Assalamu 'alaikum
Mohon maaf Mas Pardi , saya coba telepon ke kantor minggu yang lalu
tetapi , sudah tidak ada ditempat.
Saya mencoba menjelaskan apa yang ingin diketahui topik hangat
tentang KS yang hingga sekarang masih banyak menjadii berita nasional.
Prinsipnya Industri baja dinegara manapun akan menjadi kekuatan
nasional , oleh sebab itu kebijakan nasional tentang industri baja
seharusnya dilakukan secara terstruktur, terintegrasi dengan
industri terkait ( hulu - hilir) merupakan pohon industri yang harus
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan nasional, seperti yang telah
dilakukan oleh Korea Selatan, India dan Cina tetapi tidak demikian
untuk Indonesia, sehingga dalam kurun waktu yang bersamaan
berdirinya dengan PT KS, Pohang Steel KOrea mampu tumbuh menjadi
Indutri baja yang cukup disegani di Asia, krn. ada komitmen dan
kebijakan pemerintah dalam mengembangkan industri baja dalam negeri,
tidak hanya untuk PT KS tetapi juga untuk Pabrik baja dalam negeri lainnya.
Kebijakan tentang pembangunan industri baja / industri berat tidak
dilakukan berkesinambungan , baik mengenai industri hulu maupun
industri hilirnya , pengamanan bahan baku dan teknologi yang hrs.
dikembangkan termasuk pengamanan produk yang dihasilkan, kebijakan
kita masih berorientasi sebagai pedagang/trading bukan sebagai
industriawan yang dalam mempersiapkan pengembangan industrinya
seharusnya sampai ketingkat pendidikan generasi mudanya ( sumber
daya manusia) Indonesia yang bermental baja yang berorientasi jangka panjang.
Mengenai bahan baku memang hampir 70 % masih impor, tidak berbeda
jauh dengan Korea dan Jepang dengan sumber yang hampir sama , toh
yang lebih penting adalah bagaimana meninkatkan added valuenya
menjadi produk yang competitive.
Perlu diketahui opsi menggunakan bahan baku dari dalam negeri sudah
dilakukan sejak tahun 1984 yang lalu PT KS bekerjasama dengan BPPT,
PPTM dan perguruan Tinggi tetapi karakteristik sumber dari dalam
negeri belum sesuai dengan kebutuhan PT KS dengan teknologi reduksi
langsung, harus ada proses benefication untuk meningkatkan kandungan
Fe sampai diatas 65%, harus ada investor yang masuk ke Industri
Iron making,padahal kita ketahui iklim investasi dengan adanya
otonomi daerah sekarang ini masih mensyaratkan adanya kepastian
usaha bagi investor krn proyek ini bersifat jangka panjang.
Bagi rekan rekan metalurgi /TK atau jurusan lain yang belum pernah
terlibat dalam industri baja melihat masalah ini tentu bertanya apa
sich sulitnya ? Tetapi bagi yang memahami bisnis sektor pertambangan
akan faham bahwa ekploitasi mineral membutuhkan investasi yang besar
dan jangka waktu yang cukup panjang, tidak seperti membuat kacang goreng.
Potensi bahan baku ada di Kalimantan dan Sulawesi, daerah lain di
Jawa, Bangka Belitung cadangannya relatif sedikit.
Yang diharapkan dari PT KS dengan adanya investor baru untuk
pengembangan PT KS kedepan adalah investor yang tidak saja mempunyai
dana tetapi mempunyai teknologi yang diperlukan dan berinvestasi di
Indonesia ( Kalimantan / Sulawesi ) karena untuk mencapai kapasitas
produk diatas 10 juta ton ,ada keterbatasan sumber daya jika
lokasinya di Cilegon disamping untuk pemerataan pembangunan dan
dekat dengan sumber bahan baku.
Skenario terbaik adalah melalui IPO dengan saham yang ditawarkan
lebih kurang 35 %, untuk membiayai Proyek pengadaan bahan baku di
Kalimantan Selatan dalam hal ini PT KS bekerjasama dengan PT Antam
yang berpengalaman dibidang pertambangan.Prioritas utama adalah
menyeimbangkan suplai bahan baku dan kapasitas produksi hulu hilir
dengan memanfaatkan potensi dari dalam negeri dengan memilih
teknologi proses yang sesuai.
Peminat -Investor tidak hanya Mittal saja ,masih ada yang lain yaitu
Tata Steel ( India ) dan BHP ( Australia ) sehingga keputusannya
dikembalikan ke Pemegang Saham untuk dicarikan solusi terbaik bagi
KS kedepan, mengingat posisi strategis PT KS saat ini untuk
mengemban tugas negara dan bisnis baja di dalam negeri dan kinerja
perusahaanPT KS dan grup cukup hingga bulan April 2008 ini masih cukup baik.
Demikian penjelasan singkat saya , Terima kasih atas perhatiannya
dan salam buat rekan rekan yang ikut peduli terhadap masa depan PT
Krakatau Steel sebagai asset nasional
Wassalamu 'alaikum
Tri Wibowo S. Purnomo
-----Original Message-----
From: Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected], Tri Wibowo <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 29 Apr 2008 00:33:14 -0700 (PDT)
Subject: Re: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
Saya perlu sharing dengan Pak Tri Wibowo (TK 73) yang sudah malang
melintang di KS. Apa pendapatnya. Tolong kasih komentar terhadap
pertanyaan2 saya dan kawan2 yang lain.
Terimakasih Pak Tri
--- On Tue, 29/4/08, ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, 29 April, 2008, 12:34 PM
Nimbrung ya, Perspektif dalam meninjau KS dan Mittal haruslah dalam
kerangka lingkungan industri dunia saat ini yang bersifat kapitalistik.
Mittal itu adalah Singa Besar, dan KS itu adalah Kucing Rumahan. Posisi
Mittal adalah posisi strategis yang dapat mengunci KS dari berbagai sisi,
baik supply bahan baku, pasar, maupun sumber daya manusia. Dengan
menggandeng Antam, berarti Mittal dapat mengunci KS dari sisi supply bahan
baku. Dan bisa jadi manuver-manuver bisnis lain yang dapat mengunci KS.
Yang realistis adalah harus kita terima Mittal, karena biar bagaimanapun KS
butuh Mittal dari sisi finansial dan pasar. Hanya kemudian harus dibuatkan
regulasi industri strategis seperti KS bahwa investasi asing tidak akan
melebihi 50% atau angka yang lain yang lebih realistis. Masalahnya kemudian
adalah kemampuan bermitra KS terhadap Mittal. Bisakah manajemen KS mendapat
manfaat optimal dari masuknya Mittal ke KS. Tidak ada cara lain, kalau yang
ekstrim ya...perekonomian kita tutup dari pengaruh luar, seperti zaman
kaisar Jepang dahulu kala. Salam, Ibnu Utama TI 91 --- On Tue, 4/29/08,
Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Supardi Zainal
<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual
KS ? > To: [email protected] > Date: Tuesday, April 29, 2008,
11:06 AM > Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang kalau
> saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa > harus
menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply > bahan baku kenapa
Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand > domestik sampai 7 Juta tpy tapi
produksi KS hanya 2,5 Juta > tpy maka domestic market terbuka lebar. Ini
peluang yang > sangat besar. > > Pertanyaan saya : >
1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi > Indonesia
cukup potensial > untuk memenuhi kebutuhan KS? > Jika deposit
biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi > kebutuhan KS sampai kapasitas
> 7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh ANTAM dan > KS agar
Added Value bisa > dinikmati 100 % oleh bangsa ini > Jika
depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin > KS bisa cari.
Sekarang yang > sedang mengamankan supply bahan baku untuk negerinya
> adalah China dan India. > Industri Pertambangan yang sedang
gencar memperluas > sayapnya untuk mengamankan > supply misalnya
Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP > Australia. jadi hati2. Mittal
> sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa? > 2.Jika KS akan
meningkatkan kapasitas produksi, apa > kendalanya? Modal? Kalau SDM,
> yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran saya ganti > saja
bahan reduktornya > yang sekarang pakai Gas diganti dengan Kokas
(Karbon) > dari Batubara dengan > membuat Coke Oven karena hasil
sampingnya (Coal Tar > Pitch) sangat diharapkan untuk > supply ke
Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal > sekitar 450 USD/ton, .
> Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan Pabrik2 >
Peleburan Besi yang lain, > harganya juga hahal sekitar 400 USD/ton,
jadi sekalian > meningkatkan added value > Batubara. >
Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang > tidur, bingung
> menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS baru > cocok. >
> Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir >
baguslah > > --- On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu >
<[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Harlizon MBAu
<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Apa sebenarnya yang
diperlukan KS > ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi... > To:
[email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date: Monday, 28
April, 2008, 11:54 PM > > > Wah... Mana ngerti aku Mas... Tanyain
ke KS dong...! > Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan fisik dan
> teknologi pasti menggunakan besi atau baja. > Jadi jika masih ada
pembangunan fisik dan teknologi akan > "SELALU" tergantung (diperes) jika
Mittal jadi > mbeli... > Apalagi dia minta macam-macam yang lain
sepagai supporting > industri bajanya seperti dalam paragraph artikel
email yang > Mas kirimkan sebelumnya: > > "Dalam pertemuan itu,
menurut Fahmi Idris, Lakshmi > menyampaikan tiga opsi kepada Presiden
SBY. Pertama, Mittal > akan mengembangkan sendiri usaha pertambangan yang
berkaitan > dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi
> mitra strategis > bagi KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan
perusahaan > patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu, >
Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka > Tambang Tbk
(Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY > kata Fahmi Idris,
menanggapi positif semua opsi yang > diajukan Mittal." >
http://www.rusdimathari.wordpress.com > > Hebat kan...! Mittal yang
mengajukan opsi ke SBY > (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si pengarang
artikel > saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal. > >
Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...??? > > Apa suratnya
jadi dikirim ke Meneg BUMN??? > Jadi di follow > up nga??? > >
Salam Z > > > > 2008/4/26 Achmad Zaenal Abidin >
<[EMAIL PROTECTED]>: > > > Harlizon dan Temans, >
> Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus > dijual
sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan > kapasitas
produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ? > Apakah benar selama ini baja
yang diimport belum diproduksi > di KS ? sehingga perlu nambah investasi
untuk sebagai > substitusi baja import ? > Apakah dengan penambahan
kapasitas produksi KS, industri > Nasional benar benar akan bisa
menyerapnya ? atau mesti > diexport sebagian ? > > Salam, >
Zaenal > > At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu wrote: > >
> Bener kan Mas... > > Senyum manis Fahmi itu lho... > >
> http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147 > > Tekad
Baja Menolak Sang Raja > > Keinginan Lakshmi Mittal masuk ke Krakatau
Steel mengundang > reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris. Pekerja
> Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal. > "Kami meminta
komisaris dan direksi memperjuangan > privatisasi lewat IPO. Itu harga
mati," kata Budi > Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan Krakatau Steel.
> > http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg > > Sepuluh
tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia > setelah membeli
pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, > pada 2006 sesungguhnya hampir
saja bisa mempersunting > Krakatau. Ketika itu, lewat bendera > Ispat
International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) > dengan Menteri
Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat > membeli 49% saham Krakatau.
> > Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau >
melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak > berrembuk dan tidak
sreg dengan cara Menteri BUMN > menggandeng Mittal. Skenario Tanri melego
Krakatau pun > buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang. > >
Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. > Namun pengusaha
yang kini menetap di Inggris itu tidak > patah hati. Sejak kegagalan itu,
ia tetap melakukan > sejumlah langkah untuk mengambil hati sang pujaan
dan > orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada > manajemen
Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. > Di masa Presiden
Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba > masuk ke Krakatau, tapi gagal.
> > Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo > Bambang
Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, > Sugiharto. Tujuannya,
> ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan > keinginannya
masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu > diteruskan ke manajemen
Krakatau untuk mendapat > pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal belum
bertemu > jodoh. > > Rencana penjualan Krakatau terakhir dibahas
pada akhir > Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara manajemen >
Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih > banyak
mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada > strategic sale.
Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang > akan dipilih. > > Yang
pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari > Partai Amanat
Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya > dikembangkan oleh bangsa
sendiri. Dana pengembangan > Krakatau, selain dari IPO, juga bisa didapat
dari lembaga > keuangan lainnya. > > Sedangkan yang pro-strategic
sale antara lain Habil Marati, > anggota Komisi XI DPR dari Partai
Persatuan Pembangunan. > "Namun tidak harus Mittal, ya," katanya. Pola
> strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli > yang
punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. > "Sedangkan Mittal
kemungkinan hanya untuk memperkuat > pasarnya. Mittal bukanlah tipe
pengusaha baja yang > mengembangkan teknologi," ujarnya. Karena itu, >
prosesnya harus lewat tender terbuka. > > Menteri Perindustrian Fahmi
Idris menyatakan, kemitraan > strategis dengan Mittal akan meningkatkan
produksi Krakatau > menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011. Selama
30 tahun > --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak optimal. BUMN
> baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak >
sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per > tahun.
Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja > impor. "Yang kita
butuhkan adalah peningkatan produksi > sehingga menguasai pasar,
efisiensi, dan mememuhi kebutuhan > nasional," kata Fahmi. > >
Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif > pada baja
impor. "Padahal, kan > besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu
captive > market," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap > Arcelor
Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton > baja, bisa
menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan > Fahmi itu kemudian
memunculkan dugaan bahwa dialah yang > mengundang Mittal masuk ke
Krakatau. > > Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan Mukhlison S.
> Widodo > [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24 April >
2008] > > > Send instant messages to your online friends >
http://uk.messenger.yahoo.com > > -- > Berlombalah dalam karya,
bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan
manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. >
> Info pengelolaan milis Indonesia next better : >
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ --
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com