Sebenarnya kalau kita bisa memaksimalkan kuantitas dan kualitas dalam 
perjalanan tersebut sangat luar  biasa. Apalagi dalam kunjungan tempat yang 
sebelumnya belum pernah dikunjungi.

Seperti yang saya lakukan kemarin. Saya on the show melakukan traveling. Dalam 
enam hari saya melakukan solo backpacker di 5  pulau. Kalimantan, jawa, bali, 
lombok, dan gili trawangan.

Meskipun dalam waktu relatif singkat, banyak hal "nice story" terjadi pada saat 
di perjalanan. Yang harusnya Travel Itenary saya buat sedemikian rupa, ternyata 
banyak meleset dari perkiraan.

Ketika saya kesulitan mencari teman di Trawangan, ternyata ada bule Holland 
yang  ternyata se-almamater  dengan saya. Atau, di bali saya bertemu dengan 
saudara jauh yang mengantarkan saya ke Padang Bai saat subuh-subuh.

Jika banyak cerita menarik dan sangat berguna  yang bisa kita sampaikan ke 
teman ataupun di blog, itulah kualitas. Jika banyak dokumentasi perjalanan yang 
anda bisa sharing  di jejaring sosial itulah kuantitas.



Salam,


Travel Engineer






Sent from my BlackPhone®
powered by Indosat coy..

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sun, 25 Jul 2010 07:13:27 
To: Ambar Briastuti<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas

Niimrung ah...



Bener kata Ambar...pergi ke banyak negara..tempat wisata..tapi gak tau 
prosesnya itu sih namanya emang niat gak mau repot (tp balik lg ke orangnya krn 
sebagian org emang pengen bayar trus terima beres spt ikut tour and travel)



buat saya...dengan backpacking tidak harus jalan2 keluar negri 
sebanyak2nya...tp justru dr sisi pertama kali tujuan kita mau kemana? Naik apa? 
Misi ke sana tujuannya apa? Penghitungan budget utk transportasi,makan,hostel 
yg bener2 hrs di minimalisir..krn menurut sy backpacking itu = low budget 
travelling...



Saya aja kalo di hitung udh brp byk pergi keluar negri...sy ingat cuma 2x...tp 
kalo di tanya udh pergi berapa banyak ke pantai2 yg ada di indonesia? Saya akan 
blg..gak pernah hitung...mungkin lebih dr 50x di seluruh 
sumatra,jawa,kalimantan,bali...dlm 2 thn terakhir ini...



Habiskan uang? Tentu...menyesal ? Sangat tidak menyesal...karena udh hobby dan 
sepertinya udh mendarah daging (lebaaayy) demi menghabiskan uang yg memang tdk 
sedikit...



So...the point is..What u see is What u get...dan itu worth it bgt sama apa yg 
saya dapatkan...dan balik lg ke diri kita masing2...visi dan misi kita dengan 
backpacking beserta effect yg kita dpt saat mengunjungi tmp destinasi dan 
setelah itu imbasnya apa? Yg pasti bisa share sm teman2 kita kalo travelling ga 
harus keluar duit banyak :)



Happy Travelling





Thejapra





Sent from my BlackBerry®

powered by Sinyal Kuat INDOSAT



-----Original Message-----

From: Ambar Briastuti <[email protected]>

Sender: [email protected]

Date: Sat, 24 Jul 2010 23:35:39 

To: <[email protected]>

Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas



Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak

kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah

menghitung."



Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur

seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia

mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan

bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak

pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang

backpacker?



Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal.

Saya pernah bertanya  pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia

membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini

membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama

teman. Saya cuman ngikut ajah."



Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu

apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer?

Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi

mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau

memahami kearifan budaya Baduy?



Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu

yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar

di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya

masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang

mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian.



Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin

jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan

mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah

yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan

dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke

sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam

ke destinasi lain.



***



Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil.

Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena

seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu

negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus.



Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi

yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk

melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan

kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang

travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu

lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung.



Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang

kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika

udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan

seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji,

uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling

itu sendiri.



Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak

negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga

mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak

tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi

atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses

traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita

tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat

undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati

pertunjukkan.



Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu.

Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan

pribadi.  Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan

itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai

uang.



Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu.







Salam,

Ambar





[Non-text portions of this message have been removed]







[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Kunjungi website IBP:
http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong: 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: 
[email protected]

Yahoo! Groups Links





------------------------------------

Kunjungi website IBP:
http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong: 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke