Ada yang kurang Mas, bukan hanya teknologi tinggi saja tapi seperti cuplikan artikel berikut:
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/09/1103314/pt.ks.tidak.perlu.dijual "Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, siapa pun investor yang masuk mitra strategis KS harus *membawa teknologi* yang mampu meningkatkan produktivitas dan menekan struktur biaya produksi, serta memiliki *jaringan pemasaran global*. "Pemerintah menghendaki terbukanya lapangan kerja lebih besar," tegasnya. *(LKT/OSA/BRO)* " Kalau begitu BetterInOne perlu bikin cabang global dulu kalo mau beli... he.. he.. ! Padahal pasar Indonsia aja nga kepenuhi... Disini pinternya senyuman Fahmi itu... he.. he..! Padahal semua teknologi itu bisa dibikin atau dibeli aja.. Format alasannya mengingatkan kita dengan alasan teman Mas yang nge obral Indosat dulu... http://www.korantempo.com/news/2002/3/21/Ekonomi%20dan%20Bisnis/15.html "Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN) Laksamana Sukardi mengatakan, pemerintah memiliki kebijakan untuk mempercepat divestasi terhadap perusahaan-perusahaan di sektor yang kompetisinya tinggi dan berbasis teknologi (technology driven). Menurut dia, sektor telekomunikasi merupakan salah satu sektor yang berbasis teknologi yang perkembangannya sangat cepat, di samping juga membutuhkan pendanaan yang cukup besar. Karena itu, paparnya, untuk menghindari agar teknologi itu tidak ketinggalan zaman, maka divestasi di sektor telekomunikasi diperlukan." Wong backgroundne opo, bisane opo, ngomonge teknologi... piye... Kalo BeInOne canggih, mestinya mampu membuat alasannya menjadi: - Untuk memproteksi industri dalam negeri dan memberikan kesempatan berkembang bagi putra-putra Indonesia sendiri, pembelian KS harus oleh putra-putra asli Indonesia di dalam negeri... apalagi jika ditambah, - Pembelian harus oleh anggota betterInOne... ini baru canggih... He.. he.. ! Jangan sekedar kaji-mengkaji dan debat-debat aja dong...! Salam Z 2008/5/15 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>: > Mas Tri Wibowo, Pardi dan Rekans, > > Menteri Perindustrian mengatakan yang akan membeli sebagian saham PT. KS > harus telah mempunyai teknologi tinggi sehingga bisa meningkatkan effisiensi > PT.KS. > Apakah persyaratan tersebut hanya bertujuan membatasi calon investor atau > memang dalam hal teknologi produksi besi dan baja PT. KS dianggap > ketinggalan ? atau bahkan para insinyur Indonesia termasuk alumni ITB > dianggap belum kuasai teknologinya ? :-( > > Salam, > Zaenal > > At 11:08 05/05/2008, tri wibowo wrote: > > Assalamu 'alaikum > Mohon maaf Mas Pardi , saya coba telepon ke kantor minggu yang lalu tetapi > , sudah tidak ada ditempat. > Saya mencoba menjelaskan apa yang ingin diketahui topik hangat tentang KS > yang hingga sekarang masih banyak menjadii berita nasional. > Prinsipnya Industri baja dinegara manapun akan menjadi kekuatan nasional , > oleh sebab itu kebijakan nasional tentang industri baja seharusnya > dilakukan secara terstruktur, terintegrasi dengan industri terkait ( hulu - > hilir) merupakan pohon industri yang harus dikembangkan sesuai dengan > kebutuhan nasional, seperti yang telah dilakukan oleh Korea Selatan, India > dan Cina tetapi tidak demikian untuk Indonesia, sehingga dalam kurun waktu > yang bersamaan berdirinya dengan PT KS, Pohang Steel KOrea mampu tumbuh > menjadi Indutri baja yang cukup disegani di Asia, krn. ada komitmen dan > kebijakan pemerintah dalam mengembangkan industri baja dalam negeri, tidak > hanya untuk PT KS tetapi juga untuk Pabrik baja dalam negeri lainnya. > Kebijakan tentang pembangunan industri baja / industri berat tidak > dilakukan berkesinambungan , baik mengenai industri hulu maupun industri > hilirnya , pengamanan bahan baku dan teknologi yang hrs. dikembangkan > termasuk pengamanan produk yang dihasilkan, kebijakan kita masih > berorientasi sebagai pedagang/trading bukan sebagai industriawan yang dalam > mempersiapkan pengembangan industrinya seharusnya sampai ketingkat > pendidikan generasi mudanya ( sumber daya manusia) Indonesia yang bermental > baja yang berorientasi jangka panjang. > Mengenai bahan baku memang hampir 70 % masih impor, tidak berbeda jauh > dengan Korea dan Jepang dengan sumber yang hampir sama , toh yang lebih > penting adalah bagaimana meninkatkan added valuenya menjadi produk yang > competitive. > Perlu diketahui opsi menggunakan bahan baku dari dalam negeri sudah > dilakukan sejak tahun 1984 yang lalu PT KS bekerjasama dengan BPPT, PPTM > dan perguruan Tinggi tetapi karakteristik sumber dari dalam negeri belum > sesuai dengan kebutuhan PT KS dengan teknologi reduksi langsung, harus ada > proses benefication untuk meningkatkan kandungan Fe sampai diatas 65%, > harus ada investor yang masuk ke Industri Iron making,padahal kita ketahui > iklim investasi dengan adanya otonomi daerah sekarang ini masih mensyaratkan > adanya kepastian usaha bagi investor krn proyek ini bersifat jangka panjang. > Bagi rekan rekan metalurgi /TK atau jurusan lain yang belum pernah > terlibat dalam industri baja melihat masalah ini tentu bertanya apa sich > sulitnya ? Tetapi bagi yang memahami bisnis sektor pertambangan akan faham > bahwa ekploitasi mineral membutuhkan investasi yang besar dan jangka waktu > yang cukup panjang, tidak seperti membuat kacang goreng. > Potensi bahan baku ada di Kalimantan dan Sulawesi, daerah lain di Jawa, > Bangka Belitung cadangannya relatif sedikit. > Yang diharapkan dari PT KS dengan adanya investor baru untuk pengembangan > PT KS kedepan adalah investor yang tidak saja mempunyai dana tetapi > mempunyai teknologi yang diperlukan dan berinvestasi di Indonesia ( > Kalimantan / Sulawesi ) karena untuk mencapai kapasitas produk diatas 10 > juta ton ,ada keterbatasan sumber daya jika lokasinya di Cilegon disamping > untuk pemerataan pembangunan dan dekat dengan sumber bahan baku. > Skenario terbaik adalah melalui IPO dengan saham yang ditawarkan lebih > kurang 35 %, untuk membiayai Proyek pengadaan bahan baku di Kalimantan > Selatan dalam hal ini PT KS bekerjasama dengan PT Antam yang berpengalaman > dibidang pertambangan.Prioritas utama adalah menyeimbangkan suplai bahan > baku dan kapasitas produksi hulu hilir dengan memanfaatkan potensi dari > dalam negeri dengan memilih teknologi proses yang sesuai. > Peminat -Investor tidak hanya Mittal saja ,masih ada yang lain yaitu Tata > Steel ( India ) dan BHP ( Australia ) sehingga keputusannya dikembalikan ke > Pemegang Saham untuk dicarikan solusi terbaik bagi KS kedepan, mengingat > posisi strategis PT KS saat ini untuk mengemban tugas negara dan bisnis baja > di dalam negeri dan kinerja perusahaanPT KS dan grup cukup hingga bulan > April 2008 ini masih cukup baik. > Demikian penjelasan singkat saya , Terima kasih atas perhatiannya dan salam > buat rekan rekan yang ikut peduli terhadap masa depan PT Krakatau Steel > sebagai asset nasional > Wassalamu 'alaikum > > Tri Wibowo S. Purnomo > > > -----Original Message----- > From: Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected], Tri Wibowo <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Tue, 29 Apr 2008 00:33:14 -0700 (PDT) > Subject: Re: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ? > > Saya perlu sharing dengan Pak Tri Wibowo (TK 73) yang sudah malang > melintang di KS. Apa pendapatnya. Tolong kasih komentar terhadap pertanyaan2 > saya dan kawan2 yang lain. > Terimakasih Pak Tri > > --- On Tue, 29/4/08, ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ? > To: [email protected] > Date: Tuesday, 29 April, 2008, 12:34 PM > > > Nimbrung ya, Perspektif dalam meninjau KS dan Mittal > haruslah dalam > kerangka lingkungan industri dunia saat ini yang bersifat > kapitalistik. > Mittal itu adalah Singa Besar, dan KS itu adalah Kucing > Rumahan. Posisi > Mittal adalah posisi strategis yang dapat mengunci KS dari berbagai > sisi, > baik supply bahan baku, pasar, maupun sumber daya manusia. Dengan > menggandeng Antam, berarti Mittal dapat mengunci KS dari sisi supply > bahan > baku. Dan bisa jadi manuver-manuver bisnis lain yang dapat mengunci > KS. > Yang realistis adalah harus kita terima Mittal, karena biar > bagaimanapun KS > butuh Mittal dari sisi finansial dan pasar. Hanya kemudian harus > dibuatkan > regulasi industri strategis seperti KS bahwa investasi asing tidak > akan > melebihi 50% atau angka yang lain yang lebih realistis. > Masalahnya kemudian > adalah kemampuan bermitra KS terhadap Mittal. Bisakah manajemen KS > mendapat > manfaat optimal dari masuknya Mittal ke KS. Tidak ada cara > lain, kalau yang > ekstrim ya...perekonomian kita tutup dari pengaruh luar, seperti > zaman > kaisar Jepang dahulu kala. Salam, Ibnu Utama TI > 91 --- On Tue, 4/29/08, > Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: > Supardi Zainal > <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Mengapa > harus jual > KS ? > To: [email protected] > Date: Tuesday, April 29, > 2008, > 11:06 AM > Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang > kalau > > saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa > > harus > menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply > bahan baku > kenapa > Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand > domestik sampai 7 Juta > tpy tapi > produksi KS hanya 2,5 Juta > tpy maka domestic market terbuka > lebar. Ini > peluang yang > sangat besar. > > Pertanyaan saya > : > > 1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi > > Indonesia > cukup potensial > untuk memenuhi kebutuhan > KS? > Jika deposit > biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi > kebutuhan KS sampai > kapasitas > > 7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh > ANTAM dan > KS agar > Added Value bisa > dinikmati 100 % oleh > bangsa ini > Jika > depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin > KS bisa cari. > Sekarang yang > sedang mengamankan supply > bahan baku untuk negerinya > > adalah China dan India. > Industri > Pertambangan yang sedang > gencar memperluas > sayapnya untuk mengamankan > > supply misalnya > Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP > Australia. jadi hati2. > Mittal > > sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa? > > 2.Jika KS akan > meningkatkan kapasitas produksi, apa > kendalanya? Modal? Kalau > SDM, > > yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran > saya ganti > saja > bahan reduktornya > yang sekarang pakai > Gas diganti dengan Kokas > (Karbon) > dari Batubara dengan > > membuat Coke Oven karena hasil > sampingnya (Coal Tar > Pitch) sangat diharapkan untuk > > supply ke > Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal > sekitar 450 > USD/ton, . > > Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan > Pabrik2 > > Peleburan Besi yang lain, > harganya juga > hahal sekitar 400 USD/ton, > jadi sekalian > meningkatkan added value > > Batubara. > > Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang > tidur, > bingung > > menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS > baru > cocok. > > > Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir > > > baguslah > > --- On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Harlizon MBAu > <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Apa > sebenarnya yang > diperlukan KS > ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi... > To: > [email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date: > Monday, 28 > April, 2008, 11:54 PM > > > Wah... Mana ngerti > aku Mas... Tanyain > ke KS dong...! > Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan > fisik dan > > teknologi pasti menggunakan besi atau baja. > Jadi jika masih > ada > pembangunan fisik dan teknologi akan > "SELALU" > tergantung (diperes) jika > Mittal jadi > mbeli... > Apalagi dia minta macam-macam yang > lain > sepagai supporting > industri bajanya seperti dalam paragraph > artikel > email yang > Mas kirimkan sebelumnya: > > "Dalam > pertemuan itu, > menurut Fahmi Idris, Lakshmi > menyampaikan tiga opsi kepada > Presiden > SBY. Pertama, Mittal > akan mengembangkan sendiri usaha > pertambangan yang > berkaitan > dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri > menjadi > > mitra strategis > bagi KS. Ketiga, Mittal akan > mendirikan > perusahaan > patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja > itu, > > Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka > Tambang > Tbk > (Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY > kata Fahmi Idris, > menanggapi positif semua opsi yang > diajukan Mittal." > > > http://www.rusdimathari.wordpress.com > > Hebat kan...! > Mittal yang > mengajukan opsi ke SBY > (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si > pengarang > artikel > saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal. > > > > Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...??? > > Apa > suratnya > jadi dikirim ke Meneg BUMN??? > Jadi di follow > up > nga??? > > > Salam Z > > > > 2008/4/26 Achmad Zaenal > Abidin > > <[EMAIL PROTECTED]>: > > > Harlizon > dan Temans, > > > Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus > > dijual > sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan > kapasitas > produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ? > Apakah benar selama ini > baja > yang diimport belum diproduksi > di KS ? sehingga perlu nambah > investasi > untuk sebagai > substitusi baja import ? > Apakah dengan > penambahan > kapasitas produksi KS, industri > Nasional benar benar akan bisa > menyerapnya ? atau mesti > diexport sebagian ? > > > Salam, > > Zaenal > > At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu > wrote: > > > > Bener kan Mas... > > Senyum manis Fahmi > itu lho... > > > > > http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147 > > > Tekad > Baja Menolak Sang Raja > > Keinginan Lakshmi Mittal masuk > ke Krakatau > Steel mengundang > reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris. > Pekerja > > Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal. > > "Kami meminta > komisaris dan direksi memperjuangan > privatisasi lewat IPO. Itu > harga > mati," kata Budi > Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan > Krakatau Steel. > > > > http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg > > Sepuluh > tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia > setelah > membeli > pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, > pada 2006 sesungguhnya > hampir > saja bisa mempersunting > Krakatau. Ketika itu, lewat bendera > > Ispat > International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) > dengan > Menteri > Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat > membeli 49% saham > Krakatau. > > > Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau > > > melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak > berrembuk > dan tidak > sreg dengan cara Menteri BUMN > menggandeng Mittal. Skenario Tanri > melego > Krakatau pun > buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang. > > > > Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. > Namun > pengusaha > yang kini menetap di Inggris itu tidak > patah hati. Sejak > kegagalan itu, > ia tetap melakukan > sejumlah langkah untuk mengambil hati sang > pujaan > dan > orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada > > manajemen > Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. > Di masa > Presiden > Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba > masuk ke Krakatau, tapi > gagal. > > > Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo > > Bambang > Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, > Sugiharto. > Tujuannya, > > ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan > > keinginannya > masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu > diteruskan ke > manajemen > Krakatau untuk mendapat > pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal > belum > bertemu > jodoh. > > Rencana penjualan Krakatau > terakhir dibahas > pada akhir > Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara > manajemen > > Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih > banyak > mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada > strategic > sale. > Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang > akan dipilih. > > > Yang > pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari > Partai > Amanat > Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya > dikembangkan oleh > bangsa > sendiri. Dana pengembangan > Krakatau, selain dari IPO, juga bisa > didapat > dari lembaga > keuangan lainnya. > > Sedangkan yang > pro-strategic > sale antara lain Habil Marati, > anggota Komisi XI DPR dari Partai > Persatuan Pembangunan. > "Namun tidak harus Mittal, ya," > katanya. Pola > > strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli > > yang > punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. > > "Sedangkan Mittal > kemungkinan hanya untuk memperkuat > pasarnya. Mittal bukanlah > tipe > pengusaha baja yang > mengembangkan teknologi," ujarnya. > Karena itu, > > prosesnya harus lewat tender terbuka. > > Menteri > Perindustrian Fahmi > Idris menyatakan, kemitraan > strategis dengan Mittal akan > meningkatkan > produksi Krakatau > menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011. > Selama > 30 tahun > --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak optimal. > BUMN > > baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak > > > sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per > > tahun. > Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja > impor. > "Yang kita > butuhkan adalah peningkatan produksi > sehingga menguasai pasar, > efisiensi, dan mememuhi kebutuhan > nasional," kata Fahmi. > > > > Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif > pada > baja > impor. "Padahal, kan > besi dan pelat baja untuk > kebutuhan otomotif itu > captive > market," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap > > Arcelor > Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton > baja, bisa > menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan > Fahmi itu > kemudian > memunculkan dugaan bahwa dialah yang > mengundang Mittal masuk ke > Krakatau. > > Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan > Mukhlison S. > > Widodo > [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24 > April > > 2008] > > > Send instant messages to your online > friends > > > http://uk.messenger.yahoo.com > > -- > Berlombalah > dalam karya, > bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih > sayang dan > manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. > > > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > > http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt > > > ____________________________________________________________________________________ > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! > Mobile. Try it > now. > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi > serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > >
