Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang kalau saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa harus menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply bahan baku kenapa Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand domestik sampai 7 Juta tpy tapi produksi KS hanya 2,5 Juta tpy maka domestic market terbuka lebar. Ini peluang yang sangat besar.
Pertanyaan saya :
1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi Indonesia cukup potensial
untuk memenuhi kebutuhan KS?
Jika deposit biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan KS sampai kapasitas
7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh ANTAM dan KS agar Added Value bisa
dinikmati 100 % oleh bangsa ini
Jika depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin KS bisa cari. Sekarang yang
sedang mengamankan supply bahan baku untuk negerinya adalah China dan India.
Industri Pertambangan yang sedang gencar memperluas sayapnya untuk mengamankan
supply misalnya Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP Australia. jadi hati2. Mittal
sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa?
2.Jika KS akan meningkatkan kapasitas produksi, apa kendalanya? Modal? Kalau SDM,
yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran saya ganti saja bahan reduktornya
yang sekarang pakai Gas diganti dengan Kokas (Karbon) dari Batubara dengan
membuat Coke Oven karena hasil sampingnya (Coal Tar Pitch) sangat diharapkan untuk
supply ke Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal sekitar 450 USD/ton, .
Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan Pabrik2 Peleburan Besi yang lain,
harganya juga hahal sekitar 400 USD/ton, jadi sekalian meningkatkan added value
Batubara.
Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang tidur, bingung
menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS baru cocok.
Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir baguslah
--- On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indonesia] Re: Apa sebenarnya yang diperlukan KS ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi... To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Date: Monday, 28 April, 2008, 11:54 PM
Wah... Mana ngerti aku Mas... Tanyain ke KS dong...! Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan fisik dan teknologi pasti menggunakan besi atau baja. Jadi jika masih ada pembangunan fisik dan teknologi akan "SELALU" tergantung (diperes) jika Mittal jadi mbeli... Apalagi dia minta macam-macam yang lain sepagai supporting industri bajanya seperti dalam paragraph artikel email yang Mas kirimkan sebelumnya: "Dalam pertemuan itu, menurut Fahmi Idris, Lakshmi menyampaikan tiga opsi kepada Presiden SBY. Pertama, Mittal akan mengembangkan sendiri usaha pertambangan yang berkaitan dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri menjadi mitra strategis
bagi KS. Ketiga, Mittal akan mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja itu, Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY kata Fahmi Idris, menanggapi positif semua opsi yang diajukan Mittal." http://www.rusdimathari.wordpress.com Hebat kan...! Mittal yang mengajukan opsi ke SBY (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si pengarang artikel saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal.
Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...???
Apa suratnya jadi dikirim ke Meneg BUMN??? Jadi di follow
up nga???
Salam Z
2008/4/26 Achmad Zaenal Abidin < [EMAIL PROTECTED]>:
Harlizon dan Temans, Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus dijual sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan kapasitas produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ? Apakah benar selama ini baja yang diimport belum diproduksi di KS ? sehingga perlu nambah investasi untuk sebagai substitusi baja import ? Apakah dengan penambahan kapasitas produksi KS, industri Nasional benar benar akan bisa menyerapnya ? atau mesti diexport sebagian ? Salam, Zaenal At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu wrote:
Bener kan Mas...
Senyum manis Fahmi itu lho...
http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147
Tekad Baja Menolak Sang Raja
Keinginan Lakshmi Mittal masuk ke Krakatau Steel mengundang reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris. Pekerja Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal. "Kami meminta komisaris dan direksi memperjuangan privatisasi lewat IPO. Itu harga mati," kata Budi Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan Krakatau Steel.
http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg
Sepuluh tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia setelah membeli pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, pada 2006 sesungguhnya hampir saja bisa mempersunting Krakatau. Ketika itu, lewat bendera
Ispat International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat membeli 49% saham Krakatau.
Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak berrembuk dan tidak sreg dengan cara Menteri BUMN menggandeng Mittal. Skenario Tanri melego Krakatau pun buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang.
Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. Namun pengusaha yang kini menetap di Inggris itu tidak patah hati. Sejak kegagalan itu, ia tetap melakukan sejumlah langkah untuk mengambil hati sang pujaan dan orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada manajemen Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. Di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba masuk ke Krakatau, tapi gagal.
Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, Sugiharto. Tujuannya,
ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan keinginannya masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu diteruskan ke manajemen Krakatau untuk mendapat pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal belum bertemu jodoh.
Rencana penjualan Krakatau terakhir dibahas pada akhir Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara manajemen Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih banyak mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada strategic sale. Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang akan dipilih.
Yang pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari Partai Amanat Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya dikembangkan oleh bangsa sendiri. Dana pengembangan Krakatau, selain dari IPO, juga bisa didapat dari lembaga keuangan lainnya.
Sedangkan yang pro-strategic sale antara lain Habil Marati, anggota Komisi XI DPR dari Partai Persatuan Pembangunan. "Namun tidak harus Mittal, ya," katanya. Pola
strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli yang punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. "Sedangkan Mittal kemungkinan hanya untuk memperkuat pasarnya. Mittal bukanlah tipe pengusaha baja yang mengembangkan teknologi," ujarnya. Karena itu, prosesnya harus lewat tender terbuka.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan, kemitraan strategis dengan Mittal akan meningkatkan produksi Krakatau menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011. Selama 30 tahun --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak optimal. BUMN baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja impor. "Yang kita butuhkan adalah peningkatan produksi sehingga menguasai pasar, efisiensi, dan mememuhi kebutuhan nasional," kata Fahmi.
Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif pada baja impor. "Padahal, kan
besi dan pelat baja untuk kebutuhan otomotif itu captive market," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap Arcelor Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton baja, bisa menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan Fahmi itu kemudian memunculkan dugaan bahwa dialah yang mengundang Mittal masuk ke Krakatau.
Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan Mukhlison S. Widodo [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24 April 2008]
|