Halo,
Walaupun dulu agak aktif sedikit di Salman, mungkin saya yang harus berguru kepada bung Harlizon dalam konteks Al-Qur'an, :-)
Salam,
Ibnu Utama
--- On Fri, 5/2/08, Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ? To: [email protected] Date: Friday, May 2, 2008, 11:12 AM
Saya jadi lebih mengerti basis-basis kecerdasan (logic) Bung Ibnu Utama ini...
Kalau boleh saya sarankan, mungkin akan lebih menarik jika
referensinya ditambah dengan Al Quran dan Kitab2-suci lainnya...
Meski muslim, saya pribadi juga mencoba mempelajari Bible (Injil &
Taurat) dalam upaya lebih mengerti cara berpikir "agama" lain, bahkan
dalam banyak ayat Quran juga dirusuh untuk membaca kitab-kitab
tersebut - sebenarnya dalam Islam tidak ada istilah "agama" seperti
dimaksudkan oleh pemeluk agama lain, tapi "dien" alias
"jalan". Dalam
konteks ini tentunya jadi lebih mudah dimengerti bahwa ada "jalan yang
dengan Illah", ada jalan yang tidak ber illah, ada jalan yang ber
illah banyak, ada jalan yang ber illah 3 in 1 & 1 in 3, ada jalan yang
kelasnya baru kelas itung-itungan angka-angka saja, ada jalan yang
ngitung untung pribadi saja, ada jalan yang ngitung jangka pendek
saja, ada jalan orang takut atau minder, ada jalan orang sombong meski
kere & goblok, ada jalan yang hitungan-nya sudah mengakomodasi dampak
langsung & tidak langsung, jangka pendek dan panjang, pribadi dan
masyarakat bahkan sampai konteks alam secara terintegrasi dsb. dsb.) -
Jika sebelumnya sudah pernah membaca Quran, mungkin menarik jika
diulang lagi karena barangkali ada yang kelewat. Setahu saya, "Quran
di desain dengan sangat cerdas" yang sangat berbeda dengan kelas
desain buku-buku pelajaran / text book biasa yg sangat lateral. Saya
pribadi menemukan bahwa Quran sebenarnya juga adalah buku/kitab
"Science".
Logika manusia agaknya memang bertingkat-tingkat dan multi dimensi.
Secara lateral, memang agak repot jika anak dengan logika SD
berdiskusi dengan anak SMA, apalagi ITB. Barangkali bahan bacaan serta
pengalaman manusia serta interest (ditambah dengan petunjuk Yang
Kuasa) sangat berperan dalam pencapaian tingkat & dimensi logika ini,
dan tentunya sangat berpengaruh pada tingkat dan dimensi
"kesadarannya".
Kalau boleh ikut-ikutan jadi ahli nujum dan bertanya, "Bung Ibnu Utama
ini kerja di bidang finansial atau dosen di bidang manajemen/bisnis?"
Terima kasih...!
Salam Z
2008/5/2 ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> Ada beberapa referensi yang baik sebelum kita melanjutkan diskusi kita:
>
> 1. "The twilight of sovereignty" sebuah buku yang memang
berideologi
> kapitalis, namun buku tersebut menjelaskan perkembangan dan kecenderungan
> dunia kita. Dimana kedaulatan (sovereignty) pemerintahan tidak akan
memiliki
> otoritas yang kuat atas berbagai transaksi-transaksi bisnis. Kapital akan
> berbicara dan menunjukkan kekuatannya sebagai subtitusi kekuasaan
> pemerintahan dalam ranah industri. Dan sangat dimungkinkan bahwa kapital
> juga akan memasuki ranah-ranah sosial yang sebelumnya merupakan wewenang
> pemerintahan. Selain itu, buku ini juga menjelaskan kecenderungan paham
> nasionalis yang akan mengalami degradasi relevansi di masa mendatang,
karena
> batasan-batasan geografis yang akan semakin pudar seiring dengan
> meningkatnya teknologi informasi, telekomunikasi, dan transportasi.
>
> 2. Bahan-bahan kuliah "Manajemen Strategik" yang bercerita
tentang perilaku
> usaha dalam mempertahankan dan mengembangkan sebuah bisnis. Bahan-bahan
> kuliah ini sangat berguna untuk menghitung dan memprediksi Mittal dalam
> rangka menguasai pasar baja dunia.
>
> Kedua hal di atas adalah referensi yang cukup akademis. Namun dalam
> hitung-hitungan kasar juga akan menunjukkan hal yang sama, mengingat tidak
> akan ada investor lokal yang berani untuk menyaingi Mittal. Melakukan
> investasi ke KS untuk melawan Mittal adalah tindakan bunuh diri. Mittal
> dapat membeli lebih mahal bahan baku dari Antam atau sejenisnya, dan
Mittal
> juga dapat menjual lebih murah daripada KS kepada para pengguna baja. Hal
> ini disebabkan skala modal Mittal yang jauh lebih besar, dan efisiensi
yang
> juga jauh lebih tinggi daripada KS.
>
> Nah, dalam konsep kapitalisme profesional, si Raksasa tidak akan
membiarkan
> si Kecil mati, tetap hidup, tetapi dalam kondisi: "Hidup Segan Mati
Tak
> Mau". Hal ini masuk akal karena Mittal tidak ingin dituduh melakukan
> monopoli dalam industri ini yang bertentangan dengan regulasi khususnya UU
> anti monopoli.
>
> Alternatif lain adalah mengundang investor yang lain dari mancanegara.
Namun
> apabedanya dengan Mittal?
>
> Di atas kertas, jika KS tidak menerima Mittal, maka jatuhnya (downsizing)
KS
> hanyalah masalah waktu. Tinggal bagaimana kita mensikapi "serangan
Mittal"
> ini.
>
> Hanya ada satu pepatah bisnis yang merupakan solusi masalah ini:
>
> "If you can not beat them, just join them"
>
> Saya hanya bisa berdoa bahwa mudah-mudahan saja benar apa yang dinyatakan
> bung Harlizon ini, bahwa orang-orang BUMN tidak segoblok yang kita
rasakan.
> Mereka juga orang yang memiliki integritas dan kapasitas dalam menghadapi
> masalah ini.
>
> Salam,
>
> Ibnu Utama
>
> --- On Wed, 4/30/08, Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> From: Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, April 30, 2008, 9:52 PM
>
> Kapan mo mbelinya Maaaaaaasssss???
> Tanyain aja ke KS... Mereka pasti tau semua...
> Orang BUMN tidak segoblok yang orang kira...
>
> 2008/4/30 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>:
> >
> > Mas Pardi, Ibnu, Harlizon dan Rekans,
> >
> > Ada baiknya jika di inventarisir dulu peta :
> >
> > 1. Bahan baku dipegang siapa saja ? apakah hanya ANTAM saja ? ANTAM
> > merupakan BUMN yang kendalinya semestinya masih dipegang Kementerian
BUMN.
> > 2. Pasar baja dipegang siapa saja ? jika sekarang KS mempunyai
kapasitas
> > produksi 2.5juta ton/tahun dan akan ditambah dengan 7-8 juta, yang
berarti
> > 10 juta ton/tahun, apakah
> > pasar dalam negeri bisa menyerap semua atau harus di ekspor juga ?
> > 3. Apakah teknologi pengolahan baja bisa dikuasai dalam negeri ?
ataukah
> > harus import ?
> >
> > Jika baik bahan baku, pasar maupun teknologi bisa diperoleh dan
> dipasarkan
> > di dalam negeri saja, maka harus kita usulkan agar Mittal tidak bisa
> sebagai
> > single buyer saham PT. ANTAM maupun PT. KS.
> >
> > Lalu siapa ? sebagai sebagai pengganti Mittal yang loyalitasnya tidak
> > diragukan untuk kepentingan Nasional ? atau melalui IPO saja ? berapa
> pasar
> > IPO bisa nyerap ? melalaui IPO pun Mittal juga bisa masuk kan ? tapi
ya
> gpp
> > kalau sekitar 15% ? sedangkan dalam negeri 30 % ? :-)
> >
> > Salam,
> > Zaenal
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt |