Saya rasa pendapat Mas Sulis bukan bermaksud menyalahkan, tetapi memang fenomena itu ada di petani-2 kita, yang telah menjadi kebiasaan. Tinggal bagaimana kita bisa meyakinkan para petani-2 itu untuk mengubah kebiasaan mereka.
Pernah dgr curhat staf Deperindag Jatim sepuluh tahun lalu tentang bagaimana sulitnya mengubah kebiasaan pengrajin/UKM-2 binaan di daerah-2. Ketika diperkenalkan teknologi alat potong pembuat kripik singkong berupa piringan mata pisau yang berputar, mereka menolak. Mereka mau pakai kalau dikasih gratis. Akhirnya dikasih gratis, tapi hanya bertahan beberapa bulan, dgn alasan lebih enak pakai pisau tangan, lebih sreg. Petani-2 kita terlalu takut mencoba hal baru dari biasanya. Perlu ada sawah-2 percontohan yang bisa menunjukkan keberhasilan, apakah dgn metode baru, pupuk baru, bibit baru. Tinggal, harus ada sukarelawan yang berani terjun ke lapangan, bersimbah keringat selama berbulan-2. Pernah dgr cerita keberhasilan seorang mantan kepala Bank yang terjun mengelola dana pinjaman modal mikro untuk membina para petani di Sulawesi Selatan. Dia harus bangun pagi-2 mengajak para petani rajin bekerja (dia ancam petani yang malas tidak bakal dapat pinjaman lunak lagi untuk tanam berikutnya). Dia beli gabah mitra dgn harga lebih tinggi dari harga tengkulak dan mem-bypass jalur distribusi untuk suplai ke pulau Jawa. Resiko yang dia terima, dibacok dari belakang oleh seorang tengkulak yang merasa nafkahnya direbut (dia menunjukkan ada bekas luka di punggung). Siapa yang mau (menggapai kebahagiaan ini)? -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Basuki Suhardiman Sent: 30 April 2008 13:54 To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Berita Tentang Pertanian--->sedih banget.. saya rasa , jangan lah menyalahkan petani karena mereka tidak punya banyak pilihan, tidak ada duit buat beli pupuk tidak ada informasi berapa harga pupuk sebenarnya panen selalu anjlok harga nya tengkulak merajalela rentenir meraja lela ... ITB-ITB (alumni) lah yang harus memikirkan hal itu ... Achmad Hidayat wrote: > Mungkin karena petani kita terbiasa di edukasi oleh > produsen pupuk untuk memupuk tanaman, bukan memupuk > tanah... > > Salam, > Sulis > --- Amar Rasyad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
