Wah... Mana ngerti aku Mas... Tanyain ke KS dong...! Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan fisik dan teknologi pasti menggunakan besi atau baja. Jadi jika masih ada pembangunan fisik dan teknologi akan "SELALU" tergantung (diperes) jika Mittal jadi mbeli... Apalagi dia minta macam-macam yang lain sepagai supporting industri bajanya seperti dalam paragraph artikel email yang Mas kirimkan sebelumnya:
"Dalam pertemuan itu, menurut Fahmi Idris, Lakshmi menyampaikan tiga* *opsi kepada Presiden SBY. Pertama, Mittal akan mengembangkan sendiri* usaha pertambangan yang berkaitan dengan industri baja.* Kedua, Mittal* *menawarkan diri menjadi *mitra strategis bagi KS*. Ketiga, *Mittal akan mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu*, Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan *PT Aneka Tambang Tbk (Antam)* untuk memasok bahan baku. Presiden SBY kata Fahmi Idris,* *menanggapi positif semua opsi yang diajukan Mittal." http://www.rusdimathari.wordpress.com Hebat kan...! Mittal yang mengajukan opsi ke SBY (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si pengarang artikel saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal. Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...??? Apa suratnya jadi dikirim ke Meneg BUMN??? Jadi di follow up nga??? Salam Z 2008/4/26 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>: > Harlizon dan Temans, > > Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus dijual sebagian > sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan kapasitas produksinya dengan 7-8 > juta ton/tahun ? > Apakah benar selama ini baja yang diimport belum diproduksi di KS ? > sehingga perlu nambah investasi untuk sebagai substitusi baja import ? > Apakah dengan penambahan kapasitas produksi KS, industri Nasional benar > benar akan bisa menyerapnya ? atau mesti diexport sebagian ? > > Salam, > Zaenal > > At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu wrote: > > Bener kan Mas... > > Senyum manis Fahmi itu lho... > > > http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147 > > Tekad Baja Menolak Sang Raja > > Keinginan Lakshmi Mittal masuk ke Krakatau Steel mengundang reaksi negatif > dari karyawan hingga komisaris. Pekerja Krakatau tak sudi menjalin kerja > sama dengan Mittal. "Kami meminta komisaris dan direksi memperjuangan > privatisasi lewat IPO. Itu harga mati," kata Budi Santoso, Ketua Umum > Serikat Karyawan Krakatau Steel. > > http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg > > Sepuluh tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia setelah membeli > pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, pada 2006 sesungguhnya hampir saja > bisa mempersunting Krakatau. Ketika itu, lewat bendera Ispat International, > Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Negara BUMN, Tanri > Abeng. Mittal sepakat membeli 49% saham Krakatau. > > Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau melakukan > perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak berrembuk dan tidak sreg dengan > cara Menteri BUMN menggandeng Mittal. Skenario Tanri melego Krakatau pun > buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang. > > Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. Namun pengusaha > yang kini menetap di Inggris itu tidak patah hati. Sejak kegagalan itu, ia > tetap melakukan sejumlah langkah untuk mengambil hati sang pujaan dan > orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada manajemen Krakatau > maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. Di masa Presiden Megawati > Soekarnoputri, Mittal mencoba masuk ke Krakatau, tapi gagal. > > Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. > Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, Sugiharto. Tujuannya, ingin bertemu > dengan Pak Menteri untuk membicarakan keinginannya masuk ke Krakatau. Oleh > Sugiharto, surat itu diteruskan ke manajemen Krakatau untuk mendapat > pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal belum bertemu jodoh. > > Rencana penjualan Krakatau terakhir dibahas pada akhir Maret lalu dalam > rapat dengar pendapat antara manajemen Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam > rapat itu, suara lebih banyak mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih > condong pada *strategic sale*. Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang > akan dipilih. > > Yang pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari Partai Amanat > Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya dikembangkan oleh bangsa sendiri. > Dana pengembangan Krakatau, selain dari IPO, juga bisa didapat dari lembaga > keuangan lainnya. > > Sedangkan yang pro-*strategic sale* antara lain Habil Marati, anggota > Komisi XI DPR dari Partai Persatuan Pembangunan. "Namun tidak harus Mittal, > ya," katanya. Pola *strategic sale* ini pada prinsipnya harus mencari > pembeli yang punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. > "Sedangkan Mittal kemungkinan hanya untuk memperkuat pasarnya. Mittal > bukanlah tipe pengusaha baja yang mengembangkan teknologi," ujarnya. Karena > itu, prosesnya harus lewat tender terbuka. > > Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan, kemitraan strategis dengan > Mittal akan meningkatkan produksi Krakatau menjadi 8 juta hingga 10 juta ton > pada 2011. Selama 30 tahun --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak > optimal. BUMN baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak > sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per tahun. > Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja impor. "Yang kita butuhkan > adalah peningkatan produksi sehingga menguasai pasar, efisiensi, dan > mememuhi kebutuhan nasional," kata Fahmi. > > Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif pada baja impor. > "Padahal, kan besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu *captive > market*," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap Arcelor Mittal, yang > setiap tahun memproduksi 120 juta ton baja, bisa menggenjot produksi > Krakatau Steel. Pernyataan Fahmi itu kemudian memunculkan dugaan bahwa > dialah yang mengundang Mittal masuk ke Krakatau. > > *Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan Mukhlison S. Widodo* > [*Laporan Utama*, *Gatra* Nomor 24 Beredar Kamis, 24 April 2008] > >
