Mbak Ambar; Beberapa minggu lalu saya menemukan istilah yang buat saya merangkum observasi saya: Conspicuous consumption(http://en.wikipedia.org/wiki/Conspicuous_consumption)... apa bahasa ngapak-nya??
Travelling salah salah satu cara mudah menjadi wahana "Conspicuous consumption". Di dunia hobby lain juga saya perhatikan sering ada garis tipis antara mereka yang memang menekuni hobby sebagai 'panggilan jiwa', atau hanya karena hobby tersebut membantu menjelaskan status sosial. Sisi baiknya; envy sells; rasa iri itu menjual. Dan Decartes harus merevisi pernyataan 'I think therefore I am', menjadi 'I buy therefore I am'. Tabik; Puguh --- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote: > > > Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi > yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk > melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan > kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang > travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu > lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung. > > Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang > kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika > udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan > seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, > uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling > itu sendiri. > > Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak > negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga > mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak > tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi > atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses > traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita > tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat > undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati > pertunjukkan. >
