Terimakasih Pak Tri

--- On Mon, 5/5/08, tri wibowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: tri wibowo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
To: "Supardi Zainal" <[EMAIL PROTECTED]>, [email protected]
Date: Monday, 5 May, 2008, 11:08 AM

Assalamu 'alaikum
Mohon maaf Mas Pardi , saya coba telepon ke kantor minggu yang lalu tetapi , sudah tidak ada ditempat.
Saya mencoba menjelaskan apa yang ingin diketahui topik hangat tentang KS yang hingga sekarang masih banyak menjadii berita  nasional.
Prinsipnya Industri baja dinegara manapun akan menjadi kekuatan nasional , oleh sebab itu kebijakan nasional tentang industri baja seharusnya dilakukan  secara terstruktur, terintegrasi dengan industri terkait ( hulu - hilir) merupakan pohon industri yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan nasional, seperti yang telah dilakukan oleh Korea Selatan, India dan Cina tetapi tidak demikian untuk Indonesia, sehingga dalam kurun waktu yang bersamaan berdirinya dengan PT KS, Pohang Steel KOrea mampu tumbuh menjadi Indutri baja yang cukup disegani di Asia, krn. ada komitmen dan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan industri baja dalam negeri, tidak hanya untuk PT KS tetapi juga untuk Pabrik baja dalam negeri lainnya.
Kebijakan tentang pembangunan industri baja / industri berat tidak dilakukan berkesinambungan , baik mengenai industri hulu maupun industri hilirnya , pengamanan bahan baku dan teknologi yang hrs. dikembangkan termasuk pengamanan produk yang dihasilkan, kebijakan kita masih berorientasi sebagai pedagang/trading bukan sebagai industriawan yang dalam mempersiapkan pengembangan industrinya seharusnya sampai ketingkat pendidikan generasi mudanya ( sumber daya manusia) Indonesia yang bermental baja yang berorientasi jangka panjang.
Mengenai bahan baku memang hampir 70 % masih impor, tidak berbeda jauh dengan Korea dan Jepang dengan sumber yang hampir sama , toh yang lebih penting adalah bagaimana meninkatkan added valuenya menjadi produk yang competitive.
Perlu diketahui opsi menggunakan bahan baku dari dalam negeri sudah dilakukan sejak tahun  1984 yang lalu PT KS bekerjasama dengan BPPT, PPTM dan perguruan Tinggi tetapi karakteristik sumber dari dalam negeri belum sesuai dengan kebutuhan PT KS dengan teknologi reduksi langsung, harus ada proses benefication untuk meningkatkan kandungan Fe  sampai diatas 65%, harus ada investor yang masuk ke Industri Iron making,padahal kita ketahui iklim investasi dengan adanya otonomi daerah sekarang ini masih mensyaratkan adanya kepastian usaha bagi investor krn proyek ini bersifat jangka panjang.
Bagi rekan rekan metalurgi /TK  atau jurusan lain yang belum pernah terlibat dalam industri baja melihat masalah ini tentu bertanya apa sich sulitnya ? Tetapi bagi yang memahami bisnis sektor pertambangan akan faham bahwa ekploitasi mineral membutuhkan investasi yang besar dan jangka waktu yang cukup panjang, tidak seperti  membuat kacang goreng.
Potensi bahan baku ada di Kalimantan dan Sulawesi, daerah lain di Jawa, Bangka Belitung cadangannya relatif sedikit.
Yang diharapkan dari PT KS dengan adanya investor baru untuk pengembangan PT KS kedepan adalah investor yang tidak saja mempunyai dana tetapi mempunyai teknologi yang diperlukan dan berinvestasi di Indonesia ( Kalimantan / Sulawesi ) karena untuk mencapai kapasitas produk diatas 10 juta ton ,ada keterbatasan sumber daya jika lokasinya di Cilegon disamping untuk pemerataan pembangunan dan dekat dengan sumber bahan baku.
Skenario terbaik adalah melalui IPO dengan saham yang ditawarkan lebih kurang 35 %, untuk membiayai Proyek pengadaan bahan baku di Kalimantan Selatan  dalam hal ini PT KS bekerjasama dengan PT Antam yang berpengalaman dibidang pertambangan.Prioritas utama adalah menyeimbangkan suplai bahan baku dan kapasitas produksi hulu hilir dengan memanfaatkan potensi dari dalam negeri dengan memilih teknologi proses yang sesuai.
Peminat -Investor tidak hanya Mittal saja ,masih ada yang lain yaitu Tata Steel ( India ) dan BHP ( Australia ) sehingga keputusannya dikembalikan ke Pemegang Saham untuk dicarikan solusi terbaik bagi KS kedepan, mengingat posisi strategis PT KS saat ini untuk mengemban tugas negara dan bisnis baja di dalam negeri dan kinerja perusahaanPT KS dan grup  cukup  hingga bulan April 2008 ini masih cukup baik.
Demikian penjelasan singkat saya , Terima kasih atas perhatiannya dan salam buat rekan rekan yang ikut peduli terhadap masa depan PT Krakatau Steel sebagai asset nasional
Wassalamu 'alaikum
 
Tri Wibowo S. Purnomo
 

-----Original Message-----
From: Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected], Tri Wibowo <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 29 Apr 2008 00:33:14 -0700 (PDT)
Subject: Re: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?

Saya perlu sharing dengan Pak Tri Wibowo (TK 73) yang sudah malang melintang di KS. Apa pendapatnya. Tolong kasih komentar terhadap pertanyaan2 saya dan kawan2 yang lain.
Terimakasih Pak Tri

--- On Tue, 29/4/08, ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, 29 April, 2008, 12:34 PM

Nimbrung ya,  Perspektif dalam meninjau KS dan Mittal haruslah dalam 
kerangka lingkungan industri dunia saat ini yang bersifat kapitalistik. 
Mittal itu adalah Singa Besar, dan KS itu adalah Kucing Rumahan.  Posisi 
Mittal adalah posisi strategis yang dapat mengunci KS dari berbagai sisi, 
baik supply bahan baku, pasar, maupun sumber daya manusia. Dengan 
menggandeng Antam, berarti Mittal dapat mengunci KS dari sisi supply bahan 
baku. Dan bisa jadi manuver-manuver bisnis lain yang dapat mengunci KS.  
Yang realistis adalah harus kita terima Mittal, karena biar bagaimanapun KS 
butuh Mittal dari sisi finansial dan pasar. Hanya kemudian harus dibuatkan 
regulasi industri strategis seperti KS bahwa investasi asing tidak akan 
melebihi 50% atau angka yang lain yang lebih realistis.  Masalahnya kemudian 
adalah kemampuan bermitra KS terhadap Mittal. Bisakah manajemen KS mendapat 
manfaat optimal dari masuknya Mittal ke KS.  Tidak ada cara lain, kalau yang 
ekstrim ya...perekonomian kita tutup dari pengaruh luar, seperti zaman 
kaisar Jepang dahulu kala.  Salam,  Ibnu Utama TI 91   --- On Tue, 4/29/08, 
Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  > From: Supardi Zainal 
<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual 
KS ? > To: [email protected] > Date: Tuesday, April 29, 2008, 
11:06 AM > Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang kalau 
> saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa > harus 
menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply > bahan baku kenapa 
Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand > domestik sampai 7 Juta tpy  tapi 
produksi KS hanya 2,5 Juta > tpy maka domestic market terbuka lebar. Ini 
peluang yang > sangat besar. >   > Pertanyaan saya : > 
1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi > Indonesia 
cukup potensial  >    untuk memenuhi kebutuhan KS? >    Jika deposit 
biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi > kebutuhan KS sampai kapasitas  
>    7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh ANTAM dan > KS agar 
Added Value bisa  >    dinikmati 100 % oleh bangsa ini >    Jika 
depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin > KS bisa cari. 
Sekarang yang  >    sedang mengamankan supply bahan baku untuk negerinya 
> adalah China dan India.  >    Industri Pertambangan yang sedang 
gencar memperluas > sayapnya untuk mengamankan  >    supply misalnya 
Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP > Australia. jadi hati2. Mittal  
>    sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa? > 2.Jika KS akan 
meningkatkan kapasitas produksi, apa > kendalanya? Modal? Kalau SDM,  
>    yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran saya ganti > saja 
bahan reduktornya  >    yang sekarang pakai Gas diganti dengan Kokas 
(Karbon) > dari Batubara dengan  >    membuat Coke Oven karena hasil 
sampingnya (Coal Tar > Pitch) sangat diharapkan untuk  >    supply ke 
Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal > sekitar 450 USD/ton, .   
>    Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan Pabrik2 > 
Peleburan Besi yang lain,  >    harganya juga hahal sekitar 400 USD/ton, 
jadi sekalian > meningkatkan added value  >    Batubara. >    
Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang > tidur, bingung  
>    menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS baru > cocok. > 
  > Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir > 
baguslah >  > --- On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu > 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote: >  > From: Harlizon MBAu 
<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Apa sebenarnya yang 
diperlukan KS > ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi... > To: 
[email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date: Monday, 28 
April, 2008, 11:54 PM >  >  > Wah... Mana ngerti aku Mas... Tanyain 
ke KS dong...! > Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan fisik dan 
> teknologi pasti menggunakan besi atau baja. > Jadi jika masih ada 
pembangunan fisik dan teknologi akan > "SELALU" tergantung (diperes) jika 
Mittal jadi > mbeli... > Apalagi dia minta macam-macam yang lain 
sepagai supporting > industri bajanya seperti dalam paragraph artikel 
email yang > Mas kirimkan sebelumnya: >  > "Dalam pertemuan itu, 
menurut Fahmi Idris, Lakshmi > menyampaikan tiga opsi kepada Presiden 
SBY. Pertama, Mittal > akan mengembangkan sendiri usaha pertambangan yang 
berkaitan > dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi 
> mitra strategis >  bagi KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan 
perusahaan > patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu, > 
Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka > Tambang Tbk 
(Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY > kata Fahmi Idris, 
menanggapi positif semua opsi yang > diajukan Mittal." > 
http://www.rusdimathari.wordpress.com >  > Hebat kan...! Mittal yang 
mengajukan opsi ke SBY > (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si pengarang 
artikel > saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal. >  > 
Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...??? >  > Apa suratnya 
jadi dikirim ke Meneg BUMN??? > Jadi di follow >  up nga??? >  > 
Salam Z >  >  >  > 2008/4/26 Achmad Zaenal Abidin > 
<[EMAIL PROTECTED]>: >  >  > Harlizon dan Temans,  >  
> Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus > dijual 
sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan > kapasitas 
produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ? > Apakah benar selama ini baja 
yang diimport belum diproduksi > di KS ? sehingga perlu nambah investasi 
untuk sebagai > substitusi baja import ? > Apakah dengan penambahan 
kapasitas produksi KS, industri > Nasional benar benar akan bisa 
menyerapnya ? atau mesti > diexport sebagian ? >  > Salam, > 
Zaenal  >  > At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu wrote: >  >  
> Bener kan Mas... >  > Senyum  manis  Fahmi itu lho... >  >  
> http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147 >  > Tekad 
Baja Menolak Sang Raja >  > Keinginan Lakshmi Mittal masuk ke Krakatau 
Steel mengundang > reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris. Pekerja 
> Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal. > "Kami meminta 
komisaris dan direksi memperjuangan > privatisasi lewat IPO. Itu harga 
mati," kata Budi > Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan Krakatau Steel. 
>  > http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg >  > Sepuluh 
tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia > setelah membeli 
pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, > pada 2006 sesungguhnya hampir 
saja bisa mempersunting > Krakatau. Ketika itu, lewat bendera >  Ispat 
International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) > dengan Menteri 
Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat > membeli 49% saham Krakatau. 
>  > Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau > 
melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak > berrembuk dan tidak 
sreg dengan cara Menteri BUMN > menggandeng Mittal. Skenario Tanri melego 
Krakatau pun > buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang. >  > 
Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. > Namun pengusaha 
yang kini menetap di Inggris itu tidak > patah hati. Sejak kegagalan itu, 
ia tetap melakukan > sejumlah langkah untuk mengambil hati sang pujaan 
dan > orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada > manajemen 
Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. > Di masa Presiden 
Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba > masuk ke Krakatau, tapi gagal. 
>  > Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo > Bambang 
Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, > Sugiharto. Tujuannya, 
>  ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan > keinginannya 
masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu > diteruskan ke manajemen 
Krakatau untuk mendapat > pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal belum 
bertemu > jodoh. >  > Rencana penjualan Krakatau terakhir dibahas 
pada akhir > Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara manajemen > 
Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih > banyak 
mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada > strategic sale. 
Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang > akan dipilih. >  > Yang 
pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari > Partai Amanat 
Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya > dikembangkan oleh bangsa 
sendiri. Dana pengembangan > Krakatau, selain dari IPO, juga bisa didapat 
dari lembaga > keuangan lainnya. >  > Sedangkan yang pro-strategic 
sale antara lain Habil Marati, > anggota Komisi XI DPR dari Partai 
Persatuan Pembangunan. > "Namun tidak harus Mittal, ya," katanya. Pola 
>  strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli > yang 
punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. > "Sedangkan Mittal 
kemungkinan hanya untuk memperkuat > pasarnya. Mittal bukanlah tipe 
pengusaha baja yang > mengembangkan teknologi," ujarnya. Karena itu, > 
prosesnya harus lewat tender terbuka. >  > Menteri Perindustrian Fahmi 
Idris menyatakan, kemitraan > strategis dengan Mittal akan meningkatkan 
produksi Krakatau > menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011. Selama 
30 tahun > --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak optimal. BUMN 
> baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak > 
sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per > tahun. 
Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja > impor. "Yang kita 
butuhkan adalah peningkatan produksi > sehingga menguasai pasar, 
efisiensi, dan mememuhi kebutuhan > nasional," kata Fahmi. >  > 
Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif > pada baja 
impor. "Padahal, kan >  besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu 
captive > market," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap > Arcelor 
Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton > baja, bisa 
menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan > Fahmi itu kemudian 
memunculkan dugaan bahwa dialah yang > mengundang Mittal masuk ke 
Krakatau. >  > Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan Mukhlison S. 
> Widodo > [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24 April > 
2008] >  >  > Send instant messages to your online friends > 
http://uk.messenger.yahoo.com >  > -- > Berlombalah dalam karya, 
bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan 
manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. >  
> Info pengelolaan milis Indonesia next better : > 
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt         
____________________________________________________________________________________ 
Be a better friend, newshound, and  know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it 
now.  http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ  --  
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta 
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan 
akhirat.  Info pengelolaan milis Indonesia next better : 
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke