Dear All, Saya setuju banget dengan Louise Juan, kata "mengukur" akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang akan bersifat kompetitif (jika kita tidak hati2 menyikapinya)
berapa dan bagaimana sebuah traveling kepuasan atau tidak puasnya itu hanya yang bersangkutan yang mengalami, bahkan dalam sebuah perjalanan group - dari seluruh pesertanya pasti tingkat kepuasanya tidak bisa dikatakan sama ( ex: kepuasan = ukuran dari kualitas;) Namun saya pribadi ada beberapa harapan dari Traveling dan manusia2 yang berkegiatan traveling, setidaknya 1) menambah wawasan, bahwa dunia ini tidak sempit, banyak hal baik dan buruk terjadi di dunia ini sehingga kita bisa 2) belajar menjadi manusia yang lebih baik - menambah rasa syukur dan punya 3) tenggang rasa yang lebih karena kesendirian dan kebersamaan pada perjalanan tersebut punya makna, setidaknya kita bisa lepas dari rutinitas yang pada akhirnya dapat 4) melegakan pikiran dan hati kita, yang ujungnya kita bisa fresh dan kembali ke rutinitas dengan lebih produktif,... ahahaha kok jadi Lebay,.. udah ah, Cheers, salam jalan-jalan --- On Tue, 7/27/10, Louise Juan <[email protected]> wrote: From: Louise Juan <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Re: Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas To: "sesilia susi" <[email protected]>, [email protected], [email protected] Date: Tuesday, July 27, 2010, 12:09 AM Kalau menurut saya travelling tidak bisa diukur dengan ukuran yang pasti, wong orangnya beda, pasti motivasi beda, tata cara beda, budget beda, dan seabrek-abrek perbedaan yang lainnya. Kita sebagai manusia sudah terbiasa mengukur segala sesuatu demi suatu ukuran pencapaian.. Kualitas sama kuantitas ibarat pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan hanya sebatas dinikmati oleh pribadi orang itu sendiri.. ada teman saya , yg jarang pergi2, bagi dia sekali atau dua kali pergi dalam setahun itu sudah berkah.. apakah itu bisa disebut berkualitas atau dibilang tidak berkuantitas?? saya sendiri dulu hampir sebulan dua atau tiga kali, bahkan teman saya ada yg tiap minggu jalan. apakah itu bisa disebut berkuantitas dan tidak berkualitas?? masing-masing perjalanan adalah pengalaman pribadi orang itu sendiri.. yg hny bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang itu pribadi, baik dari gaya jalan2nya yg super irit setengah ngenes.. atau mewah super nyaman.. mau sering atau jarang sekalipun. bukan suatu ukuran bagi saya. yang tau kualitas dan kuantitas perjalanan itu bukan orang lain tetapi balik ke diri sendiri. apakah dengan travelling menambah teman, menambah pengetahuan, menambah rasa peduli sosial, memperkaya sudut pandang atau kah hanya bersenang-senang, melepas penat, kejenuhan, dan pelarian atau sekedar menghabiskan waktu dan uang bahkan tidak jarang travelling demi mencari pacar... .. bagi saya pribadi itu semua adalah warna hidup yang tidak bisa diukur karena kadang kita travelling demi tujuan yang beragam dengan alasan pribadi hati masing2 spt di atas diliat aja yg mana yg lebih dominan. yang terpenting bukan pengukuran suatu hal.. karena semua hal yang kita lakukan dalam hidup itu harusnya berkualitas dan tidak usah menghitung kuantitas karena dengan mengukur kuantitas akan menyebabkan manusia merasa sombong dan angkuh.. Berusaha melihat hal dari sisi yang tidak dikotak-kotakan... (pure without label n measurement) peace, Lj "Prejudice is a burden that confuses the past, threatens the future and renders the present inaccessible" by Maya Angelou [Non-text portions of this message have been removed]
