling di week end
dapat mengubah saya menjadi sedikit bijak, menghadapi masalah di
pekerjaan secara komprehensif dan tepo seliro? Tidak, sama sekali
tidak, karena yang saya dapatkan untuk week end travelling hanya
'capek-capek seneng' plus sedikit bangkrut he he.
Jadi, modal dua hari travelling bagi saya tidak cukup lama untuk
membuat saya berubah. Durasinya terlalu pendek dan faktor experiencing
di dalamnya terlalu dangkal. Yah, kan dua hari trip itu isinya fun dan
fun saja. Transportasi tersedia banyak, akomodasi bejibun-apalagi dah
booking sebelumnya, duit penuh di kantong, kalo pun keabisan duit
masih bisa nodong teman atau lari ke ATM. Sinyal hape full, bisa
update FB, chatting, tilpan tilpun sana sini.., so, positive
experience yang di dapat apa? Paling sial ketemu calo, atau dikadalin
supir angkutan minta nambah ongkos, atau malah kesal gara2 nunggu
supir yang telat (dan teman yang telat-nah lho, sapa bilang banyak
travelling jadi membuat orang menghargai waktu?).
Saya pribadi, banyak memperoleh hal-hal positif dan saya aplikasikan
di tempat kerja di saat melakukan travelling (baik pribadi atau tugas
kantor ke daerah) dalam jangka waktu panjang (lets say minimal
seminggu). Tertahan di suatu kota kecil karena ferry yang akan
dinaiki tertunda 3 hari karena naik dok mendadak atau ombak yang
terlalu besar sehingga terpaksa menaiki ketinting berjam-jam lamanya
basah kuyup dihajar ombak laut dan hujan akan membuat kita lebih
menghargai waktu, alam dan profesi si tukang ketinting. Terpaksa
kembali lagi ke kota terdekat padahal harus menempuh perjalanan buruk
semalaman lamanya darat dan laut karena di kota tujuan kita tidak ada
ATM sehingga harus menyediakan stok cash banyak membuat kita lebih
menghormati nilai uang, dan menuntut saya untuk membuat itinerary
berdasar informasi yang matang. Travelling bersama teman, di lokasi
yang berat, kehujanan bersama, kehabisan logistik bersama, sampai
jatuh sakit parah bersama membuat saya lebih menghargai teman dan
peranan seorang teman dalam kehidupan dan pekerjaan. Ditempeli parang
di dada dan dikepung ratusan orang bersenjata berteriak garang penuh
emosi memaksa saya untuk selalu melihat masalah dari dua sisi, sisi
saya dan mereka.
Positive experience juga saya rasa besar efeknya dialami oleh orang2
yang tinggal di luar negeri dalam waktu lama. Berhadapan dengan kultur
yang berbeda, tipikal warga yang berbeda, kondisi alam yang sama
sekali lain dalam waktu tahunan pastilah akan signifikan mengubah
pribadi orang tersebut. Lah, saya tidak bisa membayangkan jika harus
setiap hari berbicara bahasa Inggris, wong bicara 3 jam aja lidah udah
rasanya pahit, blah, he he. Itu baru kendala bahasa ,belum kendala
lain yang lebih nyata yang mau tidak mau harus dihadapi di negeri
orang.
Bagaimana dengan pengalaman rekan-rekan, rasa-rasanya cukupkah trip
dua tiga hari memberi suatu efek positif yang luar biasa bagi diri
kita masing2 dan bisa diaplikasikan ke tempat kerja atau ke kehidupan
sebenarnya?
Salam,
RHH
Note : Paparan di atas ini hanya ditarik oleh pengalaman pribadi tanpa
didukung data ilmiah. Penarikan kesimpulan juga subyektif dari diri
sendiri tanpa ada campur tangan ilmu psikologi di situ.
--
-------------------------------------------------------
Kabaena Site, Exploration Camp-South 5 deg 26 min 15.67 sec/East 122
deg 01 min 10.56 sec
YM : heru_hendarto
[Non-text portions of this message have been removed]