Kalau menurut saya travelling tidak bisa diukur dengan ukuran yang pasti, wong orangnya beda, pasti motivasi beda, tata cara beda, budget beda, dan seabrek-abrek perbedaan yang lainnya.
Kita sebagai manusia sudah terbiasa mengukur segala sesuatu demi suatu ukuran pencapaian.. Kualitas sama kuantitas ibarat pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan hanya sebatas dinikmati oleh pribadi orang itu sendiri.. ada teman saya , yg jarang pergi2, bagi dia sekali atau dua kali pergi dalam setahun itu sudah berkah.. apakah itu bisa disebut berkualitas atau dibilang tidak berkuantitas?? saya sendiri dulu hampir sebulan dua atau tiga kali, bahkan teman saya ada yg tiap minggu jalan. apakah itu bisa disebut berkuantitas dan tidak berkualitas?? masing-masing perjalanan adalah pengalaman pribadi orang itu sendiri.. yg hny bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang itu pribadi, baik dari gaya jalan2nya yg super irit setengah ngenes.. atau mewah super nyaman.. mau sering atau jarang sekalipun. bukan suatu ukuran bagi saya. yang tau kualitas dan kuantitas perjalanan itu bukan orang lain tetapi balik ke diri sendiri. apakah dengan travelling menambah teman, menambah pengetahuan, menambah rasa peduli sosial, memperkaya sudut pandang atau kah hanya bersenang-senang, melepas penat, kejenuhan, dan pelarian atau sekedar menghabiskan waktu dan uang bahkan tidak jarang travelling demi mencari pacar... .. bagi saya pribadi itu semua adalah warna hidup yang tidak bisa diukur karena kadang kita travelling demi tujuan yang beragam dengan alasan pribadi hati masing2 spt di atas diliat aja yg mana yg lebih dominan. yang terpenting bukan pengukuran suatu hal.. karena semua hal yang kita lakukan dalam hidup itu harusnya berkualitas dan tidak usah menghitung kuantitas karena dengan mengukur kuantitas akan menyebabkan manusia merasa sombong dan angkuh.. Berusaha melihat hal dari sisi yang tidak dikotak-kotakan... (pure without label n measurement) peace, Lj "Prejudice is a burden that confuses the past, threatens the future and renders the present inaccessible" by Maya Angelou
